Bos Badir Meradang (1)

Kehidupan baru saja lahir
: hanya begitu saja
Telur dahulu
atau anak ayam dahulu?

Awalnya aku adalah orang yang miskin. Lahir dari sebuah keluarga yang tergolong elit (baca: ekonomi sulit) dan tinggal di kawasan yang terbilang kumuh, tepatnya di bagian utara Jakarta. Karena berawal dari keadaan di bawah roda kehidupan, akhirnya kepribadianku terbentuk secara alami untuk mengatasi hal-hal yang selalu terjadi pada rakyat kecil. Aku jadi tidak gampangan cengeng, menyukai kekerasan, dan berusaha mendapatkan sesuatu dengan menghalalkan segala cara. Namun itu semua sudah kurasakan seiring terkurasnya keringat dan darahku. Episode masa lalu yang tidak perlu diingat-ingat, apalagi melihat keadaanku yang sudah berubah drastis saat ini. Tetapi perlu diingat, bahwa walaupun aku sudah tergolong eksekutif, kepribadianku masih tetap seperti yang dulu. Dingin dan kejam.

“Bos!”
“Hmm…?”
“Tugas sudah selesai dilaksanakan, Bos!”
“Pak Rustam?”
“Kekk!” Paijo menarik tangannya melewati leher.
Aku mengangguk-angguk. “Lalu barangnya?”

Paijo mendekati mejaku dan meletakkan sebuah tas kopor hitam. “Ini Bos,” jawab Paijo sambil membuka tas itu dan memperlihatkan isinya. Aku mengangguk dan tersenyum senang, “Bagus…, bagus…” Kuambil sebatang cerutu dari sebuah kotak berlapiskan perak, dan dengan sigap Paijo langsung menyodorkan api. Aku melirik kepadanya sembari tanganku mengambil seikat uang dari dalam tas dan kulemparkan kepadanya. “Terima kasih Bos,” ujar Paijo menjura. Aku mengangguk dan menepiskan tangan, menyuruhnya pergi.

Itulah keadaan diriku saat ini. Ibarat sebuah film, mungkin aku sudah termasuk golongan bos mafioso Italia atau yakuza Jepang. Tetapi aku tidak mau disebut sebagai bos preman karena aku sama sekali tidak berhubungan dengan preman-preman itu, walaupun mereka sangat mengenal dan menghormatiku. Konotasi bos preman terlalu bernada negatif untuk diriku. Lagi pula, premanisme itu hanyalah untuk menutupi kedokku yang sebenarnya. Kedok kedua. Bisnis utamaku tentu saja barang haram.

Banyak yang tidak tahu tentang pekerjaanku. Mereka hanya mengetahui kalau aku adalah seorang pengusaha properti, yang kiri-kirinya aku terkenal sebagai lintah darat. Kedok pertama. Itulah sebabnya kenapa aku sering dipanggil dengan sebutan Badir, padahal aku terlahir dengan nama Ujang. Kedengarannya lucu ya! Katanya, sih, singkatan dari Banyak Dirham. Aku sendiri bingung kenapa disebut demikian. Kita kan tinggal di sebuah negara yang bermata uang rupiah, bukannya dirham. Ataukah mungkin karena mayoritas penduduk negara ini beragama Islam yang menginginkan sistem ekonomi syariah, entahlah, aku tidak mau tahu.

Omong-omong soal dirham, ekonomi syariah dan Islam, aku selalu disamakan dengan Osama bin Laden. Seseorang yang disebut sebagai teroris oleh negara Paman Sam dan sekutunya. Teroris! Yap, aku sekarang juga menyandang gelar seorang teroris. Hanya karena aku disangkutpautkan dengan kejadian pengeboman di Bursa Efek Jakarta dan Atrium Senen beberapa tahun yang lalu. Jika Osama bin Laden diplesetkan menjadi Been Loadin’ maka aku selalu disebut sebagai Bombardir, sebuah plesetan dari Bos Badir.

==oOo==

Ting-Tong! Ting-Tong!

“Ya, ada apa, Pak?”
“Maaf, kami dari Polda Metro Jaya dan tujuan kami ke sini adalah untuk bertemu dengan Pak Badir.”
“Baiklah, kalau begitu silakan masuk dan mohon ditunggu sebentar.”
“Baik! Terima kasih.”

Suara sepatu kulit bergema di semua sudut ruangan beradu dengan lantai marmer di sebuah rumah yang tergolong mewah. Gema itu terus terdengar hingga mencapai ke sebuah ruang kerja, tempat pemilik sepatu itu menghentikan langkahnya.

“Maaf Bos.…”
“Hmm.…”
“Ada polisi di depan.”
Bos Badir mengernyitkan dahinya. “Segera suruh mereka kemari.”
“Baik, Bos.”

“Tidak usah!” sebuah suara langsung muncul bersamaan dengan sebentuk sosok dari balik pintu. Bos Badir pun tersenyum ketika memandangnya. “Selamat datang Pak Johan…,” ucap Bos Badir berdiri dan menyambut kedatangan sosok tadi. “Ada angin apa Anda datang kemari, Pak Johan?”

“Tidak usah berpura-pura Pak Badir,” jawab sosok itu tanpa mempedulikan sambutan Bos Badir dan matanya sigap memperhatikan keadaan sekeliling ruangan. “Anda pasti tahu maksud kedatangan saya ke sini.” Bos Badir tersenyum, “Maksud Anda apa, Pak Johan?”

“15 ribu anak bangsa mati sia-sia karena narkoba setiap tahunnya, Pak Badir. Lima belas ribu!” Bos Badir hanya tersenyum kecut, “Anda sudah direkrut sama BNN?” Pak Johan menatap tajam ke arah Bos Badir. “Sebagai aparat, saya hanya berusaha mencegah dan menyelamatkan pengguna narkoba. Saya hanya ingin membantu negara mewujudkan Indonesia Bebas Narkoba.” Pak Johan menyelidiki raut muka Bos Badir yang sedikit berubah. “Oh ya, satu lagi. Kasus pemboman di Atrium Senen,” lanjutnya.

“Hmm…,” Bos Badir diam sejenak. “Hahahaha…,” lalu berjalan ke arah mejanya dan duduk. “Jadi Pak Johan menuduh saya!”

“Bukan, Pak Badir.” Pak Johan berjalan mendekati Bos Badir dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas meja. Badannya agak dibungkukkan sehingga wajahnya tepat menghunjam wajah Bos Badir, “Saya tidak menuduh Anda. Tetapi reaksi Anda menunjukkan bahwa Anda sangat mengetahui tentang kasus ini. Bukan begitu, Pak Badir?” Bos Badir mencoba tersenyum, berusaha menutupi keringat dingin yang mulai keluar. “Anda memaksa saya, Pak Johan?” Pak Johan kembali berdiri tegap, “Saya tidak memaksa siapa-siapa, Pak Badir.” Pak Johan berbalik dan melangkah pergi menuju ke arah pintu, “Tetapi kalau saya berhasil menemukan bukti yang mengarah kepada Anda, saya pasti kembali ke sini, Pak Badir.” Inspektur Johan menengok sebentar, “… atau Pak Ujang.”

Sunyi.
Masing-masing memendam isi hatinya.

“Paijo!”
“Siap, Bos.
“Coba kamu selidiki peristiwa pengeboman itu,” ujar Bos Badir datar.
“Baik Bos!” jawab Paijo sigap dan langsung pergi meninggalkan ruangan diikuti dua orang lainnya.

Bos Badir mengambil cerutunya yang masih tersisa. Api dinyalakan dan diisapnya dalam-dalam cerutu itu, lalu dikepulkannya asap cerutu itu hingga memenuhi ruangan. Ia diam agak lama. Hanya memainkan cerutu di antara jemarinya dan memainkan asap dengan mulutnya. Setengah jam berlalu ia pun berdiri dan berteriak, “Jack!”

Seorang lelaki kekar dengan topi pet masuk, “Iya. Bos.”
“Bagaimana dengan barang yang baru sampai tadi malam di Ujung Genteng?”
“Aman, Bos. Sekarang sedang menuju ke Bandung.”
Bos Badir mengangguk. “Yang di Cilacap?”
“Aman, Bos.”
“Pelabuhan Ratu?”

Jaka yang biasa dipanggil dengan sebutan ‘Jack’ menunduk, menggeleng perlahan. “Gagal, Bos. Polisi berhasil mengendusnya.” Ia menarik napas sejenak. “Begitu juga di Cisolok. Gagal.” Cerutu yang masih tersisa dua ruas jari dicampakkan Bos Badir ke lantai, lalu menginjak-injaknya. Matanya melotot dan tampak terdengar giginya yang saling beradu. “Dasar orang Iran sialan! Seratus kilo terbuang percuma.” Pandangan Bos Badir menatap ke langit, hanya sejenak. “Jack!”

“Iya, Bos.”
“Dalam seminggu ini kamu cari orang Vietnam, ya? Jangan orang-orang Arab tolol itu lagi. Cari jalur lain yang aman, sementara ini jangan lewat pantai selatan.” Jaka mengangguk, lalu keluar ruangan.

BRAK!

Bos Badir memukulkan kepalan tangan kanannya ke meja. “Barang-barang gue belum selesai, udah datang lagi masalah lain. Siapa biang kerok pengeboman itu?” bisiknya geram.[]

Bersambung ke Bos Badir Meradang (2)

Bojongsoang, 28 Maret 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s