Tak Ada Teladan, Semuanya Dianggap Benar

(PR, 12/10/2014) ~ Anak-anak sekarang cepat besar. Ungkapan itu sering kita dengar, bahkan kita amini. Secara fisik, anak-anak di masa sekarang memang lebih bongsor dibandingkan orangtuanya. Secara pengetahuan dan keterampilan pun, mereka lebih cepat mahir dibandingkan orangtuanya saat seumur mereka. Akan tetapi, saat bicara soal aturan mengendarai sepeda motor, apakah itu bisa menjadi pemakluman? Karena cenderung lebih cepat besar dan cepat mahir, apakah itu artinya mereka bisa melakukannya saat belum masuk batas dewasa 17 tahun?

Secara aturan, kita sudah tahu bahwa itu tidak diperbolehkan. Penetapan usia dewasa itu tentunya berkaitan dengan kondisi fisik dan kematangan emosional. Selain itu, tentunya usia 17 tahun disepakati bersama sebagai batas usia dimana anak-anak sudah mulai bertanggung jawab. Meski begitu, banyak anak-anak yang menilai dirinya sudah mampu meski belum masuk usia 17 tahun. Bahkan, mereka mungkin lebih taat aturan berkendara dibandingkan pengendara yang sudah memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM).

Bisnis-08

Meski aturan tetap harus kita tegakkan, namun mari menyimak suara hati para anak-anak yang sudah mengendarai motor sebelum usianya mencapai 17 tahun. Apa yang mereka pikirkan mengenai batas usia, aturan, dan keselamatan berlalu lintas. Ada tiga anak ini masih duduk di bangku SMA di Kota Bandung yang dijadikan sampel acak. Ketiganya sudah mengendarai sepeda motor dengan batasan jarak yang berbeda-beda berdasarkan aturan orangtuanya. Ada M Ryan (15), Dion Pratama (16), dan Gunawan (15). Ketiganya sama-sama tergiur untuk mengendarai motor karena teman-temannya. Ke sekolah, ke tempat berkumpul, dan ke mana saja, mereka melihat teman-temannya mengendarai sepeda motor. Lalu, mengapa saya tidak? Itulah yang ada di benak mereka.

“Lihat orang lain bawa motor, saya juga ingin bawa. Kalau misalnya mau pergi kerja kelompok atau apa gitu susah kan harus naik angkot. Belum angkotnya ngetem, belum macet, berangkat jam berapa sampainya jam berapa?” kata Ryan dengan raut kecewa. Ia memulai belajar sepeda motor secara autodidak karena ada sepeda motor matic yang menganggur di rumahnya. Namun, memang, orangtuanya mengizinkannya berkendara motor sendiri sejak tiga tahun lalu dan mulai setahun lalu berkendara sepeda motor ke sekolah.

Dia mengaku sedikit kecewa dengan aturan mengenai batasan umur itu. Apalagi, dunia pendidikan mengenal sistem akselerasi dimana ada anak usia 15 tahun yang sudah diakui memiliki emosi yang matang. Lalu, mengapa tidak diperbolehkan mengendarai sepeda motor? “Bedanya hanya kalau umur 17 tahun sudah ada KTP dan SIM. Tetapi tetap saja, bagaimana kalau umur 17 tahun tapi kebut-kebutan di jalan dan melanggar aturan?” ucapnya. Ia pun berharap aturan usia itu sekadar sebagai anjuran, bukan aturan. Selain itu, ia pun merasa aneh dengan kebijakan pihak kepolisian dalam melakukan razia. Sempat sekolahnya didatangi untuk razia, tapi yang diperiksa adalah penggunaan knalpot bising dan bukannya apakah pengendaranya masih di bawah umur atau tidak. Tindakan itu semacam kesimpulan baginya bahwa mengendarai sepeda motor ke sekolah adalah sah-sah saja.

TIDAK TEGAS

Bisnis-09

Dion juga merasa kecewa dengan aturan yang ada. Entah aturan dari pihak berwenang maupun dari orangtuanya. Ia dilarang berkendara sepeda motor ke sekolah oleh orangtuanya karena belum memiliki SIM, tapi sehari-hari mengendarai motor di kompleks perumahannya. Ke sekolah, ia akhirnya naik angkutan kota atau diboncengi temannya. “Maluuu karena teman-teman banyak yang naik motor. Suka berontak, tapi dalam hati saja. Ya, jadinya pasrah dan kadang kesal juga,” imbuhnya. Hatinya bertambah kesal karena melihat banyak anak usia SD yang bahkan sudah mengendarai sepeda motor. Ia pun kecewa karena aturan ternyata hanyalah aturan di atas kertas yang terpaksa ia turuti sementara anak-anak lain bebas dari aturan itu.

Meski dilarang mengendarai motor ke sekolah, tapi Dion setiap hari mengendarai sepeda motor di kompleksnya. Orangtuanya kadang menyuruhnya belanja ke warung dan ketika akan pergi ke rumah temannya. Jadi, ia sebenarnya boleh berkendara hanya dengan batasan jarak itu. Ia menyadari bahwa batas usia 17 tahun memang aturan yang baik. Apalagi, ia pernah mengalami kecelakaan sepeda motor saat dibonceng temannya. “Tetapi tetap saja teman-teman mayoritas menggunakan motor, jadi saya tetap saja ingin bawa sepeda motor karena enggak mau jadi minoritas, hehe…,” imbuhnya.

Begitupun Gunawan. Ia melihat ketidaktegasan penegakan aturan lalu lintas sehingga ia memaksa orangtuanya supaya tetap diizinkan mengendarai sepeda motor. Dan, selama ini ia merasa baik-baik saja karena belum pernah terkena razia ataupun kecelakaan lalu lintas. Apalagi, kata dia, guru-gurunya pun tahu dia dan teman-temannya mengendarai sepeda motor ke sekolah. Para guru pun tidak tegas menegakkan aturan sehingga ia merasa mengendarai sepeda motor bisa terus dilakukan meski ia belum memiliki SIM.

Dari ketiga anak ini kita bisa melihat, pergaulan dan ketidaktegasan penegakan aturan membuat semakin banyak saja anak-anak yang mengendarai sepeda motor. Anak-anak ini adalah anak yang melek pada aturan lalu lintas, tapi ketika banyak celah maka itulah yang dimanfaatkan. Celah itu memang dibuka sendiri oleh orang dewasa di sekitarnya. Orangtua, guru, dan aparat kepolisian. Konsistensi dan disiplin pada aturan memang tidak bisa hanya dipaksakan pada anak-anak, tapi berilah teladan untuk ketegasan itu. (Vebertina Manihuruk/PR)

Advertisements

2 thoughts on “Tak Ada Teladan, Semuanya Dianggap Benar

  1. Saya setuju dengan pembatasan anak yang mengendarai motor, Bang. Toh itu demi keselamatan mereka juga. Anak-anak kalau berkendara cenderung emosional dan grusa-grusu, maklumlah darah muda, kadang labil dan mudah terpancing emosi. Sayang sekali orangtua dan aparat berwenang kadang tak tegas soal pemberlakuan boleh tidaknya soal motor. Semoga anak-anak tetap aman terkendali.

    >> Itulah mengapa pendidikan paling mudah bisa dimulai dari diri orangtua, setelah itu dari pihak sekolah, kemudian dimantapkan oleh aparat. Semuanya mudah asal benar-benar dijalankan. Insya Allah aman terkendali.

  2. saya pernah mengulas di blog tentang kejengkelan saya melihat anak di bawah umur mengendarai sepeda motor… semoga orang tua dapat membimbing anaknya ke arah yang lebih baik lagi

    >> Amiiiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s