Yuk, Mengenal Tas Winchester Bandung

Apa yang terbayang saat mendengar kata ‘Winchester‘? Jelas, sebuah kata asing. Kata yang tidak mungkin lahir dari bumi Indonesia, apalagi Bandung. Kalau cari di mesin pencari, maka kata tersebut begitu lekat dengan semua merek senapan api. Wow?! Tapi, itulah kenyataan yang terjadi. Winchester City sendiri adalah nama sebuah kota di Inggris. Nah, senapan api tersebut memang lahir dan berkembang di Winchester City. Bisa jadi, atas dasar itulah Francisco atau biasa disapa Frans—pemuda berkacamata asal Bandung—menggunakan nama Winchester untuk menjual produk-produknya yang berbahan dasar kulit. Yup, sosok itu akan bercerita tentang Tas Winchester Bandung yang asli dibuat tanpa menggunakan mesin (handmade).

Produk-01

Kisah ini memang kisah lama, terjadi pada beberapa bulan lalu, tepatnya pada Jumat malam (2/10/2015) pas sebelum sosok itu akan berangkat ke Jepang. Kisah lama, tapi sayang kalau tidak dijadikan postingan. Apalagi mengingat tidak banyak yang mengetahui tentang produk kulit asli dari Bandung ini. Dia sudah bertekad untuk mengangkat produk Bandung yang sudah Go International. Malam itu kebetulan agar berangin, sehingga sosok itu harus berjaket tebal meski waktu belum beranjak jauh dari Maghrib. Jalan raya tidak terlalu padat, tapi masih ramai lancar. Tidak butuh terlalu lama untuk sampai di Jl. Progo, daerah terkenal dengan wisata kulinernya, terletak di belakang Gedung Sate, pas di samping toko foto ternama. Tujuannya adalah sebuah tempat nongkrong menengah ke atas yang salah satu sajian khasnya adalah pizza, Rocca.

Sampai di sana, setelah parkir, ada sosok perempuan yang begitu dikenalnya. “Halooo, Neng Geulisss. Baru sampai?” ujarnya menegur ramah. “Haiii … Abang. Baru sampai?” jawabnya terkejut dan langsung tersenyum. Sosok itu mengangguk. Dengan kerudung bercorak papan catur dan kaos yang bertuliskan ‘Nu Gaduh Bandung’, perempuan berkulit putih plus bertahi lalat di dagu sebelah kanan itu menjawab, “Iya, langsung dari kantor.” Pas berbarengan sampai rupanya, tidak disengaja. Dia dan Nchie kemudian berjalan masuk ke dalam kafe yang belum terlalu ramai itu. Asli, tempatnya asyik banget buat nongkrong. Adegan foto-foto pun berlangsung begitu saja, mengalir tanpa ada yang meminta. Sudah kebiasaan. Banci foto. Ya, siapa tahu itu adalah kesempatan terakhirnya bisa mampir ke sana #eh. Soalnya dia pernah ke sebuah restoran, dan sebulan kemudian tempat tersebut sudah tidak ada. Tuh, kan?

Produk-02
Ada yang sibuk dengan gadgetnya, ada yang benar-benar menikmati

TAS WINCHESTER BANDUNG

Sampai di ruangan dalam, Frans langsung menyapa hangat. Begitu pula dengan para #BloggerBDG yang sudah hadir. Total setelah datang semua, mereka adalah Nchie, Kang Fajar, Tian, Madam Vivera, Ali Muakhir, Ade Truna, Widya, Evi, Mas Suro, Kang Agus Herry, plus Kang Argun. Asyik ya jadi blogger, bisa kopi darat (kodpar) mempererat silaturahmi sambil ngopi-ngopi? Alhamdulillah. Silaturahmi memang mempererat semuanya, baik hati maupun rezeki. Semoga keberkahan menyertai semua perjalanan hidup masing-masing orang yang mau menjalin tali silaturahmi. Amin. Pada akhirnya, makan-makan adalah sarana yang menyenangkan, apalagi menu pizza yang beraneka ragam. Untung Nchie gak doyan #eh.

Produk-03
Yummy! Pizza jamur yang begitu menggugah selera

Cerita pun mengalir dari lidah Frans. Sebuah cerita kebahagiaan bagaimana Frans kecil bisa menikmati sekolah tingkat SMP/SMA di Singapura, berkawan dengan beberapa anak konglomerat. Namun itu tidak berlangsung lama, karena setelah mengenyam bangku perkuliahan orangtuanya langsung memberikan pelajaran luar biasa. Uang saku di-stop secara bertahap. Meski kuliah di Seatlle AS dengan mengambil bidang marketing dan keuangan, ia pun harus nyambi menjadi satpam, sopir truk, atau bahkan penjaga toko. Semua dilakukan demi menyambung hidup. Awalnya berat, tapi ia tidak pernah protes. Inilah kebijakan sang ayah yang membuatnya jauh lebih struggle. Hal itu pun dibuktikan saat memulai bisnisnya dengan menjual box tissue. Semua itu dijalaninya dengan penuh kesungguhan.

Hingga akhirnya, ia pun memilih untuk memulai bisnis perkulitan. Dimulai dari dompet, gantungan kunci, hingga merambah ke tas. Ia pelajari dengan seksama, termasuk mesin yang digunakan. Dunia perkulitan pun dipelajari secara detail. Bagaimana proses penyamakannya, cara menjahitnya, hingga menjadi sebuah produk yang layak jual. Tidak mudah dan bukan waktu sebentar. At last, ia pun hanya menggunakan kulit sapi asli yang didatangkan dari Garut dan Australia. Untuk kulit lainnya seperti buaya, ia harus impor. Kulit buaya ini biasanya diambil dari buaya yang memang sengaja diternakkan, jadi bukan buaya liar. Mengapa harus impor? Ia mengakui bahwa kualitas kulit impor memang masih jauh lebih baik daripada produk lokal. Ia tidak bisa menafikan meski kepengennya adalah 100% produk lokal. Ia hanya ingin menjaga kualitasnya dan memuaskan konsumen. Ia juga turun tangan dengan mendesain sendiri beberapa produknya. Nah, dari sinilah ia melahirkan sebuah produk Tas Winchester Bandung.

Produk-04

KEUNTUNGAN MEMBELI TAS WINCHESTER BANDUNG

Meski ayahnya adalah seorang pengusaha yang sukses, ia tidak ingin jalan mudah. Ya, ayahnya adalah pemiliki Gudang Jam yang iklan-iklannya tersebar di berbagai titik di Bandung. Hampir di tiap perempatan jalan bahkan nama itu selalu ada bersama logo polisi di sebuah pembatas jalan. Frans tidak ingin mendompleng ketenaran bisnis ayahnya. Meski sementara ini tas/kulit Winchester Bandung masih menumpang di Toko Gudang Jam, tetapi secara bisnis semuanya dikerjakan sendiri. Ia yakin, meski butuh waktu lama agar bisa kembali modal, selama dijalankannya dengan penuh cinta, pasti akan berhasil pada waktunya. Ia memang mencintai bisnisnya, sama dengan rasa cintanya pada tas kulit.

Untuk itulah ia terus melakukan beberapa terobosan baru untuk memajukan bisnisnya. Diutak-atik hingga menghasilkan formula yang pas. Beberapa di antaranya adalah seperti yang dituliskan di bawah ini. Memang, inilah beberapa keuntungan yang didapatkan konsumen jika membeli Tas Winchester Bandung, yaitu:

  1. Mereka menerima pesanan khusus seperti menggunakan nama sendiri. Tentu lebih keren, dong, membawa tas atau dompet kulit berkualitas internasional dengan nama sendiri. Frans menolak jika ada yang memintanya membuat nama yang sama dengan merek terkenal. Itu penipuan.
  2. Mereka selalu memperhatikan kenyamanan. Misalnya saja untuk tali bagian pundak selalu menggunakan bahan yang lebih empuk agar pundaknya tidak terasa sakit.
  3. Konsumen juga bisa berhutang, lho. Caranya bagaimana? Pembayaran bisa dicicil menggunakan kartu kredit dengan bunga 0%. Asyik, kan?
  4. Mereka juga mempersiapkan garansi resleting yang rusak. Tapi tentu ada syaratnya, yaitu bukan karena kecelakaan. Yang pasti, ada syarat dan ketentuan-lah.
Produk-05
Asyik mendengarkan cerita Frans yang humble dan humoris

Sosok itu dan kawan-kawan #BloggerBDG merasa bersyukur bisa bertemu dengan Frans. Ia contoh pemuda yang tahan banting dalam berbisnis. Dia sendiri pernah bertemu dengan beberapa kawan yang serupa. Sebut saja Teh Eka yang memiliki bisnis Kaos Gurita, lalu ada Kang Gunarsah dengan Kedai Jengkolnya, atau Kang Eka yang memperkenalkan Chocodotnya. Ada banyak-lah. Alhamdulillah bisa menyerap ilmu yang luar biasa dari mereka semua. Salut untuk sang pemuda berkacamata asal Bandung, Francisco. Semoga Tas Winchester Bandung terus berkembang dan mengharumkan nama Bandung di kancah perdagangan internasional. Amin. Mangga kalau mau melihat beberapa produknya bisa mampir ke alamat atau menelepon nomor di bawah ini.

Gudang Jam
Jl. Ternate 29 / Jl. Riau 18
Telp./WA (022) 4237797 / 081320006579
http://www.2winchester.com

Advertisements

One thought on “Yuk, Mengenal Tas Winchester Bandung

  1. iya sosok Om Frans yang patut ditiru tuh, semangatnya, tahan bantingnya dalam memulai usaha.
    Ahh..Key Chainnya masih aku pake dengan setia tuh

    >> Yup, dalam berbisnis memang harus tahan banting ya, Nchie. Salut dan respek deh!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s