Karatsu: Sebuah Prolog

Yuume o mukate jitsugen kudasai.
Genggamlah dengan erat mimpimu,
lalu wujudkan dengan kerja keras.
~ Bang Aswi

Keluarga-20

Asa mimpi! Ya, itulah dua kata yang terus berdengung di dekat telinga. Tidak percaya. Sampai sekarang, perasaan tidak percaya itu masih bersemayam. Padahal dua minggu yang lalu sosok itu belum punya paspor. Masih ada kebingungan saat dirinya masih di Sulawesi dan diminta segera menyerahkan paspor. Bagaimana mau menyerahkan kalau punya paspor saja tidak? Bahkan, kepergiaanya ke Sulawesi juga bagai mimpi dan terjadi begitu ajaibnya. Takdir Sang Maha tengah bekerja di luar rencana-rencana fananya. Semua bergerak cepat, sosok itu berkejaran dengan waktu. Alhamdulillah jalannya dipermudah. Urusan di Sulawesi beres dan bahkan menjadi bagian dari The Best Team bersama Kang Ade Truna dan Mas Ali Muakhir. Paspor beres dan visa pun tuntas.

Entah kapan dia pernah punya mimpi bisa naik pesawat terbang. Alhamdulillah tercapai pada 2011 dengan pergi ke Bali. Semuanya gratis! Dan kemudian bisa berangkat lagi ke sana, lalu baru kemarin disambung ke Sulawesi. Dia pun punya mimpi bisa ke luar negeri. Saat ini, masih percaya tidak percaya, dirinya sudah benar-benar ada di Fukuoka, Jepang. Semuanya gratis! Semuanya dengan modal MENULIS. Hobi yang awalnya dipaksakan karena kuliahnya tidak selesai. Agar ada kesibukan dengan bergabung di Forum Lingkar Pena (FLP) lewat jalur Majalah Annida. Langkah pertama saat dirinya diminta oleh Mbak Helvy Tiana Rosa untuk menjadi pengurus FLP Bandung bersama Kang Irfan Hidayatullah Hanum Sujana, Deffy Ruspiyandy, Intan Riyani, dll. Benar-benar kekuatan mimpi. “Berhati-hatilah dengan mimpi liarmu karena suatu saat akan menjadi kenyataan.”

Keluarga-21Bahkan dari ‘hanya’ menulis, dia pun bisa membangun keluarga dari nol, hingga bisa seperti saat ini. Belajar menulis dengan serius dan fokus hanya dengan modal buku tulis dan pena, lalu naik derajat dengan memiliki mesin tik, hingga akhirnya punya komputer dan laptop sendiri. Gadget yang dia dan seluruh anggota keluarga miliki pun serba gratis, hanya dari menulis. Keaktifannya di beberapa komunitas juga bagian dari menambah pengalaman agar tulisannya semakin kaya dan bernas. Hasil menulis tidak hanya berupa materi, tetapi lebih dari itu adalah tali silaturahim dengan beberapa orang penting yang memuluskan jalannya menjadi seperti yang sekarang ini. Menulis dan (sebelumnya) membaca telah menjadi bagian dari hidupnya, yang telah memperkaya cara berpikirnya, yang telah mempengaruhi bagaimana cara mengambil keputusan yang tepat.

Semuanya berawal dari mimpi. Semuanya diawali oleh sebuah imajinasi yang semua orang pasti mengalaminya. Tapi yang membedakan, kemudian oleh sosok itu dilanjutkan dengan kerja keras, dengan latihan lebih dari 10.000 jam. Dia tidak berhenti jika telah berhasil mewujudkan mimpi tertentu, tapi terus belajar untuk bisa meraih mimpi yang lebih besar lagi. Dia terus berkompetisi agar kualitasnya terus terasah. Dia terus berbagi agar ilmunya tidak hilang. Terus berproses selama masih punya tenaga dan nafas. Dan kalau diputar balik ke awal belajar menulis, semuanya asa mimpi. Seperti tidak mungkin. Tapi sosok itu langsung berani melangkah meski jalannya begitu terjal, lalu tetap konsisten hingga saat ini. Dia hanya berharap … apa yang sudah digenggamnya hari ini bukanlah sebuah hasil akhir, tetapi sebuah kunci untuk membuka banyak pintu gerbang keajaiban lainnya. Amiiin.

PERJUANGAN MEMBUAT PASPOR DAN VISA

Entah sudah berapa kali dirinya mengikuti lomba yang hadiahnya jalan-jalan ke luar negeri. Dari lomba menulis hingga lomba foto. Sampai kemudian ada lomba foto yang berhadiah ke Disneyland, Hongkong. Pemenangnya bisa mengajak keluarganya. Siapa yang tidak mupeng? Perasaannya saat submit foto: yakin menang. Boleh dong punya ‘feeling‘ positif. Saat itulah dirinya mulai berpikir untuk membuat paspor. Sebulan setelahnya, paspor ternyata belum dibuat dan pengumuman pemenang lomba foto tersebut belum juga keluar. Lalu ada kabar di lingkungan organisasi FLP bahwa ada undangan dari pemerintah Karatsu, Jepang. Ada peluang bagi pengurus FLP untuk ke sana. Biar adil, dibuatlah lomba kepenulisan internal. Sosok itu bersemangat.

Keluarga-22

Sempat-sempatnya membuat kartu nama ^_^

Seperti biasa dia pun langsung mencari bahan materi. Asal sudah terkumpul lengkap, pasti hati akan tenang meski entah kapan akan menulisnya. Kejadiannya menjadi klasik, dia menulis menjelang deadline, hanya beberapa jam sebelum ditutup. Kebiasaan! Yakin menang atau lolos? Tidak juga. Prinsipnya ‘nothing to lose‘. Yang penting berkarya terlebih dahulu. Rencana pembuatan paspor pun terlupakan. Beberapa minggu kemudian lewat kembali. Jumat (2/10), saat menjemput anak-anak, sebuah pesan dan telepon masuk. Sosok itu dinyatakan lolos ke Jepang dan Sulawesi. Surprise! Ke Sulawesi langsung berangkat dua hari kemudian, ke Jepang dijadwalkan tiga minggu lagi. Ya sudah, fokus ke Sulawesi dan tidak memikirkan membuat paspor. Dia hanya berharap dan banyak berdoa semoga ke Jepangnya bisa diundur ke bulan Desember.

Sibuk dengan padatnya jadwal di Sulawesi, telepon berdering dan menegaskan bahwa sosok itu harus berangkat kurang dari tiga minggu. Bahkan, paspor juga harus disetor dalam waktu dua minggu atau kurang. Stres! Di Sulawesi, dirinya langsung mendaftar pembuatan paspor online. Dia berharap pada hari Senin (9/10) sudah bisa langsung membayar ke bank. Ternyata meleset, daftar bayarnya paling cepat dua minggu. Meleset. Dia putar otak dan berpikiran untuk menggunakan jasa calo berapa pun harganya. Untunglah yang dia hubungi adalah seorang kawan baik yang juga gemar bersepeda dan bekerja di Kantor Imigrasi (Kanim). Inilah untungnya langsung mencari informasi dari sumber tepercaya daripada penjelasan di luar sana. “Bisa cepat, kok.” Tinggal datang langsung pada hari Senin ke Kanim I Bandung dengan membawa berkas-berkas lengkap (sesuai persyaratan). Namanya jalur ‘Walk In‘. Ini legal. Resmi. Alhamdulillah semua bisa diselesaikan pada hari Senin itu. Pembayaran dan foto. Insya Allah paspor akan selesai dalam waktu tiga hari kerja.

Keluarga-23

Oleh karena kamisnya Hari Raya Idul Adha, paspor baru bisa diambil pada hari Jumat. Hati pun menjadi lega saat paspor bisa digenggamnya. Indah sekali tampaknya. Dia pun langsung melapor pada Pak Eko selalu pengundang. Beres? Ternyata tidak. Visa ternyata harus diurus sendiri, tidak dibuatkan. Pengurusannya pun harus ke Jakarta dan membayar biaya Rp750.000. Uang dari mana? Ternyata lagi-lagi Sang Maha punya rencana lain. Ada bantuan tak terdua. Visa pun bisa diurus oleh Aquila Travel yang memberangkan dua orang perwakilannya bersama sosok itu. Hati tenang. Aktivitas di Bandung pun kembali berjalan normal sambil menikmati rasa ‘deg-degan’ yang tidak kunjung usai karena masih tidak percaya akan pergi ke Jepang. Bahkan, menjelang keberangkatannya pada hari Sabtu (3/10) dini hari, dirinya masih sempat Rapat RT dan mengusulkan pembuatan mading demi kepentingan warga dan anak-anak warga. Yang jelas, petualangan baru akan dihadapinya. Petualangan yang makin membuka mata hatinya selebar-lebarnya.[]

Advertisements

9 thoughts on “Karatsu: Sebuah Prolog

  1. Hebat bangg. Aku selalu merasa hebat seornag blogger yang bisa jalan ke luar negeri secara gratis dari menulis. Ditunggu ceritanya di jepang 😊

    >> Semoga tulisannya tidak mengecewakan….

  2. Luar biasa tulisan tentang “mimpi liar” ini Kang…
    Salut luar biasa.

    Salam sukses dari saya di Sukabumi,

    >> Mohon doanya ya, Kang. Salam kembali dari Fukuoka ^_^

  3. Pengalaman sang sosok yang luar biasa. Setelah seru “perjuangan” paspor ini, tentu penasaran neh perjalanan berikutnya. Semoga lancar dan sukses ya, Kang.

    >> Iya, bikin jantung berdenyut amat cepat. Insya Allah akan ada serial berikutnya. Tunggu saja ^_^

  4. Itu asa bahasa indonesia atau sunda? Hhe klo sunda teh arti na, ‘seperti mimpi’. Suka banget sama quote ” “Berhati-hatilah dengan mimpi liarmu karena suatu saat akan menjadi kenyataan.” 😀

    >> Coba tebak?
    Hatur nuhuuun….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s