Selamatkan Anak di Jalan Raya

(PR, 12/10/2014) ~ Bayangkan saat melihat anak-anak usia SD mengendarai sepeda motor sambil membonceng adiknya yang berseragam TK. Bisakah kita tenang dengan pemandangan seperti itu di jalan raya? Masih bisa tenangkah Anda saat tahu bahwa kecelakaan sepeda motor menjadi pembunuh nomor satu untuk anak-anak usia 10-19 tahun?

Fakta mencengangkan tentang kendaraan bermotor dan anak-anak itu belum selesai. Itu juga bukan data yang jauh dari kehidupan kita, melainkan data yang dihimpun dari responden di Kota Bandung dan Kabupaten Bandung. Pada rentang waktu 2011-2013, data menunjukkan bahwa pelaku dan korban kecelakaan lalu lintas di Kota Bandung tertinggi berada pada kalangan usia produktif. Ada 51,92% pelaku kecelakaan lalu lintas di Kota Bandung yang berusia 16-30 tahun dan 4,71% merupakan remaja usia 10-15 tahun.

Dari sisi korban, fakta menunjukkan bahwa usia produktif juga menjadi sasarannya. Sebanyak 48,72% korban kecelakaan lalu lintas di Kota Bandung berusia 16-30 tahun, dan 6,73% korban adalah remaja usia 10-15 tahun. Belum selesai. Data-data menunjukkan bahwa 15,47% pelaku kecelakaan lalu lintas di Kota Bandung adalah pelajar. Profesi pelajar adalah profesi nomor 2 tertinggi sebagai pelaku kecelakaan lalu lintas setelah pegawa swasta yang mencapai 70,23%. Begitu pun dari sisi korban. Sebanyak 11,54% korban kecelakaan lalu lintas di Kota Bandung adalah pelajar. Sebagai korban, pelajar pun menempati posisi dua kelompok profesi yang paling banyak menjadi korban setelah pegawai swasta dengan 81,25%.

Setelah membaca data-data ini, bagaimana komentar Anda? Data itu disampaikan Save The Children dan Lembaga Demografi Universitas Indonesia dalam seminar “Keselamatan Berlalu Lintas Berbasis Sekolah dan Sosialisasi Program Selamat Save The Children di Indonesia” di Bandung, beberapa hari lalu. Studi analisis yang melahirkan data itu dilakukan dengan survei dan kuesioner terstruktur. Ada 240 responden di Kota Bandung dari Kecamatan Regol, Kiaracondong, dan Bandung Kulon, serta ada 240 responden lainnya di Kabupaten Bandung dari Kecamatan Soreang, Dayeuhkolot, dan Pasirjambu. Respondennya adalah anak-anak kelas IV dan V tingkat SD, serta kelas VIII dan IX tingkat SMP, laki-laki dan perempuan. Studinya juga dilakukan dengan cara mengadakan focus group discussion (FGD) dan wawancara mendalam.

Menurut Abdillah Hasan dari UI, survei menunjukkan, ada 4 dari 10 anak yang mengaku pernah mengendarai sepeda motor. Di antara mereka yang pernah mengendarai itu, 8 dari 10 menyatakan mendapat izin dari orangtuanya! Ya, meski di bawah umur yang diperbolehkan hukum, anak-anak ini bisa mengendarai sepeda motor karena toh mendapat izin dari orangtuanya. Rata-rata usia pertama kali saat diizinkan mengendarai sepeda motor adalah 12 tahun. Usia terendahnya 8 tahun yang artinya sekitar kelas III SD!

Bahkan, 73% menyatakan diajarkan mengendarai sepeda motor oleh orangtuanya dengan rata-rata usia 11 tahun. Guru pun ikut berperan dalam pembiaran ini karena ada 13,7% yang menyatakan diizinkan guru mengendarai sepeda motor ke sekolah. “Hampir setengah dari responden mampu mengendarai sepeda motor dimana hal ini adalah ilegal bagi mereka. Program dan kebijakan yang komprehensif sangat diperlukan untuk menurunkan motivasi anak-anak bersepeda motor karena sepeda motor adalah penyebab terbesar kecelakaan di jalan raya,” kata Abdillah.

Event-78

SELAMATKAN ANAK-ANAK

Data kecelakaan di atas memang seakan kontradiktif dengan fakta bahwa anak-anak itu diizinkan bahkan diajarkan untuk berkendara oleh orangtuanya. Dari sisi anak-anak, itu menjadi dilema bagi mereka karen toh orang dewasa disekitarnya seakan “mengajarkan” untuk melanggar hukum. Menurut Eko Kriswanto dari Save The Children, anak-anak berperilaku demikian karena melihat orangtua, guru, dan lingkungannya. Karena itulah, Save The Children membuat proyek ‘Selamat’ yang merupakan singkatan dari Selamat dan Edukasi Keselamatan Berlalu Lintas.

Fokus utama proyek Selamat ada empat, salah satunya adalah mencegah perilaku anak-anak mengendarai kendaraan bermotor. “Kami juga mendorong perilaku jalan kaki dan bersepeda ke sekolah,” ujarnya. Gerakan itu digencarkan dengan berbagai cara. Di antaranya adalah pelatihan untuk guru, murid, dan orangtua. Permasalahan keselamatan berlalu lintas itu pun akan diintegrasikan ke dalam kurikulum (mata pelajaran) serta mendukung kegiatan ekstrakurikuler di sekolah terkait keselamatan berlalu lintas. Eko mengatakan, gerakan Selamat akan menyasar 30 sekolah, 9.000 murid, 60 guru, 30 kepala sekolah, 25 orang dinas terkait, 150 anggota masyarakat termasuk komite sekolah. Secara tidak langsung, gerakan itu pun diharapkan bermanfaat tidak langsung pada 390 guru, 27.000 sanak saudaranya, dan bergulir juga pada lapisan masyarakat lainnya.

Sejak setahun lalu, hadir pula gerakan ‘Camot’ yang merupakan kependekan dari Cegah Anak-anak Mengendarai Sepeda Motor. Gerakan itu dikampanyekan dengan pembagian stiker dan pencarian donatur, penyuluhan, serta kerja sama dengan komunitas sepeda supaya anak-anak lebih tertarik untuk mengendarai sepeda. “Kepedulian kami dalam gerakan ini bukan hanya risiko kecelakaannya yang tinggi. Kami lebih peduli lagi karena ternyata anak-anak sudah diajarkan untuk melanggar aturan sejak usia dini. Bagaimana dengan pengembangan karakter mereka nantinya?” kata co-inisiator Camot, Maulana M Syuhada.

Ia menuturkan, memang anak-anak tak bisa sekadar dilarang, tapi harus ada solusinya. Penegakan aturan itu tak bisa hanya diharapkan ke sekolah tapi juga kewajiban pemerintah kota untuk menyediakan transportasi massal yang aman, nyaman, dan terjangkau, serta fasilitas pesepeda dan pejalan kaki yang aman dan nyaman. Dalam skala lebih besar lagi, pemerintah harus mengeluarkan kebijakan untuk menekan laju peningkatan jumlah kendaraan bermotor. Aparat kepolisian pun diharapkan melakukan penegakan aturan yang tegas.

Event-79

ORANGTUA HARUS BIJAK

Bagaimanapun juga, orangtua memang memiliki peranan penting. Apalagi, anak-anak merupakan tanggung jawab orangtuanya sejak dilahirkan sampai setidaknya berusia 17 tahun. Di hadapan hukum, usia 17 tahun itulah batas seorang anak mulai mempertanggungjawabkan perilakunya sendiri. Berkaitan dengan penggunaan sepeda motor, anak-anak memang mengalami dilema karena melihat teman sepergaulannya sangat berbas berkendara. Anak-anak yang sedang proses pencarian jati diri itu pun merasa minder bila tidak ikut mengendarai sepeda motor. Gengsi pun diletakkan pada sepeda motor.

Psikologi Ifa Hanifah Mischbach mengatakan, anak-anak memiliki kondisi emosi yang masih labil. “Mereka mudah ‘panasan’ dan gengsi-gengsian. Kondisi itu juga yang membahayakan kalau mereka diizinkan mengendarai sepeda motor. Anak-anak tidak mempunyai kematangan emosi untuk mengendalikan sepeda motor dan kondisi lalu lintas di jalan raya,” kata dia. Di situlah orangtua harus mengambil peran dengan bijak. Karena usia remaja adalah masa-masa mereka ingin pamer, orangtua jangan malah memfasilitasi dengan memberikan izin mengendarai sepeda motor demi memperbesar harga diri anaknya.

Selain itu, memang dibutuhkan juga penegakan aturan dari pihak kepolisian dan guru di sekolah. Pemerintah kota pun harus memberikan fasilitas yang aman dan nyaman supaya anak-anak terdorong mengendarai sepeda atau jalan kaki. “Meski begitu, orangtua yang harus memegang peranan utama. Guru bisa berganti dari TK sampai SMA, tapi orangtua tak berganti. Orangtua adalah guru terbaik untuk mengubah perilaku anak. Bimbinglah anak untuk mengutamakan keselamatan sejak dari rumah,” tuturnya. (Vebertina Manihuruk/PR)

Advertisements

2 thoughts on “Selamatkan Anak di Jalan Raya

  1. great sharing.. thanks 🙂
    setuju kalau anak2 harus lebih memahami pentingnya berhati2 dengan keadaan lalulintas

    >> Thanks juga sudah mau membaca dan meninggalkan komen di sini.
    Ya, dan mereka akan lebih mudah menerimanya kalau orangtua berperan serta ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s