Belajar Ngomong di Depan Umum

Kelihatannya mudah, cuma begitu saja
Namun ternyata tidak semudah itu
Apa yang kelihatannya mudah, ternyata bgeitu sulit
Dan di kemudian hari, kita hanyalah sebentuk patung

Pagi masih segar. Sosok itu mengayuh Spidi dengan kecepatan sedang. Namun Jakarta amat berbeda dengan Bandung. Cuacanya jauh lebih cepat panas dan lalu lintasnya jauh lebih cepat macet. Polusinya jangan tanya, tetapi meski begitu dia bersyukur karena masih bisa menikmati kesegaran Jakarta mulai dari Kelapa Gading hingga Tebet. Dan tempat yang katanya warung itu belum buka, tetapi sudah ada aktivitas di sana. Bukan warung biasa karena konsepnya sudah berbentuk kafe atau resto kelas menengah. Namanya pun sudah memiliki ciri khas, yaitu WarunKomando. Nama akhirnya memang erat dengan salah satu personel grup lawak yang besar dari sebuah radio di Jakarta, yaitu radio SK. Siapa lagi kalau bukan Eko Patrio sebagai ownernya? Namun yang mengelola warung itu adalah selebritis lainnya, Viona. Tentu saja, dia itu istrinya.

Blogger-12

Santai sejenak sambil melemaskan otot-otot tubuhnya, sosok itu melakukan selfie apa adanya. Tidak lama datang sang admin BRid, Ahmed, yang katanya memiliki gelar kebangsaan dari Rusia dan dekat dengan artis blasteran. Sejam berikutnya makin banyak anggota BRid yang berdatangan baik dengan kendaraan umum, motor, maupun mobil. Ramai. Memang ada apa? Ini istimewa, karena inilah hari dimana #BriDiscuss1 diadakan. Tepatnya Sabtu, 18 Oktober 2014. Istimewa karena event spesial ini difasilitasi oleh tempat yang asyik dan dimiliki oleh seorang selebritis yang beralih ke dunia politik. Jadi, wajar saja kalau tema #BriDiscuss1 ini adalah Belajar Ngomong di Depan Umum, kurang lebih begitu.

Ralph Waldo Emerson pernah bilang, “All the great speakers were bad speakers at first.” Itu sudah pasti belajar dari pengalamannya sendiri. Sosok itu sendiri mengamini. Sama persis yang diungkapkan oleh Muchlis Anwar yang mengaku Pakar Seni Berbicara, yang kebetulan diundang pada acara #BriDiscuss1 kemarin. Untuk itulah perlu dipelajari seni-seninya agar berbicara di depan umum tidak lagi susah dan mengerikan. Kang Ulish, panggilan akrab Muchlis Anwar versi sosok itu, menyimpulkan betapa pentingnya SUARA dan BAHASA TUBUH saat berbicara di depan umum sehingga sangat diperlukan adanya kekuatan INTONASI. Hal ini ia dapatkan berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Albert Mehrabian bahwa ternyata hanya ada 7% apa yang kita katakan, ada 55% bahasa tubuh, dan ada 38% bagaimana mengatakannya.

Blogger-13

Kang Arul dan Kang Ulish

Kekuatan intonasi juga tidak ada apa-apanya kalau tidak ada kekuatan pesan. Untuk itulah intonasi disinergikan dengan pesan yang akan disampaikan agar presentasi terasa tidak membosankan. Namun lebih dasar dari itu, jelas yang namanya menguasai materi mutlak harus dipegang. Yah, harus berwawasanlah atau tahu apa yang dikatakan. Kecepatan berbicara juga harus diperhatikan. Kalau bahasa kerennya sih, seorang pembicara itu harus speak with conviction and fluency, conversational delivery, maintain sincere eye contact, dan jangan lupa pause. Di sinilah penjelasan mengapa kemampuan berkomunikasi itu adalah tahu bagaimana mengatakannya. Lalu bagaimana dengan karakter? Sama pentingnya. Untuk membangun karakter diperlukan adanya responsibility, integrity, dan like ability. Coba pelajari.

Begitu pula dengan kreativitas pembicara yang tidak boleh apa adanya. Semua harus dipelajari dan dilatih secara berulang, misal mencoba berbicara di depan cermin atau meminta bantuan orang terdekat untuk mengkritiknya. Pelajari juga tentang bagaimana menyampaikan sebuah analogi, ilmu story telling, bagaimana menyisipkan humor yang tepat, dan terus melibatkan audiens. Perhatikan pula fasilitas dan atmosfernya agar seorang pembicara benar-benar menyatu dengan audiensnya. Kalau memang diperlukan adanya alat peraga, ya persiapkan. Begitu pula dengan testimonial, musik atau film, dan maksimalkan desain ruang demi menunjang keberhasilan seorang pembicara.

THE SECRET OF PUBLIC SPEAKING

Blogger-14

Tidak jauh berbeda dengan Kang Arul yang ternyata memiliki sederet gelar semacam doktor dan master. Diam-diam bikin tenggelam kalau sudah mengenal sosok pembicara yang satu ini, apalagi kalau sudah berbicara soal jengkol. Nggak heran kalau saat sesi berikutnya, dia harus terpaksa menjadi ‘suster ngesot’ untuk memberikan rahasia bagaimana cara menjadi pembicara yang berhasil. Ia mengutip ucapan Harvey Mackay yang mengatakan bahwa “The best way you sound like you know what you’re talking about is to know what you’re talking about.” Artinya seorang pembicara itu memang harus paham dan tidak sekadar tahu apa yang akan dibicarakan atau disampaikannya.

Ada 6 (enam) hal penting yang digarisbawahinya agar siapa pun bisa menjadi seorang pembiacara yang mampu membius atau memukau audiensnya. Apakah ini yang dimaksud dengan 6 rahasia di atas? Ya, tetapi belum sampai ke intinya. Kalau ingin sampai ke intinya tentu saja harus terus berlatih dan melihat/mendengarkan apa yang disampaikannya di depan umum. Keenam hal tersebut adalah:

  1. Kenali diri kita sehingga kita menjadi ‘penting’ untuk didengarkan oleh orang lain. Menjadi ‘penting’ itu bisa dengan menyiapkan materi/topik, perilaku, fesyen, perangkat, dan sebagainya. Namun, yang jauh lebih dibutuhkan adalah membangun kesan bahwa kehadiran (konten) kita sangat dibutuhkan oleh audiensi.
  2. Kenali latar kita. Bagaimana latar (pendidikan, sosial, politik, agama, dll) bisa menjadi bagian penguat dalam menyampaikan konten dan saat berbicara. Misalnya, jika logat kedaerahan kita kental, maka gunakan itu sebagai ciri khas. Tidak selamanya seorang pembicara itu harus mengikuti lingkungannya dan kondisi audiens.
  3. Budaya kita dan audiensi. Budaya bisa menentukan arah pembicaraan dan bisa juga mengakhirinya. Tetapi, patut diingat, jadilah ‘ikan di dalam lautan’ yang tidak ikut-ikutan menjadi asin dan bisa bersinergi dengan audiensi yang lain. Budaya perlu ditekankan karena dua hal ini bisa muncul secara berbeda bukan pada sisi komunikator-komunikan saja, melainkan situasi. Misalnya suasana pertemuan di restoran Jepang sementara komunikator-komunikan berasal dari dua budaya berbeda.
  4. Kenali diri audiensi. Betul dalam kemahiran berbicara hasil akhir yang didapat adalah audiensi ‘menerima’ konten yang kita sampaikan. Namun, pernahkah berpikir bahwa distribusikan konten itu tidak hanya ‘bisa didengar’ saja, melainkan juga melekat did alam benak dan tertanam dalam kesadaran, karena bisa jadi, apa yang kita bicarakan hari ini akan muncul manfaatnya satu bulan, satu tahun, atau satu dasawarsa berikutnya.
  5. Kenali latar audiensi. Jangan pernah beranggapan bahwa audiensi itu ‘tidak tahu apa-apa’. Jangan pernah pula berpikiran bahwa apa yang kita sampaikan akan langsung diterima oleh audiensi. Banyak contoh keberhasilan pembicaraan itu diawali dengan hanya membahas soal burung, permen, atau klub sepakbola.
  6. Antisipasi sesuatu yang tak pernah kita duga. Seringkali pembicara (public speakers) sibuk dengan dirinya sendiri, asyik dengan bahan dan perangkat yang diperlukan, dan menghapal kata demi kata yang akan disampaikan. Tetapi, dan ini sering terjadi, bahwa mereka tidak pernah tahu bahwa di hari H apa yang akan terjadi. Misalnya kita sudah menyiapkan materi power point, tetapi saat presentasi listrik padam.

Blogger-15

There are three things to aim at in public speaking: first, get into your subject, then get your subject into yourself, and lastly, to get your subject into the heart of your audience ~ Alexander Gregg

Advertisements

4 thoughts on “Belajar Ngomong di Depan Umum

  1. Sampai hari ini, saya masih suka grogi kalau harus ngomong di depan umum. Duh, banyak ya yang harus diperhatikan agar lancar ngomong di depan umum. Bisa nggak ya..

    >> Insya Allah bisa asal harus sering dilatih secara terus menerus. Kan, ala bisa karena biasa. Pasti BISA!

  2. dari artikel yang saya baca diatas,, informasi yang paling nempel dalam fikiran saya adalah pada kalimat ini

    “Kenali diri kita sehingga kita menjadi ‘penting’ untuk didengarkan oleh orang lain. Menjadi ‘penting’ itu bisa dengan menyiapkan materi/topik, perilaku, fesyen, perangkat, dan sebagainya. Namun, yang jauh lebih dibutuhkan adalah membangun kesan bahwa kehadiran (konten) kita sangat dibutuhkan oleh audiensi.”

    sangat mengINSPIRASI sekali.. ^_^ salam sukses pak. izin share

    >> Sukses juga untukmu. Silakan ^_^

  3. mantaap… ^_^
    terimakasih admin sudah mengizinkan saya membaca artikel ini. sangat terkesan dengan isinya. boleh di share kan?

    >> Silakan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s