Menjejak Sang Patriot

Lomba-14

Apa hubungan Mbak Irma Devita dengan blogger-blogger Jember? Itulah pertanyaan pertama yang terlintas saat mengetahui para blogger Jember mengadakan giveaway berkenaan dengan buku terbaru Mbak Irma. Oke, mungkin sama-sama blogger yang sudah lama saling kenal. Itu alasan sederhana yang bisa dipahami. Sampai kemudian Zuhanna Priit menghubungi sosok itu untuk menanyakan alamat rumahnya. Kemudian, sampailah ‘Sang Patriot’ dengan selamat dan sosok itu pun bisa membacanya. Dan di dalam novel—bukan buku—itulah jawabannya ditemukan, terutama di bagian ‘Sekapur Sirih’. Salam takjub untuk semua yang terlibat.

Novel ini bukan hanya sekadar ‘Based on True Story‘ seperti yang tertulis di kavernya, tapi lebih dalam dari itu. Sang Patriot yang diceritakan oleh Mbak Irma begitu dekat dalam kehidupannya. Ya, pahlawan kemerdekaan yang diceritakan dalam novelnya itu adalah kakek dan neneknya sendiri, Letkol Mochammad Sroedji (untuk Mbak Irma tolong dicek halaman ix paragraf 3 karena di sana ada kesalahan pengetikan nama) dan Rukmini. Apalagi, sosok itu berhasil dibuat tersentak oleh kalimat di belakang kaver yang diambil dari prolog. Sesosok jasad terbujur kaku … bola matanya raib tercerabut … menjadi saksi bisu kekejaman … dan seterusnya. Maksudnya kena, meski terlalu panjang sehingga napas membaca jadi agak terganggu, dan ditutup dengan kalimat manis: Jari-jari itu biasanya lincah memetik ukulele, melantunkan nada merdu.

Ada banyak yang ingin diceritakan Mbak Irma dalam novel ‘Sang Patriot’. Begitu banyak. Sosok itu yakin bahwa Mbak Irma belum puas karena belum semuanya diceritakan. Fakta-fakta sejarah dan data-data dari arsip kuno di berbagai kota. Kalau salah mohon maaf hehehe. Nah, dari banyaknya materi yang ingin disampaikan, sosok itu menilai bahwa Mbak Irma agak ‘kesulitan’ menjalin semua cerita itu. Mulai dari kisah Calon Arang, Desa Gurah, pasangan Hasan dan Amni, hingga menuju sang tokoh utama beserta pasangannya. Masih ada benang merah, tetapi terlalu banyak yang diceritakan pada sebuah novel berhalaman 266. Ya, kadang-kadang beberapa penulis saat memulai ceritanya ingin berpanjang lebar. Namun di akhir kepenulisannya, ada ketergesaan agar semua cerita itu selesai dalam satu buku. Tidak ada yang salah dengan hal itu. Semua penulis mengalaminya. Sosok itu sendiri pernah.

Kaupikir selama ini aku menikmati kemewahan
yang diberikan Panembahan?

Hartanya tak cukup untuk menenteramkanku
Gelisah menyelimutiku
Mana mungkin hidup sentosa bila batin ini selalu menangis?

Akan tetapi, jika ingin diceritakan semuanya, sebenarnya nggak masalah kalau harus membuat sampai dua atau tiga buku. Agar lebih terasa nuansa setiap adegannya. Jujur, sosok itu ingin mengetahui lebih detail lagi tentang Desa Gurah. Ingin tahu lebih dalam lagi tentang kehidupan Amni saat menjadi selir Bupati Bangkalan. Ingin lebih kepo lagi tentang perjuangan Hasan dan Amni dari masa kecilnya, masa Hasan harus terpisah dari Amni, masa pertemuan kembali, masa awal-awal pernikahan, dan masa harus hijrah ke Pulau Jawa. Nggak masalah kalau hanya untuk menceritakan Hasan dan Amni bisa mencapai 266 halaman. Sosok itu yakin kalau kehidupan Hasan dan Amni tidak kalah menarik untuk dijadikan novel romantis sebelum mengarah pada novel perjuangan dari anak kedua mereka.

Begitu pula dengan sudut pandang penulisan orang ketiga. Ya, bisa jadi ini cara paling mudah bagi seorang penulis mengingat apa yang diceritakannya bukanlah kisah hidupnya sendiri. Tetapi tidak ada salahnya mencoba karena fiksi adalah bagian dari imajinasi penulisnya. Di sinilah tantangan itu hadir dan lahir. Dari keseluruhan cerita, juga terlalu banyak narasi. Jujur, sosok itu tidak terlalu suka dengan banyaknya narasi. Biarkan saja tiap-tiap tokoh bercerita tentang kehidupannya masing-masing. Biarkan tokoh-tokoh itu menunjukkan siapa jati diri mereka. Biarkan mereka bergerak dan akhirnya … mengajak para pembaca memasuki kehidupan mereka.

Akhir kata, di luar konteks teknik penulisan yang macam-macam, sosok itu menaruh hormat pada usaha dan kerja keras Mbak Irma. Meski gaya bahasa yang dipakainya masih standar dan tidak menawarkan hal baru, sebagai praktisi dan penulis buku-buku hukum tentu tidak mudah bagi Mbak Irma untuk menulis fiksi sejarah. Apalagi ini novel perdananya. Sebagai wujud janji masa kecilnya kepada almarhumah Rukmini, neneknya. Sosok itu yakin, meski sang nenek tidak dapat menyaksikan apa yang telah dibuat oleh Mbak Irma ini, pasti akan tersenyum lebar pada novel ‘Sang Patriot’ ini. Mbak Irma sudah berhasil memperkenalkan sosok Letkol Mochammad Sroedji dengan amat baik. Begitu pula dengan detail sejarah pembentukan PETA dan masa-masa penjajahan Jepang di beberapa kota mulai dari Kediri hingga Jember. Kelak, buku ini menjadi amat berharga di kemudian hari bagi yang ingin mengenal Sang Komandan Batalion Alap-Alap.

Tentang kasih pengabdian tanpa syarat
Dan kecintaan yang besar terhadap bangsa dan keluarga

Sekali lagi, salam takjub buat Mbak Irma dan keluarga.[]

Advertisements

2 thoughts on “Menjejak Sang Patriot

  1. Terima kasih banyak Bang Aswi… suatu ulasan yang cerdik dan cermat, bahkan bisa menebak perasaan dan kesulitan saya saat menuliskan kisah kakek saya ini. Banyak hal yang belum terceritakan, tapi harus berhenti di 266 agar tidak “mengintimidasi” pembaca maupun calon pembaca dengan ketebalan bukunya. Sekedar info, jika font nya tdk dibuat lebih kecil, jatuhnya akan lebih tebal lagi. :)))
    Sekali lagi terima kasih banyak atas masukannya yang berharga salam sukses untuk Bang Aswi

    >> Sama-sama, Mbak Irma. Salam sukses juga untuk dirimu….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s