Pudunan, Awas Tisoledat!

Jangan menjadi telur yang pecah saat dijatuhkan
Tapi jadilah bola tenis | Memantul dan melawan!

Event-10

Water Station atau WS adalah tempat pemberhentian sementara dalam ajang lari. Panitia telah menyiapkan beberapa refreshment, terutama air berisotonis atau air putih biasa. Beberapa pelari bahkan tidak perlu mengambilnya kalau memang belum membutuhkan, beberapa mengambilnya sambil berlari dengan tetap pada kecepatan yang konstan atau mungkin memang harus diperlambat. Bagi pelari yang mengatasnamakan waktu, berlama-lama di WS adalah haram. Tapi tidak bagi lari trel atau lari halang rintang, tentu saja. WS adalah semacam surga sementara, sebelum memulai kembali perjalanan neraka. WS juga bisa dijadikan patokan waktu pada lari trel sebelum memulai kembali. Dan itulah yang dijadikan pengingat oleh sosok itu.

Event-14

Wanti-wanti dari sang ketua panitia saat pembukaan sebelum start dijadikan pegangannya. “Mohon perhatian! Kalau peserta 21K mencapai WS-2 lebih dari 3,5 jam maka lebih baik tidak dilanjutkan karena nanti bisa-bisa sampai finish pada pukul tiga sore atau bahkan lebih,” begitu katanya. Sosok itu sempat menyelidiki kalau Cut Off Time (COT)-nya adalah 5 jam 30 menit atau sampai pukul 13:00. Hal itu telah menjadi target standar bagi para pelari. Pada ajang lomba lari manapun, kalau lewat dari COT biasanya tidak akan mendapatkan medali finisher atau kaos finisher. Mungkin pada lari trel berkategori fun run ini tidak menetapkan kebijakan itu, tapi tetap saja sosok itu menjadikannya waktu standar yang harus dipegangnya. Hanya untuk menunjukkan apakah dia mampu.

WS-1 berjarak hampir 5K dari titik start. Ingat! Ini bukan lari biasa di jalan beraspal dimana sosok itu pernah mencatatkan waktu tercepatnya selama 35:42 menit. Lari trel jelas jauh lebih berat karena treknya tidak hanya menanjak tapi bisa jadi hanya jalan setapak yang perlu kewaspadaan tinggi seperti agar tidak jatuh atau terkena duri tetumbuhan. Faktor hujan pada malam sebelumnya juga harus diperhitungkan karena jalan akan menjadi licin dan tidak nyaman. Dan benar saja, dia berhasil sampai ke titik WS-1 hampir 1 jam meski sempat mengalami kelelahan di kilometer awal karena faktor tidak biasa. Cukuplah satu gelas minuman berisotonis dan istirahat sejenak sebagai pelipurnya. Toh, dia sudah menyiapkan bekal minuman sebanyak 1,5 liter di tas punggungnya. Perjalanan harus dilanjutkan karena masih ada jarak 16K lagi yang harus diganyangnya.

Tanjakan terberat yang dilewati para peserta 10K dan 21K sebelum mencapai WS-1 adalah tanjakan Gunung Putri yang begitu curam, tepat pada jarak 4K. Jika ketinggian titik start adalah 1358 meter di atas permukaan laut (mdpl) maka ketinggian gunung ini adalah sekira 1600 mdpl. Sudah naik 250 meter ketinggiannya. Yang paling unik setelah titik ini adalah adanya situs sejarah seperti Benteng Gunung Putri dan setelahnya ada Benteng Pasir Ipis. Situs sejarah ini merupakan peninggalan Belanda pada Perang Dunia I yang diperkirakan dibangun pada tahun 1819. Mayoritas peserta langsung mengabadikan diri mereka dengan kamera yang dibawa, termasuk sosok itu. Setelahnya, perjalanan menanjak makin menantang. Masih melewati jalur setapak yang licin, hingga jalan yang sudah rusak oleh ban-ban motocross yang kedalamannya bisa membahayakan kalau tidak hati-hati. Di sini memang sering terjadi dilema dan konflik, sering terjadi benturan-benturan kecil bagaimana para hiker, pelari, pesepeda, termasuk penduduk desa tidak suka dengan kehadiran para motocross ini. Sosok itu sendiri sempat merasakan gangguan saat hidungnya mencium bau karbon monoksida dari jeep-jeep trel yang memang sering hadir.

Event-11

Sampai di Jayagiri, beberapa kemah terlihat menyejukkan mata. Bibir menjadi tersenyum menyaksikan mereka yang gemar sekali tidur di bawah langit pegunungan. Ketinggian di tempat ini telah mencapai sekira 1800 mdpl. WS-2 telah di depan mata. Dan saat sampai di tempat tersebut, peserta lebih banyak lagi yang melakukan istirahat sambil menyicip air berisotonis atau memakan jeruk yang disediakan. Sosok itu berhasil mencapai WS-2 yang berjarak 8,2K selama 1 jam 52 menit. Tadi start pada pukul 7:30 maka saat itu telah pukul 9:22. Paling tidak dia telah berhasil mencapai WS-2 di bawah 3,5 jam bahkan jauh dari waktu itu. Dia berhasil. Peserta 10K pun memisahkan dengan berbelok ke kiri, mereka tinggal menikmati jalan turunan hingga garis finish yang posisinya sama dengan garis start. Sementara peserta 21K harus berbelok ke kanan, menempuh jalan tanjakan yang katanya lebih ekstrem lagi, dan bakal memasuki hutan yang lebih rapat lagi. Bismillah!

‘HILLY WE RUN’ atau HILIWIRAN?

Hilly We Run‘ secara harfiah bahasa Inggris bisa diartikan kurang lebih ‘di bukit kita berlari’. Akan tetapi kata ini sebenarnya merupakan permainan kata dari bahasa Sunda “hiliwiran” yang berarti angin bertiup sepoi-sepoi. Sepoi itu sendiri adalah angin yang bergerak perlahan atau tidak kencang sehingga event lari ini tidak disebut sebagai lomba, tetapi lebih tepat disebut sebagai ‘fun run‘ atau lari santai. Jika pada umumnya event lari dilakukan di jalan-jalan perkotaan, maka komunitas BDG Explorer atau Bandrex mencoba berbeda dengan mengadakan event lari perdananya di perbukitan dan pegunungan. Inilah cara unik komunitas Bandrex untuk hidup sehat dengan berolahraga lari. Berlari di alam bebas sambil menghirup udara bersih sepuasnya dan memanjakan mata dengan pemandangan alamnya.

Event-12

Bandrex telah melahirkan para pelari yang andal di beberapa event internasional, baik itu di jalan aspal, lari trail, maupun ultra marathon. Trek Jayagiri–Tangkuban Parahu ini sendiri merupakan trek mereka saat latihan, jadi sudah tentu aman dan menyenangkan. ‘Hilly We Run‘ dilaksanakan pada hari Sabtu kemarin (21/3/2015). Pesertanya bukan hanya datang dari kota Bandung saja, tetapi juga dari kota-kota lain termasuk dari mancanegara. Total ada sekira 250-an peserta untuk kedua kategori. Sosok itu sendiri mendapatkan penghormatan untuk mencicipi kategori 21K atas undangan Kang Dwey Wahyu, sang ketua panitia. Ini jelas terbilang nekat.

Nekat?! Ya, jangankan lari trel, lari di jalan aspal atau datar saja sosok itu belum pernah menempuh sejauh 21K atau Half Marathon (HM). Paling jauh baru 15K di Kemayoran. Jadi, inilah lari terjauh yang pernah dilakukannya dan langsung di pegunungan. Topografi pegunungan di daerah Bandung memang selalu mengundang minat wisatawan, terutama pecinta olahraga ekstrem untuk mencobanya, termasuk pecinta olahraga lari. Sosok itu merasakan sendiri sensasi yang berbeda dalam mengeksplor alam Jayagiri. Kekuatan mental jelas akan diuji dengan melewati trek-trek yang penuh petualangan. Dan benar saja, setelah WS-2, dia betul-betul masuk ke dalam hutan yang makin rapat. Hanya suara alam. Suara kresek-kresek di beberapa tempat atau bahkan di belakang, kadang membuat sosok itu harus menengok. Entah siapa dan entah apa. Jalan setapak semakin sulit dilewati. Menanjak dan bahkan harus memanjat sambil memegang batang atau akar yang menjulur sebagai tumpuan, jadi sudah tidak mungkin lagi untuk lari. Kekuatan fisik semakin diperas dan dimaksimalkan. Benar-benar edan. Belum hujan deras yang kemudian hadir sebagai pelengkap halang rintang ini.

Event-13

Waktu yang ditempuh sosok itu untuk mencapai jarak sejauh 10K di tempat ini ternyata sama dengan 7K di jalur datar. Lelahnya sama, tapi masih ada jarak 14K lagi yang harus dihadapinya. Bekal minuman 1,5 liter yang dibawanya (plus dicampur Pharolit sebagai pengganti elektrolit) sudah berkurang setengah. Napas harus diatur dengan baik, begitu pula dengan sisa tenaga yang masih dimilikinya. Suara hatinya terus menyemangati, termasuk lantunan doa kepada Sang Maha agar dirinya dimampukan dan diselamatkan. “Ada tanjakan edan yang kemiringannya mungkin sampai 60 derajat. Jelas gak bisa lari ataupun jalan, melainkan harus dipanjat,” bisik hatinya menggelengkan kepala. “Belum faktor cuaca yang tidak disangka-sangka. Hujan lebat mengubah beberapa jalur setapak menjadi sungai kecil. Berat sekali medannya.” Namun sosok itu yakin bisa! Harus bisa!

Pada saat menghadapai trek yang makin mendatar, dia bahagia. Hujan masih mengguyur deras. Samping kanannya hanya kabut yang terlihat. “Ini Kawah Upas!” teriaknya bahagia. Dia telah berhasil mencapai puncak Gunung Tangkuban Parahu, apalagi dilihatnya ada kawan-kawan Bandrex langsung menyambutnya. Kamera HP tidak mungkin dikeluarkan, dia meminta tolong panitia untuk mengabadikannya. Ketinggian di tempat ini seperti yang tercatat di Endomondo adalah 2098 mdpl. Dingin. Pada akhirnya dia pun berhasil mencapai WS-3, tepat di pertigaan jalan besar yang biasa dipakai oleh para offroader. Perlu waktu 3 jam 25 menit 30 detik untuk mencapai jarak 12K. Belum selesai. Paling tidak sosok itu bisa tersenyum karena bertemu dengan pelari lain yang beristirahat. Saling berbagi makanan atau bercanda sekadarnya. “Jalan tinggal menurun, tapi hati-hati,” ujar salah seorang panitia. Ya, masih 9K yang harus ditempuhnya untuk mencapai garis finish.

Benar saja. Sosok itu terus menajamkan pandangannya. Dia tidak hapal dengan daerah yang baru dirambahnya itu. Pita kuning yang dipasang panitia adalah patokannya jika tidak mau tersesat. Batang pohon yang patah atau tulisan berbahasa Sunda dan Inggris juga penanda yang harus diperhatikannya. “Pudunan, Awas Tisoledat!” adalah penanda yang kini sering dijumpainya. Jalan semakin licin dan sulit. Kalau tidak hati-hati, tisoledat atau terjerembab sudah pasti dialaminya. Yang membahayakan adalah kram yang bisa terjadi di tempat ini. Sewaktu di hutan tadi sudah ada pelari yang mengalami kram. Di sini pun dia menemukan lagi peserta lain yang telentang karena kesakitan saat menikmati jalan turunan. Sebisa mungkin sosok itu menolongnya dengan segera menghubungi marshall via gadget atau mencarinya sendiri. Dia sendiri sudah merasakan kalau salah langkah maka kakinya akan kram. Harus ekstra hati-hati. Dan saat melewati tanah yang agak lapang dan hujan yang agak reda, azan berkumandang di kejauhan. Alhamdulillah nikmat sekali mendengarnya. Jarak yang ditempuhnya telah mencapai 15K. Tinggal 6K lagi.

Event-15

Treknya terus menurun, kalau pun ada yang menanjak tidak terlalu berarti. Justru kehati-hatian semakin dimaksimalkan karena faktor kacengklak, tisoledat, atau kram bisa terjadi di tempat ini. Di beberapa tempat, sosok itu bahkan sengaja memerosotkan diri dengan bertumpu pada kedua kaki dan kedua tangan agar tubuhnya tidak terjerembab melewati jalur yang hanya selebar 10 cm seperti selokan. Cara ini jauh lebih cepat. Hutan sudah dilewati. Jalur setapak dengan langit yang semakin luas menaunginya lebih sering ditemui, termasuk jalan makadam. Hingga akhirnya dia mencapai kebon kopi milik warga setempat. Garis finish semakin dekat. Jumlah panitia atau orang yang sedang naik/turun gunung semakin banyak yang ditemuinya. Akhirnya, dia pun berhasil mencapai finish. Bahagia dan haru bercampur aduk. Jarak 21K berhasil diselesaikannya dalam waktu 5 jam 40 menit 37 detik. Hanya lebih 10 menit dari COT. Medali finisher dikalungkan ke lehernya. Sosok itu ternyata mampu. Dia telah menghabiskan 5 gelas kecil dan 1 botol kecil air isotonis, termasuk bekal minuman 1,5 liternya. Satu makanan kecil telah habis di jalan, dia pun langsung melahap ubi plus kacang rebus, pisang, jeruk, dan semangka yang telah tersedia di garis finish untuk menutupi rasa laparnya.[]

It’s not how we start that counts.
It’s how we finish. Finish strong!

Advertisements

4 thoughts on “Pudunan, Awas Tisoledat!

  1. yeaay congrats bang! Abis ini langsung ikutan ultra yes 🙂

    >> Hatur nuhun, Anggia, tapi saya masih kalah jauh dari kamu. Target terdekat adalah FM dulu hehehe ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s