7 Tips Menulis Ernest Hemingway

Writing to Heal: pasien asma yang menulis 20 menit sehari lebih cepat sembuh ketimbang kelompok pasien yang tidak menulis ~ James W. Pennebaker (Dept. of Psychology University of Texas, Austin)

Event-30Sebelumnya sosok itu pernah membahas tentang Gerakan Indonesia Menulis dimana salah satu pembicara yang hadir adalah Mbak Tutu yang bercerita tentang Paulo Coelho, Mushashi, dan filosofi pensil. Ada satu topik yang terlewat dalam postingan tersebut, yaitu 7 Tips yang dikemukan oleh Ernest Hemingway (sastrawan Amerika yang berhasil mendapatkan Nobel Sastra). Jika ingin bebas maka menulislah. Ya benar, menulis itu membebaskan dan bahkan menyembuhkan. Persis seperti apa yang telah ditulis oleh Pennebaker di atas.

Tidak usah dibahas lagi bagaimana sosok itu menceritakan bahwa menulis itu adalah salah satu dari profesi yang menjanjikan, jika semangat, kerja keras, dan kejelian terlibat di dalamnya. Lihat saja JK Rowling yang menjadi perempuan terkaya sedunia berkat seri Harry Potter-nya. Atau lihat juga Harper Lee yang menulis novel seumur hidupnya dan royalti yang diterimanya dapat dinikmati hingga kini usianya yang ke-92. Atau untuk tingkat lokal siapa yang tidak mengenal Andrea Hirata, Dee Lestari, dan juga anak-anak yang menulis seri ‘Kecil-Kecil Punya Karya’.

Tokoh-05Bagaimana cara memulai menulis? Bacalah. Awali dengan banyak membaca. Sosok itu pernah menjelaskannya saat memulai blog ini. “Jika kau tak punya waktu untuk membaca maka kau juga tak punya waktu (atau alat) untuk menulis. Sesederhana itu,” kata Stephen King. Lalu setelah itu apa? Menganalisa. The best way to synthesize is to, first, analyze. Dan yang terakhir adalah ‘content digesting‘. Kita hanya akan menulis dengan baik bila menuliskan apa yang kita ketahui, dan itu berarti menuliskan apa yang ada dalam benak kita sendiri.

Nah, berikut adalah 7 Tips Menulis Ernest Hemingway:

Tokoh-06

  1. Untuk memulai, tulis satu kalimat lengkap yang secara makna juga benar. Ini yang dikatakan Hemingway, Kadang aku mengalami kebuntuan menulis, dan akan diam di depan perapian sambil melempar-lemparkan kulit jeruk ke dalam api, menatap percik kebiruan yangmuncul. Aku akan berdiri dan menatap atap-atap rumah di Paris dan berpikir, “Jangan khawatir. Kamu selalu bisa menulis sebelum ini. Tulis saja kalimat yang benar. Kalimat yang paling benar yang kamu tahu.” Maka aku pun menuliskan kalimat itu dan terus melangkah dari sana.
  2. Tahu saat berhenti. Lebih baik berhenti bekerja saat Anda merasa produktif dan tahu ke arah mana cerita akan Anda bawa. Jika Anda lakukan hal itu setiap hari maka kecil kemungkinan Anda akan mengalami kebuntuan.
  3. Jangan pernah pikirkan tulisan Anda saat tidak sedang mengerjakannya. Penting untuk membaca kalimat apa yang telah Anda tulis. Jadi kalau Anda terus memikirkannya, maka saat Anda menengok kembali tulisan tersebut Anda akan merasa jenuh dan buntu. Anda perlu berolahraga atau apa pun yang melelahkan badan Anda agar tak memikirkan tulisan Anda. Lalu ada saatnya juga Anda membaca hal lain demi penyegaran. Saya selalu berusaha tidak mengosongkan sumur gagasan menulis saya, dan berhenti saat sumur itu masih belum kering.
  4. Saat kembali bekerja, mulailah dengan membaca ulang tulisan Anda. Yang paling bagus adalah membaca semua dari awal setiap hari sambil mengedit, lalu melanjutkan menulis dari titik terakhir yang Anda tulis sehari sebelumnya. Namun kalau tulisan sudah cukup panjang, pastikan membaca ulang setidaknya tiga bab setiap hari, lalu membaca seluruhnya dari awal seminggu sekali. Dengan begitu karya Anda dapat dipastikan menjadi karya yang padu.
  5. Jangan gambarkan emosi, tapi ciptakan.
  6. Menulislah dengan pensil. Lihatlah postingan Gerakan Indonesia Menulis.
  7. Tulis yang singkat saja.
Advertisements

3 thoughts on “7 Tips Menulis Ernest Hemingway

  1. Bang Aswi aja suka buntu ya dalam menulis, gimana saya yang gak bia nulis 😉

    >> Tidak ada yang ahli dalam hal apa pun, yang penting adalah terus berproses dan terus belajar

  2. Saya ingin bisa menulis dengan baik. 🙂 Serta tidak bosan menulis. Kalau sudah agak penat saya mending STOP. Istirahat sejenak. Jalan-jalan. ketika akan menulis lagi sudah fresh

    >> Yup, apa pun aktivitasnya memang perlu istirahat. Tinggal bagaimana cara istirahat yang maksimal agar tidak kebablasan ^_^

  3. saya masih bingung dengan kalimat ini “Jangan gambarkan emosi, tapi ciptakan” ? 😀

    >> Jangan pernah menulis, “Dia marah dan langsung menghancurkan semua yang ada di sekitarnya” tetapi tulislah dengan, “Dia melotot. Matanya memerah seolah-olah ingin membakar apa pun yang dilihatnya. Seketika dia langsung melempar vas di depannya, menendang pintu, dan menarik gordin. Semua terjadi begitu cepat.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s