Sosok Itu dan Muslim Show

Muslim-6

Setelah menghadiri Kuliah Umum di FSRD ITB, sosok itu langsung bergegas ke Masjid Salman ITB. Waktu shalat Jumat telah tiba. Buku “Hidup Bertetangga ala Muslim Show” sudah di tangan, plastiknya saja belum dibuka. Dibacanya nanti saja. Dia pun masih sempat baca beberapa halaman setelah tilawah dan sebelum khatib naik mimbar. Komik-komik yang kocak. Selesai jumatan, dia masih sempat mengetik tulisan sebelumnya dan makan siang di kantin, lalu langsung cabut ngaboseh menuju RS Muhammadiyah. Sekali lagi, bertukar kendaraan dan mengantar Sang Belahan Jiwa plus Adik Anin yang mau lari di Lapangan Saparua. Dia dan Kakak Bibin sendiri langsung meluncur ke Toko Gramedia Merdeka guna bertemu lagi dengan para punggawa ‘The Muslim Show‘ plus meminta tandatangan yang tidak sempat didapatkan.

Meski sempat bolak-balik dari lantai dua ke lantai dasar karena komik yang tertinggal, akhirnya sosok itu dan Kakak Bibin langsung duduk di barisan kedua. MC pun sudah mulai bersuara dan mengundang pengunjung toko buku untuk turut meramaikan acara. Pukul empat sore, mereka bertiga datang. Perlu dicatat, ya, ternyata hanya Karim yang dapat berbahasa Inggris jadi wajar kalau dialah yang ditunjuk jadi manajernya. Dan di antara mereka bertiga, Greg-lah yang paling antusias mempelajari bahasa Indonesia, terbukti dengan bahasa sapaannya seperti, “Apa kabar? Terima kasih atas pelayanannya dan Jayalah Indonesia.” Oya, sungguh beruntung sosok itu membeli komiknya di ITB karena harga di Gramedia mencapai Rp55ribu, jadi dapat untung sepuluh ribu hehehe….

Muslim-7

Allam bersaudara dan Greg ternyata baru pertama kali datang ke Indonesia. Mereka sangat senang berada di sini karena mayoritas penduduknya murah senyum dan ramah-ramah. Inilah yang semakin menguatkan Greg bahwa muslim itu baik, tidak kaku, dan tidak seperti yang diberitakan di media massa seperti teroris dan lain sebagainya. Mereka merasa takjub bahwa ada banyak muslim yang memakai jilbab di sini dan juga begitu banyaknya masjid. Hanya saja—menurut Noredine—suara azannya tidak terdengar, mungkin karena terlalu kerasnya suara kendaraan dan suara-suara lainnya. Hal ini jelas mempermudah mereka dalam beribadah, sangat berbeda dengan di Perancis—yang bahkan untuk melakukan ibadah saat berkuliah pun harus sembunyi-sembunyi dan memasang selebaran/tulisan agar mereka tidak diadukan karena dianggap sebagai teroris. Miris. Di sini, dengan segala kemudahan itu ternyata membuat umat Islam menjadi malas dan menanti-nantikan shalat sehingga masjid pun banyak yang kosong.

Muslim-8

Komik ‘The Muslim Show’ sebenarnya tidak terlalu baik tanggapannya di Perancis karena di sana budaya Islamophobia masih kuat, terutama media massa dan pemerintahnya. Komik mereka hanya dijual di toko-toko buku kecil yang notabene milik muslim karena tidak bisa menembus toko-toko buku besar. Namun yang patut disyukuri ternyata karya mereka bisa diterima di luar Perancis, bahkan boleh dibilang begitu amat diterima di Indonesia. Kehidupan muslim di Perancis yang minoritas sebenarnya sudah diterima dan biasa saja dalam kehidupan sehari-hari, tetapi sering dipermasalahkan oleh—lagi-lagi—media massa dan pemerintah. Ghirah keislamannya juga sama dengan di Indonesia, misalnya saja saat Ramadhan mereka berlomba-lomba melakukan amal kebaikan dan berjamaah tetapi hilang dan berpisah-pisah kembali setelah Ramadhan. Kehidupan inilah yang coba disorot oleh ‘The Muslim Show’. Sederhana tetapi mengena.

Sosok itu sendiri berkesempatan untuk bertanya dan salah satunya dapat mengobrol empat mata dengan Karim dengan media bahasa Inggris. Berbeda saat mengobrol enam mata dengan Noredine karena harus dengan penerjemah hehehe. Intinya dia menanyakan kemungkinan ‘The Muslim Show’ bisa menampilkan komik dengan latar dan budaya Indonesia. Noredine pun menjawab mengapa tidak komikus Indonesia yang membuatnya. Pada akhirnya sosok itu mengusulkan dan menawarkan untuk mengirimkan naskah/script yang mungkin bisa dikomikkan oleh mereka. Alhamdulillah mereka menerima dengan tangan terbuka. “Why not?” kata Karim. Noredine pun memberikan kartu namanya dan sila kirim file-nya lewat email. Alhamdulillah, pintu rezeki dan silaturahmi yang harus disambut dengan baik. Oya, waktu di ITB, sosok itu mendapatkan buku atas pertanyaannya dan kali ini juga mendapatkan paket buku lagi dari Teh Anis sebagai blogger yang mau datang meliput. Hatur nuhun Mizaaan.

Muslim-9

Bukan hanya itu, sosok itu pun mendapatkan tanda tangan yang unik berupa karikatur wajahnya dan Kakak Bibin di halaman pertama buku ‘Hidup Bertetangga ala Muslim Show’. Untuk hal ini, wajar saja kalau ‘Meet and Great’ bersama mereka memerlukan waktu lama dari biasanya karena Noredine dan Greg langsung menggambar karikatur pembeli komiknya, bukan menandatanganinya. Tak heran kalau waktu acara di Pesta Buku Jakarta antrian bisa mencapai 200-an orang. Wow! Dan yang paling mengejutkan adalah … anak-anak di rumah suka sekali dengan komik ini. Adik Anin yang belum begitu lancar membaca pun senang dengan teknik menggambarnya. Benar-benar suka. Betul-betul-betul! Sebelum pukul lima, acara selesai. Allam bersaudara dan Greg harus lanjut menuju Radio Sonora Bandung untuk diwawancara. Tiga warga Perancis yang luar biasa. Salut![]

Advertisements

6 thoughts on “Sosok Itu dan Muslim Show

  1. wah… makin iri saya dengan bang aswi 😀 sudah meet and greet, wawancara enam mata dibuatkan pula karikaturnya ^^

    >> Alhamdulillah ^_^

  2. wuih luar biasa, dapat kesempat digambar karikaturnya sama Personil The Muslim Show…Ngiri juga euy

    >> Tapi saya pun iri kalau ada undangan dan gak bisa hadir -_-

  3. Sebuah kesempatan langka untuk bisa dilukis sketsanya oleh kartunis yang sedang menjadi pembicaraan itu …
    Kemarin anak saya yang sulung sengaja ke Istora … ke pameran buku islam … karena penasaran ingin melihat komikus dari perancis tersebut …

    Salam saya Kang
    (18/3 : 4)

    >> Yup, sebuah kesempatan langka. Lalu, anak Om NH beli buku dan dapat tandatangan gak?

  4. hwaraaa..dikasih gambar karikatur gitu..
    iih rugi pisan saya ga dtang ya hiks…

    ibf kmaren ternyata smakin variatif dan saya mlewatkan sungguh,tapi tak menyesal juga sih,wong timingnya pas barengan jeh he he,,

    kapan mreka ke indonesia lagi bang?

    >> Iya, alhamdulillah. Memang rugi, apalagi mendengar pengalaman mereka. Wah, gak tahu deh kapan mereka kembali lagi, wong ini juga kali pertama mereka ke Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s