Peran Farmasis Membantu BNN

Semua elemen bertanggungjawab
Semua lapisan masyarakat bertanggungjawab
Apa pun pendidikan dan profesinya
Yuk, jadilah Indonesia Bebas Narkoba

Siapa yang tidak mengenal dengan istilah ‘narkoba’. Namun tidak banyak yang mengetahui apa itu ‘narkoba’ yang sebenarnya dan apa bahayanya. Banyak yang hapal kalau narkoba itu singkatan dari narkotika, psikotropika, dan bahan adiktif berbahaya lainnya, tetapi tidak banyak yang mengetahui apa itu narkotika, apa itu psikotropika, dan apa itu bahan adiktif yang dianggap berbahaya. Sedangkan definisinya sudah bisa dicari di dunia maya—kalau perlu disaling ulang—bahwa narkoba adalah zat atau bahan yang masuk ke dalam tubuh manusia baik melalui mulut, hidung, atau bahkan disuntik, efeknya ternyata dapat mengakibatkan perubahan pikiran, mengubah perasaan atau suasana hati, dan lebih berbahayanya adalah dapat mengubah perilaku seseorang. Salah satu ciri paling spesifik dari narkoba adalah sifat ketergantungannya, baik itu secara fisik maupun psikologis.

Zat atau bahan yang disebut narkoba itu bahkan beberapa di antaranya dalam bentuk sediaan. Sediaan itu sendiri kalau menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah (1) hasil menyediakan; (2) sesuatu yang sudah ada (sedia); atau (3) persenyawaan yang telah siap melalui proses kimia. Sediaan itu sangat berkaitan erat dengan ahli farmasi atau biasa dikenal dengan farmasis. Bentuk-bentuk sediaan yang umum dikenal oleh masyarakat adalah bentuk formulasi obat hingga didapat suatu produk yang siap untuk diminum atau dipakai oleh penderita supaya tercapai efek terapi yang diinginkan. Nah, bentuk zat atau bahan yang biasa disebut dengan narkoba itulah yang kemudian hampir mirip bahkan sudah nyata dalam bentuk sediaan. Di sinilah peran farmasis agar bisa terlibat langsung bersama Badan Narkotika Nasional (BNN) mewujudkan masyarakat yang sehat.

Di dunia farmasis, narkoba dikenal dengan istilah NAPZA yang artinya sama dengan apa yang sudah dijelaskan di atas. Dari efek yang dihasilkannya, narkoba dapat dibedakan atas tiga hal, yaitu depresan, stimulan, dan halusinogen. Depresan itu mempengaruhi sistem saraf pusat, sama halnya dengan stimulan. Yang membedakan adalah bahwa depresan memiliki pengaruh yang berlawanan dengan stimulan. Depresan dapat menurunkan kerja organ tubuh, seperti misalnya dapat menurunkan tekanan darah, denyut jantung, pernapasan, kerja otot, dan cenderung membuat seseorang menjadi mengantuk dan ingin tidur. Sedangkan kerja stimulan adalah menaikkan tingkat kewaspadaan dalam waktu singkat. Jadi berbanding terbalik dengan depresan, stimulan akan merangsang kegiatan saraf dan fungsi tubuh sehingga mengurangi rasa ngantuk dan lapar. Beberapa kasus bahkan menimbulkan rasa gembira dan semangat yang berlebihan. Kalau halusinogen dapat menimbulkan efek halusinasi yang bersifat mengubah perasaan dan pikiran. Dan kalau orang sudah berhalusinasi, maka akan terciptalah daya pandang yang berbeda.

Yang sering menjadi pertanyaan adalah mengapa efek ketergantungan obat bisa amat membahayakan? Namanya ketergantungan maka seseorang tidak akan lepas atau sulit lepas. Itulah mengapa pecandu narkoba akan selalu memakainya secara berulang. Jika tidak, biasanya akan ada efek tidak enak atau rasa sakit. Ini jelas amat mengganggu sehingga mereka pun berusaha semaksimal mungkin untuk dapat mengonsumsinya lagi. Berbagai cara akan ditempuhnya meski itu harus menggunakan cara kekerasan atau bentuk kejahatan lainnya. Artinya, ketergantungan inilah yang nantinya merangsang para pecandu narkoba untuk melakukan kejahatan. Jadi, jika awalnya merugikan diri sendiri, di kemudian hari jelas akan mengganggu orang lain.

Salah satu bahan terbaru yang dianggap narkoba dan tidak banyak masyarakat yang mengetahuinya adalah zat bernama 3,4-methylenedioxy-N-methylcathinon atau methylone (metilon) atau ‘M1’. Zat ini merupakan turunan dari zat kimia yang bernama cathinon (katinon) yang dengan mudah dapat diperoleh dari tanaman Kath yang tumbuh subur di daerah Puncak. Padahal katinon sudah masuk dalam UU No. 35/2009. Metilon dapat mengalami berbagai modifikasi struktur dan tentunya dapat menghasilkan senyawa baru. Kalau sudah begitu, tentu efek dari senyawa baru ini biasanya akan lebih berbahaya lagi. Peran farmasis memperkenalkan zat dan tumbuhan tersebut pada masyarakat adalah salah satu bentuk tanggung jawab bersama.

Event-34

Sosok itu sendiri adalah alumni Farmasi ITB. Meski bukan apoteker, tapi dia turut bertanggung jawab menyebarluaskan informasi yang hanya beredar di kalangan akademis, dengan cara menuliskan pandangannya melalui blog ini. Menurut UU No. 35/2009, narkotika tidak melulu dihasilkan dari selain tanaman. Semua orang mengenal ganja, dan ini berasal dari tanaman. Akan tetapi apakah narkoba itu hanya berasal dari ganja? Ternyata tidak. Ada juga kokain dan yang terakhir seperti disebutkan sebelumnya malah berasal dari tanaman Kath, yang mudah diberdayakan oleh petani di kawasan Puncak. Hasil penelitian BNN dengan Pusat Penelitian Kesehatan (Puslitkes) UI menyatakan bahwa setiap hari ada 50 orang yang meninggal karena narkoba. Ini jelas sia-sia, karena itulah tingkat kejahatan narkoba sudah pada area darurat, tidak memandang profesi, umur, dan strata. Ini saatnya Indonesia Bergegas.

Pada tingkat industri, farmasis amat berperan di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), yaitu sebagai pengawas. Kalau non-farmasi, ada BNN dan Bareskrim Polri yang mengawasi. Yang perlu diwaspadai oleh farmasis adalah jenis narkotika sintesis seperti sabu-sabu dan ekstasi. Mengapa? Karena sabu-sabu dan ekstasi dibuat dari bahan dasar sediaan farmasi (obat). Clandestine laboratory atau laboraotrium gelap yang berhasil digeledah banyak ditemukan beberapa sediaan farmasi yang digunakan sebagai zat aktif ataupun zat tambahan untuk pembuatan narkotika sintetis. Di sinilah peran farmasis menjadi penting karena mereka bisa dilibatkan untuk mencari tahu zat-zat apa saja yang biasa digunakan untuk pembuatan narkotika sintesis tersebut sehingga bisa dilacak bagaimana bisa tersebar atau terjual.

Akan tetapi, cara di atas adalah cara yang biasa dilakukan kalau terbukti adanya narkotika sintesis yang menggunakan sediaan farmasi. Jauh sebelumnya, farmasis bisa terlibat agar penyimpangan dari penyebaran obat-obatan itu dapat dicegah. Cara preventif atau pencegahan inilah yang coba dikemukakan oleh Ari Sutyasmanto, S.Farm., Apt (Penyidik Prekursor Dit. P2 – Deputi Pemberantasan BNN). Beberapa cara yang diusulkan sebagaimana pernah disampaikan beliau dalam Seminar Nasional Apoteker Angkatan XXIV ISTN pada hari Sabtu, 23 November 2013, adalah sebagai berikut.

  1. Perlu adanya kerja sama para stakeholder yang berkaitan dengan prekursor narkotika dan narkotika dengan para farmasis serta apoteker, khususnya dalam pengawasan produksi, distribusi, dan pelayanan sediaan farmasi.
  2. Diperlukan komunikasi antara para stakeholder yang berkaitan dengan prekursor narkotika dan narkotika dengan organisasi profesi yang menaungi para farmasis dan apoteker dalam rangka pembinaan mengenai bahaya narkotika sintetis yang bahan utamanya berasal dari prekursor.
  3. Perlu melakukan seminar serta focuss group discussion (FGD) yang melibatkan para stakeholder, farmasis, dan apoteker yang membahas narkotika sintetis dan prekursor yang digunakan dalam produksinya.
  4. Para apoteker dan farmasis perlu kembali ke kode etik kefarmasian yang menekankan paradigma pharmaceutical care yang bertumpu pada pelayanan patient oriented.
  5. Para apoteker dan farmasis perlu dilibatkan sebagai tenaga sumber daya manusia pada badan dan lembaga pengawasan narkotika dan prekursor narkotika serta penegakan hukum. Sebab, pada hakikatnya, narkotika merupakan sediaan farmasi yang bersifat khusus sehingga penanganan dan pengawasannya juga bersifat khusus.[]
Advertisements

One thought on “Peran Farmasis Membantu BNN

  1. Salam Takzim
    Wah sosok itu ternyata alumnus Farmasi ITB ya, pantas selalu sehat dan ceria pasti tau dong obatnya hehehe, terima kasih bang sudah berkunjung dan memberi warna
    Salam Takzim Batavusqu

    >> Iya, Mas. Dan obat terbaik adalah jauh sebelum sakit datang, yaitu dengan menjaga kesehatan baik dengan cara apapun termasuk rajin berolahraga hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s