Menyemai Kampung Andir, Melebur di Legok Barong

Kita saksikan
Gunung memompa abu
Abu membawa batu
Batu membawa lindu
Lindu membawa longsor
Longsor membawa air
Air membawa banjir
Banjir membawa air

air
mata

~ Membaca Tanda-Tanda (Taufiq Ismail, 1982)

Pak Endang merasakan pergerakan yang aneh di bawah kakinya. Seolah-olah bumi sedang bergerak dengan sendirinya. Sadar akan bahaya yang akan menghampiri keluarga, dengan gerak cepat ia pun langsung menyuruh seluruh anggota keluarganya ke luar rumah. Sekali melirik sambil menggendong anak bungsunya, tampak jelas beberapa dinding rumahnya yang mulai retak. Di tanah lapang yang agak luas, meski hujan, beberapa warga juga terlihat berkumpul. Mereka menyebar mencari tempat perlindungan. Hingga kemudian seorang yang dianggap pemimpin mengajak seluruh warga untuk menuju ke satu tempat yang aman. Keesokannya harinya, bencana itu terjadi. Longsor menghancurkan hampir semua rumah di Kampung Cilawang, Desa Cianting, Kecamatan Sukatani, Kabupaten Purwakarta.

Itulah kejadian yang tak pernah dilupakan oleh Pak Endang pada Maret 2014. Pada akhirnya, Pemkab Purwakarta pun merelokasi 66 rumah penduduk Kampung Cilawang dengan anggaran sebesar Rp1,4 miliar. Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi sendiri menyatakan bahwa kampung tersebut sudah tidak layak untuk ditempati. Alasannya karena kampung tersebut berada di wilayah yang gerakan tanahnya tinggi dengan intensitas longsor tinggi jika diguyur hujan deras. Kepala Dinas ESDM Kabupaten Purwakarta, Wawan Tarsamana Setiawan mengatakan, setelah diteliti ternyata longsor tersebut disebabkan alih fungsi lahan di daerah hulu. Jika dulu tempat tersebut ditumbuhi oleh pohon-pohon keras maka warga sekitar kemudian menggantikannya menjadi perkebunan. Jadi, ketika hujan turun tak ada pohon yang bisa menahan air. Karakter tanah pun berubah menjadi gembur sehingga tidak kuat menahan arus air.

Jalan-15

MENYEMAI KESABARAN DI KAMPUNG ANDIR

Dan di sinilah Pak Endang, sebuah kampung baru yang diberi nama Kampung Andir. Namun saat sosok itu (beserta rombongan yang diantar oleh Ajudan Bupati Purwakarta) bertanya pada warga di sekitar jalan besar tentang keberadaannya tidak ada yang tahu. Setelah dijelaskan, barulah mereka paham bahwa yang dimaksud adalah Kampung Baru. Ya, Kampung Andir memang didirikan di atas lahan baru, masih berlokasi di Desa Cianting, Kecamatan Sukatani, Kabupaten Purwakarta. Jika jarak Kampung Cilawang dari jalan besar adalah sekira 7 km dan harus menggunakan jasa ojek dengan ongkos 30 ribu rupiah, maka Kampung Andir hanya berjarak kurang dari 1 km dari jalan besar. Keunikan dari Kampung Andir yang berjumlah 66 rumah ini adalah bentuknya yang khas rumah Sunda. Rumah panggung dengan dinding dari anyaman bambu dan beratapkan ijuk. Dari kejauhan, kampung ini terlihat indah dan menawan. Saat itu hari Minggu (10/1/2016), pagi makin memanas karena sudah beranjak menuju siang.

Pak Endang sendiri termasuk orang pertama yang pindah ke Kampung Andir, artinya baru 8 bulan ia menempati rumah barunya. Meski lebih suka tinggal di Kampung Cilawang, tapi demi keselamatan keluarganya, ia pun memutuskan untuk segera pindah. Apalagi memang perlu biaya besar untuk membangun kembali rumahnya yang sudah hancur terkena longsor. Ia sudah memiliki 5 orang anak dan masih kecil-kecil. Pekerjaan sebagai tani pun ditinggalkan dan memulai hidup baru dengan bekerja sebagai buruh di Jakarta dan sekitarnya. Cukuplah baginya mendapatkan honor 100 ribu per hari untuk kehidupan keluarganya. Ia menjadwalkan untuk pulang kampung paling cepat ya sebulan sekali. Kalau pekerjaannya tidak bisa ditinggalkan, bisal lebih dari dua bulan ia baru bisa pulang. Ia telah memiliki warung sederhana di depan rumahnya, juga panggung besar sebagai tempat keluarganya berkumpul atau menerima tamu.

Jalan-16

Jalan-17

Rumah-rumah beratap ijuk khas rumah Sunda zaman baheula memang menjadi magnet bagi sosok itu atau Ulu yang orang kota. Tapi bagaimana dengan warga Kampung Cilawang? Pak Endang mengaku bahwa dirinya jika disuruh memilih, pasti akan tetap pada rumahnya yang longsor. Ya, tentu lebih enak tinggal di sebuah rumah berdinding bata. “Atap-atap injuknya bararocor,” ujar Pak Endang memandang ke atas. Sosok itu kemudian memperhatikan rumah-rumah yang ada di bagian bawah. Benar, di antaranya sudah dilapis dengan plastik, sebagai bukti bahwa rumah tersebut bocor kalau hujan turun. Jalan memperhatikan beberapa rumah, tampak masih kosong. “Baru 36 KK yang mau tinggal di sini,” jawab Pak Endang saat ditanyakan mengapa ada rumah kosong. Mereka lebih memilih menetap di Kampung Cilawang, membangun kembali rumahnya yang rusak dan berkebun. Tapi mereka juga kadang ke Kampung Andir untuk membersihkan rumahnya yang kosong, kadang-kadang juga sampai mengingap. Beberapa anak-anaknya juga ditinggal karena akses ke kota jauh lebih dekat. Siapa tahu ingin main.

Ahhh … Pak Endang dan warga lainnya memang sedang menyemai kesabaran di Kampung Andir. Mereka pun belum berani berkebun di sana meski tanahnya sudah dipersiapkan. Mereka khawatir ada gesekan dengan warga lama yang sudah membuka lahan kosong untuk dijadikan kebun. Belum sumber air yang juga masih susah. Mereka harus mengambilnya dengan menggunakan ember ke bawah. Tapi entah sampai kapan. Itulah alasan warga yang lebih memilih kembali ke Kampung Cilawang karena jauh lebih tenang meski bahaya longsong terus mengintai.

Jalan-18

MELEBUR DENGAN ALAM DI LEGOK BARONG

Semalam untunglah bisa tidur nyenyak di salah hotel di Jl. Ahmad Yani, setelah sebelumnya sempat basah-basahan menyaksikan peresmian Taman Air Mancur Sri Baduga di tengah-tengah Situ Buleud, Purwakarta. Dua kali pula. Oya, ini juga peresmian yang kedua kalinya. Cukup kuyup dan menghasilkan bentuk kaki yang berwarna putih. Hari yang melelahkan, apalagi itu adalah estafet terakhir di hari pertama setelah baru datang dari Bandung lalu menuju Museum Diorama Tatar Sunda yang penuh dengan sejarah takmembosankan dari Kerajaan Sunda. Langkah pertama sosok itu yang bisa berjalan-jalan dengan asyiknya bersama Ulu di Purwakarta. Lalu disambut pagi yang langsung menuju Kampung Andir di Desa Cianting, Kecamatan Sukatani.

Beres berkunjung, sosok itu dan Ulu diajak ke sebuah daerah untuk santap siang. Katanya ada tempat istimewa di Wanayasa. Bahkan, Bupari Purwakarta Dedi Mulyadi sering sowan ke sana. Menjadi langganan tetapnya. Itulah Sate Pareang yang terletak di Kampung Pareang, Kecamatan Kiarapedes. Menurut beberapa orang yang doyan kulinar, “Kalau ke Purwakarta belum nyobain sate dan ayam bakar Pareang, rasanya belum lengkap, dijamin ketagihan. Apalagi harganya murah banget dan tempatnya sejuk.” Ya, Sate Maranggi telah menempati kasta tertinggi khazanah kuliner Purwakarta. Sate Pareang adalah salah satunya, dimiliki oleh seseorang yang sangat terbuka dan tidak pelit resep, bernama H. Endang Kosasih. Lalu bagaimana cara menuju ke sana? Dari Purwakarta tinggal jalan menuju Wanayasa, lalu pas Legok Huni tinggal belok kiri. Tapi masih masuk agak jauh. Tapi ini kan demi perjuangan, ya, hehehe … dan alhamdulillah ternyata memang benar. Meski sempat tertidur, kelezatan Sate Pareang dan Sop Sapinya benar-benar maknyus, termasuk dengan makanan penutup berupa buah durian. “Hatur nuhun Pak dan Bu Hajiii…!”

Jalan-19

Jalan-20

Perut kenyang, hati pun senang. Perjalanan selanjutnya adalah ke Legok Barong. Lokasinya masih di Kecamatan Kiarapedes. Pokoknya dari jalan utama setelah Kampung Pareang langsung berbelok tajam ke kanan. Ada plang kayu bertuliskan Legok Barong di sana. Bisa tanya-tanya kalau khawatir tersasar. Masuk ke dalam ke arah Ujung Aspal, Pusaka Mulya. Jalannya sempit untuk mobil, tapi nanti ketemu dengan kumpulan anak muda (karang taruna) yang akan menagih iuran masuk. Ada banyak anak-anak ABG yang naik motor tanpa helm ke sana, khususnya di hari libur. Hingga sampailah di sebuah kawasan hutan pinus yang penuh dengan motor diparkir. Inilah Pasir Panyawangan, wisata alam yang belum terjamah oleh orang luar Purwakarta. Pengunjung yang ada, mayoritas masih dikuasai oleh anak-anak muda Purwakarta yang senang berpetualang atau bahkan berpacaran. Miris.

Keindahan hutan pinus dengan suara burung menjadi penyegar jiwa. Sosok itu menyempatkan diri memotret beberapa pasangan yang asing mojok di beberapa tempat. Beberapa adalah rombongan muda-mudi. Kondisinya tidak jauh berbeda dengan THR Ir. H. Djuanda di Dago. Dia dan Ulu pun bergerak ke arah kanan, menuju arah yang ditunjukkan oleh plang akan menuju ke sebuah Goa Jepang. Jalan menanjak, lalu menurun berkelok-kelok, hanya setapak dengan pemandangan pesawahan di sebelah kanan. Ada banyak pertigaan sehingga harus benar-benar cermat agar nantinya saat pulang tidak salah jalan. Inilah Hutan Burangrang yang terbilang rapat. Hingga akhirnya goa yang sempit tersebut ditemukan di sebelah kiri. Konon goa yang dinamakan Guha Panyileukan itu sebagai tempat persembunyian tentara Jepang. Waktu mau masuk, ada air tergenang di dalamnya. Tidak jadi karena sayang kalau sepatunya basah. Perjalanan kemudian dilanjutkan lebih ke dalam lagi.

Jalan-21

Jalan-22

Perjalanan yang harus ekstra hati-hati karena ada turunan tajam. Apalagi hari sebelumnya sudah diguyur hujan sehingga lebih licin. Kerapatan hutan pun makin menjadi, jangan macam-macam di sini kalau tidak ingin terjadi apa-apa. Ya, namanya juga alam, harus bisa menghormatinya. Meleburlah dengan alamnya. Suara air mengalir terdengar jelas. Begitu menderas meski sungainya terlihat kecil di sebelah kanan. Menyeberang dengan hati-hati agar tidak jatuh, lalu kembali berbelok. Pepohonan karet dan tetumbuhan liar begitu memesona. Hingga akhirnya rombongan yang hanya beberapa sampai di Curug Cimanah Rasa. Sebuah air terjuan yang tidak terlalu besar dan masih alami. Jarang terjamah. Inilah surga tersembunyi yang dimiliki Purwakarta. Hanya diketahui dari mulut ke mulut, belum ada yang menuliskannya. Sosok itu dan Ulu beruntung bisa mengunjunginya. Semoga, pemerintah daerahnya bisa membuat peraturan supaya alamnya tetap terjaga dan asri. Agar siapapun bisa melebur dengan alam di Legok Barong, sampai kapan pun.[]

Advertisements

4 thoughts on “Menyemai Kampung Andir, Melebur di Legok Barong

  1. Mestinya dibuatin sumur untuk warga agar bersedia pindah ya, bahaya kan kalo tetap tinggal di desa asal yang rawan longsor.

    >> Sepertinya sumber air yang di bawah itu dibuatkan pemerintah, tapi belum diberikan mesin pompa agar bisa sampai ke atas. Semoga Kampung Andir bertambah ramai dan akhirnya menjadi kampung yang layak dikunjungi. Amin….

  2. Ngeri kalau punya rumah di lahan yang rawan longsor.

    >> Banget. Masalahnya tempat tujuan belum begitu nyaman. Eh, tapi wargalah yang seharusnya bisa membuatnya nyaman ya …

  3. wah keren mas.. tempatnya masih asri. Semoga masalah air yang masih menjadi kendala di desa tsb dapat segera teratasi. amin

    >> Amiiin … dan semoga bisa dijadikan desa wisata yang menguntungkan warga ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s