Tips Menulis Ala Blogger

Aihhh … blogger naik daun lagi, neh. Kurvanya naik turun sesuai perkembangan teknologi dan mood. Nah, yang terakhir ini memang jadi penyakit banyak blogger, dan juga manusia lainnya (termasuk sosok itu). Meski sempat tenggelam beberapa tahun lalu, ngeblog terus berenang untuk sampai ke permukaan hingga akhirnya sekarang telah berhasil mengapung dan terbang meninggalkan dunia air. Duh, kesannya. Pokoknya, yang dulu blogger hanya bisa disentuh oleh tangan-tangan idealis, kini sudah semakin dilirik oleh banyak kalangan. Banjir undangan pun memenuhi. Asal aktif di grup yang khusus, dijamin bahan tulisan tidak pernah habis. Perut kenyang dan syukur-syukur isi dompet bertambah sudah bukan barang aneh lagi.

Hanya saja, tidak sedikit blogger yang akhirnya malah terbawa arus. Mereka laksana buih di lautan dan tidak memiliki identitas lagi sebagai apa adanya mereka. Ya sebagai pribadi maupun sebagai blogger. Sosok itu sendiri sedang becermin, jangan-jangan dirinya juga telah berubah menjadi buih. Lalu ditiup oleh anak-anak hingga menjadi gelembung-gelembung yang diterbangkan angin menuju entah. Gelembung yang rapuh dan mudah sekali pecah. Idiiih … serem banget. Yup, blogger itu kan unik. Mereka memiliki ciri khas tertentu sehingga wajar kalau akhirnya dipercaya untuk mem-branding sesuatu. Entah itu event ataupun produk. Nah, kalau ciri khas itu hilang, lalu apa bedanya dengan jurnalis? Eh, jurnalis masih mending karena punya payung media. Lah, kalau blogger payungnya apa?

Jujur, sosok itu sendiri suka diundang ke event yang jauh berbeda dengan apa yang sering ditulisnya. Atau kadang-kadang mendapatkan produk yang jauh dari bayangannya. Serba salah. Gampangnya sih menolak untuk hadir dan mengembalikan produk yang bersangkutan. Selesai. Tetapi dunia ini kan tidak semudah membalikkan rempeyek. Eh, itu mah sulit kalau gak biasa masak. Intinya, selalu saja ada momen dia harus hadir dan harus menerima produk yang bersangkutan. Setelah itu? Ya, harus nulis. Harus nge-review. Nah, di sinilah masalahnya. Gak semua orang terbiasa, bukan gak bisa. Apalagi kalau ditambah dengan alasan sibuk ini dan itu. Dijamin deh tuh review bakalan molor entah sampai kapan.

Sosok itu ngalamin sendiri. Dia mengakui dosanya bahwa ada beberapa review yang belum sempat ditulisnya. Banyak malah. Tapi itu semua dijadikan PR, dan tertulis dengan rapi di desktop-nya. Paling tidak dia sudah punya rencana bahwa semua PR-nya itu harus dikerjakan sesegera mungkin. Titik. Balik lagi pada bahasan di atas, blogger itu harus berbeda dengan jurnalis. Tetap harus memiliki gaya (style) yang khas, sehingga tetap enak dibaca dari awal sampai akhir. Sosok itu yakin semua kawan-kawan blogger sudah jago dan paham tentang masalah ini. Usahakan agar masalah ‘style‘ ini tidak boleh hilang. Kalau itu sudah hilang, mau dibawa kemana wajah bloggermu?!

Oke, gaya itu nomer satu. Nomor duanya adalah fokus. Sosok itu sendiri selalu fokus dengan apa yang disukainya sejak lama, yaitu tentang kepenulisan, desainer grafis, sepeda, dan sekarang sudah ada lari. Di sini ada empat tema yang bisa menjadi titik fokusnya. Tugasnya kemudian adalah bagaimana mengaitkan empat tema itu pada event atau produk tersebut. Ada beberapa yang mudah tetapi pasti juga bakal ketemu yang susahnya. Yang susah, tetap diutak-atik hingga ketemu kaitannya. Paksain, dah. Itulah yang dilakukan sosok itu hingga wajar kalau untuk beberapa event dirinya diganjar juara. Anggap saja itu bonus karena keseriusannya memasukkan benang ke dalam lubang jarum dengan menggunakan kaki (aduh, metaforanya gak banget, deh). Coba deh baca tulisan sosok itu yang berjudul Kaleh Yo! di Bebek Kaleyo karena kebetulan ditulis dengan gaya berbeda, dan alhamdulillah dia dapat notebook.

Press release perlu tapi tidak sepenting itu juga, kok. Bagi jurnalis saja, tanpa press release mereka bisa mengejar berita dengan baik. Sosok itu selalu mengabaikan press release. Kalau pun dikasih, dia hanya menuliskan sadurannya di twitter. Lumayan lah buat nyampah di timeline, siapa tahu menang livetweet hehehe. Jadi ketahuan deh rahasianya mengapa sosok itu juga beberapa kali menang lomba livetweet. Fokuslah pada apa yang kamu suka. Berputarlah dan jangan ‘stuck‘ pada satu tempat saja. Berkenalan dengan orang-orang baru, hingga akhirnya menemukan sesuatu yang bisa dijadikan bahan tulisan. Inilah ‘side story‘-nya. Sosok itu pernah menulis tentang masalah ini di Tips Menulis Review Produk.

Dan yang keempat adalah sudut pandang. Eh, ketiganya mana? Itu tuh … tentang press release. Dalam sebuah pelatihan kepenulisan sering diperlihatkan bagaimana peserta diminta untuk menulis tentang sebuah topik tertentu. Kalau ada 100 peserta, sudah pasti akan ada 100 tulisan yang akan menulis dengan topik yang sama. Hasilnya? Apakah semua tulisannya sama? Tidak. Semuanya berbeda. Itulah sudut pandang. Sudut pandang tiap orang berbeda, apalagi bagi blogger. Jadi, kalau tulisan kamu jadi pemenang dalam sebuah lomba blog, itu karena kamu berhasil menemukan sudut pandang yang sama dengan juri. Nah, cari itu. Pelajari dan biasakan mencari sudut pandang yang berbeda dari blogger kebanyakan. Biarin aja dianggap orang aneh. Suka-suka gue! Kesimpulan dari semua yang sudah ditulis ini adalah … Be Yourself! Itu aja.[]

Advertisements

10 thoughts on “Tips Menulis Ala Blogger

  1. ok…
    be my self..
    jadi diri sendiri eeeaa bang

    >> Iyalah, masa mau jadi kayak Abang? Gak kukuuu….

  2. Kalau saya menyesuaikan kesibukan Bang Aswi. Kalo lagi sibuk yah ngga daftar buat hadir di undangan yang difasilitasi. Daripada datang tapi ngga ditulis. Kasihan yang ngundang. Kaya sekarang, kerjaan kantor lagi banyak yah paling daftar di acara yang diadakan akhir pekan atau sepulang kantor

    >> Nah, gue suka dengan yang kayak begini. Enjoy aja lah hehehe….

  3. Kalo ane sih tergantung kebutuhan. Kalo di personal blog kaya gini, biasanya jadi diri ane sendiri. tapi kalo di blog / web bisnis yg ane kelola. Jadi apa pun ngga masalah lah, yg penting dapur tetep ngebul. Hehe 😮

    >> Tah, tujuan utamanya adalah dapur ngebul hihihi. Awas dapurnya kebakaran :p

  4. Kalo menurutku sih, menulis sesuai dengan passion dan tentunya menulis dengan hati :))

    >> Yup, menulislah dengan hati ^_^

  5. waaah, makasih tipsnya Bang Aswi, berharga banget buat nubie kayak saya, moga bisa ikuti jejak bang aswi, konsisten ngeblog…

    >> Sama-sama, Raniii. Amiiin ^_^

  6. nah cara tau sudut pandang yang beda sesuai juri itu gimana?

    >> Cari tahu selera juri itu seperti apa. Biasanya dengan memperhatikan gaya tulisannya dan juga status di akun sosmednya. Memang butuh perjuangan sih hehehe ^_^

  7. Halo Bang Aswi. Ketemu di TIK kemarin. Susah bang nemukan style sendiri. Hehehe. Palagi kalau dah urusan review2. Suka mikir banget pas mau nulis. Sampai lupa gaya tulisan sendiri seperti apa.

    >> Halo juga. Salam jumpa kembali di dunia maya ini hehehe. Style itu lahir dengan sendirinya, bukan dicari. Selamat melahirkan style … #eh

  8. Lagi jalan-jalan ketemu tulisan ini… makasih Bang tulisannya mencerahkan… belajar banyak dari Bang Aswi deh… 🙂

    >> Saling belajar dan menginspirasi. Hatur nuhun sudah jalan2 kemari ^_^

  9. Keren banget, jadi terinspirasi “Sosok itu”, ilmi baru lagi…. Alhamdulillah Bang Aswi luar biasa

    >> Mari sama-sama menginspirasi, Mas. Mas Didik juga keyen bingits kok. Asli!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s