Save The Children di Jalan Raya

Anak-anak masihlah dekat dengan dunia ‘unjuk gigi’
Emosinya masih labil dan penuh gengsi
Sangat mudah ‘panasan’ dan tidak bisa menerima
Wajarlah kalau kemudian ada istilah ‘senggol bacok’

Event-75Rabu kemarin (8/10/2014), alhamdulillah sosok itu dapat menghadiri sebuah acara penting yang seharusnya diketahui oleh semua orangtua. Seminar “Keselamatan Berlalu Lintas Berbasis Sekolah dan Sosialisasi Program Selamat Save The Children di Indonesia” berlangsung di Hotel Santika dengan menghadir beberapa pembicara yang mumpuni. Ada psikolog, polisi, pendidik, pihak PKK, dan bahkan termasuk antropolog. Ini semua demi anak-anak kita, terutama selama di jalan raya. Jangan sampai ada korban anak-anak di jalan raya. Salah satunya adalah penegasan aturan tidak bolehnya anak-anak berkendaraan bermotor.

Ada empat poin utama yang perlu ditekankan, yaitu (1) Meningkatkan kapabilitas anak saat di jalan raya misal cara menyeberang jalan, (2) Penggunaan helm, (3) Membatasi anak berkendaraan bermotor, dan (4) Kampanye bersepeda. Hal ini menjadi penting karena jutaan anak sekolah pulang/pergi sekolah melewati jalan yang amat berbahaya atau menggunakan transportasi yang buruk dan Indonesia sedang menghadapi pertumbuhan yang luar biasa akan kendaraan bermotor, khususnya sepeda motor. Data mencengangkan pun mencatat bahwa lebih dari 30.000 kematian terjadi di jalan setiap tahunnya di Indonesia sehingga kerugian ekonomi ditaksir rata-rata mencapai 200 triliun per tahun sepanjang 3 tahun terakhir (2010-2012). Pada 2011, terdapat 31.185 kematian dan yang terluka mendekati angka 150.000 akibat kecelakaan di jalan raya di Indonesia. Korban kecelakaan sebanyak 70% adalah pesepeda motor atau yang dibonceng dan 29%-nya berusia di bawah 15 tahun. Wow!

Event-76

Masih banyak lagi data-data mencengangkan yang dikumpulkan oleh Lembaga Demografi Universitas Indonesia, misalnya jumlah kendaraan bermotor pada 2013 adalah sebanyak 99.910.652 motor dan 12.277.325 mobil. Selama tahun 2013, untuk usia 15-24 tahun, telah terjadi kecelakaan dimana 66,7% terjadi di jalan raya. Dari jumlah itu ada 67,4% yang diakibatkan oleh sepeda motor. Di sinilah perlunya memahami akan pengetahuan berlalu lintas yang benar dan baik pada masyarakat meski mayoritas sudah mengetahui fungsi dan makna rambu-rambu yang ada di jalan. Mayoritas anak-anak mengetahui informasi berlalu lintas berasal dari orangtua dan guru. Dari penelitian yang sama, metode penyampaian yang terbaik untuk anak SD dan SMP adalah melalui cerita/dongeng.

Peran pemerintah jelas amat penting. Meski beberapa program sudah ada namun tidak banyak masyarakat yang tahu. Beberapa di antaranya adalah (1) Forum lalu lintas, (2) Kerjasama kepolisian dan sekolah, (3) Zona selamat sekolah, (4) Patroli keamanan sekolah (PKS), dan (5) Penegakan hukum. Masih banyak kekurangan di sana, misal masalah perizinan zona selamat sekolah atau alangkah lebih baiknya jika PKS diterapkan mulai dari SD. Ifa Hanifah Mischbach (Psikolog dan Staf Pengajar UPI) mengatakan bahwa dari sisi kognitif alias kemampuan berpikir pengetahuan lalu lintas, kebanyakan anak dan remaja masih jauh di bawah orang dewasa. Mereka sulit menyelesaikannya di lapangan. Dari sisi emosional masih cenderung labil. Mereka mudah ‘panasan’ kalau ada yang ngebut dan mereka naik motor salah satu alasannya adalah karena unsur gengsi.

Event-77

Erwan Dwiyanto yang berasal dari Dikyasa Satlantas Polrestabes Bandung mengatakan bahwa pihak kepolisian sudah menerapkan 11 Program Dikmas Lantas, misalnya melalui Polisi Sahabat Anak, Police Goes To Campus, Pembinaan Potensi Masyarakat, Pelatihan Dikmas Lantas, atau Safety Riding. Camejasa atau cara menyeberang jalan supaya aman juga sudah diterapkan para program PKS. Caranya adalah dengan berdiri di pinggir jalan, lihat kanan, lihat kiri, lihat kanan lagi, lalu menyeberang. Ya, bagaimana salah satu tugas polisi adalah memberikan pendidikan lalu lintas, yaitu segala kegiatan yang meliputi segala usaha untuk menumbuhkan pengertian, dukungan, dan keikutsertaan masyarakat aktif dalam usaha menciptakan keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas.

Budi Rajab (Antropolog dan Staf Pengajar Unpad) menambahkan bahwa harus ada diskriminasi berkendaraan, terutama di sekolah. Agar sebuah program bisa berhasil, tentu harus ada diskrimanis. Ini tidak bisa dihindarkan. Misalnya saja, parkir sepeda harus lebih luas daripada parkir motor. Alangkah baiknya juga ada riset terhadap anak-anak sekolah yang menggunakan motor, apakah kecerdasannya menurun atau menaik? “Saya berharap, sih, mereka semakin bodoh sehingga ada larangan untuk naik motor,” lanjutnya. Budaya harus diubah. Budaya motor adalah kendaraan yang cepat harus dikikir habis. Perlu ditanyakan mengapa Jepang sebagai produsen motor tapi sedikit yang naik motor. Lalu, bagaimana dengan Indonesia?[]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s