Trans Sulawesi, Mimpi yang Digenggam

Seperti mimpi. Sosok itu masih saja tidak percaya dengan apa yang terjadi dalam hidupnya. Garis pantai yang indah, sapi dan kambing yang begitu asyik di pinggir-pinggir jalan atau di mana-mana tempat yang tidak biasanya, deretan pohon-pohon kelapa, hingga jalan berkelok yang hampir semuanya mulus, ditambah bonus tidak terlalu banyaknya kendaraan. “Benarkah ini di Sulawesi? Bukan lagi di tanah Jawa seperti yang dialaminya hampir 40 tahun ini?” Seperti dalam cerita, sosok itu ingin sekali mencubit kulitnya, tapi tentu saja akan sakit, apalagi kalau ditambah dengan gigitan semut rangrang. Yup, kehidupannya begitu drastis dan serba tiba-tiba. Benar-benar exciting. Sulawesi tidak lagi hanya sebuah pulau unik yang biasa dilihatnya di atas peta, tapi sebuah daratan yang benar-benar ada di bawah kakinya. Benar-benar menjejaknya dan bahkan menjadi bagian darinya. Dan bahkan … bisa menjelajahinya dari Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, hingga ke Sulawesi Selatan. Alhamdulillah.

Datsun01

PROLOG TANAH JAWA DAN HATI-HATI DENGAN MIMPIMU

Jumat, 28 Agustus 2015. Tepatnya pada pukul 8.05, sebuah email masuk. Ada gambar sebuah pulau dengan bentuk seperti huruf ‘K’. “Mau menjelajahi Sulawesi GRATIS bersama 2 orang temanmu?” Ini jelas ajakan yang amat menarik. Sosok itu langsung mengklik tautan yang ada di sana. Taraaa! Sebuah formulir langsung terpampang. Petualangan menjelajahi Pulau Sulawesi dari utara hingga ke selatan. Siapa yang tidak mupeng. Namun ada satu kendala di hatinya. Salah satu persyaratannya adalah memiliki Sim A. Dia? Boro-boro punya. Itulah kelemahannya, jiwa petualangannya begitu besar tapi sama sekali tidak bisa menyetir mobil. Lalu bagaimana? Sosok itu punya tekad. Kenapa tidak dicoba. Toh, yang dicari adalah sebuah tim, bukan satu orang. Mimpi ingin menjelajahi daratan di luar Pulau Jawa begitu menggebu. Dia pun berpikir siapa #BloggerBDG yang akan diajaknya serta. Syaratnya tentu saja harus memiliki Sim A. Paling tidak, dia sudah mengazzamkan diri untuk menjadi navigator pada perjalanan kali ini, itu juga kalau terpilih. Bismillah.

Ada beberapa nama di kepalanya. Terpilihlah Mas Ali dan Kang Fajar. Berkas-berkas yang dibutuhkan segera dikumpulkan dengan cepat. Formulir segera diisi dan langsung dikirimkan. Beres. Tidak ada firasat apa-apa. Nothing to lose, prinsipnya begitu saja. Hingga pada Jumat berikutnya, sebuah telepon masuk dan tidak jelas. Sosok itu sedang berada di SDN Karang Pawulang, acara rutin kalau sedang menjemput Kakak dan Adik, dengan suara keras dari speaker masjid karena menjelang Jumatan. Untunglah Mas Ali sudah mengabari bahwa adari telepon dari Datsun yang mengatakan kalau tim mereka terpilih. Sosok itu sempat terpana, dan langsung berteriak, “Siap! Saya siap untuk berangkat!” Tiba-tiba saja lingkungan yang ada di sekitarnya sunyi. Benarkah ini terjadi? Dia benar-benar tidak percaya. Sesaat dia pun langsung memikirkan beberapa konsep yang harus dilakukan nantinya. Apa yang harus dilakukan #BloggerBDG selama di Sulawesi. Tapi ada kendala. Kang Fajar tidak bisa. Jalan buntu? Tidak, otaknya terus berpikir hingga langsung menghubungi Ade Truna dan meminta beberapa berkas yang dibutuhkan. Semuanya serba cepat.

Kami bertiga adalah #BloggerBDG yang sering menjuarai lomba kepenulisan/blog. Kami berpengalaman di dunia traveling dan kuliner, dengan hasil fotografi yang mumpuni. Akun sosmed kami terbilang baik dengan ‘Klout Score’ tinggi sehingga bagus untuk promosi sepanjang perjalanan. Khusus Bang Aswi, meski tidak memiliki Sim A tapi beliau adalah navigator yang andal. Fajar bahkan pernah menjadi bagian dari Tim Datsun. Jika kami terpilih, ada banyak keuntungan yang didapatkan.

Itulah alasan kuat mengapa sosok itu bertekad kuat untuk mengikuti ‘Datsun Risers Expedition‘ ini. Sebuah mimpi … yang kemudian menjadi kenyataan. Jadi, berhati-hatilah dengan mimpimu. Tim #BloggerBDG berhasil mengalahkan 300-an peserta yang apllied pada event ini. Alhamdulillah, inilah bukti bahwa alasan yang hanya dibatasi beberapa karakter itu menentukan segalanya. Setiap detail kata-katanya dinilai. Tapi tidak hanya itu saja, semua akun sosmed juga dicek oleh panitia. Tidak hanya sekadar omdo. Setelah penjelasan bahwa dirinya benar-benar pasti akan berangkat, kehidupannya dipenuhi oleh aura ketidakpercayaan. Hidupnya penuh dengan ketegangan.

Datsun02

Pikiran yang terus mengganggu adalah, “Apakah dia harus tega meninggalkan anak-anak dan istrinya yang sama sekali tidak memegang uang lebih?” Belum masalah air di rumah yang semakin hari semakin sulit keluar karena musim kemarau yang amat panjang. Lama berdiskusi dengan sang belahan jiwa, bagaimana baiknya. Uang yang didapatkan dari Proyek Bank Indonesia sudah habis untuk membayar hutang. Dilema. Akan tetapi untunglah memiliki istri yang tegar dan tabah. Sudah biasa berjuang dari bawah sejak awal pernikahan hingga 13 tahun ini, kebetulan 9 September adalah hari jadi pernikahan mereka, termasuk 31 Agustus yang merupakan hari jadi sosok itu. Hari-hari bahagia yang harusnya menjadi kekuatan untuk terus maju.

INILAH TANAH SULAWESI

Mata sosok itu terpana. Garis pantai Pulau Sulawesi terlihat jelas dari atas pesawat. Ketidakpercayaan yang terus menumpuk di kepalanya. Mulai dari persiapan, keberangkatan, hingga akhirnya berada di atas pesawat. Semua bergerak cepat dan seolah tidak ingin memperlambat. Kurang tidur. Belum beberapa acara yang harus di-handle pas sebelum berangkat. Sebagai koordinator #BloggerBDG tentu harus bertanggung jawab atas permintaan klien dan meneruskannya pada 100 anggotanya. Semua harus dimanajemeni dengan baik, termasuk hutang tulisan yang ada padanya. Berangkat tengah malam dari Bandung menggunakan bus khusus bandara, lalu ngebolang di Bandara Soekarno Hatta. Saling bercerita tentang mimpi dan ketidakpercayaan dari Mas Ali dan Ade Truna, sambung-menyambung. Semua bercampur baur. Sosok itu tidak pernah bisa tidur dengan nyenyak. Hanya ada tatapan kosong dengan pikiran yang begitu semrawut. Termasuk saat mendarat di Bandara Mutiara SIS Al-Jufri Palu dan disambut oleh Tim Datsun.

Datsun03

Sebuah tamparan mendarat di pipinya. “Hei! Ini bukan mimpi. Ini sebuah kenyataan! Jalani dan tunjukkan tanggung jawabmu bahwa kamu memang layak memegang amanah ini. Ingat, kamu sudah mengalahkan ratusan tim di belakang sana!” Sosok itu tersadar. Dia pun berlutut dan mengucapkan banyak terima kasih pada Sang Maha atas rezeki ini. Mencium tanah Sulawesi yang sebenar-benarnya. Bumi Celebes yang selama ini hanya pernah diimpikannya. Dan tantangan demi tantangan sudah terpampang jelas di hadapanya. Dia pun segera mengatur strategi dengan timnya. Kesepakatan pun terjadi. Mas Ali dan Ade Truna fokus sebagai driver, saling bergantian. Sedangkan dirinya fokus sebagai navigator dan tukang nyampah di sosmed. Selebihnya adalah having fun, bersenang-senang. Istilah ‘kapan lagi’ selalu disematkan dalam pikirannya. Terus aktif dan berbaur dengan semua tim, juga panitia. Mencoba menjelajahi Tanah Sulawesi dengan sebenarnya. Jangan setengah-setengah.

Benar saja. Sulawesi begitu berbeda dengan Jawa. Alam dan orang-orangnya. Jalan yang ada di depannya juga begitu asing. Amat berbeda. Pengalaman berkonvoi dengan menggunakan mobil juga termasuk baru, apalagi dengan jumlah kendaraan yang lebih dari sepuluh. Aba-aba dari Road Captain (RC) benar-benar harus dituruti dengan baik. Radio komunikasi yang terus dipegangnya dan fokus mengamati jalur di depan tidak boleh lepas. Begitu pula saat hari telah gelap. Nyampah di sosmed harus benar-benar tersampaikan dengan baik. Semua targetan yang sudah disepakati dijalani dengan sebaik-baiknya. Fokus! Namun tetap saja bersenang-senang di sepanjang perjalanan maupun di tempat istirahat–meski sesaat–terus dijalani dengan penuh kegembiraan. Hei! Inilah anak-anak Bandung yang sedang mencintai ‘Amazing Journey‘ di Pulau Sulawesi.

Kota Palu yang panasnya begitu menyengat karena garis katulistiwa memang nyaris melewati kota ini. Bebukitan pasir dan batu dengan kapal-kapal tongkang yang merapat di tepi pantai. Jalan mulus yang berkelok-kelok mengikuti garis pantai atau saat menaiki pebukitan yang hijau. Sakura Donggala yang semerbak di sisi jalan, sapi Donggala yang seolah tanpa pemiliknya, begitu pula dengan kambing-kambingnya. Semua terus bertaburan dan berloncatan di depan mata. “Awas sapi!” seolah kata yang tidak bisa dihilangkan begitu saja. Sayang, kaledo tidak sempat memasuki mulutnya selama di Palu. Bukan rezekinya. Paling tidak pengalaman di Pusat Laut Donggala yang hanya satu-satunya di dunia adalah obat penawarnya. Tentang ini sila baca tulisan Mas Ali tentang Pusat Laut Donggala Palu, Riwayatmu Kini. Lalu perkebunan kelapa sawit di Pasangkayu. Lahannya yang luas dan berdebu, berbaur dengan kehidupan keras pada pekerjanya. Bongkahan sawit yang amat berat dan berduri, truk-truk besar bergerak perlahan membawa muatan, hingga pabrik pengolahan agar tanaman tersebut bisa menghasilkan minyak yang berkualitas. Sosok itu terpana, seumur hidupnya baru kali ini bisa menyaksikan kehidupan sawit yang sebenarnya. Coba, deh, baca tulisan Antara Datsun, Pantai, Kebun Kelapa Sawit, Kerupuk, dan Babon. Maka nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan?

Datsun04

Kota Mamuju yang tidak jauh berbeda dengan Palu, dengan desain tata kota tepi pantai yang agak mirip dengan Makassar (yang nanti akan dikunjunginya juga). Pantai Manakarra dengan Pulau Karampuang di seberangnya, begitu jelas dan menggoda untuk disambangi. Mungkin lain waktu. Cukuplah Gong Perdamaian berukuran raksana menjadi penanda bahwa sosok itu pernah berada di sana. Sayang beribu sayang dia tidak bisa menikmati event besar Sail Tomini 2015 yang tidak begitu jauh dari Palu yang sebentara lagi akan terlaksana. Termasuk event lomba Perahu Sandeq atau pasar bakar ikan di Mamuju. Semua terlewat karena fokus pada perjalanan dan catatan waktu yang harus dikejar. Ingin sekali sosok itu berpetualang sendiri untuk menikmati semua aktivitas yang ada di setiap kota yang dikunjungi, dengan waktu yang lebih panjang tentu saja. Ingin sekali. Sekali lagi bukan jodoh. Mungkin tidak hari ini atau hari kemarin, tetapi insya Allah mimpi itu akan tercapai di kemudian hari. Amin.

Kelak-kelok khas Sulawesi awalnya menjadi hambatan di awal. Perkenalan pada Datsun Go+ Panca juga masih tahap awal. Sistem persneling dan gigi yang masih manual dengan rem tangan di atas (tapi masih di bawah kemudi) sementara ada banyak mobil saat ini yang sudah beralih ke otomatis tentu menjadi kendala bagi para driver. Akan tetapi lambat laun Tim 1 dari #BloggerBDG semakin beradaptasi dengan baik. Keterkejutan di awal pada akhirnya menjelma menjadi kenikmatan tiada tara. Perintah-perintah dan peringatan dari para driver lainnya terus menjadi bagian dari hidup sosok itu setiap harinya. Istilah-istilah baru lama-lama menjadi akrab di telinganya. Semua tim semakin membaur dan blend, menjadi sebuah keluarga yang semakin akrab. Meski dengan latar belakang yang berbeda, tidak menjadi masalah saat mengenal kata ‘Indonesia’. Bandung adalah Indonesia. Jawa adalah Indonesia. Balikpapan adalah Indonesia. Sulawesi adalah Indonesia. Semua itu menyatukan kami. Bersyukur pada pahlawan yagn telah menggaungkan ‘Soempah Pemuda‘ sehingga generasi selanjutnya bisa berkomunikasi baik hanya dengan satu bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.

KEBAHAGIAAN YANG MENULAR DI ENREKANG

Datsun05Pendidikan telah menjadi bagian tidak terpisahkan bagi sosok itu. Meski bukan guru, alhamdulillah dirinya selalu tidak lepas dengan mengajar dan berbagi ilmu. Mulai dari ilmu kepenulisan hingga ilmu-ilmu dasar yang sering diajarkan di sekolah formal. Sejak zaman mahasiswa saat mengajar les privat hingga pelatihan ngeblog di kemudian hari. Termasuk pengalamannya di Kelas Inspirasi di dua kota, Bandung dan Jakarta. Pengalaman yang sarat makna. Hubungannya dengan anak-anak berseragam merah putih seolah tidak ingin hilang begitu saja. Ingin berlanjut dan berlangsung selamanya. Kenapa? Karena sosok itu tidak hanya berbagi ilmu yang dipunyai, tetapi secara tidak langsung dirinya juga sedang belajar dari anak-anak itu. Mereka semua mengajarkan tentang kesabaran dan kebahagiaan yang sebenarnya. Tentang ini dia pernah menuliskannya di Menjajal Kelas Inspirasi, Mengajar Itu Menyenangkan Lho, dan Kelas yang Misterius.

Syukur alhamdulillah perjalanan Trans Sulawesi ini juga ketemu muaranya di Kabupaten Enrekang. Ternyata ada program Datsun Raising Hope yang memang fokus di dunia pendidikan. Dan saat mengetahui hal itu, tak terbayang lagi kebahagiaan sosok itu. Kesukaannya di dunia pendidikan, khususnya berbagi tentang profesinya sebagai seorang blogger dan penulis tentu terus bersambung lagi. SDN 138 Kulinjang adalah buktinya. Semua lelah selama di perjalanan menjadi hilang seketika. Memandang keceriaan anak-anak berseragam di Enrekang memuaskan kerinduannya pada Kakak dan Adik di Bandung. Miss you all! Mas Ali yang didaulat untuk mendongeng hingga kreativitas Ade Truna dan sosok itu agar anak-anak bisa diajak bersenang-senang, meski sesaat. Luar biasa! Kebetulan Mas Ali sudah bercerita soal ini di Datsun Go+ Panca Membuat Anak-anak Ceria. Dan kalau boleh berharap … ingin rasanya sosok itu tinggal semalam saja di sana. Apalagi aura cuacanya tidak jauh berbeda dengan Bandung.

Pas maghrib, perjalanan dilanjutkan menuju Gunung Nona, sebuah tempat wisata yang memiliki nama asli Buttu Kabobong. Kurang lebih mirip dengan Kintamani di Bali atau Tebing Keraton di Bandung. Bentuknya unik dan agak eksotis, seperti alat kelamin wanita raksasa. Dongengnya konon berasal dari putri Kerajaan Soppeng yang tidak mau dinikahkan hingga melarikan diri. Hanya saja sayang, dalam proses pencariannya, salah seorang prajurit malah memotong tubuhnya menjadi dua bagian. Bagian pinggang ke atas terbawa Sungai Mata Allo sedangkan pinggang ke bawah menjadi Gunung Nona di Anggeraja. Di bagian bawah juga ada Gunung Bambapuang yang mirip kelamin pria, tetapi kecil. Kedua gunung itu sering dikunjungi dan bahkan jadi tempat tapa. Ya, ini hanya bagi yang percaya saja. Sosok itu sendiri lebih menikmati suasana pegunungannya yang adem dan berangin keras. Makan malam dengan menu khas lokal. Nikmaaat!

Datsun06

PERJALANAN MENEGANGKAN DAN MENYENANGKAN

Sosok itu merasakan sensasi menegangkan setiap perjalanan malam bersama ‘Datsun Risers Expedition‘. Salah satu alasan terkuatnya adalah jalan tanpa lampu dan banyak kelokan. Mungkin kalau tidak ada panduan dari RC, agak sulit untuk berkendaraan di atas 60 atau bahkan sampai di atas 100 km/jam. Tidak pernah tahu apa yang bakal melintas di tengah jalan mengingat begitu banyaknya hewan berjalan-jalan saat siang hari. Mungkin mereka suka nongkrong di tepi-tepi jalan daripada di kandangnya. Sampai Mamuju di hari pertama saja sampai tengah malam, begitu pula saat tiba di Tana Toraja di hari kedua. Suasana mistis di Tana Toraja seolah melengkapi itu semua. Meski mayoritas beragama Nasrani, tetapi budaya animismenya begitu kuat. Yup, mungkin inilah yang disebut oleh Kang Ical (Project Officer/PO) bahwa tim nantinya akan menikmati ‘Spooky Adventure‘. Ehm. Ya sudahlah, bismillah saja … toh pengalaman itu akan semakin memperkaya dan membuktikan dirinya sebagai seorang petualang sejati. Amiiin.

Tana Toraja. Sebuah nama dan tempat yang selalu diimpikannya. Bukan hanya oleh dirinya, tetapi juga oleh banyak traveler di dunia. Sebuah wisata mistis yang menawarkan suasana tegang, sekaligus menyenangkan. Memahami makna Rumah Tongkonan beserta lumbung padinya, merasakan hawa dingin merinding di dalam goa berisi jenazah namun tidak berbau busuk. Pesta kematian atau Rambu Solo yang menghabiskan dana tidak sedikit, bahkan hingga lebih dari satu miliar rupiah. Termasuk … melibatkan ratusan anggota keluarga dari seluruh pelosok Nusantara yang wajib hadir. Kerbau yang dikorbankan, hingga babi-babi hitam besar yang menguik tiada henti. Darah-darah segar mengucur di area pesawahan yang takterpakai, lalu dilanjutkan oleh aroma daging terbakar. Semua berpadu. Dan semua itu sudah pasti tidak bisa diceritakan secara singkat di sini. Sila baca Datsun Go+ Panca Risers Expedition Sulawaesi Sambangi Toraja yang telah ditulis oleh Mas Ali. Insya Allah sosok itu akan menuliskannya di tulisan khusus. Trans Sulawesi ini belum selesai. Masih ada perjalanan ke Makassar dan perasaan haru di dalam dada terus lahir tiada henti. Subhanallah.[]

Advertisements

6 thoughts on “Trans Sulawesi, Mimpi yang Digenggam

  1. hebat, bang aswi! ternyata lolos seleksi, kirain undangan aja. salut ah! ikut terharu, bang 😀 ditunggu tulisan ttg sulawesi lainnya yaaaa!

    >> Semua harus diraih dengan kerja keras dan usaha, tidak hanya sekadar ujug2. Dan kalau pun ada undangan yang ‘wah’, itu juga karena kerja keras yang tidak ala kadarnya. Semangat juga, Ulu! ^_^

  2. terwakili piknik kesanaaa
    makasih oleh2nya Bang

    Mbangga sama BloggerBDG
    Sukses selaku buat kalian B3

    >> Semoga bisa jalan bareng ya, Nchie.
    Hatur nuhun atas doanya selama ini ^_^

  3. Keren Bang Aswi, gak bisa ngomong baca tulisannya, langsung melayang berimajinasi…keren pokoknya

    >> Hatur nuhun, Bah. Mimpi ini bisa tercapai juga atas doa banyak pihak yang tidak kita sadari ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s