Gerakan Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat

Gunakan obat secara tepat
Baca informasi dengan cermat
Belilah Antibiotik hanya dengan resep dokter

Masih terlihat jelas dalam ingatan, sosok itu berlari menembus kegelapan malam. Hanya ditemani suara malam. Hewan-hewan yang entah, dan gemeretak batang bambu atau pergesekan daun yang dihembus angin. Suara yang entah mana sering disebut oleh warga sekitar sebagai suara kunti. Wallahu’alam. Suara tapak-tapak kaki bergerak dengan cepat. Menuju sebuah rumah gubuk. “Ada anak kecil yang step!” Begitu jelas seorang kawan menjelaskan, awalnya. Langkah kakinya semakin dipercepat. Suara tangisan terdengar makin jelas. Asalnya dari dalam gubuk.

Saat masuk ke dalam gubuk tersebut, sosok itu langsung menempelkan tangannya ke dahi sang anak. Benar, panas tinggi. Tangisannya kadang terhenti hanya untuk menggeremetakkan gigi. “Ada apa aja?” Kawan-kawan satu profesi segera memeriksa persediaan obat. “Hanya parasetamol!” Harus berpikir cepat. Tak lama, diambilnya satu parasetamol lalu membaginya menjadi empat bagian. Seperempat bagian langsung digerus dengan cara menggunakan dua sendok. Tidak ada mortar. Setelah jadi bubuk halus, langsung dilarutkan dengan air. Kalau ada madu bisa ditambahkan, tetapi di desa terpencil segalanya terbatas. Obat tersebut langsung diminumkan pada sang anak. Paling tidak ini pertolongan pertama agar panasnya bisa turun. Bismillah.

Event-42Sosok itu menghembuskan nafas panjang … kisah di atas benar-benar terjadi beberapa belas tahun lalu, saat dirinya masih menjadi mahasiswa farmasi. Dirinya bersama puluhan mahasiswa lainnya menjalani aktivitas Farmasi Pedesaan di sebuah desa terpencil. Tanpa fasilitas listrik dan infrastruktur yang buruk sekali. Bahkan, dua bulan sebelum ke sana, harus membangun kamar mandi dan toilet yang dianggap higienis. Kalau mau mandi, harus sebelum subuh kalau tidak mau diintip. Itu juga tidak menjamin karena ada ternyata ada kejadian kawan perempuan yang suka diintip. Begitulah. Nah, berdasarkan kisah di atas, sampai saat ini, sekarang, di zaman yang sudah dibilang maju secara teknologi, ternyata masih saja banyak masyarakat yang tidak terlalu paham tentang obat. Bagaimana mendapatkannya? Bagaimana cara memilihnya? Bagaimana cara memakainya? Termasuk bagaimana cara membuang obat sisanya?

Tahu gak sih bahwa ternyata ada lebih dari 50% penggunaan obat di dunia itu tidak rasional. Ini menurut data dari WHO, lho. Angka tersebut bahkan menggunakan resep yang artinya sudah disetujui oleh para dokter. Pada akhirnya, kalau obat sudah digunakan secara tidak rasional, maka hasil terapi akan menjadi kurang efektif dan efisien. Salah satu contoh penggunaan obat yang tidak rasional adalah penggunaan antibiotika. Kalau di Indonesia sendiri bahkan 86,1% antibotika yang digunakan masyarakat diperoleh tanpa resep. Hiii … ngeri. “Untuk itulah Kementerian Kesehatan membuat suatu gerakan nasional yang dinamakan Gerakan Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat atau GeMa CerMat,” ujar Drs. Bayu Teja M., M.Pharm, MM, Direktur Bina Pelayanan Kefarmasian Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan. Untuk sosialisasi di pameran tadi pagi, Erie Gusnellyanti, Apt, MKM ditunjuk sebagai ketua panitia.

Event-43

Definisinya kurang lebih begini, GeMa CerMat ini adalah upaya bersama antara pemerintah dan masyarakat melalui rangkaian kegiatan dalam rangka mewujudkan kepedulian, kesadaran, pemahaman dan keterampilan masyarakat dalam menggunakan obat secara tepat dan benar. Sasarannya tentu adalah masyarakat dengan melibatkan lintas sektor dan lintas program, organisasi profesi farmasi dan organisasi profesi kesehatan lainnya, perguruan tinggi, akademisi, LSM, tokoh agama, tokoh adat, serta elemen-elemen lain yang ada di masyarakat. Tujuan utamanya tentu agar masyarakat menjadi paham tentang penggunaan obat secara rasional. Contohnya gimana? Misal kalau diberikan obat dengan resep tiga kali sehari maka tidak diminum pada pagi, siang, dan sore saat jam makan pada umumnya. Tapi harus dihitung per jamnya dengan tepat. Pagi pukul 6, siang pukul 13.30, dan malam pukul 21. Jarak antara dua pemberian obat adalah 7,5 (tujuh setengah) jam. Kalau malam ke pagi tidak masalah waktunya menjadi 9 jam karena kerja metabolisme tubuh saat istirahat di malam hari cenderung lambat.

Event-44

YANG HARUS DIKETAHUI TENTANG OBAT

Obat itu seperti dua sisi mata uang. Bisa menjadi madu dan bisa menjadi racun. Bisa menyembuhkan dan bisa menyebabkan kematian. Dari sisi istilah atau jenisnya, obat terbagi menjadi obat generik dan obat bermerek. Kandungan zatnya sama tetapi obat generik lebih terjangkau harganya karena tidak memerlukan biaya membuat merek dagang. Contohnya saat peserta undangan Talkshow Sosialisasi GeMa CerMat di JIEXPO Hall C Kemayoran—yang menghadirkan dr. Purnawati Sujud, SpA(K), MMPED dan Dra. Azizahwati, M.S, Apt. dengan moderator Mira Sahid—diminta untuk menunjukkan beberapa jenis obat. Di sana ada Panadol (obat bermerek) yang memiliki kandungan 500mg paracetamol dan ada pula Paracetamol (obat generik) yang sama-sama memiliki kandungan 500mg paracetamol.

Dari sisi bentuk sediaan, obat terbagi menjadi bentuk cair (sirup), bentuk setengah padat (salep), bentuk gas (inhalasi), dan bentuk padat (tablet). Dari sisi penggunaan, obat terbagi menjadi obat dalam dan obat luar. Dari sisi penandaan, obat terbagi menjadi obat bebas (tanda lingkaran hijau), obat bebas terbatas (tanda lingkaran biru), obat keras (tanda lingkaran merah dengan huruf K), obat psikotropika (tanda lingkaran merah dengan huruf K), dan obat narkotika (tanda lingkaran putih dengan palang merah). Ada beberapa hal yang harus diketahui tentang obat, yaitu bahwa obat memiliki komposisi berupa informasi zat aktif yang ada di dalamnya, indikasi berupa informasi khasiat obat, aturan pakai, waktu minum obat, efek samping obat, dan kontra indikasi. Pelajari semuanya agar tidak salah dalam menggunakan obat.

Event-45

Lalu bagaimana cara menggunakan antibiotik? Jenis obat inilah yang sering disalahgunakan karena masyarakat tidak begitu paham bagaimana cara menggunakannya. Prinsipnya begini … gunakan antibiotik hanya dengan resep dokter bukan beli sendiri, tanyakan pada dokter mana obat yang mengandung antibiotik, obat antibiotik harus diminum sampai habis walaupun gejala sakit sudah hilang, jangan pernah menggunakan atau membeli antibiotik dengan resep lama, jangan menggunakan antibiotik yang diresepkan pada orang lain. Jadi sekali lagi … gunakan obat secara tepat dan baca informasi dengan cermat. Belilah Antibiotik hanya dengan resep dokter dan selalu tanyakan pada apoteker tentang informasi penggunaan obat.[]

Advertisements

4 thoughts on “Gerakan Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat

  1. Saya selalu suka dengan tulisan-tulisan Bang Aswi.
    Sangat lengkap dan informastif. Senang membacanya.
    Terima kasih sudah mau berkenalan dengan Saya 🙂

    >> Alhamdulillah kalau suka, Mbak.
    Sila kontak saya kalau memang diperlukan hehehe….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s