Chef Mungil Mamak Kitchen

Ini memang zamannya koki. Makin banyak orang dan bahkan anak-anak yang bercita-cita ingin menjadi koki alias chef. Dan semua itu gara-gara sebuah program acara televisi, Master Chef Indonesia. Setelah sukses, muncul pula Master Chef Junior. Koki menjadi sorotan. Profesi yang dulu melekat pada sosok perempuan ini menjadi berubah, laki-laki tidak malu lagi menyandang profesi koki. Hal ini dimaklumi. Jadi, wajar saja kalau beberapa acara memasak dibawakan oleh chef laki-laki muda yang berwajah menarik. Sila sebut siapa chef favorit kamu … ^_^

Kuliner-32

Nah, setelah berlelah-lelah seharian di rumah, sosok itu akhirnya bisa keluar juga pada pukul 16.30. Ngapain juga ya seharian di rumah? Ya, tentu saja menulis, profesi sehari-harinya. Nongkrongin laptop seharian, menjalin huruf demi huruf agar tercipta kalimat sampai menghasilkan sebuah cerita yang enak dan asyik dibaca. Begitulah kesehariannya. Di waktu senjang dia bisa beristirahat dengan mencuci baju, menjemur, menyeterika, cuci piring, atau menyapu dan mengepel lantai. Enjoy saja … hehehehe. Kalau pun harus dikaitkan dengan pekerjaan dapur, sosok itu paling jago memasak air untuk mandi plus dikit-dikit bisa masak nasi. Meski beberapa kali suka terlalu encer. Pokoknya matang dan bisa dimakan.

Kuliner-33

Sosok itu berangkat menuju utara dari rumahnya di daerah selatan Bandung. Tujuannya adalah Jl. RE Martadinata yang dikenal dengan Jl. Riau, tepatnya di FO Heritage. Di sana ada dua tempat makan untuk memberi kenyamanan pada perut yang kelaparan setelah seharian lelah mencari pakaian yang pas. Yang pertama adalah Warung Sangrai dan yang kedua adalah Mamak Kitchen. Kebetulan Senin sore itu (5/5) beberapa Blogger Bandung mengadakan acara kopdar. Sudah lama tidak bertemu ya ingin ‘say hello‘, ngobrol ngalor-ngidul, dan tentu saja mencoba icip-icip makanan yang ada. Tentu saja menu yang ada di Mamak Kitchen.

Sebelum pukul 17.30, sosok itu sudah ada di tempat. Pilar-pilar besar khas negeri Romawi sebagai tiang penyangga menyambutnya, itulah ciri khas bangunan Mamak Kitchen yang memang bersatu dengan FO Heritage. Di bagian dalamnya saja, sudah langsung berhadapan dengan beberapa tumpukan dan gantungan pakaian yang dijual. Sebuah baliho besar terpajang di sebelah kanan pintu masuk. Tertulis di sana: “Kuliner 3 Negara“. Ya, ciri khas dari tempat kuliner ini adalah masakan dari Thailand, Malaysia, dan Singapore. Jangan heran kalau menu di sini tidak akan jauh dari Tom Yum Noodle, Thai Green Milk Tea, Nasi Lemak Chicken Curry, Kopi Tarik, Seafood Horfun, Roti Canai, Papaya Salad, Fried Rice, dan lain-lain.

Kuliner-34

Selepas maghrib, beberapa Blogger Bandung sudah berkumpul. Mereka adalah Efi, Tyan, Ayu, Widya, Ida, dan Ulu. Cewek semua. Yang cowok kemana? Entahlah. Untunglah sosok itu ditemani Gele, suami Ulu. Setelah saling sapa, beberapa hidangan mulai datang. Mayoritas terkejut dengan apa yang tersaji. Visualnya sangat familiar dengan masakan Indonesia, tetapi ternyata bukan. Terlalu banyak untuk dicoba. Sosok itu sendiri akhirnya lebih memilih Spicy Basil Chicken Rice (Rp36.000), Crispy Thai Salad (Rp26.000), dan Teh Tarik (Rp15.000). Nasi lemak ini sebenarnya tidak jauh beda dengan nasi uduk. Memasaknya dengan menambahkan bumbu rempah-rempah tertentu seperti daun pandan, kunir, santan, dlsb. Nah, Spicy Basil Chicken Rice itu adalah nasi lemak yang ditaburi suir daging ayam beraroma pedas. Spicy Basilnya enak banget dan ia sangat suka dengan Crispy Thai Salad yang tidak lain mirip dengan dorokdok yang ditaburi bumbu rujak. Ada kacang juga di sana. Cocok dengan lidah Indonesia. Semua menjadi sempurna dengan teh tarik yang hangat.

Kuliner-35

Keistimewaan dari kopdar kali ini adalah hadirnya si tukang masak alias kokinya. Kawan-kawan Blogger Bandung pun terkejut saat mengetahui bahwa chef-nya masih muda, yaitu berusia 19 tahun. Dialah Indri Fujiarti Pramukti yang katanya baru bekerja selama 1 (satu) tahun dan dikenal dengan sebutan Chef Mungil. Disebut Chef Mungil karena tubuhnya memang mungil. Cantik. Rumahnya juga ternyata tidak jauh dari rumah sosok itu. Alumni SMKN 9 Bandung jurusan Tata Boga ini berhasil menyajikan masakan 3 negara dengan sangat baik. Tak heran kalau pengunjung dari Malaysia atau Singapura yang datang juga menyebut kualitas masakannya dengan ‘NICE‘. Chef @indrifujiarti pun mengajak sosok itu untuk mencicipi Papaya Salad (Rp23.000), Chocolate Cheese Sweet Roti Canai (Rp 23.000), dan Original Roti Canai Savoury (Rp19.000). Ya, roti canai adalah menu favorit Mamak Kitchen.

Kuliner-36

Tanya punya tanya, ternyata proses pembuatan roti canai itu sebenarnya mudah. Cukup dengan adonan terigu, telur, mentega dan bumbu spesial. Adonan ini diberi air yang dipanaskan, gula putih, susu kental, serta vanila essence dan garam. Air dicampur ke dalam adonan bersama dengan telur. Setelah itu adonan didiamkan selama 30 menit sambil ditutup dengan lap basah. Adonan kemudian dibanting-banting seperti membuat martabak telur sampai lebar. Lalu dibentuk dengan cara ditumpuk-tumpuk, lalu dipipihkan. Terakhir, tentu saja di-grill. Sebuah pengalaman yang luar biasa bisa menyaksikan apa yang biasa tersaji di balik dapur.

Supervisor Mamak Kitchen, Ahmad Kurnia, menjelaskan bahwa penamaan ‘Mamak’ memang diambil dari Bahasa Melayu yang berarti ‘Ibu’ atau ‘Bunda’. Jadi Mamak Kitchen adalah dapurnya ibu. Kalau ingin mencoba menu 3 negara ternyata tidak perlu harus ke luar negeri, cukup datang saja ke tempat kuliner yang strategis ini pada pukul 9:00 am – 9:00 pm (weekday) atau pukul 9:00 am – 10:00 pm (weekend). Lalu, nikmati menu-menu khasnya seperti Canai Snow with Ice Cream (Rp25.000), Canai Banana with Triple Ice Cream (Rp30.000), Thai Green Milk Tea (Rp19.000), dan Kopi Tarik (Rp19.000). Tinggal siapkan dananya saja. Shopping juga tidak pusing-pusing harus naik kendaraan lagi. Satu tempat sudah mencakup semuanya, termasuk mushola yang tersedia di lantai dua. Nyaman, lah, pokoknya.

Kuliner-37

Kawan-kawan Blogger Bandung merasa puas dengan menu yang tersaji. Kopdar pun terselenggara baik dengan salah satu agenda ingin kopdar lagi di tempat yang lebih terbuka. Lebih alami dan bisa menghirup udara segara seperti di Parongpong. Kenapa tidak? Semua hal itu bisa terlaksana, kok. Hayuk ah! Apalagi, kan, sosok itu juga bisa promosi jualan buku ‘Sujud-Sujud Mawar’ hehehe … []

Advertisements

13 thoughts on “Chef Mungil Mamak Kitchen

  1. Roti canainya membuat ingin terus ngunyah dan ngunyah dan ngunyah, enaaak pisaaaaan

    >> Iya, apalagi bisa ngelihat bagaimana cara buatnya ya. Semoga bisa ngerasain lagi….

  2. Takjub campur malu dan envy sama chefnya. masakanku standar aja. Kalau pake skala kualitasnya Indri ada di angka 1 kayaknya wkwkwk….

    >> Haru belajar masak lagi, Fi. Suatu saat pasti bisa dan setara. Eh, bisa nggak yaaa?

  3. kapan2 kalo aku ke bandung mau nyobai kuliner ala mamak kitchen dech…keep happy blogging always..salam dari Makassar πŸ˜‰

    >> Hayuuuuk … ditunggu banget. Salam kembali dari Bandung ^_^

  4. Radarnya kuat nih kalo Parongpong di sebut, hehehe.

    Punten ya Bang, saya mendadak batal datang ke acara ini.

    >> Iya, radar Teh Dey memang kuat. Nggak papa, Teh ^_^

  5. roti canainya mamak kitchen the best in town! salad papayanya juga, sluuurp. ulu baru pertama kali makan makanan asia, selain bulgogi indomie sama tomyam di kondangan sih hahaha

    >> Yup, roti canai dan salad papaya. Namanya juga Resto 3 Negara. Hehehehe, itu mah mie instan, Uluuuu

  6. asyik nih bang aswi makan-makan terus, aku diajak atuh πŸ™‚

    >> Ya, namanya juga kopdar. Gak komplit kalau gak makan. Itu kata Pakdhe ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s