Tahu Iblis dan Persetan dengan Kehidupan

Kehidupan ini edan dan teng-teuingan
Itulah mengapa hidup adalah udunan

Asih hanya tersenyum mesem. Pendidikan seks dan bahaya AIDS ditelannya, dan tak butuh lama untuk memuntahnya begitu saja. Masuk telinga kanan, keluar lewat telinga kiri. “Udah basi!” ketusnya. Ia pun tertawa bersama kawan-kawan sebayanya, sambil berbisik tentu saja. Petugas penyuluh dan beberapa relawan bukannya tidak paham bahwa orang-orang yang diterangkan tidak terlalu peduli, hanya saja mereka cenderung membiarkan dan memaklumi. Kampung yang tidak terbilang kumuh itu berdenyut sesuai irama. “Jadi, siapa di sini yang sudah menikah?” tanya Sang Petugas. Hampir mayoritas mengangkat tangan, begitu juga dengan Asih. Yang bertanya malah membelalakkan mata, tak percaya. Asih pun berbisik pada kawan di sebelahnya, “Sudah mau tiga kali.” Lalu tertawa. “Kamu usianya berapa tahun?” tanya Sang Petugas pada Asih tiba-tiba. Yang ditanya mendongak, “Tigabelas.” Kemudian disambut tawa dan tatap heran.

Realita? Ya, ini memang terjadi di sekitar kita. Asih bukan nama sebenarnya, tetapi Asih dan kawan-kawannya telah menjadi bagian dari masyarakat kota Bandung ini. Entah sudah berapa tahun atau puluhan tahun. Ia tinggal di sebuah kampung yang oleh warganya sendiri terkenal dengan sebutan Distrik. Penghuninya kalau tidak bekerja sebagai pengemis, ya gelandangan. Kalaupun berbeda, profesinya tidak jauh berbeda. Beberapa sudah profesional dan dikelola oleh jaringan semacam mafia. Sebagian lagi tersebar berusaha sendiri. Sudah menjadi pemandangan biasa kalau ada anak yang bersekolah di kampung tersebut, dipukuli oleh bapaknya karena pulang tidak membawa setoran. Ada 12 distrik di Bandung ini. Masing-masing distrik terdapat 50-80 kepala keluarga. Dan Abu Marlo melihat itu dengan tatapan miris. Memang butuh banyak tangan untuk mengatasi hal ini. Tapi paling tidak, ia mencoba memulai dari hal yang paling bisa dilakukannya. Ya, Distrik Sukajadi. Demi kota Bandung yang dicintainya.

Kuliner-01

Tahu Iblis dan Seblak Tenderloin | Foto: MARLO

Sosok itu hanya bisa memendam di dalam hati segala perasaannya. Tahu tipis yang ada di tangannya telah berpindah ke dalam mulutnya. Dikunyah secara perlahan, bersama tempe kering dan campuran cabe kering. Pedas dan renyah. Persis seperti kehidupan ini. Pantas saja cemilan atau appetizer yang disuguhkan kepadanya itu bernama Tahu Iblis. Tahunya biasa, tetapi bercampur dengan susu, sehingga wajar disebut tahu susu. Tahu tersebut dipotong tipis-tipis. Disuguhkan tersebar memenuhi piring, lalu ditaburi tempe kering yang sudah bercampur dengan cabe kering yang begitu banyak. Baunya saja sudah menyengat pedas. Di mulut, rasanya pas dan sinkron dengan cerita yang disampaikan oleh Abu Marlo. Tahu Iblis dan persetan dengan kehidupan. Makhluk neraka yang memang pantas menggambarkan rasa pedas tahu tersebut dan realitas kehidupan yang disaksikan nyata.

Itulah mengapa MARLO Eat and Share hadir di kota Bandung sebagai sebuah resto cafe yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari titik nol kota Bandung, tepatnya Jl. Tamblong No. 48-50. Daerah Asia Afrika ini memang surganya pengemis dan gelandangan. Mau berapa pun nasi bungkus yang dibawa, selalu tidak mencukupi. Menunya lengkap dari makanan khas Eropa sampai makanan tradisional Indonesia. Eat and Share yang dijadikan tagline bukanlah sekadar hiasan belaka. Pelanggan yang datang bisa makan dan berbagi. Dari setiap makanan yang dinikmati, secara tidak langsung disisihkan oleh Abu Marlo menjadi bantuan bagi mereka yang kurang mampu. Ya, Abu Marlo mengadakan kegiatan amal seperti berbagi nasi untuk anak-anak jalanan dan tunawisma. Bahkan ada rencana kegiatan donor darah. Abu Marlo dikenal sebagai seorang magician. Cita-citanya lulus S1, memiliki istri cantik, dikenal dan masuk TV sudah tercapai. Kini saatnya ia mencoba berbagi. Meski MARLO Eat and Share dijalankan murni 80% bisnis, paling tidak ada 20% untuk kegiatan charity.

Kuliner-04

Abu Marlo | Foto: @bangaswi

Sosok itu tidak menghabiskan Tahu Iblis-nya. Disisakan untuk penutup, bisiknya. Ia memandang kawan #BloggerBDG di sebelah yang mencicipi Seblak Tenderloin. Ingin tahu rasanya, ia mengambil langsung dan memakannya secara perlahan. Makanan tradisional dengan khas Eropa. Seblaknya lumer di mulut, tidak jauh beda dengan rasa seblak yang ada di kota Bandung lainnya, tetapi tenderloinnya menjadi pembeda. Pedas laksana iblis. Ia tidak terlalu suka seblak, sangat berbeda dengan Kakak Bibin dan Sang Belahan Jiwa yang tergila-gila. Saat ini, cukuplah dirinya menghabisi Spaghetti Bolognaise yang ada di depannya sebagai makan siang. Ya, sosok itu begitu menggemari makanan apa saja yang berbau mie. Mulai dari mie ayam, yamin, sampai pasta bernama spaghetti. Apalagi dengan taburan keju dan roti kering sebagai pemanis. Kalau kondisi perut sedang kosong, apapun makanannya terasa nikmat. Saus bolognaise-nya cucok. Tak butuh waktu lama untuk menghabisinya. Sikat aja, bleh!

Kuliner-02

Spaghetti Bolognaise dan Silky Dessert | Foto: MARLO

Abu Marlo memang punya niat luhur, paling tidak ia ingin menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama. Hal ini tentu saja sesuai dengan tuntunan hadits. Pemberdayaan yang ia lakukan dapat terlihat di belakang kafenya. Di sana ada tempat konveksi dimana sebagian kecil masyarakat Distrik Sukajadi yang mau berubah dibimbingnya membuat beberapa kerajinan. Usaha ini dinamakannya MARLO Workshop. Ke depannya, mungkin ada di antara mereka yang sudah siap menjadi waitress atau pengusaha. Abu Marlo berencana melebarkan sayap kulinernya dengan membangun ‘Hang Out‘ di Bandung Utara yang pasarnya para mahasiswa dan pelajar, termasuk ‘MARLO Express‘ yang akan diletakkan di depan minimarket. Semoga rencananya itu lancar. Bukti nyatanya adalah beberapa tas hasil olahan Kelompok Perempuan Mandiri (KPM) Dewi Sartika yang bisa dilihat dan dibeli di MARLO Eat and Share.

Sosok itu lalu mendinginkan tenggorokannya dengan Silky Dessert. Es krim dengan taburan cokelat berwarna-warni di atasnya. Di bawahnya adalah es buah dengan rasa menyegarkan. Cocok untuk cuaca panas seperti ini. Beberapa kawan #BloggerBDG mulai narsis di spot READ. Kafe ini memang asyik punya. Selain bisa nongkrong di dalam kafe, juga bisa kongkow di luaran. Jangan khawatir, wifi-nya kenceng. Spot READ ini berada di depan Toko Buku Al-Ma’arif yang memang satu kompleks. Di belakangnya juga masih ada percetakan Al-Ma’arif yang menggunakan mesin lama sejak 1940-an. Rak buku berbentuk READ ini memang cucok untuk bernarsis ria. Bagi yang mau meeting juga bisa, kok. Ada VIP room yang desain interiornya unik. Datang saja kalau mau lihat-lihat. MARLO Eat and Share bisa jadi semacam Philanthropy Cafe yang berupaya menghilangkan anak jalanan dan menjadi jembatan untuk meraih mimpi mereka.

Kuliner-03

Jejaka #BloggerBDG | Foto: Ali Muakhir

Dengan slogan ONE FOOD ONE SMILE, alhamdulillah sampai saat ini program #MarloEatnShare sudah mengubah 10 keluarga gelandangan menjadi pengusaha, meski baru kecil-kecilan. Semua memang harus dilakukan tahap demi tahap, dari satu titik ke titik yang lain. Abu Marlo tidak berharap banyak. Asal ada satu pengemis atau gelandangan yang berubah, itu sudah cukup. Satu hal kecil yang dilakukannya, bisa jadi berdampak besar bagi kehidupan mereka. Coba lihatlah wall-art besar yang ada di kafenya. Di sana tertulis: Being RICH is not about how much you HAVE. But how much you can GIVE. Keren, ya?! Oya, bagi cewek-cewek yang suka dunia fashion, khususnya baju dan sepatu, di samping toko buku ada Prugnashoes. “Ini mainan istri saya biar anteng kalau saya pergi,” kata Abu Marlo tersenyum. Sebentar lagi produk-produknya siap melebarkan sayap ke pasar luar negeri. Wow!

Kuliner-05

Penampakan MARLO Eat and Share | Foto: MARLO

Sosok itu berdiri, lalu menyalami Abu Marlo. Semoga semangat berbaginya menyebar sampai ke ujung dunia. Atau paling tidak cukuplah di Bandung saja, agar pengemis dan gelandangan hilang satu persatu, berganti dengan pengusaha yang tidak hanya membuat bangga keluarganya tapi juga kota Bandung tercintah inih. Sosok itu sendiri sudah merasa kenyang dan puas dengan sajian menu yang disantapnya. MARLO Eat and Share benar-benar enak buat nongkrong dan membunuh waktu. Musholanya juga nyaman di area belakang sehingga ibadah juga tidak akan terlupakan. Bagi yang mau mampir, jangan lupa dengan alamat di atas. Patokannya lewat Patung Ajat Sudrajat karena Jl. Tamblong itu satu arah. Lihat saja di sebelah kiri sebelum Jl. Naripan. Jangan sampai kelewatan, kalau tidak mau muter lagi.[]

Advertisements

9 thoughts on “Tahu Iblis dan Persetan dengan Kehidupan

  1. Keren… Semoga lebih banyak lagi bisnis yg tak cuma bisnis, tapi berbagi & memberdayakan sesama… Jadi penasaran dg kafenya.

    >> Ya, bisnis jika disandingkan dengan konsep berbagi dijamin keren banget. Semoga berkah dan banyak yang mau mampir ^_^

  2. itu tahu iblisnya sebarapa pedas Bang? saya suka yang pedas-pedas, ga bikin sakit perut tapi yah?

    >> Gak terlalu pedas lah. Eh, tapi relatip ya hehehe … yang pasti gak bikin sakit perut kok :p

  3. Suka banget dengan gaya tulisan Bang Aswi. Informatif dan dikemas dalam alur bercerita yang menarik!
    Marlo Eat and Share Cafe emang oke punya, ya, Bang?

    >> Standar lah, Mbak. Ini mah masalah kebiasaan aja hehehe. Yup, Marlo emang oke!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s