Gerakan Indonesia Menulis

Event-29

Sudah ada banyak gerakan yang lahir di Indonesia. Dari yang sudah berkonotasi negatif sampai dengan yang berkonotasi positif. Salah satu gerakan kedua itu adalah Gerakan Indonesia Menulis (GIM). GIM adalah sebuah gerakan yang diinisiasi oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) yang mengajak beberapa komunitas kepenulisan. Di Bandung sendiri, acara ini diselenggarakan pada hari Kamis kemarin (6/3) di Hotel Golden Flower. Tokoh yang hadir pada diskusi formal yang non-formal ini adalah Pangestu Ningsih alias Mbak Tutu yang mewakili unsur penerbitan (Mizan) dan Kang Hikmat Darmawan.

Sosok itu hanya mengajak Sang Belahan Jiwa dan Teh Ulu, tetapi ternyata ada banyak kawan yang dikenal di sana. Mayoritas adalah kawan-kawannya dari FLP Bandung, yaitu Kang Opik, Dedi, Adew, Haflah, dan lain sebagainya. Alhamdulillah, ternyata dengan kehadiran Adewk dkk yang notabene seniman jeprut membuat diskusi yang awalnya formal menjadi non-formal. Penuh dengan celetukan jenaka dan dan tidak menjenuhkan. Maklum, bobodoran. Hanya karena sosok itu harus menjemput Adik Anin yang pulang sekolah, diskusi yang belum dimulai terpaksa ditinggalkan dan saat kembali ternyata sudah ada Mbak Tutu yang lagi menjelaskan sesuatu.

Paulo Coelho, Mushashi, dan Filosofi Pensil

Event-30Satu hal yang ditangkap dari uraian Mbak Tutu adalah Content Digesting, yaitu memaksimalkan konten. Artinya bahwa sebuah tulisan akan dianggap baik kalau kontennya baik, bagaimanapun cara penyampaiannya. Tokoh yang dibahas oleh beliau adalah Paulo Coelho yang dikenal dengan teori ‘The Way of the Bow‘. Teori ini menjelaskan bahwa jangan pernah tertipu dengan apa yang dilihat. Jadi, ‘polish‘ atau perhalus (semir) semuanya, pikirkan detail, pelajari teknik agar lebih intuitif (tidak melulu rutinitas, tetapi bisa dari melebihi tekniknya). Intinya jangan puas dengan tulisan yang sudah dibuat atau bahkan sudah menghasilkan karya, tetapi teruslah menulis dan dapatkan intuisi sebanyak-banyaknya.

Mbak Tutu kemudian bercerita tentang Mushashi ==> Jalan Hidup Seorang Samurai. Katanya, saat memasuki sebuah kuil (sekolah persilatan), ada seorang petani yang sedang menggarap sawah. Begitu melewati, sang petani melakukan gerakan yang membuat Mushashi memasang kuda-kuda tetapi sang petani ternyata tidak melakukan apa-apa. Di dalam kuil, Mushashi mampu mengalahkan semua murid di sana. Dia pun meminta bertemu dengan pemimpin kuil dan saat ditunjukkan ternyata petani tadilah sang pimpinan. Di sinilah Mushashi merasa kalah karena kejadian awal tadi. Sang petani pun berkata, “Kamu takut dengan bayanganmu sendiri.”

Event-31

Mbak Tutu kemudian berlanjut dengan penjelasan tentang pensil. Pensil adalah alat untuk menulis. Dari pensil, dari sebuah novel, kita bisa belajar tentang filosofisnya. Ada lima filosofi yang bisa didapatkan dari pensil, yaitu: (1) Pensil akan lebih berkualitas kalau ada tangan yang menggerakkannya => untuk itulah manusia harus ingat dan mendekatkan diri pada Sang Maha; (2) Pensil harus diraut => ada masa istirahat; (3) Pensil memiliki penghapus di ujungnya => koreksi diri dan jangan malu melakukan kesalahan; (4) Bagian utama dari pensil adalah karbon di tengahnya => hatilah yang utama dalam diri manusia; dan (5) Pensil meninggalkan goresan => amal kebaikan. Dalem banget, ya?

Dari Mbak Tutu, sosok itu mengambil banyak hikmah atau masukan yang berharga. Dua diantaranya adalah bahwa ‘Kesedihan itu adalah kebahagiaan yang akan dicapai pada akhirnya’. Yang kedua, jangan sampai MEMBACA itu menjadi kenangan buruk karena BENTAKAN orangtuanya. Misal, “Nak, jangan main melulu. BACA buku!” Akan tetapi, jadikan membaca itu sebagai budaya yang baik dan menyenangkan. Misalnya si anak lagi suka melihat bayangannya sendiri. Ajaklah untuk mencari tahu tentang cahaya dan bayangan dari bacaan yang ada. Keren, ya?

Event-32

Sastra Perjalanan

Kang Hikmat lalu melanjutkan diskusi. Di sini beliau mengatakan bahwa travel writing itu bukanlah barang baru. Hanya saja pengemasannya lebih kekinian. Travel writing disebutnya sebagai Sastra Perjalanan, adalah merupakan tulisan tertua yang pernah ada di dunia ini. Contohnya Ibnu Batutah yang sudah jauh-jauh hari menulis catatan perjalanannya menjadi beberapa buku. Pelajaran yang didapat adalah bahwa menulis adalah alat untuk menyejarahkan kehidupan pribadi penulisnya. Menulis tidak hanya bermanfaat bagi penulisnya tetapi juga bagi semua orang di masa itu sampai masa berikutnya. Belasan, puluhan, ratusan, bahkan ribuan tahun kemudian. Oleh karena itu, belajarlah menulis. Menulis adalah keterampilan dan keterampilan itu bisa dipelajari. Artinya semua orang bisa jadi penulis dan bakat bisa jadi adalah sebuah kutukan karena bakat membuat seseorang menjadi malas dan tidak belajar.

Mitos pertama yang harus dihilangkan pada pelajaran menulis adalah TIDAK BISA menulis. Karena, dari perjalanan seseorang, siapa pun, pasti pernah bersekolah. Artinya bagi yang pernah sekolah maka dia pernah menulis. Menulislah secara terus menerus dan jangan terus menerus ikutan kursus. Menulis adalah menuangkan gagasan, jadi copy-paste atau kopas bukanlah teknik menulis yang dianjurkan. Anda mau terjun ke dunia kepenulisan? Mau realistis? Sebagai motivator tentu harus membesarkan hati sehingga yang disampaikan harus yang baik-baik, tetapi sebagai teman tentu harus menyampaikan yang mengecilkan hati. Artinya, untuk menjadi penulis butuh proses dan perjuangan berat.

Event-33

Menerbitkan karya tulis itu ada beberapa cara. Ada yang mudah dan ada yang sangat sulit. Tinggal seberapa besar manfaatnya bagi masyarakat. Jika tidak bisa menghasilkan buku yang bestseller maka jadilah penulis yang berpengaruh. Bahasa itu eksak. Menulis dan editing itu satu tubuh, tidak bisa dipisahkan. Kalau ada media atau teknologi yang memudahkan—misalnya menghilangkan/memisahkan editing—maka karya tulis itu masih mentah. Pelajaran utama dalam menulis adalah LOGIKA. Belajarlah dari apa yang dibicarakan bukan siapa yang membicarakan. Logika kalimat itu penting, seperti subjek-predikat-objek dan lain sebagainya. Perluas wawasan dengan tidak hanya menulis dalam satu bahasa, kembangkan juga dengan belajar menulis berbahasa Inggris.

Menulislah yang benar. Setelah itu kenali editornya/redakturnya. Ini bukan masalah nepotisme. Dengan begitu naskah Anda akan tepat mengenai sasaran dan lebih cepat proses jawaban atau diterbitkannya. Penulis buku itu juga harus bertanggung jawab dan peduli pada lingkungan hidup. Kenapa? Buku itu adalah kumpulan kertas yang dihasilkan dari penebangan pohon-pohon di hutan. Kalau apa yang ditulisnya tidak bermanfaat dan malah cenderung ‘menyesatkan’ kenapa harus ‘maksa’ diterbitkan?! Terus minta royalti yang besar pula? Kenapa nggak ditulis di ‘social media’ saja? Oleh karena itu belajarlah menulis yang baik dan benar. Belajarlah menghasilkan karya yang berkualitas. Baru setelah itu belajar menerbitkannya menjadi sebuah buku.[]

Advertisements

4 thoughts on “Gerakan Indonesia Menulis

  1. Merautnya jangan kelamaan nanti pensilnya malah rusak = jangan terlalu lama beristirahat menulis… nanti habit dan passion untuk menulis lama2 akan memudar

    >> Nah, kalau ini adalah masalah momen atau lama waktunya. Sesuatu yang berlebihan memang tidak baik, termasuk beristirahat. Nuhun tambahannya.

  2. wuaa.. sayang sekali diriku nggak ikutan. keren sekali acaranya, bang. dari kisah Mushasi, pensil, sampai sastra perjalanannya sangat menggetarkan.
    kalo ada lagi, ajak2 ya bang, 🙂

    >> Saya sendiri awalnya agak pesimis mengikuti acara ini tapi dengan hadirnya Mbak Tutu dan Kang Hikmat membuat acara ini lebih kena gregetnya. Semoga ya dan Damae pun bisa hadir ^_^

  3. Ulu suka banget kalimat2nya Kang Hikmat, Bang. “Seberarti apa karya kita sampe harus diterbitkan dan dibaca orang banyak.”

    Acara ini keberatan judul, tapi ngeliat Kang Hikmat mah udah pelajaran banget buat Ulu walo terkantuk-kantuk dengernya gara-gara kekenyangan. Hehehe :))

    >> Iya, itu kata2 maknyus. Memang keberatan judul, tapi paling tidak bisa menarik mata orang yang melihatnya. Ngantuk ya? :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s