Percayalah, Surga Itu Dekat!

Hidup itu jangan hanya mencari ilmu dari yang tersurat
Tapi malas menggali ilmu dari apa-apa yang tersirat
Tidak sedikit ilmu itu Allah hadirkan untuk hamba-Nya
Justru tumbuh dan hadir dari apa yang tersirat di sekitar kita

Ramadhan masih memegang hape pinjaman. Erat. Entah mengapa ada perasaan di dalam hatinya yang begitu amat mengganjal. Salah seorang kawannya terbangun dan menatap heran Ramadhan. Ia pun bertanya apa yang terjadi. Ramadhan memandang entah. Katanya, “Baru saja aku menelepon Buyaku. Beliau sehat. Tapi saat aku menanyakan bagaimana kabar ibuku, beliau menjawab agak lama meski akhirnya menjawab sehat. Aku tahu ibuku sakit.” Dan pikiran itu terus mengganggunya hingga akhirnya tertidur di serambi masjid.

Ibunya menjerit dan memanggil namanya. Keras. Berjalan tertatih sambil memegangi dinding, hingga … akhirnya terjatuh. “Ramadhan!” Yang dipanggil terkejut dan langsung membelalakkan matanya. Napas Ramadhan begitu memburu. Ia duduk sambil mengingat-ingat apa yang sedang terjadi. Sadarlah ia kalau baru saja mimpi buruk. Ibunya sakit parah. Tak lama setelah menenangkan diri, terdengar suara tangis dari dalam masjid. Setelah menyelidiki, ternyata ada seorang anak yang menangis, mengadu pada Sang Maha. Di pintu masjid, Ramadhan memberanikan diri untuk menyapa anak tersebut, setelah dirinya selesai menumpahkan semua keluh kesah.

Keluarga-03

“Andai saja saya boleh meminta, Bang, ingin sekali ayah dan ibu saya dihidupkan kembali. Saya berjanji, Bang, akan menjadi anak yang baik. Menjadi anak yang berbakti pada mereka berdua.” Anak itu kembali menangis dalam pelukan Ramadhan. Ah, tiba-tiba saja Ramadhan semakin memantapkan dirinya. Pagi-pagi sekali Ramadhan dan kedua kawannya langsung meninggalkan Jakarta. Mereka sudah tidak peduli lagi dengan casting atau audisi menjadi bintang film laga yang sangat diharapkan. Ramadhan jauh memilih untuk bertemu kedua orangtuanya di Palembang. Ia tidak ingin ketinggalan kesempatan untuk bertemu dan merawat ibunya.

ADA SURGA DI RUMAHMU

Kisah di atas adalah cuplikan dari film ‘Ada Surga di Rumahmu‘, sebuah karya terbaru dari Aditya Gumay. Film ini merupakan adaptasi dari buku best seller karya Ustad Al-Habsyi dengan judul yang sama. Ceritanya sendiri terpusat pada Ramadhan yang diperankan dengan sangat apik oleh Husein Al-Atas, pemuda asal Palembang. Di sana ada ayah dan ibunya, juga adik dan kawan-kawan baiknya. Ramadhan kecil adalah seorang anak yang sering melawan dan membangkang kedua orangtuanya. Hingga pada suatu ketika, Ramadhan mengalami perubahan drastis dan ingin berubah menjadi anak baik. Ia pun masuk pesantren, sampai akhirnya dipercaya sebagai pengajar. Perjalanan hidupnya pun membentuk karakternya hingga dikenal sebagai ustad yang disegani.

Keluarga-04

Kang Emil dan penonton yang begitu ramai di Blitz PVJ

Perjalanan ustad yang jago beladiri ini tak jauh dari kehidupan Nayla (diperankan oleh Nina Septiani), sahabat sedari kecil. Hingga dewasa, Nayla begitu menyukai Ramadhan. Ia sangat berharap Ramadhan juga suka dan mencintainya. Nayla hanya bisa menunggu sementara ayahnya mendukungnya untuk menyatakannya terlebih dahulu. “Tak baik kalau perempuan yang menyatakan lebih dahulu,” jawabnya menghibur diri. Dan alasannya itu pada akhirnya menemui batu penghalang. Ramadhan bertemu dan berkenalan dengan Kirana, seorang bintang film yang sempat membuat Ramadhan pergi ke Jakarta untuk coba-coba ikutan casting. Ramadhan kembali bertemu dengan Kirana dan keluarganya di Palembang saat dirinya terpaksa menggantikan Ustad Attar yang tidak bisa mengisi ceramah. Ramadhan pun berhasil menjalankan ceramah perdananya dengan baik dan mendapat perhatian lebih dari Kirana (diperankan oleh Zee Zee Shahab).

Perjalanan cinta segitiga antara Ramadhan, Nayla, dan Kirana menjadi bumbu yang manis. Intrik dan dialognya asyik didengar, cocok untuk semua kalangan. Film ‘Ada Surga di Rumahmu’ memang film keluarga. Dari anak kecil hingga orang yang lanjut usia bisa mengonsumsinya. Pelajaran agar seorang anak harus berbakti pada kedua orangtuanya begitu kental karena kisahnya memang terinspirasi dari kisah nyata Ustad Al-Habsyi. Pepatah Arab mengatakan, “Siapa orang yang pandai mengambil hikmah dari semua kejadian apapun yang ada di sekitarnya maka dijamin sedikit kegagalan dalam hidupnya.” Mengapa kita gagal? Karena sering tidak belajar. Pengalaman adalah guru terbaik bagi kehidupan.

Keluarga-05Dalam sebuah ceramah, Ustad Al-Habsyi bercerita bahwa beliau pernah diundang di kota kecil bernama Muaratebu. Untuk sampai ke kota ini beliau perlu naik mobil lima jam dari kota Jambi. Di sana ada kejadian yang tak pernah terlupakan, dimana ada seorang anak mengunci ibunya di kandang kambing sementara dia sendiri tidur enak di tempat yang bersih. Miris. Beliau jadi ingat dengan perkataan Rasulullah saw. bahwa saat ini jangan-jangan kiamat sudah dekat. Apa kata Rasul? “Diantara tanda-tanda kiamat sudah dekat akan lahir anak-anak menjadi majikan bagi ayah-ibunya.” Singkat cerita, tidak sedikit anak durhaka dengan orangtuanya. Bencana yang sering mendatangi Indonesia, jangan-jangan ini dampak karena ada anak yang durhaka di negeri ini. Durhaka itu balasannya di dunia, bukan di akhirat.

Masih ingat dengan peristiwa pada zaman Nabi Nuh as. dimana telah terjadi banjir terbesar di dunia? Satu dunia tenggelam, tidak ada yang tersisa sama sekali. Semuanya musnah! Hanya manusia dan hewan-hewan yang naik bahtera Nabi Nuh yang selamat. Pertanyaannya adalah mengapa Sang Maha sampai sedahsyat itu marah dengan umat Nabi Nuh? Apakah umatnya membangkang? Tidak. Faktor penyebabnya adalah ada anak durhaka kepada orangtuanya, yaitu Kan’an. Kan’an durhaka kepada Nabi Nuh, ayah kandungnya. Pada kisah lain, sahabat Ustad Al-Habsyi pernah berada dalam satu majelis dengan beliau. Ada telepon masuk dan saat diangkat ternyata adalah ibunya yang sedang kangen, ingin bertemu. Jawabnya, “Nanti, Bu, insya Allah minggu depan. Sekarang saya lagi ngaji.” Ternyata, malamnya sang ibu dipanggil oleh Sang Maha. Sekarang, sang sahabat itu sering histeris kalau ada telepon, teringat kesalahan pada ibunya.

Keluarga-06

Bisa bersanding dengan Zee Zee dan Husein #ehm

Intinya, kita semua sibuk mencari surga di luar dan sampai mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Padahal ada surga yang tidak jauh dari kita sendiri. Surga itu ternyata ada di rumah kita. Di mana itu? Ada di kedua orangtua kita. Lebih dekat lagi, ada di bawah telapak kakinya. Ya, surga itu ada di bawah telapak kaki orangtua kita, terutama ibu kita. Jangan sampai kita bisa berkata YA dan SIAP pada pimpinan atau bahkan bisa menyenangkan orang lain tetapi kita tidak bisa berkata YA dan malah mengakhirkan dari menyenangkan kedua orangtua kita. Ridwan Kamil, walikota Bandung yang biasa disapa Kang Emil, turut hadir pada acara nonton bareng pada hari Minggu malam (22/3/2015). Beliau nonton bersama ibundanya dan amat mendukung peredaran film ‘Ada Surga di Rumahmu’. Katanya, “Setelah nonton film ini, hati saya dipenuhi kebaikan-kebaikan. Sampai di rumah, saya akan menciumi ibu saya.”

Surga itu begitu dekat. Tapi mengapa kita sibuk mengejar yang jauh? Nah, kalau tertarik dengan film yang diproduksi oleh Mizan ini maka persiapkan diri Anda untuk menontonnya langsung pada hari Kamis, 2 April 2015. Ya, film ini akan diputar serentak se-Indonesia. Jangan ketinggalan ya![]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s