Public Lecture Muslim Show

Manusia itu seperti kayu dimana kayu itu mudah terbakar
Manusia mudah terbakar oleh emosinya sendiri

Muslim-1

Pagi masih segar, hawa sisa hujan kemarin masih terasa. Setelah beres mengantar anak dan istri, lalu berganti kendaraan dari motor menjadi sepeda, sosok itu langsung bersemangat ngaboseh ke Bandung Utara. Seminggu kurang sepeda lamanya yang bernama Spidi teronggok di halaman belakang RS Muhammadiyah, jadi wajar saja kalau bannya pun rada kempis. Pompa dulu di salah satu tambal ban jalan Lodaya, lalu dilanjut ngaboseh melewati Malabar. Sampai di Taman Pramuka, simbol tunas kelapa menggodanya untuk melakukan selfie. Ambil ancang-ancang lalu letakkan Soner K530i di tempat yang strategis, lalu dibosehlah Spidinya. Klik!

Muslim-2Ngaboseh dilanjut hingga sampai di daerah Cikapayang. Setelah dipikir-pikir, lebih baik parkir di basement Kompleks Masjid Salman daripada di kampus ITB karena nantinya toh akan Shalat Jumat. Jalan kaki dari masjid menuju gedung FSRD memberikan flashback sosok itu saat masih berstatus mahasiswa. “Ah, masa lalu yang indah,” bisiknya tersenyum. Saat sampai, tampaknya dia menjadi peserta pertama yang datang di Ruang Seminar FSRD. Public Lecture. Nama yang gaya. Jadi teringat kembali saat masih kuliah dulu. Sering banget mengikuti Kuliah Umum yang serasa mentereng. Padahal, jenuh juga melompat dari satu ruang kuliah ke ruang kuliah lainnya. Bedanya kalau kuliah biasa para mahasiswanya kenal semua, tapi kalau kuliah umum tidak semuanya kenal karena berbeda-beda jurusan.

Sambil menyematkan pin ‘Festival Mizan 2014’ di saku kiri baju, sosok itu duduk di bangku baris ketiga. Di depan, duduk tiga orang warga Perancis. Dua diantaranya kakak beradik yang memiliki darah Aljazair. Mereka adalah para punggawa komik ‘The Muslim Show‘ yang sudah mendunia, yaitu Noredine Allam, Karim Allam, dan Greg Blondin. Ada yang kenal dengan mereka? Mungkin komik di bawah ini bisa membuka mata siapa mereka. Sebuah karya yang menggelitik tapi langsung mengena. Jleb-lah pokoknya. Lewat komik, mereka berdakwah. Sederhana temanya. Kebetulan ‘The Muslim Show’ sedang mengadakan ‘road show‘ ke Indonesia dan Malaysia berkenaan diterbitkannya karya mereka dalam bahasa Indonesia.

Muslim-3

Noredine menjelaskan bahwa sebagai seorang muslim maka yang harus didahulukan adalah akal pikiran, bukan hawa nafsu semata. Itulah mengapa ia mendapatkan ide membuat ‘The Muslim Show’. Ide cerita atau inspirasinya sendiri bisa diambil dari mana saja, misalnya dari buku, dari obrolan, dari lingkungan sekitar, dari video, dari mana saja. Yang terpenting adalah dari kehidupan sehari-hari. Terus belajar dari kehidupan sehari-hari Kebenarannya pun jangan lupa selalu cek dan ricek. Hal ini dikarenakan bahwa dalam menilai apapun dan siapapun jangan menilainya dari luarnya saja. Amati dan cari tahu karena bisa jadi di balik itu ada sesuatu yang tak terduga. Layaknya sebuah ‘iceberg‘ yang terapung di lautan bahwa bagian yang tenggelam selalu lebih besar daripada bagian yang terlihat.

Muslim-4

Noredine dan Karim Allam adalah muslim, sedangkan Greg Bondin seorang non-muslim. Noredine adalah motor penggerak atau sutradara ‘The Muslim Show’ yang mengaku berlajar menggambar secara otodidak. Ia pernah bergabung di sebuah studio—selama kurang lebih 5 tahun—yang menggarap proyek pewarnaan ulang komik terkenal “Asterix” hingga kemudian mengalami kejenuhan dan pada tahun 2010 menciptakan BDOUIN, studio komik Muslim pertama di Eropa. Menurutnya, komik adalah metafora, karena itu dalam proses penggarapan komik, setelah ketemu idenya maka bagaimana caranya menginterpretasikan ide tersebut agar bisa ditampilkan tanpa menggurui dan—tentu saja—menghibur. Greg sendiri adalah aktor ‘The Muslim Show’ dan menjadi tukang gambarnya, sedangkan Karim yang bertugas memberikan tinta dan pewarnaan plus menjadi manajer. Greg menjelaskan bahwa ketiganya disatukan oleh chemistry. Jadi, sulit diceritakan. Pokoknya nyambung dan nyaman.

‘The Muslim Show’ adalah komik yang bercerita tentang berbagai kisah kehidupan sehari-hari kaum Muslim Perancis. Wajar kalau media ini ditampilkan dengan penuh jenaka dan terkadang satir. Komik tersebut menyuguhkan refleksi kehidupan orang-orang Islam (terutama Muslim Perancis)—pengalaman pribadi Allam bersaudara—yang kemudian ditambahkan efek dramatis agar pesannya lebih mengena. Tema yang diangkat pun beragam. “Saya hanya ingin menggambarkan pada dunia, bahwa Islam itu tidak sekaku seperti yang mereka pikirkan. Saya ingin menebarkan Islam yang universal,” kata Noredine. Di Indonesia, komik ‘The Muslim Show’ yang baru diterbitkan oleh Penerbit Dar! Mizan adalah “Ramadhan ala Muslim Show” dan “Hidup Bertetangga ala Muslim Show”. Sosok itu sendiri saat kuliah umum selesai, langsung membeli yang berjudul “Hidup Bertetangga ala Muslim Show” dengan harga promosi Rp45ribu.

Muslim-5

Dalam prosesnya, mereka menggambar semua detail dan cerita. Setelah itu mereka menghapus beberapa gambar yang tidak perlu. Bahkan, yang disisakan hanyalah gambar pertama dan terakhir. Yang terpenting dalam proses ini adalah pembaca memahami apa yang mereka sampaikan. Dan tidak semua diceritakan, apakah itu melalui gambar ataupun balon cerita. Biarkan pembaca memahami apa yang terjadi. Mencari simbol-simbol yang tepat untuk kemudian dijabarkan dalam bentuk komik adalah pekerjaan yang tidak mudah. Perlu waktu satu sampai dua tahun untuk menginterpretasikan hal ini. Sebagai contoh kematian disimbolkan dengan seseorang yang terkena petir karena kematian itu tidak ada yang tahu kapan datangnya dan di mana. Mimik atau ekspresi wajah juga penting. Inilah yang mereka pelajari dari Dr. Paul Ekman—seorang psikolog yang mempelajari emosi manusia dari ekspresi wajah—sehingga cukuplah mata dan mulut yang menunjukkan ekspresi wajah tokoh ‘The Muslim Show’. Proses menggambarnya sendiri tidak butuh waktu lama.

Nah, apakah Anda tertarik membaca atau membeli komik ‘The Muslim Show’ ini?[]

Advertisements

5 thoughts on “Public Lecture Muslim Show

  1. aku malah baru tau bang..

    kmaren mlewatkan ibf karna brada di negri sana,jadi insya allah aku beli komiknya
    masuk list deh bang

    makasi infonya 🙂

    >> Dengan begini jadi tahu kan? Silakan dibeli ya bukunya … sama-sama

  2. Dalam komik itu, yang membuat sy paling terharu adalah adegan saat seorang anak laki-laki bilang ke ayahnya: “Ayah tak pernah mengurusku.” (padahal ayahnya udah jungkir balik mengurusnya). Ngena banget.

    Terima kasih sudah datang ^_^

    >> Iya, itu kena banget ke anak-anak, baik yang masih kecil maupun yang sudah dewasa. Anak saya pun langsung mikir. Sama2, Teh Rismaaa ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s