Inilah Juara 1 Lomba Cerita Rakyat 2015

“Nangis bahagia saya sebagai guru bisa jabat tangan sama Pak Anis Baswedan.”

Lomba-29Itulah kalimat pertama S. Gegge Mappangewa di grup WA khusus pengurus pusat Forum Lingkar Pena (FLP). Kalimat itu hadir bersama sebuah piagam penghargaan yang menyatakan bahwa Sabir didaulat sebagai Juara 1 Lomba Penulisan Cerita Rakyat Tahun 2015 Kategori Umum/Dewasa. Di bawahnya tertera tanda tangan Anies Baswedan selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI. Tak berapa lama kemudian, status FB-nya mengatakan, “Alhamdulillah. Juara I Lomba Penulisan Cerita Rakyat Kategori Umum Kemendikbud 2015. Judul cerita: Nenek Mallomo, Lelaki Itu dan Sepotong Kayu yang Bersandar.”

Siapa yang tidak kenal dengan Daeng Gegge? Beberapa penghargaan tingkat nasional pernah diraihnya. Sebut saja Juara III Peraih Penghargaan Acarya (Penghargaan Sastra untuk Pendidik 2015 dari Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Juara I Kompetisi Tulis Nusantara Kemenparekraf 2014 kategori Nonfiksi, Peraih IBF (Islamic Book Fair) Award 2013 dengan novel Lontara Rindu sebagai Buku Islam Terbaik Kategori Fiksi Dewasa, Juara I Lomba Menulis Novel Republika 2011, Juara Harapan Lomba Menulis Cerpen Anak oleh Guru Majalah Bobo 2011, Juara I Lomba Menulis Cerita Pendek Islami Tingkat Nasional Majalah (LMCPI) Annida 2008, Juara III Lomba Cipta Cerpen Tingkat Nasional Aneka Yess! 2002, dan Pemenang Harapan Lomba Menulis Cerita Pendek Remaja Tingkat Nasional Rohto 2008.

Hanya itu? Tentu tidak. Lebih dari seratus judul cerpennya pernah termuat di beberapa media seperti Aneka Yess!, Keren Beken, Annida, Sabili, Fantasi Teen, Ummi, Favorit, Jelita, Harian Fajar, Republika, dan lain sebagainya. Beberapa bukunya juga telah terbit sejak 2013. Buku terakhirnya adalah novel remaja Lontara Rindu (Republika 2011) dan Cupiderman 3G (LPPH 2008). Bahkan, sebagian naskah dramanya pernah ditayangkan di Makassar TV dan Fajar TV. Daeng Gegge memang langganan juara dan di daerahnya sudah merupakan guru berprestasi. Ciri khas tulisannya adalah lokalitas kedaerahan yang kuat.

Daeng Gegge memang memiliki nama asli Sabir, namun lebih dikenal dengan nama pena S. Gegge Mappangewa. Ayah dari satu orang putra (Mahfudz Sabda Mappunna) ini adalah alumni Universitas Muslim Indonesia. Meski mengenyam pendidikan di Fakultas Teknik Jurusan Mesin, kemampuannya mengolah kata tidak perlu diragukan lagi. Pria kelahiran Sidenreng Rappang (31/12/1974) ini pernah beberapa tahun tinggal di Yogyakarta saat istrinya (Nuvida RAF) kuliah dan kemudian menetap kembali di Makassar. Beliau pernah menjadi ketua Umum Forum Lingkar Pena Sulsel periode 2006-2008 dan kini bergiat di BPP FLP Divisi Kaderisasi (2013-2018).

Lomba-30

PROSES KREATIF DAENG GEGGE

Daeng Gegge begitu cinta pada kedua orangtuanya dan Tanah Bugis. Bukti pertama, Gegge adalah nama kakek dari ibunya dan Mappangewa adalah nama kakek dari ayahnya. Bukti kedua, dia begitu memegang nilai Sipakatau, Sipakalebbi, dan Sipakainge’. Sipakatau bermakna saling memanusiakan. Memandang manusia sebagai manusia seutuhnya. “Jika ingin dihargai, hargailah orang lain!” ujarnya tegas. Sipakalebbi kurang lebih berarti bahwa no body is perfect. Sebuah nilai untuk selalu berpikir positif, untuk saling melebihkan. Sipakaienge’ bermakna saling mengingatkan. “Jika nilai sipakatau dan sipakalebbi sudah mewarnai jiwa, maka tak akan ada orang yang mengingatkan dengan cara kasar ataupun mempermalukan orang di depan umum. Orang yang diperingati pun tak akan merasa harga dirinya dihinakan,” tutupnya.

Bisa jadi itulah yang membuat Daeng Gegge begitu berhati-hati dalam hidup bermasyarakat dan menerapkannya di dalam tulisan-tulisan yang dia buat. “Sebagai penulis, senang sekali bisa menang lomba cerita rakyat ini. Sebagai guru, lebih senang lagi karena bisa bertemu dengan Pak Anies Baswedan,” ujarnya pada sosok itu. Bagaimana dengan proses kreatifnya menulis cerita ‘Nenek Mallomo, Lelaki Itu dan Sepotong Kayu yang Bersandar‘?

Lomba-31

Daeng Gegge mengatakan bahwa dia menuliskannya di antara kesibukan mengajar. Observasinya tidak membutuhkan waktu lama karena semua yang ditulisnya sudah diketahui sejak kecil. Cerita tentang Nenek Mallomo itu adalah sebuah legenda, hanya saja sayang belum pernah ditulis secara utuh baik di buku maupun di media elektronik. Namun secara turun-temurun, keberadaan Nenek Mallomo terus bergaung di seluruh masyarakat Sulawesi. Daeng Gegge juga merendah bahwa setiap lomba selalu menyisakan lawan tangguh. Dia merasa ada faktor rezeki di sana, karena itu dirinya tidak pernah luput dengan usaha dan doa. “Rawatlah baik-baik mimpimu. Berikan dia makan, maka suatu saat mimpimulah yang akan memberimu makan dan merawatmu,” ujarnya tersenyum. Tahniah, Daeng![]

NB: Semua foto adalah milik S. Gegge Mappangewa

Advertisements

7 thoughts on “Inilah Juara 1 Lomba Cerita Rakyat 2015

  1. wooo gitu

    katanya nih lomba agak krg transparan

    >> Insya Allah transparan, cuma memang banyak peserta yang kurang sabaran aja. Panitia juga berhati-hati mengumumkan pemenang sehingga tidak langsung disebarkan ke publik, melainkan hanya lewat telepon kepada calon pemenang ^_^

  2. Bagus filosofi hidup Daeng Gegge, sipakatau dll. Sungguh kaya Indonesia setiap daerah ada akar yang kuat untuk membangun karakter bangsa.

    >> Ya, dan semakin banyak kawan dari daerah lain semakin tahu bahwa masih banyak lagi akar2 tersebut yang superkeren. Inilah Indonesia kita ^_^

  3. Wah, selamat Daeng :)) Saya pernah ikut talk show di Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP) beberapa tahun yang lalu, dimana Daeng Gegge ini jadi salah satu pembicaranya.

    >> Aduh, asyik ya kalau dapat banyak ilmu langsung dari pakarnya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s