Bagaimana Cara Mencari Migas?

Mengelola sebuah rumah itu tidak mudah
Ada bagian-bagian yang harus dikelola sendiri
Tidak boleh saling sikut, tapi cukup
dengan mengawasi dan mendukungnya

SKKMigas-01

Netizen sedang Ngobrol Bareng Humas SKK Migas

Apa yang diketahui oleh sosok itu tentang SKK Migas? Tidak banyak. Kurang lebih sama dengan mayoritas orang awam lainnya bahwa yang berhubungan dengan kata ‘migas’ ya tidak jauh dengan istilah minyak dan gas. Artinya … organisasi ini bertanggung jawab terhadap pencarian, pengadaan, dan pengawasan minyak dan gas yang ada di Indonesia. Hanya itu. Dia tidak paham secara menyeluruh bagaimana kerja dan kinerja seutuhnya. Terlalu rumit dan mungkin tidak mau tahu. Untunglah pada hari Jumat kemarin (4/12) dia diberi kepercayaan diundang oleh Humas SKK Migas bersama para blogger lainnya dalam sebuah acara bertajuk “Ngobrol Migas Bareng Netizen” di Restoran Kembang Goela, Plaza Central, Jakarta. Sebuah kesempatan yang tidak boleh disia-siakan. Turut hadir dari #BloggerBDG adalah partner in crime-nya, Nchie Hanie.

SKKMigas-02Indonesia adalah sebuah rumah yang luas. Itulah kalimat pertama yang diinformasikan dalam sebuah infografis saat sosok itu memasuki ruangan di Kembang Goela. Lebih lanjut, di dalam sebuah rumah terdapat bagian yang cukup private (pribadi). Inilah bagian yang menghasilkan energi baru bagi seluruh rumah. Bagian yang disebut dapur. Nah, di dalam rumah bangsa Indonesia, Sektor Hulu Minyak dan Gas Bumi Nasional adalah Dapur Negara. SKK Migas adalah Head Chef (pemimpin dapur) yang tugasnya memastikan semua proses di dapur berjalan sebagaimana mestinya. Sedangkan Perusahaan Migas adalah Juru Masaknya. Tugasnya adalah bekerja mengolah bahan masakan sehingga bisa dinikmati oleh seluruh rumah. Sampai di sini insya Allah paham, ya. Bagi sosok itu, informasi ini jelas memberikan wawasan baru tentang tugas dan fungsi SKK Migas dan Perusahaan Migas. Bungkus.

Apa yang terjadi di dapur? Jelas ada proses memasak di sana. Proses ini adalah proses yang panjang. Perlu kegigihan dan perjuangan para juru masak. Perlu kesabaran dan kepercayaan dari penghuni rumah. Oleh karena itu di sana juga terjadi proses belajar, yaitu dengan cara menyerap tenaga kerja lokal. Lalu, apa yang terjadi di dapur? Jelas ada proses pengawasan agar proses memasak dan proses belajar berjalan sebagaimana mestinya. SKK Migas mengawasi dan memastikan agar semua proses yang terjadi di dapur berjalan dengan baik. Dapur ini adalah sebuah dapur raksasa di dalam rumah Bangsa Indonesia. Lihat saja bahwa nilai pengadaan tahun 2014 sudah mencapai US$ 17,35 miliar atau setara Rp 235,9 triliun dengan tingkat kandungan dalam negeri sebesar 54%. Partisipasi BUMN  periode 2010-2014 sebesar US$ 4,507 miliar atau sebesar Rp 61,3 triliun. Penerimaan Negara di Sektor Minyak dan Gas Bumi Nasional 2014 adalah sebesar Rp 345 triliun, sedangkan belanjanya mencapai Rp 209 triliun dengan menyerap tenaga kerja sebanyak 899.400 orang. Wow!

MARI BELAJAR GEOGRAFI

Pak Elan Biantoro, Kepala Bagian Humas SKK Migas, bercerita tentang pelajaran geografi. Mengapa? Karena dari sanalah awal mula adanya minyak dan gas bumi. Paling tidak ini untuk menyegarkan otak yang sudah mulai kaku. Bumi ini luas. Jauh lebih luas dari negara Indonesia. Namun Indonesia masih luas jika dibandingkan dengan dimana kita tinggal saat ini. Bandung? Jakarta? Di mana saja. Tetapi apakah memang seperti itu? Tidak juga. Bumi masih lebih kecil jika dibandingkan dengan Planet Jupiter, bahkan begitu teramat kecil jika dibandingkan dengan Matahari. Dan kalau mau tahu, tata surya yang berisi 9 planet dan 1 matahari ini masih begitu kecil jika dibandingkan dengan tata surya lainnya yang masih di dalam Galaksi Bima Sakti. Di luar sana masih banyak lagi galaksi-galaksi lainnya yang jauh lebih besar dibanding Bima Sakti. Jadi, apalah manusia di tengah langit yang mahaluas ini? Nothing. Tapiii … manusia diajarkan untuk bersyukur. Salah satunya tentu dengan memanfaatkan kekayaan bumi yang dipijaknya.

SKKMigas-03

Pak Elan Biantoro yang komunikatif

Oke, fokus dikecilkan pada sebuah negara bernama Indonesia. Negara ini memiliki pulau terbanyak di dunia dan garis pantai terpanjang di dunia. Wow! Lalu bagaimana dengan keanekaragaman hayatinya? Don’t ask. Lebih luar biasa lagi. Apalagi jika waktunya dimundurkan beberapa jutaan tahun lalu. Ini amat berhubungan. Indonesia berada di Eurasian Plate dimana terdapat garis Sunda Trench yang memunculkan gunung-gunung api di sepanjang Pulau Sumatera, Pulau Jawa, hingga Nusa Tenggara. Begitu pula dengan yang ada di Pulau Kalimantan, Pulau Sulawesi, Kepulauan Maluku, hingga ke Irian Barat. Struktur pegunungan yang menjadi pasak bagi lempeng-lempeng yang ada di bawahnya itulah (yang cenderung bergerak perlahan) yang menghasilkan minyak dan gas. Minyak sering disebut crude oil (petroleum). Petroleum berasal dari kata Petra (batuan) yang merupakan bahasa Latin dan Oleum (minyak) yang merupakan bahasa Yunani. Petroleum = minyak batuan. Nah, minyak-minyak ini memang berkumpul di antara bebatuan di dalam tanah, di antara pori-porinya.

Masih ingat, kan, dengan pelajaran SD? Bahwa minyak dan gas bumi itu berasal dari sisa organisme, baik hewan dan tumbuh-tumbuhan, yang telah mati dan diendapkan di dasar laut atau danau berjuta-juta tahun lalu. Mereka semua terkubur di dalam batuan sedimen berbutir halus (lempungan). Oleh karena pengaruh temperatur dan tekanan, unsur hidrogen dan karbon dari material organik tersebut akan berubah menjadi minyak dan gas. Itulah asal usul terbentuknya minyak dan gas bumi. Minyak bumi berada pada kedalaman 4000 meter di bawah permukaan tanah. Tentu tidak mudah mendapatkannya. Lalu caranya gimana? Para ahli kemudian menggunakan foto satelit (udara) dan barulah dievaluasi. Ahli geologi memang bekerja seperti seorang detektif. Cara lainnya adalah dengan cara geofisika, misalnya metode seismik. Metode seismik itu seperti menciptakan gempa buatan dan kemudian mencari getaran pantulan yang ditangkap oleh geophone. Itu pun baru perkiraan, jadi belum pasti apakah lokasi yang diincar ada banyak migas atau tidak.

SKKMigas-04

Pak Elan menambahkan kadang-kadang juga perlu bertanya pada ahli paranormal dari penduduk setempat. Mungkin ini sebagai bentuk penghargaan. Survey dan penelitian itu bisa berlangsung selama 6-10 tahun yang dilakukan oleh Perusahaan Migas (investor), bukan dari pemerintah. Mengapa? Karena itu proyek mahal yang penuh resiko. Perlu keahlian/keterampilan dan teknologi yang begitu tinggi. Setelah yakin, barulah dibuat sumur. Dan ternyata, tidak semua sumur pengeboran itu menghasilkan migas yang diharapkan. Rasio keberhasilannya adalah 3:7. Artinya dari 10 sumur pengeboran yang dibuat, hanya 3 sumur yang menghasilkan minyak. Kalau sudah berhasil menemukan migas, investor langsung menghubungi pemerintah untuk dibuatkan surat perjanjian, untuk pembagian keuntungan. Jangka waktunya pun lama, sampai sekira 30 tahun. Dari semua proses itu terlihat betapa tidak mudahnya mencari emas hitam alias minyak bumi. Rumit dan mahal. Perlu ada kerjasama antara Head Chef dan Juru Masaknya.

SKKMigas-05

EVALUASI

Sebagai masyarakat, tugas blogger tentu harus bisa mengawalnya. Caranya bisa dengan menyebarkan informasi yang benar pada masyarakat luas. Tidak menyebarkan informasi yang salah dan malah menimbulkan perpecahan. Kalau pun ada kesalahan biasanya memang disebabkan oleh beberapa orang yang khilaf. Tugas masyarakat dan penegak hukumlah yang mengingatkannya. Sosok itu sendiri mengakui bahwa dirinya juga sering salah. Namun cara terbaik untuk memperbaikinya adalah dengan terus berkarya yang baik dan tidak mengulangi kesalahan kembali. Kalau sebuah badan atau organisasi tentu tidak seperti itu, tetapi konsepnya tetap sama. Siap menjadi pengawas yang baik? Der ah![]

Advertisements

One thought on “Bagaimana Cara Mencari Migas?

  1. Duh dulu pelajaran geografi paling males, banyak apalag ngak jelas hahaha

    >> Gak masalah, buktinya sekarang malah eksis sebagai petualang. Jadi … pelajaran geografi diserap dengan cara mencari tahu langsung hehehe….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s