Nasi Goreng Maicih

Sukses tidak berarti kemudian diam
Ia harus bergerak dan terus bersenandung
Dan semua itu terbukti pada suatu malam
Berawal dari keripik hingga menjelma warung

Baiklah, ini sebuah prolog. Menjadi sebuah pembelajaran bagi sosok itu setelah menyelesaikan tulisan (yang pembuatannya sampai berdarah-darah), agar tetap berhati-hati dan tidak sembrono. Akibatnya, satu tulisan jadi yang sedianya sudah diposting jauh-jauh hari menjadi mentah begitu saja karena hilang. Ter-delete. Dicari-cari dengan cara ‘undo‘ maupun di ‘recycle bin‘ tetap tidak ada. Untuk menulis ulang (ternyata) dibutuhkan kemampuan yang lebih, apalagi di sana ada banyak data yang tidak mudah didapatkan. Tapi inilah yang terjadi. Benar-benar menjadi pembelajaran. Bismillah … dan inilah tulisan kedua yang jelas tidak sama persis dengan tulisan pertama. Mungkin tidak sesempurna tulisan awal, tetapi paling tidak, enak dibaca dan dapat memberikan informasi.

Kuliner-52

Sebuah rumah dengan atap berbentuk limas segiempat. Klasik. Bangunan retro yang sudah berusia lama, entah tahun berapa. Sosok itu tergoda untuk memasukinya. Saat itu malam, tentu akan ada banyak kejutan di dalamnya. Sebuah konsep rumah makan atau restoran atau apapun namanya hingga sang pemilik lebih memilih nama ‘warung’. Sebuah kata yang mencirikan kesederhanaan, dengan pembeli yang datang dari kalangan menengah ke bawah setelah berlelah seharian mengais nafkah di jalanan. Mengapa ‘warung’ dengan bentuk fisik yang sudah layak menyandang gelar ‘restoran’. Mungkin pemiliknya ingin membumi. Mendekat pada kalangan menengah ke bawah bahwa tempat ini memang untuk didatangi dan digunakan bersama. Siapa pun boleh masuk. Ya, siapa saja.

Sosok itu masuk. Benar saja. Dekorasinya benar-benar ingin membumi. Dekat pada siapa saja dengan latar belakang apa pun. Paling tidak ada empat tema yang ditawarkan ‘warung’ ini. Pertama adalah ‘family‘. Keluarga. Dekorasinya sederhana. Siapa pun menjadi keluarga di tempat ini. Silakan mencicipi semua menu yang ada, beberapa diantaranya bahkan berjenjang dengan istilah ‘level’. Pilih saja. Level di sini tentu saja sebagai ciri khas pendahulunya yang hanya berupa ‘keripik’. Level adalah tingkat kepedasan yang dimulai dari angka 0 hingga 10. Dari tidak pedas hingga yang paling pedas. Ya, inilah transformasi Keripik Maicih menjadi Warung Maicih. Ada beberapa menu yang berkaitan dengan level yaitu Tom Yam Maicih, Nasi Goreng Maicih, Iga Maicih (Bakar/Goreng/Kuah), Bistik Maicih (Tenderloin/Sirloin), Ayam Delam Maicih, dan Cah Kangkung Maicih. Untuk minuman juga ada Mojito Maicih. Levelnya bervariasi dari 0, 3, 5, dan 10. Pilih saja.

Kuliner-53

Tema kedua adalah ‘nature‘. Alam. Ada banyak tanaman yang digantung maupun diletakkan di beberapa sudut. Uniknya, ada juga satu mesin jahit dengan perangkatnya sebagai bentuk rasa ‘penghangat’. Bagi yang mencintai alam tentu akan betah di sini. Selain menu yang berbau Maicih, ada beberapa menu tematik yang bisa dipilih. Main Menu, Side Dish, Salad & Soup, Dessert, Juice, Mocktail, Coffee & Choco, Tea & Soda, dan Milk Shake. Dari yang berat sampai yang ringan, dari yang pedas sampai yang menyegarkan. Pilihan menarik, tentu saja. Tema ketiga adalah ‘youth‘. Remaja atau muda-mudi. Tema yang dipenuhi dengan gairah ingin maju. Ingin berkumpul dan bersenang-senang, dalam hal positif. Apalagi ‘maicih’ adalah kata ajaib yang menggoda para remaja untuk mencoba sesuatu yang menantang. Salah satunya adalah tingkat kepedasan. Sesuatu yang patut dicoba.

Tema keempat adalah ‘culture‘. Budaya. Maicih dilahirkan dari rahim tanah Sunda. Dari alam priangan. Wilayah yang satu ini memang sangat melekat dengan budayanya yang luar biasa. Orang-orangnya yang suka ‘ngabodor‘, murah senyum, dan tentu saja tidak melupakan akarnya. Beberapa lukisan dipajang dan sedang dibuat. Lukisan karya anak-anak muda Bandung yang asyik punya. Kayu-kayu bekas digunakan kembali dan didesain dengan manis. Keren. Dan sosok itu akhirnya lebih memilih Nasi Goreng Maicih (level 3) dan Milk Shake Strawberry sebagai menu yang pantas untuk dicoba. Lapar sudah menggoda dan menu nasi goreng adalah pilihan tepat untuk perutnya yang memang tradisional. Ayam goreng, garnis pemanis, dan keripik sebagap pengganti kerupuk. Tidak ada yang istimewa, tetapi keripik khas Maicih ada di sana. Di sinilah bedanya. Begitu pula dengan milk shake-nya. Terasa segar setelah menyantap nasi goreng yang bikin panas di perut. Harga 25ribu dan 15ribu layak sebagai penggantinya, tapi itu belum termasuk PPN.

Kuliner-54

Overall … Warung Maicih patut untuk dikunjungi. Tempatnya menyenangkan dan asyik untuk dijadikan tempat nongkrong. Wifi ada dan lokasinya pun strategis, yaitu di Jl. Soka. Bisa lewat Riau atau bisa juga dari depan Stadion Persib (Jl. Ahmad Yani). Jam buka mulai dari siang sampai malam hari. Menu-menunya bisa jadi standar dan tidak jauh berbeda dengan menu di rumah makan lainnya, tetapi tentu saja ada ciri khas. Selain gambar Maicih yang menghadap ke depan, tentu karena keripik pedasnya selalu ada pada berbagai menu yang bergelar ‘Maicih’. Bagi yang cinta berat dengan keripik Maicih tentu akan menjadi nostalgia dengan menu yang berbeda. Yuk ah![]

Advertisements

6 thoughts on “Nasi Goreng Maicih

  1. Inovasinya berjalan terus ya Maicih. Salut dengan tim kreatifnya. Berawal dari keripik kini merambah resto dan aneka kuliner. Semoga sukses dan kapan-kapan saya bisa mencoba menu-menunya! šŸ™‚

    >> Iya, inovasinya nggak ada matinya. Sebentar lagi bahkan ada yang baru. Percaya, deh! Hayu atuh ke Bandung ^_^

  2. udh lama gk pernh dnger nama Kripik Maicih Ieh ternyta bkin terobosan baru ” warung Maicih” Patut jd contoh utk pra Pengusaha jgn slalu puas dgn 1 usha yg udh sukses…. Jd penasaran nih bang Aswi ama warung maicih klo ke Bdg kdu mampir ahhh šŸ™‚

    >> Ayooo kapan main lagi ke Bandung? Nanti ditemenin deh ^_^

  3. Wah, sempet denger kripik Ma Icih bikin restoran. Asik pisan, jadi pengen mampir, ah. Harganya juga ga masih pas, yah buat kantong saya mah. Seru euy, inspiratif pisan šŸ™‚

    >> Bukan hanya Warung Maicih, bahkan Baso Maicih pun sudah hadir. Ayo atuh sementawis waktos ameng ka Bandung. Jangan di Banten melulu ^_^

  4. tempatnya keren…patut coba ninh..baru tau kalo mak icih buat nasgor juga,hehehe…

    >> Yup, Maicih juga punya nasi goreng hehehe….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s