Yuk, Dukung Risa Suseanty

Srikandi Merah Putih

Sepeda tidak akan pernah luput dari hidup Risa Suseanty. Sudah hampir 21 tahun lamanya ia akrab dengan kendaraan beroda dua ini. Bermula dari tantangan ayahnya untuk menaiki sepeda, kini Risa sudah tak bisa pindah ke lain hati. Sama dengan sosok itu meski masih juga suka ngeblog, nulis, dan ngedesain. Seluruh hidupnya sudah didedikasikan untuk sepeda. Usia wanita kelahiran Bandung ini masih tergolong muda kala mengikuti kejuaraan pertamanya di tahun 1996. Perkataan singkat sang ayah saat menantangnya untuk mengikuti balapan sepeda merupakan awal yang baik bagi karir Risa saat itu. Bulutangkis yang sempat ditekuni pun rela ia tinggalkan demi mendapatkan kepuasan yang tak ternilai saat bersepeda.

Awalnya, downhill bukanlah pilihan utama saat ia memutuskan terjun sebagai seorang atlet balap sepeda. Cross country dan BMX adalah pilihan pertama hingga akhirnya Risa memutuskan downhill sebagai jalan hidupnya. Meraih peringkat ke-5 di kejuaraan downhill pertamanya meyakinkan Risa untuk terus fokus di downhill hingga saat ini. ”Selama bertanding, saya memang lebih banyak menang di nomor downhill ketimbang cross country,” papar Risa. Menjadi seorang atlet downhill di usia yang masih belia, Risa buktikan kepada lawan-lawannya dan akhirnya mampu meraih prestasi. Mengalahkan para lawan pria dan meraih posisi teratas adalah tujuan utamanya.

Bertanding pada cabang olahraga yang didominasi para pria menjadi tantangan tersendiri bagi Risa. Tak sedikit diantara rekan dan lawan yang iri terhadap apa yang sudah diraihnya. Kelihaiannya membawa sepeda mengarungi jalanan yang berbukit menjadikan Risa unggul diantara rekan-rekannya. Tiga kali mendapatkan medali emas Sea Games pada tahun 1997 (Jakarta), 1999 (Brunei Darussalam), dan 2001 (Malaysia) adalah bukti nyata keseriusan Risa pada downhill. Meski tak selamanya mulus meraih peringkat utama, Risa tetap konsisten menunjukkan eksistensinya melalui medali perak dan perunggu pada Sea Games 2003 dan 2005.

Tokoh-02Nama Risa Suseanty kembali bersinar sejak Sea Games 2009 silam. Padahal Risa baru saja mengalami permasalahan rumah tangga saat itu. Ia mengaku, Sea Games 2009 memiliki arti luar biasa di dalam hidupnya. Risa mampu bangkit dari kegagalan rumah tangganya dan berhasil mempersembahkan medali emas untuk Indonesia. Pada Sea Games 2011 semangat Risa semakin membara saat Indonesia menjadi tuan rumah. Ribuan mata jadi saksi kesuksesan Risa meraih medali emas keduanya pasca bercerai. Keseriusan menjadi Ratu Downhill kembali ia buktikan kepada masyarakat pendukungnya. Ingin menorehkan rekor hattrick kedua pada 2013, Risa gagal karena lalai dan terjatuh. Namun, setiap pertandingan memiliki kisahnya masing-masing, termasuk setiap luka yang ada di tubuhnya. Patah tulang rusuk seusai Sea Games di Filipina pada 2005 adalah salah satunya. Tak hanya itu, beberapa dislokasi di bagian leher, engkel kaki, tangan, serta mengalami patah tulang di bagian bahu juga sudah mewarnai perjalanan karir Risa hingga saat ini.

Risa tak ambil pusing dengan setiap cedera yang pernah dialami. Meski membutuhkan waktu yang lama untuk memulihkan kondisi, Risa tetap berkarya dan bangkit meraih cita-cita. Katanya, mengetahui kemampuan pribadi adalah kunci yang baik menghindari cedera saat bertanding. Modal keberanian dan nekat saja tidak cukup untuk sukses dalam sebuah pertandingan. Tak berhenti mempelajari teknik terbaik dan menentukan strategi yang akan digunakan saat kompetisi menjadi penting dilakukan untuk menghindari kecelakaan serius saat pertandingan. ”Misalnya kita nekat mau jumping, tapi skill kita belum matang, ya pasti celaka,” tambah Risa.

Kebijaksanaan seorang atlet downhill juga diuji saat berada di area pertandingan. Atlet tersebut harus tetap fokus dan memiliki feeling yang kuat saat harus melalui track. Menurut Risa, dengan teknik, strategi yang baik, serta banyaknya jumlah jam terbang maka seorang atlet akan dapat dengan mudah menentukan track mana saja yang baik dan tidak baik untuk dilaluinya. Bagi seorang Risa, mengalahkan diri sendiri adalah tantangan terbesar selama menggeluti downhill. Saat dirinya mulai merasa mampu dan sombong, saat itulah juga ia akan gagal. Menggeluti downhill juga dibutuhkan rasa rendah hati. Saat hati tak cepat puas maka niat untuk belajar dan mencari tahu akan hadir dengan sendirinya.

Tak hanya itu, kesehatian dengan sepeda dan alam juga menjadi tantangan lain. Risa mengaku perlu mengetahui segala perkembangan tentang sepeda dan teknologinya. Perawatan yang terbaik harus dilakukan terus-menerus pada sepedanya. Hal ini untuk menunjang penampilan maksimal saat bertanding. Sebuah sepeda yang canggih dan bagus sekalipun tidak akan dapat dikendalikan dengan baik jika penggunanya tidak merasakan kesehatian tersebut. Pesepeda yang mau terus berlatih juga akan menunjang kendaraannya untuk terlihat baik dan sehati dengan pemiliknya. Dengan begitu keduanya harus saling mendukung guna mendapatkan hasil maksimal.

Tokoh-04

Sepeda, Gaya Hidup, dan Kehidupan

Menjadi seorang atlet adalah cita-cita Risa sejak kecil meski bukan lahir dari keturunan keluarga atlet. Ia habiskan masa kecilnya dengan bergabung di salah satu klub bulutangkis sebelum akhirnya mengenal balapan sepeda. Sebagai seorang yang perfeksionis, Risa selalu ingin tampil maksimal. Risa kecil mampu melakukan ratusan kali lompatan saat bermain skipping ataupun puluhan kali putaran saat berlari. Ia merasa harus melakukan banyak latihan fisik demi menunjang hasil maksimal saat berlatih.

Orangtuanya, Koesnaedi dan Heni Koesnaedi, hanyalah penggemar dan penggiat olahraga. Keduanya menjadikan olahraga sebagai gaya hidup bagi keluarganya. Karate dan voli menjadi pilihan olahraga yang menarik bagi ayah dan ibu Risa. Demikian pula dengan kedua kakaknya. Berbeda dengan Risa yang mencintai bulutangkis dan sepeda, mereka lebih menyenangi olahraga maraton dan sepatu roda. Meski begitu, Risa mendapatkan dukungan penuh dari keluarganya. Tidak pernah ada larangan untuk terjun pada cabang olahraga downhill meski beberapa kecelakaan dan kejadian buruk menimpa dirinya. Mama, sebutan Risa bagi ibunya, adalah orang yang paling mendukung Risa. Ia tak pernah absen hadir dalam setiap pertandingan meski tidak berani melihat dari jarak dekat.

Begitu pula saat Risa gagal setelah membina 3,5 tahun perkawinan pertamanya. Ia mengalami depresi dan tekanan yang teramat dalam, hingga merasa karir dan masa depannya berakhir. Ia vakum selama satu tahun. Hingga akhirnya Mama menguatkan Risa untuk kembali bangkit dari kegagalan dan berhasil meraih medali emas pada Sea Games 2009. Ia pun sudah berdamai dengan masa lalunya dan menempuh hidup baru. Sebuah hadiah luar biasa dari Tuhan diterimanya saat bertemu dengan Steven PMJ Wong. Risa menikah kembali pada 5 Februari 2013 dengan Steven yang juga seorang atlet balap sepeda. Kesamaan visi dan misi serta karakter diri, menjadikan Risa dan Steven klop dalam urusan rumah tangga.

Tokoh-03

cantikkan siapa ya? #ehm

Bersama Steven, Risa menemukan kembali kebahagiaannya yang sempat hilang. Menjalani waktu seharian bersama Steven di arena track latihan, banyak menghabiskan waktu berdua meski hanya sekadar bercengkerama di rumah, diving ke luar kota, ataupun melakukan refleksi untuk peregangan otot seusai pertandingan menjadi aktivitas favorit Risa dan Steven. Keduanya mencoba saling mengerti satu sama lain. Risa seringkali memilih untuk membereskan rumah atau mencuci sepeda ketimbang memasak. Yang terpenting, dirinya tetap tunduk kepada suami. Budaya orang timur yang mengharuskan wanita di dapur dan suami bekerja, menurut Risa seringkali menjadi penghalang majunya karir seorang wanita. Padahal jika wanita mau dan berani untuk lebih melakukan eksplorasi, tidak ada yang tidak mungkin untuk dilakukan.

”Gender bukan penghalang. Jangan takut untuk jadi yang berbeda. Jangan juga terkungkung dengan tradisi lama,” tambah Risa. Dirinya masih menaruh harapan besar untuk generasi muda penerusnya di cabang downhill. Sayangnya, hingga kini masih tak banyak atlet wanita yang benar-benar serius mau mengikuti jejaknya. Fenomena inilah yang membuat hatinya tergerak untuk mendirikan yayasan yang dikhususkan bagi para anak daerah di Lembang, Bandung, yang mencintai balap sepeda. Yayasan yang masih bermodalkan kocek pribadinya ini nantinya diharapkan dapat menjadi bentuk penghargaan Risa kepada downhill di Indonesia. Ia juga berharap agar rakyat Indonesia, terutama generasi muda, dapat lebih mencintai kesehatan, dimulai dengan bersepeda. Bersepeda adalah sebuah gaya hidup yang amat cocok diterapkan di Indonesia. Setuju?[]

Advertisements

4 thoughts on “Yuk, Dukung Risa Suseanty

  1. Gender bukan penghalang. Jangan takut untuk jadi yang berbeda. Jangan juga terkungkung dengan tradisi lama.

    Manteb nih Ppendapatnya Risa.. 🙂

    Sip, semoga sukses untuk Risa..

    >> Asal berbeda yang positif ya jangan takut, apalagi kalau berbicara masalah gender. Risa memang mantap!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s