Nenek Mallomo, Lelaki Itu, dan Sepotong Kayu yang Bersandar

Kerajaan Sidenreng yang dikenal sebagai kerajaan yang sangat subur tiba-tiba tandus karena kemarau berkepanjangan. Tanah retak menganga menunggu curahan hujan, hewan ternak kurus kering, rakyat nelangsa tak berpenghasilan. Raja La Patiroi kemudian memanggil Nenek Mallomo sebagai penasihat kerajaan Sidenreng. Nenek Mallomo adalah gelar dari nama aslinya La Pagala. Sesuai dengan namanya, Mallomo berarti memudahkan. Segala urusan akan terasa mudah jika Nenek Mallomo turun tangan.

Segala urusan? Ternyata tidak! Untuk kemarau, itu adalah urusan langit. Secerdas apapun Nenek Mallomo, dia tak bisa menurunkan hujan dari langit. Tapi sebagai penasihat kerajaan dia harus menemukan solusi untuk rakyatnya yang semakin menderita karena kekeringan. Pertemuannya dengan Raja La Patiroi kemudian membuahkan kesimpulan bahwa kerajaan dilanda kemarau panjang karena ada rakyat yang tidak jujur ataupun mengambil hak orang lain. Nenek Mallomo sebagai penasihat kerajaan yang saat itu posisinya sejajar dengan hakim, akhirnya memutuskan bahwa hukuman setimpal untuk orang yang menjadi penyebab kemarau itu adalah hukuman mati.

Kecerdasan Nenek Mallomo yang selama ini tak diragukan, kini diuji lagi dengan ujian keadilan. Anak lelakinya ternyata yang menjadi penyebab kemarau panjang selama ini. Anak lelakinya mengambil sepotong kayu yang bersandar. Ya, hanya sepotong kayu, tapi karena kayu itu adalah kayu yang bersandar, itu berarti bahwa kayu itu adalah milik orang lain. anaknya yang saat itu membutuhkan kayu untuk memperbaiki alat bajaknya merasa tidak mencuri dengan mengambil kayu yang bersandar itu. Tapi ternyata, lelaki dan kayu yang bersandar itu mendatangkan kemarau panjang dan menyengsarakan rakyat.

Sebagai hakim yang adil, Nenek Mallomo tetap mengikhlaskan anaknya untuk dieksekusi mati di depan pengawal kerajaan. Ade’ temmakkeana’ temmakkeappo. Hukum adat tak mengenal anak dan cucu, demikian prinsip hidup Nenek Mallomo. Hukum pancung digelar dan begitu darah menetes dari tubuhnya, hujan pun datang membasahi dan menyuburkan kembali Kerajaan Sidenreng. Hingga kini Kabupaten Sidenreng Rappang yang biasa disebut sebagai Bumi Nenek Mallomo, dikenal sebagai lumbung padi Sulawesi Selatan.[]

NB: Ini adalah karya S. Gegge Mappangewa yang per hari ini dinobatkan sebagai Juara 1 Lomba Penulisan Cerita Rakyat 2015.

Advertisements

3 thoughts on “Nenek Mallomo, Lelaki Itu, dan Sepotong Kayu yang Bersandar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s