Memenuhi Harapan Kakak

“Bi, lihat, deh. Ini tabungan Kakak selama ini. Kalau Abi butuh ambil saja, nanti Kakak bisa menabung lagi. Lagian Kakak sudah mulai mengurangi uang jajan agar bisa nabung setiap hari.”

Sedih. Miris. Seolah ada jarum-jarum kecil yang secara tiba-tiba hadir di dalam hati. Menusuk-nusuk tanpa memedulikan inangnya yang sedang jatuh. Sebagai orangtua, siapa yang tidak ‘mbrebes mili‘ saat seorang anak mengatakan kalimat seperti di atas. Di satu sisi ada kebanggaan bahwa anak yang baru duduk di kelas 5 SD sudah begitu mulia dan pengertiannya memahami kondisi keuangan keluarga. Tapi di satu sisi, ada rasa malu dan hina. Ya, kehidupan memang tidak selamanya indah. Laksana roda yang terus berputar—entah perlahan atau cepat—atau kadang ngetem pada waktu yang tidak disangka-sangka, kehidupan seseorang tidak selamanya di atas. Dan kalimat Kakak di atas, tentu saja terjadi saat sosok itu sedang berada pada ekonomi kasta terbawah.

Keluarga-02Apa yang diharapkan sosok itu saat dirinya berulang tahun? Tidak ada. Ia sudah mengalami asam garam kehidupan sehingga tidak pantas untuk mengharapkan apa-apa. Cukuplah sebentuk perhatian dan kasih sayang orang-orang yang ada di sekitarnya. Itu sudah cukup membahagiakan. Perhatian dari sang belahan jiwa, Kakak Bibin, dan Adik Anin. Yang bisa dilakukannya tentu saja usaha dan kerja keras agar keluarganya dapat mengarungi kehidupannya lebih baik lagi. Akan tetapi berbeda saat Kakak Bibin mengharapkan sesuatu saat dirinya ulang tahun. Ya, seorang anak masih memiliki banyak harapan. Dan itu semua haruslah bisa dipenuhi oleh kedua orangtuanya, meski memang berproses.

“Kakak ingin dibelikan sepeda yang ada keranjangnya. Jadi, kalau jalan-jalan bisa membawa barang yang banyak. Kakak ingin punya rumah-rumahan sehingga boneka barbie yang sudah ada bisa memiliki tempat untuk bermain. Kakak ingin memiliki hape sendiri, sehingga tidak rebutan lagi dengan Adik. Kakak ingin punya kamar sendiri dengan gambar-gambar princess di temboknya.”

Sosok itu hanya tersenyum dan mengangguk. Keinginan dari seorang anak yang menurutnya amat wajar. Mampukah ia memenuhinya. Bismillah. Ia hanya terus berusaha lebih giat lagi. Menjelang pergantian tahun kemarin, ia bersyukur mendapatkan rezeki berupa voucher makan gratis untuk dua orang plus empat voucher makan beli satu gratis satu. Paling tidak ia bisa mengajak anggota keluarga lain untuk makan bersama, tentu bayar masing-masing. Pada saat hari ulang tahun sang belahan jiwa pada 14 Desember, istrinya itu rela tidak diberi kejutan. What a great wife! Pasangan hidupnya itu telah menemani sosok itu selama 12 tahun lebih. Selama masa itu, betapa pengorbanannya begitu amat besar. There’s nothing I can do that time except I say, ‘Abang merasa amat bahagia bisa hidup bersamamu selama ini dan membesarkan anak-anak kita menjadi seperti yang diharapkan kita berdua. Abang tidak berarti apa-apa tanpa adanya dirimu. I love you, Hon.’

Hingga kemudian pergantian tahun terjadi. 10 Januari adalah hari ulang tahun Kakak. Pada malam yang sudah direncanakan, berkendara tiga motor keluarga kecil kami menuju restoran yang terbilang mahal. Sepuluh porsi pun memehuhi meja panjang yang langsung dipesan. Minuman berwarna pun menempel pada tangan anak-anak. Kakak Bibin merasakan kebahagiaan yang luar itu. Itu bisa terlihat dari wajahnya yang terus bersinar dan tersenyum cantik. Semua voucher habis terpakai. Semua perut pun kenyang hingga beberapa makanan terpaksa dibungkus untuk dibawa pulang. Untuk makan sebanyak itu tentu ada harga lebih untuk dibayarkan. Hampir satu juta uang yang dipindahkan dari tangan sosok itu ke tangan kasir. Tidak apa.

Keluarga-01

“Gak papa ya, Kak, kali ini kita berfoya-foya,” kata sang belahan jiwa. Kakak Bibin mengangguk. Ia mencium bibir dan jidat umminya, lalu mencium pipi sosok itu. “Terima kasih ya, Abi, Ummi. Kakak seneeeng sekaliii dan merasa sangat bahagia malam ini.” Sosok itu memeluk Kakak dan mengusap-usap kepalanya. “Kebahagiaan itu tidak selamanya karena kita bisa memiliki suatu barang yang diidam-idamkan, tetapi bisa juga seperti ini. Kita bisa mengajak banyak anggota keluarga untuk bersenang-senang dan menikmati makanan yang mungkin belum tentu bisa dinikmati setahun sekali. Bisa berbagi adalah kebahagiaan yang paripurna. Insya Allah nanti ada gantinya, tapi jangan diharapkan.” Dan Kakak Bibin pun mengangguk, lalu menyandarkan kepalanya pada tubuh sosok itu.[]

Happy Birthday to you, Ummi dan Kakak. I love you both….

Advertisements

4 thoughts on “Memenuhi Harapan Kakak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s