Sahabat Itu Pun Pergi

Di utara Jakarta, dua ratus meteran dari tepi pantai ada banyak besi raksasa tertumpuk. Besi-besi itu adalah sisa-sisa kapal atau bangunan yang terpaksa dihancurkan. Besi yang diperkirakan masih memiliki nilai jual ditumpuk sementara di sana, di pinggir jalan, di seberang lapangan bola. Sampai kemudian mendapatkan jodohnya, yaitu para pembeli yang memang masih dapat memanfaatkan besi-besi itu. Meski tidak dibilang sering, anak-anak komplek sering bermain di sana, seperti halnya sosok itu dan Alfa.

Alfa, sebut saja begitu, masih terbilang saudara (jauh). Sosok itu bahkan pernah diasuh oleh ibu Alfa. Sosok itu tinggal di jalan Ketel, seratus meter dari tepi laut. Untuk keamanan dan kenyamanan, batas antara komplek dan pantai dipasang beton plus pagar pengaman. Alfa sendiri tinggal di antaranya, di sebuah bedeng dimana sebagiannya berdiri di atas tanah dan sebagiannya lagi ditopang oleh bambu-bambu di atas laut. Bedeng tepi laut. Tak berani yang berenang di bawah bedeng-bedeng itu. Jijik adalah alasan yang mendasar. Cari tahu sendiri, ya.

Suatu hari, sosok itu bermain bersama Alfa dan beberapa temannya ke tumpukan besi-besi yang telah dijelaskan di atas. Siang yang terik, tapi tak membuat untuk menahan mereka semua dari bermain. Namanya juga anak-anak. Sosok itu memanjat beberapa besi yang bisa dipanjat. Alfa juga begitu. Pun teman-teman yang lain. Semua bermain panjat-memanjat, saling bersembunyi, beberapa melompat untuk menguji keberanian. Benar-benar menyenangkan. Mereka tak peduli betapa jerinya para orangtua yang lewat saat melihatnya. Sampai akhirnya … seseorang berteriak. Dan suara gedebuk tanda ada yang jatuh terdengar keras. Sosok itu melotot. Alfa mengerang. Wajahnya penuh warna merah kental.

Itu hanyalah salah satu ingatan yang tak pernah dilupakan sosok itu. Kejadian yang lucu lagi adalah saat Gamma, salah satu adik Alfa, berada di belakang rumah. Belakang rumah bedeng berbentuk panggung sehingga yang ada di bawah ya sudah pasti laut. Salah satu alasan mengapa jijik berenang di bawah rumah-rumah bedeng adalah pembuangan air besarnya. Lubangnya sudah pasti langsung terjun bebas ke laut. Dan Gamma saat itu sedang asyik berjongkok di belakang, tetapi bukan di kamar mandi. Ia berada di paling belakang rumah, hanya mengandalkan pegangan bambu di depannya. Angin pun nakal. Sapuannya yang halus membuat Gamma mengantuk. Alfa dan sosok itu mengetahuinya. Iseng, mereka pun mengejutkan Gamma. Tak ayal lagi pegangan Gamma terlepas dan dia pun jatuh bebas ke bawah. BYURRR! Air yang dingin langsung menyadarkannya. Basah kuyup sudah sekujur tubuhnya ditemani serpihan kotorannya sendiri yang terburai. Hiyyy … jijik!

Persahabatan sosok itu dengan Alfa memang tidak sebatas keluarga. Lebih dari itu. Meski dari segi usia Alfa lebih tua daripadanya, tetapi dari sisi pendidikan alhamdulillah sosok itu lebih tinggi setahun. Padahal mereka pernah sebangku waktu kelas 1 SD. Satu bangku bertiga. Satu orang temannya adalah Omega, sebut saja begitu. Omega juga tinggal di bedeng, rumahnya paling ujung. Omega paling awal memiliki video tape yang masih berformat VHS. Mereka semua sering menonton video bersama di rumah Omega. Ada Megaloman, Voltus, Lionman, Godsygma, dan lain sebagainya. Kaset lagu-lagu film tersebut yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesianya pun Omega punya. Nah, pada akhirnya hanya sosok itu yang dapat naik ke kelas 2. Alfa dan Omega tinggal kelas.

Kenang-13

Pada akhir tahun 1992 dan awal 1993, komplek mereka digusur. Sosok itu dan Alfa berpindah ke Kelapa Gading, sedangkan Omega pindah ke Muarakarang. Dia sudah biasa bermain di rumah Alfa, begitu pula sebaliknya. Setahun tinggal di Kelapa Gading, sosok itu hijrah ke Bandung untuk melanjutkan kuliah. Sementara Alfa tetap di Jakarta. Pergaulan ternyata mengubah segalanya. Ini yang tidak disadari sosok itu. Di matanya, Alfa tidak berubah. Badan yang agak bongsor dengan rambut ikalnya, tidak jauh beda dengan kembarannya yang perempuan. Ya, Alfa memang kembar. Alfa sudah terbiasa merokok. Tidak kenal waktu. Hanya saja kalau bertemu sosok itu, Alfa agak sungkan dan langsung mematikannya. Mereka berdua mengobrol tidak kenal waktu. Di mana saja kalau ada kesempatan, terutama kalau dia sedang berlibur dan pulang ke Kelapa Gading.

Bertahun-tahun kemudian, Alfa sudah bekerja, setelah lulus dari STM. Sekali lagi kehidupan Alfa di mata sosok itu biasa-biasa saja. Bekerja, membantu kedua orangtuanya, dan berkumpul bersama teman-temannya. Naik vespa keliling Jakarta atau sekadar nongkrong di depan komplek saat sosok itu baru datang dari Bandung. Hingga suatu saat, saat sosok itu sedang berkuliah, ada kabar yang sangat mengejutkan. Alfa meninggal dunia. Sudah lama mereka berdua tidak bertemu. Sosok itu diam, tidak tahu apa yang harus diperbuat. Pada saat yang tepat sosok itu pulang ke Kelapa Gading, seminggu atau 2 minggu setelah kabarnya diterima. Ia pun bertanya mengapa Alfa bisa meninggal. Apakah sakit?

Dan hasi penyelidikannya membuatnya mengernyit. Sedih dan tidak percaya. Alfa ternyata meninggal kareva overdosis (OD). Menurut kabar, tubuhnya kurus kering dan menghitam. Sosok itu tidak dapat melihat untuk terakhir kalinya. Dia menyesal mengapa tidak bisa membantu Alfa. Dia tidak tahu. Kadang, dia merutuki dirinya sendiri tidak bisa membaca sinyal akan sahabatnya itu. Selang beberapa tahun kemudian, adiknya Beta juga meninggal dunia. Alasannya sama. Didiagnosa OD. Padahal dia baru menikah. Tinggal Gamma yang masih ada dan dapat membanggakan kedua orangtuanya, alhamdulillah. Kabar-kabar lainnya pun didengar bak petir di siang bolong. Dua orang teman SD-nya juga terlibat dengan narkoba. Dua-duanya OD, bahkan salah satu diantaranya pernah ditembak dan dibui karena dianggap mengedarkan. Salah seorang tetangganya yang jauh beberapa tahun di bawahnya (usia) juga meninggal karena OD. Lagi-lagi sosok itu (hanya bisa) diam.

Indonesia Bergegas. Pemerintah Indonesia memang harus bergegas mengatasi semua hal itu. Masyarakat harus segera dirangkul dan diberi penjelasan mengenai kejahatan narkoba. Ia begitu kejam dan sadis. Bermula dari merokok, bisa jadi, lalu berimbas pada pergaulan yang salah, hingga kemudian hanya penyesalan yang ada. Siapa pun bisa terkena, termasuk sahabat terdekat (bahkan saudara) dan teman-teman sosok itu sendiri. Gerakan anti narkoba harus terus disebarkan dan dikampanyekan. Tahun 2014 sebagai Tahun Penyelamatan Pengguna Narkoba harus benar-benar dijalan dan jangan dijadikan slogan. Tidak hanya Badan Narkotika Nasional (BNN) yang bergerak, tetapi seluruh lapisan masyarakat. Semua harus bergandengan tangan. Mencegah dan menyelamatkan pengguna narkoba, sebelum semuanya terlambat. Alfa, Beta, dan dua orang temannya adalah beberapa contoh kasus yang terlambat.[]

Advertisements

One thought on “Sahabat Itu Pun Pergi

  1. Cerita yang menyentuh pak, :’) Narkoba memang jahat ya Pak, sayang banyak generasi muda seakan nggak sadar. Salam kenal

    >> Panggil saya dengan ‘Bang’ … ya, inilah mengapa saya berbagi. Salam kenal kembali ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s