Ngaboseh di IDR 2014

Sepeda-26

Sosok itu tidak pernah menyangka bahwa pada hari Sabtu itu (30/8) harus beristirahat di empat masjid yang berbeda hanya dalam satu trip ngaboseh dari Cianjur menuju Bandung. Pertama di Masjid Besar Darussalam, kedua di Masjid Muhammadiyah Rajamandala, ketiga di Mushala SPBU Cipatat, dan yang keempat di Masjid Cibabat, Cimahi. Makna istirahat ini adalah makna yang sebenarnya karena saya saat itu benar-benar harus tidur untuk memulihkan stamina yang memang sudah ngedrop.

Ada dua alasan utama mengapa harus memaksakan diri tidur sementara dia pernah melakukan trip yang sama dari Jakarta ke Bandung dan tidak sampai seperti itu. Satu, sosok itu bersepeda seorang diri. Dua, sebelumnya dia telah menempuh perjalanan 17 jam nonstop. Ya, perjalanan ngaboseh yang melelahkan meski dalam jarak yang tidak terlalu jauh dalam dunia persepedaan. Sangat melelahkan karena selama 17 jam itu dia harus mengayuh dengan kecepatan seorang pelari normal, yaitu hanya 5-7 km/jam. Sebuah trip yang pernah dilakukannya saat menjadi Pesepeda Marshal dalam rangka Long Run for Leukemia pada 13-15 Juni 2014 (PR, 6/7/2014).

Sepeda-27

Pada pukul 02.00, sosok itu tiba di Masjid Besar Darussalam setelah berpisah dengan teman-teman Fighting Long Runner di Pasar Cianjur yang melanjutkan perjalanannya ke Cipanas. Setelah bebersih badan apa adanya dan mengganti pakaian yang basah karena kehujanan di daerah Rajamandala, dia langsung mengambil tempat di teras masjid untuk tidur. Tepat azan subuh, dia bangun dan langsung shalat. Setelahnya, mencoba menghangatkan badan dengan memesan bandrek sambil men-charge hape yang energinya terus berkurang.

Pukul 06.00 sosok itu sudah mengayuh si Hotty (julukan sepedanya) menyusuri pagi yang masih berkabut menuju ke arah timur. Jalan raya Cianjur-Ciranjang masih lengang, hanya beberapa warga saja yang sudah beraktivitas. Matahari belum terlihat meski hari sudah terang, namun sesampainya di Ciranjang matahari terlihat sangat indah. Warnanya merah dan terlihat besar. Sangat indah. Dia pun langsung mencari tempat yang pas dan mengabadikannya. Selang dua jam kemudian badannya terasa amat letih, belum ditambah dengan mata yang begitu berat. Tidak mau memaksakan diri, sosok itu langsung berbelok masuk ke halaman Masjid Muhammadiyah Rajamandala. Cukuplah tidur setengah jam sebelum melanjutkan perjalanan. Pada pukul 09.00 dia kembali harus mengistirahatkan kaki karena kondisi perut yang melilit. Satu porsi bubur ayam khas Cianjur langsung amblas ke dalam perut. Perjalanan pun dilanjutkan meski dengan kecepatan yang kurang dari biasanya.

Sepeda-28

Kabut masih menyelimuti. Terasa segar dan eksotis. Memberikan nuansa yang berbeda dengan jalur lurus, naik turun, dan cenderung membosankan. Sekira pukul 10.30 kembali sosok itu harus membelokkan si Hotty memasuki SPBU Cipatat. Mata sudah tidak bisa diajak kompromi, apalagi mengingat jalur Cipatat-Citatah-Padalarang yang penuh tanjakan, berkelok, dan penuh debu plus kendaraan-kendaraan berat. Kondisi tubuh tentu harus benar-benar fit sebelum melahapnya.

Alhamdulillah meski beberapa kali istirahat dan menghabiskan perbekalan air di botol, sosok itu berhasil menyelesaikan jalur nanjak di Citatah. Jalur yang terasa tanpa batas apalagi dengan kondisi sinar matahari yang begitu garang menyerang. Memasuki Padalarang dan Cimahi, dia menarik napas panjang karena melihat kondisi jalan raya yang macet. Ngaboseh dengan perlahan hingga akhirnya tidak kuat setelah melewati Alun-alun Cimahi dan langsung berbelok ke dalam area Masjid Cibabat di jalan Pasantren, apalagi azan zuhur sudah berkumandang dari tadi. Sosok itu kembali tidur setelah shalat, dan setelahnya adalah kebahagiaan karena tiba dengan selamat di rumah meski perjalanan ngaboseh kali ini begitu melelahkan.

Tim Fighting Long Runner

Sepeda-29

Inilah perjalanan panjang dengan angka cantik bertaburan di dalamnya. Ya, angka kemerdekaan. Inilah salah satu cara yang bisa dilakukan 17 pelari Bandung dengan nama Tim Figthing Long Runner untuk memperingati dan memeriahkan HUT ke-69 kemerdekaan Indonesia. Surachman, yang merupakan seorang purnawirawan berusia 64 tahun, ditunjuk sebagai pimpinan. Beliau adalah warga Baros, Kota Cimahi, yang mengatakan bahwa mereka akan lari sejauh 178 km selama 45 jam. 17 pelari ini akan diikuti oleh 8 pelari dari anggota Kopassus, dan 45 prajurit Kodam III/Siliwangi. Para prajurit ini terus menyanyikan lagu semangat mulai dari start di Gedung Sate (Jumat, 29/8) hingga finish di Monas (Minggu, 31/8) dengan formasi bergantian setiap 10 km berdasarkan kesatuannya. Mereka beristirahat di beberapa tempat setelah 10 km atau kelipatannya. Saat azan subuh di hari Sabtu (30/8), 17 pelari ini berhasil sampai di Istana Kepresidenan Cipanas dan langsung beristirahat. Pada hari Minggu (31/8) pagi mereka sampai dengan selamat di Monas dan disambut oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Mereka pun mendapat kehormatan berupa medali yang langsung dikalungkan oleh Bapak Presiden. Sebuah kenangan tak terlupakan.[]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s