Kelas yang Misterius

kegelisahan … ketidakberdayaan
tapi itu bukan akhir dari segalanya
ada yang lebih berharga di balik itu semua
hanya perlu waktu untuk mengasahnya
memunculkan berlian nan tiada tara

Sosok itu melotot. Tubuhnya seakan-akan menjadi robot tanpa baterai atau listrik. Diam. Sementara mayoritas penghuni kelas berlari-lari tak tentu arah. Beberapa melompat atau berdiri di atas meja. Beberapa saling dorong dan saling ‘toyor’. Beberapa bahkan saling menjambak rambut. Kata-kata kasar semacam umpatan begitu mudah diucapkan. Beberapa anak yang sok jagoan menjadi penguasa dengan menindas anak yang lemah. Semua tak terkendali. Sesaat … sosok itu seperti memasuki lubang waktu yang gelap—silakan saja menyebutnya dengan ‘blackhole‘—dimana waktu terhenti begitu saja. Hening. Sepi. Sementara ia tahu di luar sana suasana hiruk pikuk telah terjadi. Tampak jelas kepanikan terlihat pada wajah koleganya, sang dokter gigi. Padahal baru beberapa menit berlangsung.

KI-15

SDN Kampung Rawa 01 Pagi Jakarta. Bangunan sekolahnya masih terlihat bagus, lokasinya sendiri sangat strategis dan terlindungi karena berada tepat di belakang Kantor Lurah Kampung Rawa (aksesnya sendiri harus masuk ke halaman kelurahan). Kata Pak Ari yang menjadi fasilitator Kelas Inspirasi Kelompok 24, sekolah ini baru saja direnovasi. Wajar kalau masih terlihat baru. Jumlah muridnya tampak terlihat jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan SDN Babakan Surabaya 2 Bandung. Selidik punya selidik ya tentu saja karena SDN Babakan Surabaya 2 adalah bagian dari SDN Babakan Surabaya Utara yang terdiri atas tiga sekolah. Toh, setelah sosok itu masuk ke kelas 1 tadi pagi, barulah dirinya sadar betapa jumlah muridnya begitu banyak. Beberapa bangku bahkan terisi oleh tiga orang murid. Baiklah.

Mata yang masih lelah, tubuh nggak usah ditanya lagi. Setelah terbangun di tengah malam dan teringat bahwa masih ada pekerjaan yang belum selesai, sosok itu langsung memainkan gunting, kertas origami, karton hitam, dan lem. Membawa cinderamata adalah kewajiban tidak tertulis baginya. Hal ini demi menarik hati mereka yang dalam dunianya mungkin lebih menyukai hadiah berwarna-warni. Bukan uang atau materi mahal yang dibawa, tetapi hanyalah sebuah bentuk kerajinan sederhana yang kalau dihargakan tidak lebih dari seribu rupiah dan bahkan lebih kurang dari 500 rupiah. Memang benar. Yang terpenting adalah ketulusan dan kegembiraan bersama. Agar hati sosok itu dan para murid bisa menyatu dan membaur. Sebuah lagu yang diciptakan liriknya saat Kelas Inspirasi Bandung #2 juga dibawanya. Hanya buku-buku dongeng karyanya yang lupa terbawa. Semoga pengalaman mengajarnya bisa bermanfaat nanti di sana.

KI-16

Mengapa Harus Bersusah Payah?

Datang paling pagi, pukul 06.10. Bingung sebentar saat ditanya ada keperluan apa oleh sang penjaga sekolah, apalagi pakai acara foto-foto segala. Dijawab ingin mengajar malah dibilang mau ngelamar kerja jadi guru. Basa-basi dan dijelaskan sedikit akhirnya bisa duduk di ruang guru. Si Hotty Biru sudah terparkir dengan nyaman di pojok sekolah, bersama kawan-kawannya yang dibawa para murid-murid hebat, mayoritas BMX. Tak lama Kak Ocha datang, sang dokter gigi yang menjadi koleganya di tiga kelas nanti. Kelas 1, kelas 4, dan kelas 3. Salut dengan semangat ibu muda berputri dua ini, mau menyempatkan diri berbagi pengalaman tentang profesinya. Mungkin masih terngiang kalimat yang menjadi ikon utama Kelas Inspirasi, yaitu “Bagi Anda hanya satu hari cuti bekerja, namun bagi murid-murid itu bisa menjadi hari yang menginspirasi mereka seumur hidup. Berbagi cerita, pengetahuan, dan pengalaman untuk mengejar cita-cita dan mimpi mereka.”

KI-17

Ya, sosok itu pun mengamininya. Apalah artinya waktu yang hanya sehari itu jika dibanding apa yang akan didapatkan oleh anak-anak SD yang diajar nantinya. Capeknya mengajar sehari jika dibanding para guru yang sudah mengajar tahunan atau bahkan puluhan tahun tidak berarti apa-apa. Dari sini saja sudah dapat terlihat betapa berharganya pengabdian yang diberikan oleh para guru, meski beberapa diantaranya harus ‘sukarela’ dikatain ‘Guru Killer‘. Yuk, ucapkan terima kasih yang paling tulus unutk para guru di seluruh dunia. Dan kalau mau jujur … bisa dibilang, bukan mereka yang berseragam putih merah itu yang sedang belajar, tetapi justru para inspirator itulah yang sedang belajar. Dari anak-anak nan polos dan penuh kejujuran, para inspirator jadi belajar tentang kepemimpinan dan kesabaran. Bukan karena hebatnya inspirator dapat mengajar atau mengambil hati anak-anak, tetapi karena keluasan hati anak-anak itu untuk menerima para inspirator dan tulusnya hati kedua belah pihak untuk memberi-menerima. Itu kuncinya.

Dan benar apa yang dikatakan oleh Hikmat Hardono (Direktur Eksekutif Gerakan Indonesia Mengajar) dalam suratnya di milis Kelas Inspirasi bahwa β€œ… ini tanah airmu, di sini kita bukan turis” yang dikutip dari salah satu lirik puisi Wiji Thukul. Para inspirator bukanlah turis yang datang ujug-ujug di pagi hari, lalu ingin dilayani kehadirannya, potret sana-sini dengan atau tanpa tongsis, lalu pamit laksana pahlawan yang sudah membekuk penjahat dengan lambaian tangan. Tidak! Sosok itu dan para inspirator memiliki tanggung jawab yang sama dengan para guru. Mereka telah menjadi bagian dan rela berangkat pagi-pagi lalu bergabung dalam riuh rendah suasana sekolah yang beraneka ragam dan melarut jadi bagian detak kehidupan sekolah yang dituju. Mereka semua memilih secara sadar dan turut bertanggung jawab dalam gerak kemajuan bangsa ini. Mereka memilih untuk turut menjadi bagian mengasah berlian nan tiada tara.

KI-18

Dan Perjuangan Itu Belum Selesai

Setelah semua cinderamata berbentuk senjata ninja yang bisa disematkan di dada selesai, sosok itu langsung mandi dan bersiap diri. Kamis, 24 April 2014. Pukul enam kurang sedikit ia sudah ngaboseh sepedanya menembus lalu lintas Jakarta menuju Cempaka Putih. Para murid sudah berbaris rapi di tengah lapangan dan para guru berdiri di depannya pada pukul setengah tujuh. Inspirator yang hadir baru sosok itu dan Kak Ocha. Ada sedikit rasa malu mengingat mayoritas inspirator datang terlambat, tetapi ‘show must go on‘. Untunglah rasa itu hanya sesaat karena satu persatu mereka datang di saat para murid menyanyikan lagu-lagu berbahasa Inggris. Sosok itu sendiri sudah lupa beberapa liriknya. Hampir mirip dengan program Kamis Inggris di Bandung. @amaliatanya lalu memberikan sambutannya bahwa mereka bukanlah mengajar tetapi lebih ingin membuka wawasan profesi yang disandang oleh masing-masing inspirator. Turut hadir superhero yang ternyata adalah seorang arsitek hehehe.

KI-19

Anak-anak memasuki kelas, para inspirator langsung berkumpul di ruang guru. Tania kembali mengingatkan kelompok dan kelasnya masing-masing. Kelompok 24 terdiri atas 10 inspirator dan 2 fotografer. Sosok itu bersama @anitarfan akan mengajar kelas 1-4-3, @mustafakamal dan Tania akan mengajar kelas 5-2-4, @hendra_gigi dan @fikaastriyani akan mengajar kelas 4-3-2, @fajar_hdayat dan @GabiOsri akan mengajar kelas 2-5-1, sedangkan Andy Superman dan @anggiani_dini akan mengajar kelas 3-1-5. Fotografer yang terlibat adalah Zurlen dan @mifftha. SDN Kampung Rawa 01 Pagi memiliki jadwal istirahat dua kali, yaitu pada pukul 08.45 dan 10.10, jadi ada jeda santai sebelum mulai mengajar lagi. Lumayan untuk menarik napas panjang ^_^

Kelas misterius yang diajak sosok itu adalah kelas 1, seperti yang dijelaskan pada paragraf pertama di atas. Kelas paling ajaib. Saat menjadi bagian Kelas Inspirasi Bandung, kebetulan dirinya tidak mendapat bagian mengajar di kelas 1 jadi tidak terlalu paham karakter di kelas tersebut. Untung saja di #KIJkt3 ini ia tidak mengajar sendiri seperti di #KIBdg2, masih ada Kak Ocha yang murah senyum. Sementara ia membagikan ‘nametag‘ pada anak-anak, Kak Ocha memberikan materi tentang profesi dokter gigi di depan kelas. Anak-anak pun terpecah menjadi tiga bagian: memperhatikan Kak Ocha, mengerubungi sosok itu, atau asyik sendiri-sendiri. Belum selesai membagikan ‘nametag‘ ternyata Kak Ocha sudah menyerah dengan alasan suaranya hampir habis. Wow! Salut untuk wali kelas Bu Nur yang begitu hebat memegang kelas 1 yang berjumlah 67 murid. Sebenarnya jumlah ini adalah gabungan dari dua kelas. Tapi alhamdulillah mereka berdua bisa melewati masa menegangkan itu sebelum pukul 08.45.

KI-20

Kelas berikutnya jauh lebih tenang dan mudah diatur. Kelas 4 dan kelas 3 sudah jauh lebih baik karena mereka sudah dapat diberikan penjelasan panjang lebar tentang apa profesi dokter gigi dan profesi menulis. Bahkan Rizqi (kelas 4) dan Nazwa (kelas 3) terlihat begitu antusias ingin belajar menulis. Kedua anak ini begitu mudah menyerap penjelasan sosok itu. Alahmdulillah. Teknik menyanyi ‘Aku Seorang Penulis’ dengan irama ‘Aku Seorang Kapiten’ tetap menjadi andalannya agar anak-anak merasa senang. Begitu pula dengan Metode Pemetaan yang lebih mudah dipahami bagaimana mencari kalimat dari hanya sebuah kata saja. Kalimat-kalimat ini nantinya bisa disusun menjadi sebuah cerita yang jauh lebih menarik. Waktu pun berlalu begitu cepat hingga tak terasa sudah pukul 12, hanya terik matahari saja yang menjadi kendala hingga merasa ‘hareudang’.

Setelahnya adalah ajang eksplorasi diri akan cita-cita para murid SDN Kampung Rawa 01 Pagi. Selembar karton putih A2 ditempelkan di depan pintu kelas masing-masing. Tulisan ‘Kelas Inspirasi 2014’ terpampang besar di atasnya. Satu per satu, anak-anak mulai menuliskan nama dan cita-citanya, lalu berlari atau berjalan ke tengah lapang untuk mencap tangan mereka dengan cat warna-warni yang tersebar di beberapa piring plastik, lalu dengan sepenuh hati mereka langsung mencapnya di atas kertas tersebut. Telapak tangan berwarna-warni pun langsung tersebar merata. Bukti bahwa cita-cita mereka memang berwarna. Ingin menjadi dokter, polisi, pramugari, koki, arsitek, pemain bola, apoteker, pilot, tentara, guru, pengusaha, pelaut, dan lain sebagainya. Entah mengapa tidak ada yang ingin menjadi penulis. Tidak apa. Toh, sosok itu menekankan bahwa apa pun profesinya, yang penting bisa menulis.

KI-21

Panas makin menyengat. Peristiwa haru saat menjelang perpisahan adalah cium tangan anak-anak. Satu per satu mereka membuktikan rasa hormat dengan menciumi punggung tangan para inspirator yang telah mengorbankan waktu satu hari—bukan, setengah hari malah—untuk mereka. Bercerita tentang profesi masing-masing dengan penuh jenaka, kreativitas, dan bahkan bersusah payah membawa berbagai peralatan yang super. Begitu pula saat berpamitan dengan para guru yang penuh dedikasi terhadap generasi mendatang. Salut untuk para guru. Tidak mudah mengajar dan mendidik anak-anak yang penuh karakter dengan latar belakang lingkungan yang berbeda. Sungguh disayangkan ada kejadian kecelakaan saat seorang anak terantuk pintu hingga berakibat luka jahitan di tubuhnya akibat efek rebutan yang tak terkendali. Semoga tidak terjadi lagi di kemudian hari. Dan percayalah … perjuangan ini belum selesai.[]

Advertisements

4 thoughts on “Kelas yang Misterius

  1. klo buat smk bisa enggak bang? πŸ˜€

    >> Setahu saya ‘Indonesia Mengajar’ masih berfokus pada pendidikan dasar yaitu SD atau MI. Kalau jadi guru ekskul mungkin bisa tapi pihak sekolah harus menghubungi pengajarnya secara pribadi.

  2. seru hihihi..
    saya pasti udah stres duluan ngeladenin anak2 itu πŸ˜€

    >> Sosok itu pun awalnya stres tapi kan jadi teringat kembali bahwa ada beban tanggung jawab yang harus dijalankan setelah memilih dan siap menjadi inspirator. Eh, Nathalia tinggal di Bandung?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s