Grand New Veloz Melengkapi Keluarga Indonesia

Tanpa disadari, pipi Ratih merona. Jantungnya berdenyut sangat cepat. Ia tidak percaya dengan apa yang telah dibacanya. Tapi kata-kata itu riil. Buktinya adalah kertas merah jambu berbentuk hati yang kini masih dipegangnya. Benar-benar nyata. Bahkan keharumannya pun masih terasa di penciumannya. Ini bukan mimpi. Ia masih merasakan sakit ketika mencoba memukul pipinya. Dan sekali lagi—untuk memastikan—ia pun membaca kembali kata-kata itu.

tiada manusia yang tiada memiliki cinta
tiada kebaikan bagi orang yang tiada cinta
tiada keindahan dan kenikmatan di dunia
jika kita menyendiri tanpa perasaan cinta

Tanpa disadari Ratih, Papa terus memperhatikannya melalui cermin tengah. Meski sambil mengendarai Grand New Veloz yang telah menjadi andalan keluarganya, ia tahu bahwa putri tunggalnya itu sedang ada masalah. Mobil untuk keluarga stylish itu memang telah menemani keluarganya selama beberapa tahun ini. Papa melirik pada Mama yang ada di sebelahnya, Mama tersenyum sedikit. Mama juga ternyata terus memperhatikan Ratih yang asyik dengan bukunya di bangku tengah. “Ada PR yang belum kamu kerjakan, Rat?” tanya Mama tiba-tiba. Ratih terkejut dan langsung menutup buku matematikanya. “Ti-ti-ti-dak ada, Ma,” jawabnya memaksakan tersenyum. “Aku … aku hanya ingat beberapa tugas di sekolah nanti. Mama kan tahu aku jadi sekretaris OSIS,” lanjutnya mengalihkan perhatian. Matanya berkeliling seolah-olah sedang menatap interior mobil Papa yang gagah. Fitur interiornya memiliki entertainment terdepan dengan desain kabin lebih elegan.

Setelah tahu Mama tidak lagi curiga, Ratih kembali membuka bukunya. Kertas merah jambu itu dibukanya kembali. Membaca lagi bait-bait puisi yang ada di sana. Sesuatu yang amat vital di dalam dada Ratih semakin berdebur cepat. Tak beraturan. Apa mungkin Yoga yang membuatnya? tanya hati Ratih bimbang, mencoba mencari pegangan. Tapi … apa mungkin dia berbuat sejauh ini? Ah, tidak mungkin, tepisnya sendiri. Tapi sekali lagi Ratih bimbang. Apalagi mengingat kertas merah jambu berbentuk hati itu ditemukannya di selipan buku matematikanya yang baru dikembalikan Yoga kemarin. Masa sih Yoga bisa berbuat seperti ini? Dia kan Ketua Rohis? Dia kan panutan junior-junior yang masih duduk di kelas 1 dan 2 SMU Nusantara, bahkan panutan bagi rekan-rekan seangkatannya? Ah, tidak mungkin….

Ratih mencoba menyusun puzzle-puzzle yang berserakan. Pikirannya menerawang. Menjelajah dunia tak bertepi. Lalu menukik ke satu titik yang terang. Meluncur sangat cepat, hingga tangannya berhasil menangkap titik cahaya itu. Puzzle pun berhasil disusunnya. Sempurna. Bodoh sekali aku! pukul Ratih ke keningnya sendiri. Sekarang kan tanggal 7 Februari, jadi seminggu lagi…, tiba-tiba Ratih langsung menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin! Ini tidak mungkin terjadi! Ratih kembali menolak pikirannya. Tetapi gemuruh di dalam dadanya tak pernah usai. Pandangannya pun memanas. Dan untuk memadamkannya—paling tidak—Ratih pun kembali memandang interior Grand New Veloz yang elegan. Mungkinkah Yoga…?

Toyota-1

EPISODE BUKU MATEMATIKA

“Mungkin saja,” jawab Dini segera menarik buku tulis yang sedang dipegang Ratih. “Banyak cara untuk mengerjakan soal ini. Cara pertama adalah seperti yang kamu buat itu, yaitu dengan metode eliminasi. Dan cara kedua adalah yang seperti aku kerjakan, yaitu dengan metode substitusi.” Dini tersenyum cerah. Secerah cuaca hari ini. “Dan hasilnya dapat kamu lihat sendiri, sama kan?” Ratih mengangguk. Tersenyum sebentar sebagai tanda hormat atas kecerdasan Dini. Lalu kembali mengambil buku tulis miliknya dari tangan Dini. Namun, secarik kertas berwarna merah jambu tiba-tiba jatuh. Kedua mata Dini membulat. Begitu pula dengan mata Ratih. “Ratih…, kamu kok nggak pernah cerita sih?” tanya Dini dengan nada yang manis. “Kalau kamu baru saja dapat kartu valentine. Hayo…, pangeran manakah yang telah memberikan kartu ini pada sang putri?”

Wajah Ratih berubah drastis, sesaat pipinya merona merah, tetapi kemudian seluruh wajahnya langsung memutih. Apalagi saat matanya berputar, ia melihat kalau teman-temannya yang ada di dalam kelas memandang ke arahnya—yang sebagian langsung tersenyum. Ingin rasanya Ratih membenamkan kepalanya ke dalam bantal empuk miliknya yang ada di bangku tengah mobil Papa. Entah mengapa sejak Papa membeli Grand New Veloz, seolah-olah ia memiliki kamar kedua. Mobil keluarga Indonesia itu telah memberikan rasa nyaman pada jiwanya, terutama saat di jalan. Ya, ingin rasanya ia langsung menelepon Papa, menjemputnya dan membiarkannya terlelap di bangku tengah Grand New Veloz. Jujur, mobil itu memberikan rasa comfort karena ruangan kabin lebih senyap dengan kursi yang lebih nyaman. Memberikan rasa aman karena memiliki fitur side-impact beam, key immobilizer, dan SRS Airbag. Nyaman dan aman di dalam mobil yang tampak garang. Grand New Veloz memang tampil lebih sporty dan berkarakter. Tapi apa daya … dirinya hanya bisa membenamkan kepalanya di antara kedua tangannya di atas meja.

Toyota-2

Sepulang sekolah. “Yoga!” seru Ratih begitu berhasil menemukannya di mushala. Yoga menoleh dan langsung terkejut begitu mengetahui kalau yang menegurnya begitu keras adalah Ratih. “Wa’alaikumsalam,” jawab Yoga tersenyum, “Ada keperluan apa, Ukhti?” Ratih langsung tertegur. Ia menjadi serba salah. Kemudian ia berucap salam tanpa suara. Ratih langsung saja mengeluarkan buku matematikanya dan menunjukkannya di hadapan Yoga. Buku matematika itu digoyang-goyangkan hingga terjatuhlah secarik kartu berwarna merah jambu dan berbentuk hati. Saat itulah mata Yoga langsung membelalak. Mulutnya pun secara tidak sadar membentuk huruf ‘O’. “Ini…,” ujarnya patah. “Ya, itu punyamu kan?” Yoga mengangguk. Lalu kartu itu diambil dan membaca isinya. Yoga menarik napas panjang. Lalu diembuskan secara perlahan-lahan. “Kamu telah membacanya?” tanya Yoga yang membuat Ratih terkejut. “Tentu saja!” jawab Ratih merasa kesal. “Bagaimana aku tidak membacanya kalau kartu itu terselip dalam bukuku? Apa maksud kamu sebenarnya, Yoga?”

“Aku….” Yoga mengeluarkan udara yang terasa mampat di dalam dadanya. “Puisi itu bukan untukmu, Ratih. Maaf. Puisi itu kubuat untuk ibuku. Yang akan kuberikan di hari ulang tahunnya, tepat pada tanggal 14 Februari nanti.” Ratih kembali mematung. “Syukurlah kalau begitu. Aku kira … masalah ini sudah tuntas. Tidak ada yang perlu dibahas lagi.” Ratih segera beranjak berdiri. “Ratih … kapan-kapan aku akan membuatkan puisi untukmu.” Ratih tiba-tiba meng-es. “Nanti … ketika aku sudah siap kalau kamulah jodohku.” Pipi Ratih kembali merona.

“Ehm! Maaf…, Ratih, tadi kamu lihat Desi nggak?” tanya Dini yang tiba-tiba saja muncul. “Eh, ada Pangeran Yoga juga. Maaf kalau mengganggu. Loh, kok pipi Putri Ratih memerah sih? Memangnya….”

“DINIII…!!!”

kuingin semua cinta menyatu di Grand New Veloz
merasuk ke dalam hati, lalu bersemayam di dada
kuingin cinta tiada sirna
karena keceriaanku ada pada kecintaan Grand New Veloz
atau: lebih baik aku binasa

Advertisements

8 thoughts on “Grand New Veloz Melengkapi Keluarga Indonesia

  1. nanti bisa2 ditanya wani piro, jawabnya cukup grand new veloz aja dech 🙂

    >> Nah, itu lebih keren lagi, Teh ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s