Beta Maluku, Saya Indonesia

Sedih. Teramat sedih.
Dulu kawan, kini tidak lagi.
Dulu tanya kabar, kini mencaci.
Ada apa dengan Indonesia?

Siapa yang tidak sedih melihat keadaan kawan-kawan kita semua saat ini? Beberapa kenal dekat dan pernah bertemu, beberapa hanya mengenal nama, foto, serta tidak pernah bertemu. Yang pasti dunia maya itu mendekatkan. Mempermudah untuk saling mengenal, lalu berkawan. Akan tetapi, dunia maya terlalu mudah pula menciptakan musuh dan akhirnya malah saling benci. Inilah yang terjadi saat ini. Menjelang pemilihan presiden yang seharusnya menyatukan seluruh rakyat demi Indonesia yang lebih baik lagi.

Event-57

Lupakan sejenak tentang dunia yang membuat banyak orang pusing dan sedih itu. Sosok itu mencoba bergembira dengan sebuah film yang baru-baru ini dirilis di bioskop Indonesia. “Cahaya dari Timur” (CDT) dengan tagline “Beta Maluku”. Ah, tapi dia tidak mau membahas review-nya. Sudah banyak yang melakukan hal itu. Apalagi untuk sebuah film tentang olahraga. Pasti di sana terdapat semangat pantang menyerah, perjuangan tanpa henti, kebersamaan sebuah tim, dan sejenisnya. Sudah terlalu banyak film tentang itu, baik lokal maupun internasional. Akan tetapi, apakah CDT hanya menawarkan hal itu? Tidak. CDT berbeda. Ternyata sosok itu melihat dengan kepala sendiri bahwa CDT juga merupakan alat pemersatu bangsa. Tidak ada istilah di mana ia tinggal atau apa agamanya. Fokusnya harus diperluas. Gunakan kacamata elang. Beta Maluku.

Semuanya berawal dari sebuah dering telepon. Sosok itu menyahut, ternyata ada Kang Indra dari Indosat Jawa Barat. Alhamdulillah, Blogger Bandung mendapatkan kehormatan untuk nonton bareng alias NOBAR di XXI Ciwalk pada hari Selasa, 24 Juni 2014. Bukan hanya nobar, tetapi juga berkesempatan bertemu dengan para artis maupun orang di belakang film CDT. Sosok itu, Rizka, Vanisa, dan juga adiknya Santi beruntung dapat menyaksikannya. CDT adalah sebuah film yang terinspirasi dari sebuah kisah nyata dari Tanah Maluku. Sebuah kisah tentang perjuangan Sani Tawainela, seorang tukang ojek yang mantan pemain Tim Nasional (Timnas) U-15 Indonesia di Piala Pelajar Asia tahun 1996. Ia awalnya menginginkan anak-anak Tulehu tidak terlalu terlibat dengan konflik agama yang terjadi di kampungnya dengan melatih mereka bermain bola. Ia ingin anak-anak itu lupa dengan apa yang sebenarnya terjadi. Ia ingin anak-anak itu menciptakan masa depannya sendiri dengan bermain bola. Itu saja.

Event-58

Hingga beberapa tahun kemudian, saat konflik agama sudah mereda, latihan sepak bola setiap harinya itu berkembang menjadi sebuah Sekolah Sepak Bola (SSB). SSB Tulehu Putra terbentuk atas bantuan Rafi Lestaluhu, kawan Sani yang juga mantan pemain sepak bola profesional lain yang pulang kampung akibat cidera. Namun di sinilah konflik perkawanan sedari kecil retak. Rumah tangga Sani dengan Haspa juga terancam akibat keterlibatannya melatih anak-anak. Ada banyak pelanggan ojeknya yang ditolak demi anak-anak asuhnya. Perjuangan Sani mulai menemukan titik terang saat dirinya terpilih menjadi pelatih untuk Tim Maluku yang akan dikirim untuk mengikuti kompetisi nasional di Jakarta.

Event-59

Perbedaan CDT dengan film-film sejenis adalah mempersatukan konflik agama yang terjadi. Anak-anak Tulehu yang Muslim disatukan dengan anak-anak Passo yang Kristen. Kedua agama disatukan oleh Tim Maluku. Gereja dan masjid dijadikan tempat untuk mendengarkan detik-detik menegangkan pertandingan final Piala Medco 2006 antara Maluku dan Jakarta yang diadakan di Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Soreang, Jawa Barat. Dan rasa haru dan kebanggaan langsung menyebar ke seluruh Tanah Maluku saat Salim ‘Salembe’, Zamhari ‘Jago’, dan kawan-kawannya berhasil menjadi juara. Umat Muslim berangkulan dengan umat Kristen. Salut. Luar biasa atas kerja keras Glenn Fredly memproduseri film CDT. Akting Chicco Jerikho sebagai Sani Tawainela, Shafira Umm sebagai Haspa Umarella, Jajang C. Noer sebagai Mama Alfin, Abdurrahman Arif sebagai Josef Matulessy, Aufa Assagaf sebagai Hari Zamhari Lestaluhu, Bebeto Leutually sebagai Salim Ohorella, dan lain-lainnya patut diacungi dua jempol meski pasti ada kekurangannya. Yang pasti kerja keras Angga Sasongko sebagai sutradara telah berhasil.

Skenario CDT ditulis oleh Swastika Nohara dan Irfan Ramly. Jalinan ceritanya pas menurut sosok itu. Akting para tokohnya juga terbilang oke punya. Norman R. Akyuwen yang ditunjuk sebagai pelatih akting juga berhasil membawakan tokoh Pangana yang unik. Pemandangan Tulehu, negeri di kaki Gunung Salahutu begitu indah diambil. Glenn mengaku jatuh cinta hingga mau membuat film CDT setelah berjumpa dengan tokoh-tokoh aslinya seperti Sani Tawainella, Raja Tulehu John Ohorella, Afifa dan Alfin Tuasalamony, Riskandy Lestaluhu, Akbar Marasabessy, Hari Zamhari Lestaluhu, serta si kembar Fanky Pasamba dan Finky Pasamba. Glenn terkenang dengan perkataan Raja Tulehu. Ia banyak berbincang dengan almarhum Raja John Ohorella yang wafat pada 28 April 2014. Kata-katanya yang paling diingat adalah, “Biar cuma dengan papeda dan ikan, katong di sini menghasilkan pemain berkualitas.”

Event-60

Seusai menonton bersama para peserta Duta IM3 seluruh Indonesia yang kebetulan lagi menjalani sesi final di Bandung, alhamdulillah sosok itu dapat berjumpa dengan Glenn Fredly dan para pemain CDT. Sayang, dengan Glenn tidak sempat berfoto bersama. Suasananya crowded banget dan harus menunggu yang pas untuk bisa berfoto dengan Chicco Jerikho, Shafira Umm, Aufa Assagaf, dan Bebeto Leutually. Sebuah pengalaman luar biasa bisa nobar film yang super duper keren ini dan juga berfoto bersama. Rakyat Indonesia sudah seharusnya mencontoh CDT. Jangan lagi mempersoalkan ‘SATU’ atau ‘DUA’, Prabowo atau Jokowi, Muslim atau Kristen, Tulehu atau Passo, dan lain sebagainya. Teriakkan saja dengan lantang: Beta Maluku! SAYA Indonesia!

TIM MALUKU SAAT INI

Di mana anak-anak hebat itu kini? Dari situs resmi SSB Tulehu Putra, 5 (lima) pemainnya berhasil memperkuat Tim Sociedad Anónima Deportiva (SAD) Indonesia di Quinta Division 2009 Liga Uruguay U-17 pada tahun 2009. Mereka adalah Alfin Tuasalamony, Sedek Sanaky, Rizky Ahmad Sanjaya Pellu, Abdul Rahman Lestaluhu, dan Syaiful Bachri Ohorella. Mereka juga berhasil memenangkan Piala Bergilir Menteri Negara Pemuda dan Olahraga (Menegpora) Adhyaksa Dault dan juga uang tunai sebesar Rp20juta. Muhammad Rizky Tawainella bisa dilihat di blognya sendiri yang kini jarang update.

Event-61

Alfin Tuasalamony menjadi bagian dari Timnas U-23 bersama Manahati Lestusen. Lestusen terpilih sebagai pemain terbaik (best player) karena sukses membawa timnya ke semifinal pada Turnamen Usia Muda Jhon Jonathan Mailoa Cup (JJMC) I tahun 2005. Para penendang penalti yang terjadi pada final Piala Medco adalah Alfin Tuasalamony, Salim Ohorella, Riskandy Lestaluhu, Hari Zamhari Lestaluhu, dan Rizky Ahmad Sanjaya Pellu. Kini, Pellu berseragam Pelita Bandung Raya. Saat laga Indonesia All Star dengan Liverpool, Arsenal, dan Chelsea, pelatih Jacksen Tiago memasang Pellu di starting eleven.

Pada Piala Medco 2006, Saiful Bachri Ohorella menjadi top scorer dengan enam gol. Pada Piala Medco 2008, giliran Hendra Adi Bayauw yang terpilih menjadi top scorer dengan lima gol. Kini, Bayauw memperkuat Semen Padang. Khusus untuk Alfin Tuasalamony, disebut-sebut sempat dilirik oleh klub Vicenza Italia dan FC Benfica Portugal. Sani Tawainella bangga karena empat anak didiknya, yakni Lestusen, Tuasalamony, Bayauw, dan Pellu telah menjadi tulang punggung timnas Garuda di berbagai event internasional. “’Mereka sudah buktikan kalau orang Maluku juga hebat bermain sepak bola, meski harus kita akui Maluku kalah dalam pembinaan karena kekurangan anggaran.”[]

Advertisements

4 thoughts on “Beta Maluku, Saya Indonesia

  1. Baca reviewnya saja saya langsung jadi orang Brebes bang… brebesmili (meneteskan air mata). Kita seperti ini mungkin karena kita sudah jarang nyanyikan Indonesia Raya dalam hati dan gerak kita. Sepertinya film ini layak ditonton oleh semua generasi. Agar lebih peduli kepada kesatuan bangsa dan negara.

    >> Saya pun menontonnya dengan dada berdegup. Ada keharuan, kebanggaan, dan sudah seharusnya Indonesia seperti itu. Ini film layak tonton untuk SEMUA UMUR! ^_^

  2. perlu banyak renungan dan banyak memberikan contoh yg mudah2an membuat masyarakat kita lebih arif dalam menyikapi perbedaan

    >> Yup, lebih banyak contoh dan keteladanan, itulah yang dibutuhkan dan diharapkan oleh masyarakat Indonesia

  3. Filmnya sangat menginspirasi apalagi kisah nyata
    Salut dengan pencetus ide film ini. Kalau tidak nonton film ini, aku gak tau klo Maluku sang jawara Piala Medco 2006

    >> Yup, benar2 menginspirasi. Keren ya ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s