Kemajuan Teknologi Museum Diorama

Inilah (tanda) keperwiraan, keagungan, dan keberanian
yang sesungguh-sungguhnya dari raja dunia,
Yang Mulia Purnawarman, yang menjadi sekalian raja.

Jalan-08
Beberapa prasasti yang ada di Bale Prabu Maharaja Linggabhuwana

Begitulah terjemahan dari isi Prasasti Cidanghiang yang ditemukan di Munjul, Pandeglang. Sosok itu melihat dan membacanya dari sebuah museum yang tidak terlalu luas, namun memiliki teknologi yang jauh lebih maju dari museum-museum yang ada pada umumnya. Sebuah museum tentang sejarah keberadaan Kerajaan Sunda, keruntuhannya, lalu beralih ke masa setelah kerajaan, penjajahan Belanda, hingga masa kemerdekaan Bangsa Indonesia. Semua itu ada di museum yang letaknya di salah satu Gedung Kembar di Purwakarta, dengan nama Bale Panyawangan Diorama Tatar Sunda. Museum ini berada di gedung bagian selatan.

Mengapa dinamakan Gedung Kembar? Itu hanyalah sebutan masyarakat Purwakarta pada umumnya karena memang ada dua gedung dengan bentuk mirip, terletak tepat di depan gerbang Stasiun Purwakarta, masing-masing berada di sebelah utara dan di sebelah selatan. Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi kemudian pada 2011 menamakan dua gedung tersebut sebagai Gedung Nakula Sadewa. Berdasarkan Bratadidjaja (2005) dan Sumantapura (2005), pada perempat pertama abad ke-20 gedung di sebelah utara adalah Toko Sepatu “Janam”, sebuah toko sepatu milik seorang etnis Cina yang terbesar di Purwakarta. Sedangkan gedung di sebelah selatan pada masa penjajahan Jepang adalah Toko Peralatan Foto yang dimiliki oleh seorang etnis Jepang. Kemudian pada zaman revolusi kemerdekaan, gedung di sebelah utara difungsikan sebagai Markas BKR. Seiring dengan perkembangan zaman, dua gedung tersebut beralih fungsi sesuai kebutuhan pada zamannya.

Jalan-10
Raden Kian Santang yang berada tepat di depan Stasiun Purwakarta

BALE PANYAWANGAN DIORAMA

Nah, apa hanya Prasasti Cidanghiang saja yang ada di Museum Diorama? Tentu tidak. Sosok itu melihat ada sekira 12 prasasti di Bale Prabu Maharaja Linggabhuwana, salah satu ruangan yang terletak di bagian depan. Ruangan ini menjelaskan tentang Sejarah Tatar Sunda termasuk penjelasan singkat tentang museum itu sendiri. Tidak seperti museum yang ada di Indonesia pada umumnya—apalagi kalau dibandingkan dengan beberapa museum yang pernah dilihatnya di Bandung—arsip-arsip yang ada di Bale Panyawangan Diorama tidak lagi berupa lembaran naskah kertas, tapi sudah berupa arsip digital. Inti tentu saja dibuat agar pengunjung tidak merasa bosan dan jenuh saat mengunjunginya. Itulah mengapa prasasti-prasasti yang ada juga dilengkapi miniatur aslinya. Selain Prasasti Cidanghiang juga ada Tugu Batu Padrao, Prasasti Tugu, Prasasti Batu Tulis, Prasasti Ciaruteun, Prasasti Kebon Kopi, Prasasti Pasir Koleangkak, Prasasti Pasir Awi, Candi Segaran V, Prasasti Sang Hyang Tapak I-II, dan Prasasti Kawali I-V.

Untuk menuju ke Museum Diorama yang terletak di Jl. KK. Singawinata, Kampus Ceplak, Desa Nagri Kidul, Kecamatan Purwakarta, begitu mudah. Akses tercepat bagi orang luar kota adalah dengan mengambil patokan Stasiun Purwakarta karena museumnya sendiri berada tepat di depan gerbangnya, di sebelah kiri atau selatan. Sosok itu sendiri bersama Ulu (baca Kemolekan Taman Sri Baduga) setelah turun dari travel langsung menggunakan jasa angkot. Tinggal bertanya saja pada warga sekitar bagaimana menuju stasiun atau gedung kembar. Letaknya sendiri tidak jauh dari Situ Buleud alias Taman Sri Baduga. Kalau tidak mau naik angkot, silakan tawar-menawar harga sampai harga pas dengan tukang andong atau tukan becak. Tinggal pilih.

Jalan-09
2 teteh cantik ini akan menemani saat mengelilingi museum

Membaca dari salah satu batu yang ada di Bale Prabu Maharaja Linggabhuwana, museum tersebut diprakarsai oleh Bupati Puwakarta periode 2013-2018 dengan narasumber utama Prof. Dr. Hj. Nina H. Lubis, M.S. Museum Diorama dibagi menjadi 9 (sembilan) ruangan yang disebut dengan bale. Selain Bale Prabu Maharaja Linggabhuwana yang menyajikan sejarah Tatar Sunda, juga terdapat Bale Prabu Niskala Wastukancana, Bale Prabu Dewaniskala, Bale Prabu Ningratwangi, Bale Prabu Jayaningrat, Bale Prabu Ratudewata, Bale Prabu Nilakendra, Bale Prabu Surawisesa, dan Bale Ki Pamanah Rasa. Bale Prabu Niskala Wastukancana menyajikan hall of fame para pemimpin Purwakarta dari generasi pertama hingga saat kini. Bale Prabu Dewaniskala menggambarkan Purwakarta pada masa pengaruh Mataram, VOC, dan Hindia Belanda dalam rentang waktu 1620-1799.

Bale Prabu Ningratwangi menyajikan Purwakarta pada masa Hindia Belanda tahun 1800-1942. Bale Prabu Jayaningrat menampilkan gambaran Purwakarta pada masa pergerakan nasional dan masa pendudukan Jepang. Bale Prabu Ratudewata menyajikan keadaan Purwakarta pada masa kemerdekaan dan pasca kemerdekaan 1945-1950, dimulai dengan Peristiwa Rengasdengklok dan zaman Demokrasi Liberal 1950-1959. Bale Prabu Nilakendra menampilkan para Bupati dan aktivitas DPRD Kabupaten Purwakarta 1959-2008. Bale Prabu Surawisesa menampilkan aktivitas Bupati dan DPRD Kabupaten Purwakarta 2008-2018. Sedangkan Bale Ki Pamanah Rasa memberikan gambaran “Digjaya Purwakarta Istimewa 2008-2018”.

Jalan-11
Salah satu buku digital yang ada videonya

SEJARAH TATAR SUNDA

Jujur sosok itu adalah penyuka sejarah, apalagi bertemakan kerajaan. Itulah mengapa dia ingin berlama-lama di Bale Prabu Maharaja Linggabhuwana, meski ruangan tersebut terasa panas. Diceritakan di sana bahwa Tatar Sunda atau Tatar Pasundan adalah nama sebuah wilayah di Pulau Jawa yang keindahan alamnya tidak akan terlupakan dan dikenal dengan nama Priangan atau Parahyangan. Sejarah Tatar Sunda ini tidak terlepas dari pembentukan Pulau Jawa dari zaman Plestosen (1,8 juta tahun lalu) dimana saat itu masih bergabung dengan daratan Asia bersama Pulau Sumatera dan Kalimantan dengan nama Paparan Sunda (Sunda Shelf). Tatar Sunda sendiri diperkirakan sebagai kawasan tertua di Pulau Jawa sehingga kolonisasi manusia purba pertama di Pulau Jawa terdapat di daerah ini (usia lebih dari 1 juta tahun).

Kerajaan Sunda diyakini pertama kali dimulai dari Kerajaan Salakanagara pada abad ke-2 yang berpusat di sekitar Gunung Pulosari, Pandeglang, Banten. Kemudian dilanjutkan oleh Kerajaan Tarumanagara pada abad ke-5 yang membentang dari Cidanghiang (Banten) hingga Citarum. Pusat kerajaan sendiri diperkirakan di daerah sekitar Lagoa di Jakarta Utara atau di Bekasi. Pada masa ini, sudah ada kerjasama dengan Tiongkok menurut bukti yang ada pada Dinasti Soui dan Tang. Setelah berakhirnya masa Kerajaan Tarumanagara pada abad ke-7, muncullah Kerajaan Saunggalah di Kuningan dan Kerajaan Galuh di Ciamis. Pada masa inilah istilah Kerajaan Sunda yang sebenarnya mulai dikenal.

Jalan-13
Peta sebaran Kerajaan Sunda

Pada awal abad ke-8, Sanjaya yang memerintah Kerajaan Galuh menikah dengan putri Maharaja Trarusbawa yang memerintah Kerajaan Pakuan Pajajaran—yang berhasil melepaskan diri dari Kerajaan Tarumanagara. Setelah Maharaja Trarusbawa wafat, Sanjaya yang bergelar Maharaja Harisdarma kemudian menyatukan Galuh dan Pakuan menjadi Kerajaan Sunda. Pada pertengahan abad ke-14, Prabu Niskala Wastukancana memerintah Kerajaan Sunda yang berkedudukan di Kawali. Tak heran kalau namanya diabadikan di Prasasti Kawali I. Hingga akhirnya Kerajaan Sunda diperintah oleh Sri Baduga Maharaja, cucunya sendiri pada 1482-1521 dan mengalami masa keemasan. Pada masanya, kerajaan tersebut berkedudukan di Pakuan Pajajaran. Setelahnya masa-masa suram menghinggapi Kerajaan Sunda.

Penyebaran Islam semakin intensif, apalagi setelah Cirebon dipimpin oleh Sunan Gunung Jati. Dua pelabuhan utama Kerajaan Sunda berturut-turut jatuh ke tangan Cirebon, yaitu Banten (1526) dan Sundakalapa (1527). Kondisi tersebut kemudian diperparah dengan situasi internal Kerajaan Sunda. Prabu Ratudewata (1535-1543) yang menggantikan Prabu Surawisesa, lebih memilih menjadi Raja Pandita. Penerusnya malah hidup berfoya-foya dan bertindak semena-mena terhadap rakyatnya. Prabu Nusiya Mulya (1567-1579) pada akhirnya tidak dapat mempertahankan Kerajaan Sunda. Mereka kalah oleh pasukan gabungan Demak, Cirebon, dan Banten. Kerajaan Sunda berakhir pada tahun 1579. Meski sempat terjadi penyerahan mahkota Binokasih Raja Sunda kepada Prabu Geusan Ulun yang memerintah Kerajaan Sumedanglarang, ternyata tidak mengembalikan masa-masa keemasan Kerajaan Sunda karena pada akhirnya mereka kalah perang oleh Kerajaan Cirebon.

Jalan-12
Ulu sedang berselfie di depan tokoh Nakula-Sadewa

KEMAJUAN TEKNOLOGI MUSEUM DIORAMA

Secara keseluruhan, Museum Diorama memang berbeda dengan museum-museum yang ada pada umumnya. Mereka lebih mengedepankan arsip-arsip digital sehingga bisa dinikmati secara berbeda oleh para pengunjung. Salah satunya adalah buku digital yang bisa dibaca-baca dengan menggunakan piranti komputer, atau bahkan ada buka yang halamannya bisa dibuka tapi langsung menampilkan video yang pas dengan halaman tersebut. Begitupula dengan miniatur beberapa patung tembaga yang menggambarkan beberapa peristiwa yang berkaitan dengan tema setiap ruangan. Itulah yang disebut dengan diorama yang sering sosok itu lihat di Monumen Nasional (Monas).

Salah satu ruangan yang unik menurut sosok itu adalah beberapa patung wayang yang ada di Bale Ki Pamanah Rasa. Beberapa tokoh pewayangan yang tidak asing adalah Raden Arjuna, putra dari pasangan Dewi Kunti dan Batara Indra, yang sering disebut sebagai Ksatria Panengah Pandawa. Lalu ada Raden Werkudara atau Bima. Ada Semar yang merupakan putra Sang Hyang Wisesa dengan gelar Batara Semar atau Batara Ismaya. Dan yang tidak boleh dilupakan adalah Astrajingga yang biasa dikenal dengan Si Cepot, adalah anak pertama dari pasangan Semar Badranaya dan Sutiragen.

Jalan-14

Pada bagian akhir dari Museum Diorama terdapat Teater Mini yang menyajikan film biografi Kota Purwakarta. Beberapa tempat wisata ditunjukkan dengan sangat indahnya meski terdapat kekurangan dalam hal pengambilan gambar dan pengeditan. Begitupula dengan wisata bersepeda dengan tiga monitor besar di hadapannya. Pengunjung dapat bersepeda statis yang menggunakan sepeda tua (onthel) sehingga video berputar dan seolah-olah diajak berkeliling Purwakarta. Namun lucu juga saat gambar mulai menaik sebagai bukti bahwa pengambilan video menggunakan drone. Masa naik sepeda bisa terbang? Hehehe … tapi itu bisa dianggap sebagai hiburan belaka. Asli, masih banyak kisah yang belum ditulisan dari Museum Diorama itu. Masih penasaran?[]

Advertisements

9 thoughts on “Kemajuan Teknologi Museum Diorama

  1. saya paing suka yang halaman dibuka langsung ada video sama sepeda, dan tentu saja pegawai museum yang cantik bang

    Oh yah bang, yang Bale Prabu Nilakendra kan nampilin bupati tuh seperti yang ditulis juga sama bang aswi, ga difoto bang? itu bagus sih

    >> Tapi lama-lama berkeringat juga ya, Kang, naik sepedanya hehehe….

  2. wah, berkali2 ke purwakarta, cuma mengunjungi sate maranggi doang 😀
    klo ke purwakarta lagi, mesti main ke sini nih

    >> Ya iyalah harus mampir. Jangan cuma makan doang hehehe….

  3. Duh, sebagai penyuka sejarah kerajaan2 juga, saya jadi penasaran bgt pengen kesana….
    Keren bgt bang aswi ceritanya 🙂

    >> Itu juga tahu ceritanya setelah ke sana, Rat. Yuk ke sana bareng2….

  4. penasaran, jadi pengen masukin ke list kunjungan edukasi bocah

    >> Iya, harus masuk list karena mayoritas yang datang ke sana memang anak2. Belajar sambil bermain tentu menyenangkan ^_^

  5. Penampakan fotonya ini semua isinya “teteh-teteh” hahaha…
    Aku pengen ke Purwakarta, tapi kenapa selama ini cuma ngelewat di tol ajah #hix.. (terus curcol lagi belom kesampean makan Sate Maranggi #kode) hahaha…
    Ajak aku bang, ajakkkkkkk XD~~~~

    >> Hahahaha … soalnya kalau foto saya bakal bikin jeblok ranking blog ini ^_^
    Itulah, jangan melulu lewat tol, kan bisa belok dan keluar lewat pintu Jatiluhur. Hayuk atuh bareng2….

  6. Wahhh kereeeennnn..
    Iya bang, saya juga pernah lihat ke beberapa museum, sekarang sudah pakai tv sebangai pengantarnya 😀

    >> Pengen semua museum di Indonesia berteknologi tinggi dan membuat pengunjung (terutama) anak-anak menjadi betah ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s