Menikmati Ramen di Jalanan Jepang

Ramen? Sosok itu menggeleng-gelengkan kepala. Dominasi mie instan yang memasuki kepalanya sudah sampai tahap mengkhawatirkan. Jadi, wajar saja kalau waktu masih berstatus mahasiswa dirinya harus masuk rumah sakit dan menjalani operasi. Ususnya harus dipotong beberapa milimeter karena mengkerut akibat seringnya mengonsumsi mie instan ditambah kurang minum. Sejak saat itulah ia kapok terlalu sering makan mie instan. Gaya hidupnya pun berubah drastis dengan sering berolahraga dan juga sering minum air putih.

Kuliner-39

Beberapa tahun kemudian, istilah ‘ramen’ memasuki memorinya dari seorang kawan baik di kantor, yaitu Ferly (si tukang gambar). Semua itu ditambah dengan dicekoki otaknya oleh film-film Jepang, Hongkong, plus Korea yang menampilkan nikmatnya makan ramen. Pertama kali mencoba ramen juga terasa aneh, bisa jadi karena beda bumbunya yang bukan khas Indonesia. Nah, pada hari Kamis kemarin, 12 Juni 2014, sosok itu pun kembali merasakan ramen khas Jepang bersama kawan-kawan Blogger Bandung. Tempatnya di Ichiriki Ramen.

Kuliner-40Ichiriki berada di Jl. RE Martadinata No. 112 atau yang biasa dikenal dengan Jl. Riau. Tepatnya di pertemuan Riau-Aceh-Taman Pramuka. Satu tempat dengan Cafe Warisan. Dulu di sini ada Nanny’s Pavillon yang pindah ke No. 125 (bersebelahan dengan Karnivor). Mengapa sosok itu menyebut nama Ichiriki, Cafe Warisan, Nanny’s Pavillon, dan Karnivor? Ya, mereka semua berada dalam satu grup bisnis kuliner. Tempatnya asyik, bernuansa Jepang dengan beberapa lampion merah dan kuning menyala plus beberapa gerobak PKL khas negara matahari terbit itu. Musiknya rada keras karena memang disesuaikan dengan budaya di negara itu. Memasuki Ichiriki Ramen memang seperti memasuki atmosfer yang berbeda.

Pada kartu undangan yang dibawa sosok itu, ada tiga pilihan makanan yang harus dipilih salah satu, yaitu Gyuniku Ramen, Tantan Men, dan Tori Pirikara Ramen. Ciri khas Gyuniku adalah irisan daging sapinya, kalau ciri khas Tantan adalah tanpa daging sapi tetapi topingnya sama dengan Gyuniku yaitu ada jagung-jamur-bawang daun, sedangkan Tori Pirikara mirip dengan Tantan tetapi rasa kuahnya berbeda. Yang unik dari ketiganya adalah taburan wijen yang (mungkin) menjadi ciri khas Ichiriki. Kalau ingin rasa pedas, bisa menaburkan bubuk cabe plus wijen di atasnya. Jadi tidak ada istilah level-levelan di sini.

Kuliner-43

Sosok itu lalu memilih Gyuniku Ramen, sedangkan minumnya adalah Ocha dingin. Ocha memang minuman teh khas Jepang. Sudah ada minuman kemasannya di sini, dengan berbagai merek pula. Kok, sosok itu bisa tahu ya? Tentu saja karena sebelumnya sudah dijelaskan oleh pengelolanya (sampai Blogger Bandung ‘ngariung‘ mengelilinginya).

Kuliner-41

Para pengunjung bisa duduk sesuka yang dimaunya. Mau di ruang tengah dengan beberapa bangku sambil berhadapan atau agak di pojok dengan sekat tembok bertekstur nuansa Jepang, atau bahkan di depan gerobaknya berhadapan dengan para kokinya. Beberapa kawan bahkan ‘ikhlas’ makan di depan gerobak demi sebuah jepretan. Pret.

Kuliner-42

Semua ramen di sini pasti menggunakan telur rebus yang ‘hanya’ setengah. Kenapa tidak satu butir utuh? Pengiritan kali ya … hehehe. Warna kuning telurnya agak oranye karena menggunakan telur ayam organik. Keren, kan? Kalau dari rasa, jujur biasa aja. Bisa jadi karena lidah sosok itu sudah ‘diserang’ rasa mie instan yang memang kuat. Parah. Tetapi yang bikin perut ‘wareg‘ adalah wadah ramennya yang besar. Kenyanglah hampir bersantap di sini. Ocha yang dingin juga memberikan rasa segar yang menenangkan, apalagi kalau diminum pas cuaca panas.

Kuliner-44

Para Blogger Bandung yang diundang begitu betah nongkrong di Ichiriki Ramen. Bisa jadi karena sudah lama tidak saling bersua, bisa jadi karena suasananya yang nyaman. Ada mungkin tiga jam nongkrong di sana, padahal kalau cuma hanya sekadar makan satu jam juga sudah cukup. Tahu-tahu sudah sore dan bahkan hampir gelap. Semua saling berpamitan dan tak lupa foto keluarga di depan. Yang mau bungkus juga bisa kok, seperti Teh Meti yang tidak bisa berlama-lama di sana. Tinggal bilang saja. Pokoknya bersilaturahmi alias kopi darat dengan makan-makan itu bikin suasana hati di-charge kembali. Hatur nuhun sosok itu sampaikan untuk kawan-kawan blogger yang sudah sempat datang dan ngobrol bareng.[]

Tulisan lainnya tentang Ichiriki Ramen bisa dibaca di blognya
Arif, Tian, Noniq, Thoriq, Efi, Ulu, Hevi, Dey, Diana, dan Umi.

Advertisements

3 thoughts on “Menikmati Ramen di Jalanan Jepang

  1. Ramen memang meningkatkkan gairah lagi dengan rasanya yg super pedas wiiih mantap sekali nyamnyam *ngiler*

    >> Yuk pecinta ramen pada kumpuuul ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s