Met Milad, Pak

Ya, Bapak merayakan milad hari ini (1 Desember) yang ke-75. Tapi sudah dirayakan oleh anak-anak dan cucu-cucunya kemarin di Cileungsi. Di usianya yang sudah lewat ketentuan sunnah Rasul, Bapak termasuk kakek yang sangat bugar. Otot-ototnya masih tampak, pekerjaan sehari-hari di rumah seperti mencuci baju dan lain-lain masih dijalainya tanpa keluh kesah. Hanya saja olahraga favorit yang mengantarkan dirinya menjadi atlet tingkat kantor sudah tidak bisa dijalani lagi, yaitu bulutangkis.

Kenang-16

Bapak paling tengah, paling pendek

Asli, sosok itu tidak mengenal Bapak. Yang paling diingat justru sabetan sapu lidi saat dirinya masih kanak-kanak. Belum lagi disuruh tidur di teras saat dirinya tidak menurut. Masa pedih di waktu kecil memang akan teringat sampai dewasa. Semoga para orangtua—teman-teman semua— tidak lagi menghukum anak-anaknya dengan keras. Namun sosok itu sungguh terenyuh ketika masa kecil dulu katanya pernah berjalan tanpa kesadaran (orang-orang bilang ‘ngelindur’) keluar rumah dan bermain di lapangan. Malam hari! Sementara Bapak hanya mengikutinya tanpa berniat membangunkan. Dia tidak begitu mengenal Bapak sampai pernah pada suatu hari dia mencoba mengorek sejarah Bapak yang sepotong-potong.

Sosok itu memang tidak dekat dengan Bapak, begitu pula dengan saudara-saudara Bapak lainnya. Saudara yang dia kenal hampir semuanya dari pihak Ibu (almarhumah). Bapak hanya dia kenal sebatang kara, dari kecil sudah yatim piatu, berasal dari pelosok Wonosobo yang sangat pedalaman. Saat ini pun, perlu perjalanan dua jam berjalan kaki untuk sampai ke desanya. Tidak ada kendaraan bermotor yang bisa menembus desanya, kecuali motocross. Kalau sekarang katanya, sih, sudah bisa. Apa yang bisa dia ketahui dari beliau? Karena itulah pola pendidikannya pada anak-anaknya, cenderung kaku dan tidak terlihat harmonis. Hanya saling menarik napas, memikirkan apa yang akan dibicarakan, lalu obrolan keluar dengan hati-hati. Obrolan yang menurut orang lain mungkin tidak menarik.

Bapak terlahir lima bersaudara, katanya. Akan tetapi Bapak hanya mengenal Pakde Dar. Sosok itu pun mengenal kakak Bapak itu karena pernah bertemu dan banyak menghiasi album fotonya. Pakde Dar wafat tidak berapa lama (hanya hitungan hari) setelah Ibu wafat, tahun 1996. Itulah hari terberat bagi Bapak. Tiga saudaranya telah tiada saat Bapak belum mampu mengingat wajahnya. Mbah Kung meninggal saat Bapak masih dalam kandungan. Mbah Ti meninggal karena keracunan tempe, bersamaan dengan kakak perempuannya, saat memperingati seratus hari Mbah Kung. Bapak pun diasuh oleh salah seorang tetangga. Saat itu Bapak punya penyakit kulit yang aneh. Subhanallah …, sosok itu baru tersadar kalau kisah Bapak mirip dengan kisah Rasulullah. Kendati dulunya keislaman Bapak terbilang kejawen, dengan menempelkan tulisan-tulisan Arab atau menggantungkan benda-benda yang dibalut kain kafan, dia tidak berhenti untuk mendoakan beliau agar kembali pada Islam yang utuh. Alhamdulillah, kini Bapak telah berubah. Maafkan sosok itu, Pak, yang pernah menurunkan jimat-jimat di tiap-tiap pintu dan membuangnya di tong sampah.

Kenang-17

Bapak adalah kiper dan sosok itu selalu terpilih jadi kiper utama

Bapak dulu bernama Irsyad, katanya. Setelah sembuh dari penyakit kulit karena memakan anak monyet, ibu asuhnya memberi nama Lareng, berasal dari kata Lara (sakit) dan Ireng (hitam). Jadi, Lareng itu maksudnya anak berkulit hitam yang telah sembuh dari sakit. Ch di belakang namanya adalah singkatan dari Chrissyanto, nama pemberiannya sendiri. Biar panjang katanya. Itulah mengapa mayoritas warga di desanya dianggap saudara. Warna kulit hitamnya menurun hanya kepada sosok itu, sedangkan saudara lainnya berkulit putih, menurun dari Ibu. Ini juga karena dia sering main bersama anak-anak nelayan, berenang siang-siang atau main layangan dan kelereng. Nakal.

Tidak banyak yang dia tahu dari Bapak. Sosok itu sendiri pun lupa jalan menuju desanya seperti apa karena tidak pernah lagi ke sana. Semoga suatu saat dia bisa pergi ke sana, amin. Minimal, sosok itu ingin lebih mengenal desanya, orang-orang desanya yang telah berbangga diri pada Bapak, orang desa yang telah berhasil menjadi orang kota. Tangan ajaibnya telah berhasil memoles besi-besi tua menjadi perabot-perabot multiguna. Tangan ajaibnya berhasil mengelas pipa gas yang orang lain tidak berani menanganinya di Cirebon dahulu, termasuk mengelas di bawah laut. Tangan ajaibnya berhasil mendidik mereka, anak-anaknya menjadi orang yang patut dibanggakan. Sosok itu sendiri termasuk orang pertama di kompleks yang berhasil menempuh pendidikan di ITB. Tangan ajaibnya pula yang membuat dia mencintai olahraga, terutama bersepeda dan bulutangkis. Kendati tidak seberapa, dia hanya mampu menghadiahinya sebuah buku berjudul “Panggil Aku King” empat tahun lalu. Itulah buku biografi Liem Swie King, pebulutangkis legendaris yang berhasil mengalahkan Rudy Hartono untuk pertama kalinya pada 1978 di final All England setelah “memberi” kemenangan pada seniornya itu di ajang yang sama dua tahun sebelumnya.

Sebelum terlambat, sosok itu ingin mengenal lebih dekat pribadi dan sejarah Bapak. Kendati perlahan, semoga semuanya bisa didapatkan sedikit demi sedikit. Terus terang, dia begitu mencintai Bapak dengan gaya dan kekhasannya mendidik anak-anaknya. Sosok itu bisa melihat kebagahagiaannya saat kedua anaknya bermanja-manja dengannya. Tidak hanya sekadar mengetahui mimpi beliau yang luar biasa saat untuk pertama kalinya Bapak dirawat di rumah sakit. Dari kecil Bapak memang tidak pernah sakit setelah sembuh dari penyakit kulitnya, kecuali hanya flu dan batuk biasa. Kendati perokok berat, paru-parunya pun bersih dari flek. Beliau masuk rumah sakit ketika Ibu sudah tiada dan beliau pun telah pensiun. Mungkin karena tidak ada lagi yang bisa dikerjakan, sehingga beliau jatuh sakit. Saat tidak sadar, Bapak bercerita kalau beliau pergi haji dan menjalankan semua ibadah haji dengan sempurna, hanya menggunakan daun ‘entah apa namanya’ layaknya permadani Aladin. Saat pulang haji dengan daun yang sama, Bapak hanya dipesankan untuk tidak menoleh ke belakang, saat itulah Bapak mulai siuman dan menyadari kalau dirinya telah terbaring di rumah sakit.

Kenang-18

Foto LEBARAN 1993, saat Ibu masih ada T_T

Bintan, si Kakak, anak pertama sosok itu, tampaknya sudah mengikuti jejaknya. Setelah usia 11 bulan, alhamdulillah Kakak tidak pernah sakit lagi kecuali flu biasa dan batuk. Saat yang lain terkena penyakit cacar di rumah (4 orang langsung terjangkit), Kakak tidak terkena dampaknya. Usia Kakak akan menjadi 10 tahun, 10 Januari nanti. Semoga, Kakak memang dianugerahi kesehatan yang paripurna selamanya, amin. Begitu pula dengan Adik Anin yang rentan sekali sakit meski terbilang sangat aktif. Salah jajan saja sudah membuatnya masuk rumah sakit. Doakan Adik, ya.

Bapak memang luar biasa. Semoga, sosok itu bisa membahagiakan beliau pada sisa-sisa hidupnya. Maafkan dia, Pak, kalau ternyata masih canggung berdialog dengan Bapak. Mungkin karena memang beginilah cara mereka berdua berdialog. Dengan adanya dialog ini pun, sosok itu sudah merasa bahagia bisa mengorek cerita-cerita yang belum pernah didengar sebelumnya. Dari dialog ini pula, dia bisa melihat kebahagiaan Bapak bisa menceritakan semua ‘rahasia tersembunyi’ meski terbilang sudah empat tahun lalu. Tidak ada kata terlambat, mungkin hanya mencari waktu yang tepat….

Selamat ulang tahun, Pak. Hubungan sosok itu dengan Bapak memang istimewa. Meski canggung dan cenderung kaku, hubungan mereka berdua tidak ada duanya. Inilah yang membuatnya menjadi sangat dekat. Bahkan, teramat dekat. Sewaktu mencari foto berdua pun, ternyata … tidak ada. Sosok itu malu. Nanti difoto bersama, ya, Pak. Untunglah masih ada foto-foto lama yang menunjukkan bahwa Bapak itu gagah. Dia amat bangga pada Bapak.[]

Advertisements

3 thoughts on “Met Milad, Pak

  1. Selamat ulangtahun buat Bapak ya Bang Aswi..
    Semoga beliau selalu diberi kesehatan dan kebahagiaan..

    Pahit maupun manis pengalaman yg kita lalui bersama ayah, adalah pembelajaran berharga yg membentuk kita menjadi seperti sekarang. Maka, adalah keniscayaan bagi kita untuk memberikan pengalaman yang terbaik untuk anak-anak, agar di masa depannya nanti, mereka memiliki tauladan yang baik dari kita.. ๐Ÿ™‚

    >> Hatur nuhun ucapannya. Amiiin.
    Terima kasih atas kata-kata yang indah ini. Setuju bingits!

  2. Sama seperti ayahku, ulang tahun tgl 1 des juga, tapi umurnya 62thn dan skg sdg merayakan ultah di surga..
    Met ultah untuk bapak ya bang aswi.. Mudah2an diberi sehat dan umur yang berkah. Amin.

    >> Semoga kebaikan dan keberkahan menyertaimu selalu, Funnie.
    Terima kasih doanya … amiiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s