Kaleh Yo! di Bebek Kaleyo

Silakan pilih menu bebeknya
Silakan ke meja prasmanan
Bayar di kasir (dan) selamat menikmati

Sewaktu lari di Jayagiri, sosok itu sebenarnya hampir saja tersesat. Entah mengapa saat itu dia masuk ke suatu pekarangan yang indah. Keindahan itu ternyata tidak melulu mewah. Bentuk bangunan rumahnya seperti rumah perkampungan kebanyakan. Hampir semuanya terbuat dari bahan-bahan alam. Bambu, kayu hutan, hingga dedaudan untuk atap rumah. Tapi yang berbeda, rumah dan pekarangan itu bersih. Kebersihan yang membuat hatinya merasa nyaman dan tenteram. Suara bebek terdengar dari pekarangan belakang. Selidik punya selidik, pekarangan belakang juga tampak bersih. Kotoran-kotoran bebek yang biasanya tersebar hampir tidak terlihat. Tampaknya sang pemilik begitu apik dan resik. Damai dan sejuk bisa berada di sana.

Kuliner-10

“Nak, jangan di luar. Silakan masuk!” sebuah suara mengejutkan sosok itu. Ada seseorang yang keluar dari rumah. Sang petani tersenyum. “Ayo, kebetulan isteri saya sedang memasak. Mari makan bersama,” ajak sang petani dengan ramah. Sosok itu salah tingkah. Ingin sekali dia meminta maaf dan izin untuk melanjutkan perjalanan. Akan tetapi suasana yang bikin hati adem ayem dan keramahan sang pemilik rumah membuatnya enggan mengucapkan kata itu. Akhirnya dia pun mengangguk dan melangkah masuk. “Assalamu’alaikum, Pak. Maaf kalau kedatangan saya mengganggu,” ujar sosok itu mencoba beramah tamah. “Wa’alaikumsalam. Tidak apa-apa, Nak. Kebetulan kami senang kalau ada tamu berkunjung. Merupakan kehormatan buat kami untuk memuliakan tamu. Bukan begitu, Nak?” Sang petani tersenyum manis. Sosok itu otomatis mengangguk dan membalas senyuman.

Di dalam rumah, sosok itu dibuat terbengong-bengong lagi. Hampir semua perabotan terbuat dari bambu dan rotan. Penataan ruangnya pun menyenangkan. Uniknya, ada rak buku! Sungguh aneh melihat ada rak buku di sebuah rumah desa. Buku-buku yang ada pun mayoritas adalah resep-resep makanan dan … serba bebek. Ya, menu tentang masakan bebek. Belum sempat sosok itu memperhatikan semuanya, seorang wanita keluar dari arah belakang. “Eh, ada tamu. Mari silakan duduk,” ujarnya meletakkan sesuatu. Sosok itu terkejut. “Apa itu?” bisiknya tak percaya. Sang wanita tersenyum, “Silakan dicoba. Ini bebek bakar dengan nasi merah. Kalau suka, bisa dicampur dengan sambel atinya.”

Tak hanya itu. Sosok itu dibuat membelalakkan mata dengan disajikan menu lainnya seperti sate bebek, kerupuk, kelapa batok, dan dimsum. “Apa? Dimsum? Ada di tempat seperti ini?” Baik sang petani maupun isterinya tersenyum. “Sudah. pujiannya disimpan saja. Silakan dicicipi dan dihabisi. Melihat Kisanak makan dengan lahap dan selesai dengan perut kenyang, sudah merupakan kebahagian bagi kami. Itu sudah cukup,” ujar sang petani mencoba berbijak. Sosok itu berbinar matanya. Dia pun mengangguk dan siap-siap mencicipi menu yang disuguhkan, setelah sebelumnya mencuci tangan.

Kuliner-11

BEBEK KALEYO TEMPAT MAKAN ENAK DAN MURAH DI BANDUNG

“Daging bebeknya begitu empuk. Entah mengapa saya seperti dibawa ke langit dan berloncat-loncat dari satu awan ke awan lainnya. Benar-benar empuk. Manisnya kecap begitu terasa di lidah, begitu pas saat bercampur dengan sambel ati yang pedas-pedas gimanaaa gitu. Bebek bakar ini begitu meresap di lidah lalu perlahan-lahan masuk melewati tenggorokan dan akhirnya parkir di lambung secara perlahan dan begitu nikmaaat. Resep ini pasti sudah dipersiapkan secara matang. Tidak sembarangan.” Sosok itu seperti berkata pada diri sendiri. “Sate bebeknya juga empuk. Sama-sama enak. Tapi jujur saja, saya lebih suka bebek bakarnya. Bukan apa-apa, saya lebih suka saat gigi ini mengunyah daging dan menemukan tulang di sana. Sensasinya beda.”

Kuliner-12

Dan petualangan makan itu ditutup dengan manis oleh suguhan kelapa batok yang alami. Tidak ada tambahan apa-apa di sana. Hanya kesegaran kelapa muda yang terjaga kualitasnya. Sosok itu memejamkan mata. Dirinya membayangkan sedang berbaring di bathtub air hangat, lalu ada tangan lembut yang memijat pundaknya secara perlahan-lahan. Begitu nikmaaat. Dia pun langsung mengacungkan jempol sebagai tanda kepuasan yang amat sangat pada hidangan yang tersedia di depannya. Sangat jarang dia memberikan jempol seperti itu. Sang petani tersenyum lalu menunjuk pada rak-rak buku yang ada di sampingnya. “Saya dan isteri telah mempersiapkan semua menu dengan sebaik-baiknya. Dipersiapkan jauh-jauh hari. Dimulai dengan pengumpulan resep dari berbagai sumber, eksperimen berkali-kali dengan target 80% responden yang mengatakan enak, hingga akhirnya berhasil membuat resep bebek goreng yang nyaris 100% responden mengatakan enak,” terang sang petani bebek. Sosok itu mengangguk.

Kaleh yo!” teriak sang petani dan isterinya hampir berbarengan saat melepas dia pergi. “Nggih, insya Allah,” jawab sosok itu melambaikan tangan. “Pokoknya, kalau sudah sampai di kota dan kangen dengan menu kami, mampirlah ke sana. Resepnya sama.” Perkataan sang petani masih terngiang-ngiang di telinga.

Sosok itu pun tersenyum. Dia sudah berdiri bersama keluarganya di sebuah bangunan khas Bali. Tepatnya di Kompleks Bali Heaven, Jl. Pasir Kaliki No. 185-189. Di sana terpampang sebuah tulisan besar, Bebek Kaleyo. Inilah tempat kuliner Bandung yang pernah disarankan oleh sang petani. Inilah yang katanya sebagai tempat makan enak dan murah di Bandung. Dia ingin membuktikan. Pandangan pertama terbukti, para pelayannya ramah-ramah. Step memesan makanannya pun mudah. Satu, silakan pilih menu bebeknya. Dua, silakan ke meja prasmanan. Tiga, bayar di kasir. Empat, selamat menikmati. Maka … dia pun segera memesan menu yang sama. Bebek bakar, nasi merah, dimsum, sate bebek, dan kelapa batok. Benar-benar sama. Sedangkan keluarganya entah memilih apa. Terlalu banyak menu bebek di sini. Kwek-kwek-kwek.

Kuliner-13

Bebek tersebut dibakar dengan arang batok kelapa dibumbui gaya Jawa dengan rasa cenderung manis gurih. Harganya dipatok Rp24.500. Lalu sate bebeknya menggunakan bumbu khas Kaleyo, katanya. Empat tusuk dipatok dengan harga Rp24.500. Nasi merahnya sendiri Rp7.000. Harga-harga tersebut masih terbilang standar jika disandingkan dengan resto atau tempat makan sejenis. Bahkan, masih terbilang murah. Tapi yang pasti … apa yang dirasakan oleh sosok itu saat di rumah sang petani bebek dengan Bebek Kaleyo cabang ke-14 ini benar-benar persis sama. Dia hanya bisa bertanya-tanya, jangan-jangan…. Ah, sudahlah. Dia tidak mau berandai-andai. Dia hanya ingin mengatakan dan mengakui bahwa memang benar, Bebek Kaleyo Tempat Makan Enak dan Murah di Bandung. Pengunjungnya saja silih berganti yang datang. Ada yang sudah pernah coba?[]

Advertisements

8 thoughts on “Kaleh Yo! di Bebek Kaleyo

  1. Kalau aku masih penasaran sama sate bebeknya. Dan belum nyicip bebek bakarnya… Jadi penasaran juga 😀

    >> Berarti harus kembali lagi dan beli sate bebeknya hehehe

  2. Boleh dituker laptopnya bang..hehhe..celamaat yaaa, jd ky baca novel, penasaran dgn “Kaleh yo” nyaa terjawab sudah…

    >> Dituker dengan apa? Kalau serius sila nge-WA yaaa ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s