Tragis! Masih Ada Desa di Indonesia yang Tidak Memiliki Sinyal

Jumlah pengguna internet berdasarkan wilayah di Indonesia adalah 52 juta di Jawa, 18.6 juta di Sumatera, 4.2 juta di Kalimantan, 7.3 juta di Sulawesi, serta 5.9 juta di Nusa Tenggara, Papua, dan Maluku

Keluarga-19

Tim Asadessa berangkat dari Balikpapan menuju daerah terpencil di Kalimantan Utara dengan menggunakan pesawat, dilanjutkan dengan perahu motor kecil yang melelahkan, hingga akhirnya bisa menaiki kendaraan roda empat selama berjam-jam. Sampailah mereka di Kabupaten Malinau (luas 39.799,90 kilometer persergi) dengan jumlah penduduk 80.000 jiwa yang membawahi 15 kecamatan. Tepatnya di Desa Gong Solok, Kecamatan Malinau Selatan Hilir. “Dari kecamatan ke desa perlu waktu 1,5 jam kalau jalan santai. Belum beraspal dan kita harus menghirup debu. Di sini listrik terbatas dan hanya sampai jam duabelas,” ujar penduduk setempat.

“Memang, semua kami di sini ini, di kampung ini punya hape semua. Ya setiap orang itu ada hape, setiap kepala keluarga ada hape semua. Tapi di sini tidak ada sinyal. Jadi, kalau mau nelepon hapenya dibawa, kalau ndak nelepon hapenya disimpan. Kalau mereka yang punya hape agak mahal sedikit, yang punya kamera, lha itu mereka hanya mendengarkan radio saja atau lagu/musik.” Incau, salah seorang warga Desa Gong Solok membuka suara, di depan teras rumah. Ia hanya mengenakan kaos putih dengan celana selutut.

Incau bercerita bahwa ia pernah mengirim sms ke isterinya yang sedang di kota. Tidak bisa dari rumah. Ia harus pergi ke puncak bukit yang ada di sebelah desa meski harus berhenti dua kali untuk menarik nafas. Ia tertawa. Di puncak baru ia mendapatkan sinyal. Itu pun tidak pasti. “Untung-untungan,” ujar Donny BU dari ICT Watch. Ada yang sampai menunggu berjam-jam. Incau dan warga desa hanya tahu bahwa untuk mendapatkan sinyal harus naik ke puncak bukit saat pagi dan sore hari. Kalau siang hari tidak ada sinyal. Bahkan, beberapa warga terpaksa harus memanjat pohon demi mendapatkan sinyal yang bagus. Itulah mengapa pada akhirnya warga memberikan nama bukit itu dengan Bukit Sinyal.

Sampai kemudian Incau menceritakan sebuah kisah sedih yang berkenaan dengan sinyal. Salah satu anaknya harus dirawat di RSU Malinau yang jaraknya begitu jauh dari Desa Gong Solok. Setelah dirawat, ia kembali ke desa untuk menemani satu anaknya lagi yang masih di rumah. Malang takdapat dihindari. Anaknya meninggal dunia. Yang membuatnya sedih adalah ia baru menerima kabar pada pukul 1 malam, padahal anaknya meninggal pada pukul 5 sore. Jadi, istrinya memberi kabar ke salah satu kerabatnya di Perahu, dari Perahu nelepon lagi ke Langap, barulah dari Langap ada keluarga yang naik motor memberitahu dirinya.

“Masalah jaringan ini penting. Kita butuh orang pusat yang memahami permasalahan di desa dan sekolah. Padahal, sekolah katanya sudah harus menggunakan sistem online,” ujar Yahya Pagan (Kepala SDN 001 Malinau Selatan Hilir). “Untuk komunikasi antarkecamatan begitu susah, kecuali harus turun ke kota,” lanjut Unyat Incau (Kepala Desa Gong Solok). “Dulu pernah ada yang memasang tower di sini tapi kemudian dicabut dan dipindahkan ke desa sebelah. Sampai saat ini, tower di sana pun belum dihidupkan,” lanjutnya.

Keluarga-18

MEREKA BERHARAP

Sampai bulan Maret 2015 baru ada 1.513 desa yang memakai domain desa.id, dan itu berarti baru 2,04% dari 74.093 desa di Indonesia. Masih ada 39.093 Desa Tertinggal, 17.268 Desa Sangat Tertinggal, dan 1.138 Desa Perbatasan.

“Kalau desa yang ada di pelosok sudah berupaya ingin maju, masa dari pihak pemerintah tidak punya keinginan?” tanya Tati Karyati (Kepala Desa Sidamulih). “Memang tidak efisien pada zaman modern ini laporan harus manual atau dalam bentuk fisik. Kalau memang ada kebijakan menggunakan IT, saya yakin justru akan memudahkan kita,” ujar M. Soin (Sekretaris Desa Melung).

“Mungkin bukan kami lagi yang mengerjakan, tapi akan ada generasi berikutnya seperti kami untuk mengelola supaya tampil lebih maju dan lebih bermanfaat bagi warga,” jelas Safwatur Rahman (Pegiat TIK Gampong Cot Baroh). “Yang paling terbesar adalah bagaimana pemerintah–baik itu kecamatan, kabupaten, provinsi, atau tingkat nasional–itu juga menjadi pen-support bagi desa-desa yang hari ini jelas berhadapan dengan segala ketidakdayaan mereka untuk keluar dari keterbatasan tadi,” lanjut Rasidi (Kepala Desa Harapan Jaya).

Menanggapi hal ini, Rudiantara (Menkominfo) mengatakan, “Salah satu program Kominfo adalah di perbatasan. Kita tahu perbatasan di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara belum ada BTS kecuali ujung-ujungnya. Kita akan bangun itu. Targetnya pertengahan 2016 ada 115 desa yang paling luar dan dekat dengan perbatasan Malaysia harus ada BTS.”

NB: Sosok itu baru saja menonton film “ASADESSA” yang dipersembahkan oleh ICT Watch dan Relawan TIK. Sebelumnya, dia bersama #BloggerBDG sempat nonton bareng pada acara KURMA (Kumpul Rame-rame di Bulan Ramadhan) di TreeHouse Cafe, Bandung, bersama Indriyatno Banyumurti dan Relawan TIK Bandung (Selasa malam, 7/7/2015). Desa-desa yang ditampilkan adalah Desa Sidamulih Kabupaten Ciamis, Kabupaten Pangandaran, Desa Melung Kabupaten Banyumas, Gampong Cot Baroh Kabupaten Pidie Jaya, dan Desa Harapan Jaya Kabupaten Indragiri Hilir. Oya, ASADESSA adalah sebuah film dokumenter tentang gerakan masyarakat di desa yang berdaya dalam membangun dirinya sendiri sendiri. Gerakan ini kemudian memberikan inspirasi ke masyarakat di desa lainnya. Film ini menjelaskan tren baru-baru ini yang berbicara tentang sebuah desa pintar, kota cerdas, masyarakat pintar, ekosistem cerdas, dan konsep serupa.

Tulisan ini juga ada di http://www.kompasiana.com/bangaswi/tragis-masih-ada-desa-di-indonesia-yang-tidak-memiliki-sinyal_55a3201787afbd0d052c8595

Advertisements

4 thoughts on “Tragis! Masih Ada Desa di Indonesia yang Tidak Memiliki Sinyal

  1. hem kita yang mendapatkan akses full memang harus selalu bersyukur dan memanfaatkan kesempatan yang ada dengan sebaik-baiknya untuk kebaikan orang lain ya mas. Sebab masih banyak, saudara kita diluar sana, yang gak bisa merasakan seperti kita

    >> Yup, bersyukur adalah cara paling mudah untuk bertenggang rasa dengan sesama….

  2. Wah, sampai seperti itu, ya. Di kota, kalau jaringan lambat sedikit saja kita langsung protes, bahkan ganti kartu operator seluler ^_^

    >> Makin tinggi akses yang didapatkan, makin tinggi pula nilai protes yang dilayangkan hehehe

  3. melihat diri sendiri kalo jaringan agak lemot langsung deh bawaannya esmosi n tandukan, masih tetep harus bersyukur…nun jauh di sana di desa2 mereka sangat miskin banget sinyal..

    makasih ya Bang

    >> Oh sinyal….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s