Narkoba : Berawal dari Rokok

“Waktu itu seperti biasa saya melewati jalan itu. Anak-anak berseragam putih merah bergerombol di beberapa titik. Rata-rata mereka berkumpul di depan pedagang yang produknya memang sangat diinginkan. Bisa mainan, bisa makanan, dan bisa juga minuman. Bahkan, ada juga pedagang hewan-hewan kecil semacam keong, hamster,  ayam atau burung yang diwarnai. Para pedagang itu senang jika anak-anak berkerumun. Jauh lebih senang lagi kalau ada di antara mereka membelinya. Anak-anak pun begitu. Mereka senang dapat melihat dan memegang apa yang diinginkannya. Yang tidak memiliki cukup uang, sudah merasa puas dapat memegangnya. Sebuah rutinitas biasa di depan gedung sekolah. Jajanan SD begitu menggoda, bahkan oleh mereka yang tidak lagi SD.”

Di sebuah sekolah dasar di daerah Cempaka Putih sosok itu mendengarkan cerita. Tubuh orang yang bercerita sedang, dengan tinggi sekira 165 cm, tidak terlalu kurus. Rambutnya boleh dibilang minimalis, tetapi tidak botak. Kulitnya hitam, meski tidak legam, bukti bahwa dirinya sering berpanas-panasan di tengah kota Jakarta yang makin menerik. Kang Zurlen, begitulah sosok itu memanggilnya. Beberapa rekan sejawat memanggilnya dengan sebutan Mas atau Pak. Gerak-gerik tubuhnya tampak gesit, tipe orang yang tidak mau tinggal diam dan lebih memilih melebur bersama siapa saja yang ingin mengobrol dengannya. Ia pun begitu antusias bercerita pada sosok itu.

“Namun di salah satu sudut jalan, agak jauh, beberapa orang yang tidak berseragam berkerumun. Beberapa boleh terbilang ABG, satu orang tampak dewasa, dan dua … eh, bukan, ada tiga orang yang berseragam putih merah. Ya, mereka masih anak SD. Asap putih mengepul di sana. Sebuah pikiran normal terlintas bahwa ada yang merokok di sana, tentu saja yang sudah merasa dewasa atau salah satu dari anak ABG itu. Mayoritas masyarakat kita, kan, menganggap anak ABG merokok itu wajar. Tetapi tidak, ternyata ada dua orang anak SD yang juga ikut-ikutan merokok. Satu orang lagi malah tertawa dan ragu-ragu menerima tawaran untuk merokok.”

Sama dengan apa yang dilihat Kang Zurlen, sosok itu tidak jarang melihat anak-anak SD atau yang seusia dengan tingkat pendidikan mereka merokok. Ya, merokok. Mereka tidak malu lagi, bahkan cenderung berani merokok di depan umum. Bingung juga bagaimana menegurnya dan kalau ingin menegur akhirnya malah bingung juga bagaimana memulainya. Apalagi kalau tidak mengenalnya. Sulit. Gampang-gampang sulit hidup di kota besar atau metropolitan saat ini. Cara paling mudah ya hanya menggeleng-gelengkan kepala dan hati marah dengan kondisi yang ada. Budaya yang salah menyebar dan mengakar ke segala pelosok kehidupan masyarakat.

Masalah rokok bukan main-main. Ia bukan masalah sepele, tetapi harus serius ditangani. Efeknya bukan seperti iklan, bahwa merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin. Sosok itu pernah menuliskan bahwa tidak benar kalau Merokok Itu Sehat. Iklan rokok sudah jelas tertulis: Merokok Membunuhmu. Kebiasaan merokok bukan lagi berkaitan dengan masalah kesehatan, tetapi bisa lebih hebat dari itu dampak negatifnya. Salah satunya adalah masalah narkoba. Bagaimana Indonesia bebas narkoba kalau budaya merokok saja belum tahu bagaimana cara menanganinya?

Merokok Itu Haram!

Ada banyak mudharat atau kerugiannnya dibanding manfaat merokok. Sudah, Merokok Itu Haram! Haram dari mana? Salah satu bab buku “Fikih Kontroversi” karangan KH. Saiful Islam Mubarak Lc. (Penerbit Syaamil) yang berjudul Siapa Berani Menghalalkan Rokok? menjelaskan hal itu semua. Memang benar bahwa sebagian ulama sudah mengharamkan merokok dan sebagian yang lain ‘hanya’ memakruhkan. Tetapi, adakah ulama yang memubahkan merokok? Tidak ada. Jika dibuat skala halal-haram dari 0 sampai 10 (halal pada angka 0 dan haram pada angka 10), maka mubah kira-kira akan terletak pada angka 3,5 dan makruh kira-kira pada angka 7. Tahukah Anda bahwa ulama yang memakruhkan merokok itu meletakkan perbuatan merokok pada angka yang mendekati 10, bukan mendekati 7? Ini berarti, ulama yang memakruhkan merokok, pun meletakkan hukum merokok pada yang mendekati haram. Inilah yang tidak diketahui oleh banyak orang bagaimana hukum merokok yang sebenarnya.

Ilustrasi menarik dari tulisan Ust. Saiful Islam adalah, benarkah rokok itu murah? Menurut beliau, jika sehari perokok menghabiskan 5.000 rupiah untuk merokok, maka dia sudah membuang Rp150.000 selama sebulan, yang berarti dia sudah menyia-nyiakan uang sebesar Rp1.800.000 selama setahun. Hitunglah berapa uang yang sudah ‘dibakar’ jika dia sudah merokok selama 10 tahun? Hitung pula jika sehari dia menghabiskan uang Rp10.000 hanya untuk merokok! Kemudian, adakah iklan di media massa yang isinya selalu menjelek-jelekkan sendiri produk yang diiklankan? Semua pasti sepakat kalau iklan yang seperti itu memang hanya satu, yaitu iklan rokok, tetapi mengapa masih banyak orang yang membelinya? Jadi, apakah mereka yang perokok itu masih dianggap wajar akalnya? Manusia mana yang akalnya masih sehat sehingga mau mencelakakan dirinya sendiri (dan juga orang lain)?

Kang Zurlen melanjutkan cerita bahwa tetangganya pernah kepergok menggunakan narkoba. Ia seorang karyawan swasta, memiliki keluarga dengan dua orang anak. Kang Zurlen mengetahui bahwa tetangganya itu mengonsumsi narkoba dari ciri-cirinya yang begitu khas. Menyendiri, sering begadang, wajah tampak layu, dan seterusnya. Usut punya usut, semua berawal dari merokok. “Seorang teman suatu hari menawarkan satu jenis rokok lintingan dari daun kering. Ini enak, lho, katanya. Saya nggak curiga karena dipikir emang itu daun tembakau atau daun-daun lain yang memang biasa dibuat untuk ngerokok. Pas dicoba, emang nyengat. Beda lah rasanya. Lama-lama terasa enak, sampai akhirnya ketagihan. Sadar-sadar itu ganja sudah nggak ngaruh lagi, lah sudah ketagihan.” Tetangganya itu akhirnya curhat bahwa ia susah melepaskan diri dari jeratan narkoba. Niatnya ingin lepas tapi kenyataannya sulit. Lingkungan sangat mempengaruhi.

Perlu diketahui bahwa berdasarkan penelitian yang dilakukan National Health Education Departement Ministry of Health di Singapura, merokok dapat menyebabkan banyak penyakit seperti kanker paru-paru, kanker mulut, kanker tekak, kanker kerongkongan, kanker esofagus perut, kanker pankreas, ginjal, infeksi saluran kencing, kanker pangkal rahim, serangan jantung, masuk angin, tekanan darah tinggi, penyakit pembuluh darah, penyakit paru-paru yang meradang, batuk dan flu, bisul peptik, osteoporosis, impotensi, dan ketidaksuburan (mandul). Setiap batang rokok mengandung lebih dari 4.000 jenis bahan kimia, 400 di antaranya beracun dan kira-kira 40 jenis bisa menyebabkan kanker.

Sosok itu kebetulan pernah menonton sebuah film dokumenter bagaimana petinggi-petinggi perusahaan rokok internasional tidak ada satupun yang merokok karena tahu efek bahayanya. Di film itu juga ada beberapa pasien di rumah sakit yang satu ruangannya berisi orang-orang tua dan beberapa masih terbilang muda, dimana mereka semua sulit bernapas karena paru-parunya sudah rusak. Kata salah satu dari mereka, “Tidak ada satu pun stasiun TV yang mau merekam kami. Mungkin mereka takut. Entahlah. Yang pasti, kami semua menyesal karena terus merokok dan menganggap itu hebat.”

Merokok tanpa disadari telah menjadikan penikmatnya sebagai orang yang tidak bebas merdeka. Mereka tanpa sadar telah terpenjara. Mereka ingin menghormati para non-perokok sehingga harus berusaha mati-matian mencari tempat yang aman? Habis makan mereka mencari rokok. Kalau sudah punya rokok, mereka mati-matian mencari korek api. Ya, sampai kapan pun, tanpa mereka sadari, mereka telah menjadi BUDAK rokok. menurut ajaran Islam, Allah telah menghalalkan bagi mereka yang baik-baik dan mengharamkan yang buruk-buruk (QS. Al A’râf, 7: 157). Allah pun telah mengingatkan kita agar tidak menjerumuskan diri ke jurang kehancuran (QS Al Baqarah, 2: 195) atau membunuh diri sendiri secara perlahan (QS. An Nisâ’, 4: 29) dan tidak menghambur-hamburkan harta secara boros karena hal itu adalah perbuatan setan (QS. Al Isrâ’, 17: 26-27).

Pada akhirnya, lanjut Kang Zurlen, semuanya menjadi terlambat. Saat dirinya pulang kerja, terlihat ada banyak kerumunan orang di rumah tetangganya itu. Setelah mencari tahu, tampak terlihat tetangganya itu sedang digiring oleh petugas Badan Narkotika Nasional (BNN) ke dalam mobil polisi. Sempat berbincang sebentar, tetangganya itu mengatakan pada Kang Zurlen, “Saya kepergok, Mas.” Wajahnya menyiratkan rasa penyesalan yang amat dalam.

Langsunglah Berhenti Merokok!

Seperti yang pernah ditulis di SINI, sosok itu punya tiga orang kawan yang dahulunya adalah perokok berat. Yang pertama adalah teman pesepeda. Sebut saja namanya Mbob, karena memang panggilannya seperti itu. Sebagai seorang pekerja yang mengurusi masalah gunung berapi, dirinya sudah harus siap untuk pergi ke berbagai daerah yang diketahui gunungnya mulai aktif. Di tempat yang bertemperatur rendah, wajar kalau dirinya perokok berat, meski hal itu bukan pembenaran. Dan saat sosok itu bertanya bagaimana caranya menghentikan kebiasaan merokok, dia cuma bilang, “Ya berhenti aja. Gak ada istilah mengurangi. Berhenti, titik.”

Lain Mbob, lain pula Aki Niaki. Pelari trail running yang makin dikenal di dunia lari ini juga begitu saja berhenti merokok. Aki merokok dalam sehari minimal 4 bungkus rokok tanpa filter plus 1 bungkus tembakau linting, dan itu bukanlah sekadar iseng. Hingga suatu hari dirinya dibuat repot oleh rokok-rokok tersebut yang menggelembung di saku celananya. Mencari kesana kemari karena lupa meletakkanya di mana. Ia merasa diperbudak. Perasaannya disepelekan, dipecundangi, dan terhina sekali. Bagaimana tidak, selama hidupnya ia tidak menyadari. Pada akhirnya, semua rokok itu ia tinggalkan begitu saja di meja makan. Ada perasaan menang setelahnya. Tidak ada istilah berhenti pelan-pelan, dikurangi dulu kadarnya misalnya jadi 3 bungkus per hari, tidak ada. Aki langsung berhenti merokok.

Hari-hari selanjutnya adalah hari-hari penuh kemenangan. Tidak ada itu pengganti rokok seperti cemilan manis, makan atau minum berlebihan, dan lain sebagainya. Sering didengarnya perokok yang beralasan bahwa saat stres, merokok itu menenangkan. Padahal kalau tidak stres ya merokok juga. Artinya … apapun alasannya pasti ujung-ujungnya merokok juga. Jadi kalau hasil akhirnya tidak merokok, ya tidak masalah. We too can achieve incredible goals like everyone else we look up to. Jadi, kalau mau dan ingin berhenti merokok, ya berhenti saja. Just quit smoking! Simple and effective. Nah, kawan ketiga sosok itu adalah Pakdhe Cholik, seorang blogger senior penggerak Komunitas Warung Blogger. Beliau pun langsung berhenti begitu saja dari aktivitas merokoknya belum lama ini. Selamat dan semangat buat Pakdhe.

Sebagai penutup tulisan ini, ingat pula akan para sahabat Rasulullah saw. yang dahulunya suka meminum minuman memabukkan. Tahu sendiri bagaimana budaya Arab pada zaman itu. Mabuk adalah sesuatu yang biasa terjadi pada laki-laki. Hal itu bukan sesuatu yang aneh dan luar biasa. Nah, pada saat turun ayat yang mengharamkannya maka mereka pun langsung berhenti spontan. Tidak berangsur-angsur. Ingat, tidak pakai istilah mengurangi. Langsung berhenti saja. Itu caranya! Jadi, berhentilah merokok saat ini juga demi mencegah dan menyelamatkan pengguna narkoba. Mencegah lebih baik daripada mengobati.[]

Advertisements

One thought on “Narkoba : Berawal dari Rokok

  1. cukup satu kesimpulan setelah membaca tulisan ini… UNTUNG SAYA TIDAK MEROKOK :))

    >> Alhamdulillah … lanjutkan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s