Bos Badir Meradang (2)

Sambungan dari Bos Badir Meradang (1)

Negara Paman Sam boleh berang terhadap Osama. Namun keberangan itu haruslah disesuaikan dengan bukti-bukti yang ada. Janganlah menjadikan keberangan itu menimbulkan kerugian yang akan menambah masalah baru bagi insan-insan yang tidak berdosa. Insan-insan yang hanya mengetahui perjuangan hidup untuk dapat makan sehari-hari dan penghidupan yang layak. Ya, hidup yang layak seperti aku. Tidak menjadi masalah bila kepolisian menuduhku sebagai otak di belakang kasus pengeboman BEJ dan Atrium Senen. Tetapi sekali lagi, apakah layak jika tuduhan itu berlebihan dan memporak-porandakan kehidupanku? Tidak!

“Bagaimana dengan penyelidikan yang kamu lakukan selama ini, Paijo?” tanyaku sambil menuangkan scotch ke dalam sloki.
“Hampir berhasil, Bos.”
“Hampir berhasil bagaimana!?” hardikku.

Paijo terkejut setengah mati. “Saya sudah memperkirakan siapa yang melakukan pengeboman itu,” jawab Paijo sembari mengelap dahinya yang tidak berkeringat. “Memperkirakan?” Kuturunkan tangan yang memegang sloki. “Jadi tugasmu selama ini apa!” hardikku lagi. “Mmm…” Paijo terlihat gemetar dan mengelap dahinya lagi. “Baik. Coba sekarang kamu ceritakan hasil yang sudah kamu perkirakan itu,” lanjutku datar. “Kemungkinan…,” Paijo mencoba mengatur nafasnya, “orang yang melakukan pengeboman itu adalah orang dalam, Bos.” Aku melotot. Paijo pun berusaha memaksa untuk tersenyum. “Maksud kamu…, anak buahku yang melakukan itu?” tanyaku kesal. “Dan aku tidak tahu sama sekali tentang hal itu!” Paijo mengerut, “Iyya Bos.” Kupukul kekesalan yag memuncak melalui hembusan nafas. “Parmin! Pinggirkan segera mobil ini.”

CIITTT!!

Begitu berhenti, aku segera keluar dan menarik nafas dalam-dalam. Tanpa disadari langkahku mulai bergerak untuk berjalan bolak-balik. Entah berapa balikan. Sampai akhirnya aku berhenti dan memegang pagar pembatas jalan layang, mencoba menikmati keindahan kota Jakarta.

“Paijo!”
“Siap, Bos.”
“Kamu tahu siapa orangnya?” tanyaku berbalik dan menatap tajam wajahnya yang sudah basah oleh keringat.
Paijo gagap. “Saya sedang menyelidikinya, Bos.”

PLAKK!

“Ingat! Jika sampai besok malam tidak diketahui siapa yang melakukan itu semua…” ujarku berapi-api sambil menunjuk mukanya. Aku mendengus kesal dan berbalik menuju mobil, kembali membanting kekesalan melalui pintu mobil. BRAK! Sementara itu Paijo masih memegang pipinya yang berdenyut kemerahan. Meringis. Lalu … sebuah lagu Metallica terdengar perlahan dan lambat laun makin keras. Cabikan gitar James Hetfield berkejaran dengan Kirk Hammet di lagu ‘Creeping Death’, itulah suara ringtone milikku. “Ya!”

“Bos, tampaknya polisi sudah mengendus penyelundupan barang-barang kita.” Suara Jaka terdengar di seberang. “Semua pesisir pantai di seluruh pulau Jawa yang biasa dijadikan sandaran sudah diintai oleh intel. Para nelayan tidak ada yang berani menjemput.”
Aku mendengus kesal, membuang pandangan ke luar. Semua jalan di pikiran ini terasa buntu. “Sekarang barang-barang gue di mana?”

“Di laut Sulawesi, Bos.”
“Cari tempat aman untuk sementara. Tunggu perintah dari gue.” Kulempar ponsel kesayanganku ke seberang jok saat Paijo membuka pintu mobil. Entah mengapa wajahnya begitu terlihat menjijikkan. Aku pun membuang muka. Tak sudi melihat wajahnya lama-lama.

Roda kehidupan terus berputar
Sandiwara pun berlanjut
: ringan
Hukum sudah dijadikan rasa
Entah? Siapa yang akan tersenyum terakhir.

Sebuah judul di Pikiran Rakyat menarik perhatianku. Koran yang teronggok di atas meja kerja itu langsung kuambil begitu saja. Polres Cirebon Gagalkan Penyelundupan Narkoba ke Lapas. Entah mengapa jantungku berdebar begitu cepat. Jajaran Kepolisian Resor Cirebon berhasil menggagalkan upaya penyelundupan narkoba ke dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Khusus Narkotika Gintung, Kabupaten Cirebon. Selain mengamankan tersangka pengirim dan penerima di dalam lapas, polisi juga sudah menyita barang bukti lima gram sabu-sabu yang bernilai sekitar Rp10juta. “Setelah penangkapan itu kami terus berupaya membongkar jaringan di dalam lapas dan akhirnya kami berhasil membongkar kejahatan serupa dengan pelaku yang berbeda. Kami masih terus membongkar jaringan lain yang mungkin masih ada di sana, karena sejauh ini diduga masih ada jaringan lain yang beroperasi,” kata Kepala Bagian Operasi, Jarir, di Mapolres Cirebon. Jarir menjelaskan, kali ini tersangka yang berhasil diringkus adalah JK (32), warga Tanjung Priok, Jakarta. JK tertangkap saat akan mengirimkan paket sabu-sabu untuk temannya DJ (35) yang saat ini tengah menjalani hukuman di Lapas Gintung. Selain paket sabu-sabu, dari para tersangka polisi juga berhasil mengamankan dua telefon seluler yang mereka gunakan untuk berkomunikasi.

“Jaka…,” bisikku perlahan menahan nyeri di dada. “Ngapain kamu main di lahan ecek-ecek itu? Bodoh!!!” Kuhempaskan koran yang baru dibaca sejauh-jauhnya. Kuambil cerutu dari kotak perak, lalu memainkannya di antara jemari. Sesaat, kuletakkan lagi cerutu itu ke dalam kotak dan langsung berdiri.

“Parmin!”
“Siap, Bos.”
“Kamu tahu ke mana Paijo pergi?”
“Tidak tahu, Bos.”
“Kamu yakin!” lanjutku kesal.
Parmin mengangguk.
“Huffh…” Jemariku bergerak tidak teratur di atas meja. Sejurus kemudian bergerak ke arah kotak perak, membuka dan mengeluarkan isinya.

“Maaf, Bos…,” sebuah suara datang menghampiri.
Aku menegakkan kepala, mengembuskan asap cerutu yang sudah tersimpan di mulut. “Ada apa?”
“Paijo menitipkan sesuatu kepada Bos,” jawab sosok yang baru datang itu.
Aku menatap tas kopor hitam yang dibawanya, “Apa itu?”
“Sesuatu yang berhubungan dengan kasus pemboman itu, Bos.”
Kuletakkan cerutu dan memandangnya tajam, “Paijo sendiri ke mana?”
“Sedang mengejar pelakunya, Bos.”
“Siapa?”
“Informasinya ada di dalam tas ini.”

Aku berdiri. Salah satu anak buahku itu lalu meletakkan tas itu di atas meja dan mengarahkan pembukanya kepadaku. Tanpa berpikir panjang aku langsung memencet pembukanya. Sebuah suara dan angka digital muncul dari dalam tas bersamaan dengan mataku yang melotot dan … BUMMM!!![]

Epilog: Pikiran Rakyat memberitakan bahwa Badan Narkotika Nasional telah mengungkap 166 kasus tindak kejahatan narkotika dan menangkap 244 tersangka. Pengungkapan kasus narkotika bertambah 41,88 %, sedangkan jumlah tersangka bertambah 30,48 %. Kepala Bidang Humas BNN, Sumirat Dwiyanto, mengatakan sebanyak 15 ribu anak bangsa per tahun mati sia-sia karena narkoba. Total aset yang disita BNN pada 2013 setelah dikonversi ke dalam nilai rupiah mencapai hampir Rp 50 miliar. Padahal itu baru berasal dari 14 laporan khusus narkotika dengan 18 tersangka. Oknum aparat seperti polisi, tentara, maupun sipir juga masih ditemukan turut terlibat dalam sindikatnya. Itulah mengapa dicanangkan Tahun 2014 sebagai Tahun Penyelamatan Pengguna Narkoba.

Bojongsoang, 30 Maret 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s