Permainan Hits from 80s & 90s

Ini kisah lama tetapi hari Minggu adalah hari kebersamaan, apalagi bagi keluarga yang orangtuanya sibuk bekerja. Sosok itu ingat sekali pada tanggal 11 November 2012, dari rencana menggowes sendiri di Minggu pagi yang tidak jadi karena faktor malas, akhirnya selepas Zuhur ia dan Adek Anin dapat bepergian dengan menggunakan Si Hitam. Kepergian mereka berdua bersamaan dengan Nisa dan Kakak Bibin yang juga mau pergi ke BIP. Tinggallah sang belahan jiwa yang menyendiri di rumah.

Jalan-06

Perjalanan agak tersendat karena suasana jalan raya yang padat merayap. Sejenak, mampir dahulu ke RS Muhammadiyah untuk mengantarkan sampel dahak yang akan diperiksa. Ini adalah pemeriksaan terakhir setelah sosok itu menjalani pengobatan selama 6 bulan karena paru-parunya terkena infeksi TB. Ia sangat berharap kalau paru-parunya sudah bersih. Amin. Apalagi hasil pemeriksanaan rontgen, paru-parunya sudah bersih dari flek. Meski sejenak, ada insiden yang tidak terlalu aneh, yaitu hilangnya sandal Adek Anin di jalan. Biasalah, kalau sudah ketiduran, sandalnya langsung lepas tak terkendali.

Sebenarnya peristiwa hilangnya sandal ini unik. Jika dihitung total, sudah tiga kali sendal Adek Anin yang ini hilang. Yang pertama waktu pulang di malam hari. Sosok itu harus memaksakan diri keluar rumah demi mencari sandal Adek Anin yang baru dibeli sebulan sebelumnya. Sepanjang perjalanan sambil ditemani gerimis yang makin menderas, sosok itu menyusuri jejak sebelumnya. Alhamdulillah sandalnya ditemukan sangat jauh di luar komplek di sebuah pertigaan, dan ia pun rela berbasah-basahan karena hujan. Yang kedua, sandalnya hilang sewaktu Adek Anin main di area pembangunan rumah (komplek lain) yang banyak lumpur dan kubangan pada Kamis siang. Selepas Jumatan, sosok itu menjemput Adek Anin di sekolah dan langsung mencari sandalnya di dasar kubangan. Alhamdulillah sandalnya ketemu meski harus bersusah payah berkubang dan terpaksa membersihkan dari sisa-sisa lumpur.

Jalan-07

Kembali ke cerita inti, sosok itu terpaksa membeli sandal jepit untuk Adek Anin. Nisa dan Kakak Bibin kemudian memisahkan diri di Binong. Hanya berdua, mereka pun langsung bergerak ke arah kota di sebelah utara. Meski ragu, untunglah acara HelarFest 2012 yang sudah ketiga kalinya masih berlangsung, kali ini bertempat di Taman Cilaki (Jl. Citarum). Dua acara sebelumnya adalah pertunjukan Lightcestra di hutan kota Babakan Siliwangi dan Kampung Kreatif di Tamansari, Cicukang, Leuwianyar, dan Cicadas. Tema taman kali ini adalah permainan tradisional Sunda. Ada beberapa permainan tradisional yang mayoritas diusung oleh Komunitas Hong, yaitu egrang, babalonan sarung, gatrik, bedil jepret, gasing, sorodot gaplok, kelom batok, dan rorodaan. Meski begitu, ada juga keramaian lainnya seperti hiburan musik, workshop, kuliner tradisional, festival lampion, dan acara yang diusung oleh komunitas.

Jalan-08Benar saja, sosok itu langsung mencoba egrang yang berada tepat di pintu masuk. Alhamdulillah keterampilannya bermain egrang masih bisa dibanggakan. Awalnya Adek Anin masih malu-malu untuk mencoba semua permainan itu. Meski sudah dipancing sosok itu untuk bermain sorodot gaplok atau dampu (Jakarta), tetap saja Adek Anin masih enggan. Barulah wahana yang dikenalkan oleh Ethno Eco berupa rumah pohon, si kecil tomboy ini mau bermain. Menaiki jaring tali atau bahkan memanjat tembok buatan berukuran mini membuatnya harus berkeringat. Ia pun tertarik dengan kekerisan yang terbuat dari pelepah daun kelapa atau gasing bambu.

Yang jelas, hari itu Adek Anin merasa bahagia bisa berjalan bersama sosok itu. Ia pun pada akhirnya bisa mencoba bedil jepret yang terbuat dari bambu dengan peluru dari buah leunca. Senapan tradisional itu amat sederhana, sesederhana sumpit bambu dengan sasaran buah jeruk bali. Semua terbuat dari bahan-bahan alam yang tentunya tidak akan menambah sampah anorganik. Taman pun jadi lebih berfungsi sebagaimana mestinya, yaitu dipenuhi oleh masyarakat perkotaan yang bisa jadi jenuh dengan permainan mutakhir ala mall. HelarFest 2012 ini sendiri diadakan oleh Bandung Creative City Forum (BCCF). Setelah Hutan, Kampung, dan kini Taman, kita tunggu saja helaran keempat yang akan diadakan di Sungai.

BEDIL JEPRET

Jalan-09

Salah satu permainan yang paling diminati Adek Anin adalah Bedil Jepret. ‘Bedil’ sendiri bermakna senapan atau senjata, sedangkan ‘Jepret’ sendiri adalah melontarkan sesuatu dengan menggunakan alat. Kata jepret yang paling umum adalah dengan menggunakan karet gelang. Bedil Jepret hanya menggunakan bambu sebagai bedil dan alat pelontarnya. Alat pelontarnya sendiri menggunakan sebilah bambu yang dilengkungkan. Satu ujungnya dimatikan agar tidak lepas, dan satu ujungnya dibiarkan bebas. Lengkungan inilah yang menentukan keras tidaknya peluru yang dilepaskan. Pada bagian dalam bambu terdapat lubang untuk mengganjal alat pelontar. Dengan menggunakan telunjuk, kita bisa melepas alat pelontarnya yang langsung mendorong peluru yang sudah diletakkan di dalamnya. Pelurunya sendiri adalah buah leunca (yang mirip dengan buah kersen atau seri).

Awalnya Adek Anin kebingungan cara bermainnya, tetapi setelah dijelaskan oleh sosok itu, ia pun menjadi kegirangan dan tidak mau berhenti. Sampai akhirnya ia bisa memainkannya sehingga beberapa kali dapat menjatuhkan bola sasaran. Bahkan, Adek Anin meminta sosok itu untuk membuatkannya di rumah. Itu pun kalau sanggup hehehe. Di sinilah uniknya jenis permainan tradisional ini. Selain tidak membahayakan, alat dan bahannya pun serba alami sehingga tidak menghasilkan sampah anorganik.

Jalan-10

Sebenarnya, permain Bedil Jepret dapat dimainkan secara sendiri atau beramai-ramai (berkelompok). Hanya saja untuk berkelompok sudah amat jarang dimainkan. Mungkin harus dipancing oleh para pecinta permainan tradisional untuk memproduksi secara massal alat ini dan dijual bebas. Sehingga alat ini bisa memasyarakat dan menggantikan permainan modern yang lebih berbahaya seperti senapan plastik yang sudah berskala 1:1 dengan peluru bola plastik. Peperangan ala Bedil Jepret pun pernah dikenal dengan menggunakan batang daun pisang.

Jika bermain sendiri, tentu yang menjadi poin utama adalah ketepatan menembak. Peluru yang digunakan selain leunca juga bisa digunakan berbagai biji-bijian yang berukuran sama, tetapi jangan menggunakan baru kerikil karena amat berbahaya. Untuk menjaga kualitas ‘jepretan’, lebih baik alat pelontarnya saja yang diganti, jadi alat ini jangan dimatikan dengan menggunakan paku. Cukup membuat lubang yang pas, dan bilah bambu bisa diselipkan. Minimal tetap dijaga agar alat pelontarnya tidak lepas. Bagaimana, kamu ingin mencobanya atau memperkenalkannya pada generasi anak-anak kita?[]

Advertisements

One thought on “Permainan Hits from 80s & 90s

  1. dulu waktu kecil juga pernah main yang kayak bedil jepret. yang bedain, dl bambunya di bolongin terus di isi sama koran basah.Cara mainnya di sodok dari blakang, yang korannya terlempar paling jauh dia yang menang

    >> Saya juga pernah main itu. Dulu pelurunya dari buah mengkudu, tabungnya pakai besi kecil seperti isi pulpen. Namanya bukan bedil jepret, tapi apa ya … hehehe #lupa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s