Setiap Jiwa Memiliki Haknya

Semalam sosok itu merinding. Bergidik. Penjelasan seorang ustadz yang juga sahabat baik tentang warisan membuat hatinya terbuka. Ibu mertua sudah lama pergi. Bapak mertua pun pergi dan sedang menuju angka satu tahun. Waktu memang berkelebat laksana kilat. Banyak orang, mayoritas orang, sangat tabu membicarakan masalah warisan. “Nanti saja. Tidak baik membicarakan masalah itu.” Bahkan ada yang menjawab dengan istilah “Segan”. Sang ustadz tersenyum getir, “Itulah yang terjadi pada masyarakat kita. Mengutamakan hukum adat daripada hukum agama. Padahal warisan itu sudah harus dibuka saat salah satu dari kedua orangtua kita meninggal. Ini sudah hukum Allah dan Rasul-Nya. Dijelaskan begitu gamblang dan panjang lebar di awal-awal Surah An-Nisa dan ditutup lagi di akhir surah.”

Hati sosok itu dibuka paksa, dengan kelembutan. Terlalu lama menahan ihwal warisan berujung dosa besar dan membawa ketidakberkahan. Bersegera menyelesaikan warisan memberi keberkahan dan membuka tali silaturahmi, asal harus berdasar hukum Allah dan Rasul-Nya, bukan hukum adat. Bahwa anak laki-laki mendapatkan dua kali lipat anak perempuan, bahwa anak angkat tidak mendapatkan hak, semua sudah ada hitungan dan aturannya. Bahwa setiap orang ada haknya, termasuk sendi tulang yang ada di tubuh kita memiliki hak untuk disedekahkan dengan mendirikan Shalat Dhuha. Bahkan hewan dan tumbuhan juga memiliki haknya. Setiap jiwa ada haknya. “Sejengkal saja mengambil hak orang lain, maka laksana mengalungkan bara api di leher.” Naudzubillah. Dan pembicaraan berlanjut betapa sudah banyak orang menggunakan fasilitas umum (fasum) dan fasilitas khusus (fasus) demi kepentingan pribadi. Di atas saluran air didirikan bangunan tambahan, seperti lahan parkir. Begitu seterusnya. Dan bayangan kalung bara api menggidikkan sosok itu. Ya Allah….

Keluarga-07

Dua malam lalu sosok itu ditanya, “Jadi Bang Aswi tidak mengambil upah sama sekali atas ide dan keringat yang sudah dikeluarkan? Bang Aswi gak takut ide-idenya diambil orang lain?” Dia hanya diam, lalu menggeleng. Jawabnya, “Saya yakin ada rezeki lain di luar itu.” Istilah ‘Allah mboten sare‘ sering ditemukan di beberapa status, termasuk ‘Setiap orang sudah ada rezekinya masing-masing’. Slogan itu sudah marak tersebar di mana-mana. Jujur, sosok itu tidak menolak rezeki. Tapi dengan catatan, selama itu adalah haknya. Mendirikan komunitas lalu membesarkannya, semua itu ikhlas dikerjakan. Jadi jangan heran kalau sosok itu suka berkomunitas. Suka berkumpul. Dari komunitas dunia kepenulisan sampai komunitas olahraga. Tidak berharap lebih kecuali bermanfaat untuk sesama. Membantu dan mencarikan jalan para blogger agar menemukan passion dan bersemangat dalam menulis. Membantu dan mencarikan jalan pihak ketiga agar produk atau jasanya disebarkan dengan baik oleh para blogger. Menjadi jembatan di antaranya adalah pekerjaan ikhlas yang menyenangkan dirinya. Meski tidak dibayar. Haknya selalu sama dengan para blogger yang diundang.

Sosok itu pernah coba-coba mengambil manfaat. Sekali lagi coba-coba, dan baru sekali, mengambil manfaat dari aktivitasnya itu. Dia tidak mengambil hak para blogger, tetapi meminta dari pihak ketiga dengan jumlah yang diserahkan besarannya pada mereka. Meminta ya, bukan diberi. Dapat. Lumayan. Tapi setelahnya adalah penyesalan yang berkepanjangan. Sejak saat itulah dirinya tidak pernah lagi (dan terus berjuang) agar tidak meminta lagi. Hidupnya merasa jadi tidak berkah. Kapok. Dia kembali berjalan pada ‘track‘nya yang lurus. Serahkan saja semuanya pada Sang Maha. Prosesnya tetap fokus, tersenyum, dan bahagia kalau mendapatkan dukungan dari keluarga. Sang Belahan Jiwa juga pernah berpendapat, “Jangan pernah mengambil hak para blogger, berapapun, meski sedikit.” Yup, itu sudah menjadi hak mereka. Dan proses pun berjalan sebagaimana mestinya. Alhamdulillah, ide dan keringatnya ‘dibayar’ dari tempat lain. Menang lomba kepenulisan dan menang lomba live tweet. Sering. Dia tidak meminta. Semua itu didapatkan dengan usaha dan keringat. Tidak gratis dan tidak mudah jalannya.

ALLAH MBOTEN SARE

Keluarga-08Sosok itu juga pernah ditanya, “Bang, kenapa nggak bikin pelatihan menulis atau pelatihan ngeblog berbayar?” Pertanyaan itu wajar dilontarkan mengingat pengalaman sosok itu yang sudah puluhan tahun bergelut di bidang itu. Sosok itu diam. Sebenarnya bingung bagaimana menjawabnya. Ada bagian hati yang menjawab, “Sebenarnya ingin, tapi malu karena masih banyak orang di luar sana yang lebih jago dan pandai.” Yup, sampai hari ini dirinya tidak pernah membuka pelatihan. Tidak pernah mengiklankan diri. Namun sekali lagi ‘Allah mboten sare‘. Selalu saja ada yang mengundangnya untuk memberikan testimoni atau pelatihan. Dia tidak memiliki tips dan triks jitu. Dia hanya memberikan pengalamannya saja, apa adanya. Pelatihan di sekolah atau lembaga pendidikan atau di komunitas atau bahkan privat selalu saja datang menghampiri, termasuk tawaran pekerjaan yang datang dari mana-mana. “Saya tahu Bang Aswi dari blog. Saya tahu Bang Aswi dari rekomendasi teman. Saya tahu Bang Aswi dari….”

Pertengahan bulan ini sosok itu akan memberikan pelatihan privat di Bogor. Akhir bulan ini atau awal bulan depan insya Allah di Jakarta. Pengundangnya adalah para pejabat atau para eksekutif. Nilainya bisa dibayangkan sendiri. Saat ini dirinya  sedang mengerjakan tiga proyek mengedit dan mendesain buku. Ada juga proyek menjadi ghostwriter sebuah perusahaan multinasional yang sedang dijajaki dengan nilai yang tidak biasa. Hari ini, dirinya juga mau ke Jakarta untuk menghadiri sebuah tender buku laporan tahunan dari Bank Indonesia. Doakan semoga berhasil. Semua itu tidak didapatkannya dari mengiklankan diri. Semua terjadi dari jalan yang entah. Begitu tiba-tiba dan membungahkan hati. Sosok itu hanya berproses sesuai ‘track‘nya. Cukup dengan kekuatan ‘bismillah’.

Dirinya paham masih banyak hutang yang harus dilunasi. Hutang uang, hutang pekerjaan, hutang aktivitas. Semua sudah tercatat di desktop laptopnya. Terperinci agar tidak lupa. Stres pasti, tapi dirinya terus berusaha. Selama masih ada napas. Dia hanya berdoa terus diberikan nikmat kesehatan dan kemampuan. Semua itu demi ‘upgrading‘ dirinya sendiri, demi sesama, dan tentu saja demi keluarga. Kekurangan itu wajar dan pasti selalu ada, yang penting adalah bagaimana menambal kekurangan itu dengan kelebihan. Bismillah.[]

Advertisements

4 thoughts on “Setiap Jiwa Memiliki Haknya

  1. Baaaaang 🙂

    Alhamdulillah merasa beruntung banget bisa kenal sama bang Aswi :))
    Semangat terus yah bang, salam hangat buat Umi & anak2 :))

    >> Alhamdulillah saya juga begitu adanya #ehm ^_^
    Salam kembali untuk keluargamu hehehe….

  2. semangat bang Aswi 😀 tulisan bang Aswi ini berciri, kalo dibilang penyanyi, begitu dengar suara pasti tau kalo si penyanyi itu yang nyanyi. Nah kalo bang Aswi mah begitu baca tulisan bang Aswi pasti tau kalo ini bang Aswi, hihi

    >> Semangat juga untukmu hehehe … makasih ya sudah mampir dan minum air suguhan Abang ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s