Sudah Harmoniskah Industri dengan Lingkungannya?

Sosok itu tertidur. Wajar saja karena semalam dia tidak tidur. Kalaupun hanya memejamkan mata, hanya beberapa menit dan tentu saja waktunya terbilang kurang. Saat dirinya harus pergi ke Jakarta pagi ini, akhirnya waktu dua jam perjalanan awal dihabiskan untuk tidur. Ya, tubuh bagaimanapun juga memiliki hak untuk istirahat. Berbicara soal hak, sudah selayaknya kalau Planet Bumi ini harus bersuara lantang, bahwa mereka juga mempunyai hak untuk dilindungi. Oleh siapa? Tentu saja oleh manusia yang tinggal di atasnya. Lebih khusus lagi oleh industri yang sudah jelas-jelas mengambil dan menguras Sumber Daya Alam (SDA). Nah!

Blogger-13

Sang Petualang narsis dulu ya … setelah tidur selama perjalanan ^_^

Paling tidak inilah yang menjadi latar belakang diadakannya Diskusi Publik “Harmonisasi Industri dan Lingkungan” di Gedung Nusantara DPR RI. Diskusi ini adalah hasil kerjasama Kaukus Ekonomi Hijau DPR RI dengan Komunitas WEGI. Ir. Satya Widya Yudha sebagai Ketua dari Kaukus Ekonomi Hijau (KEH) menjelaskan bahwa aspek lingkungan ternyata tidak hanya berada pada kementerian tertentu tetapi ada pada semua kementerian. DPR RI sebagai lembaga legislatif yang tugasnya mengusulkan dan mengawasi beberapa kebijakan yang dijalankan oleh lembaga eksekutif jelas harus memperhatikan masalah lingkungan ini. Salah satu agenda KEH adalah mengeluarkan Proper terhadap sebuah industri. Apa itu? Semacam nilai bagaimana pengelolaan lingkungan suatu industri sesuai dengan apa yang sudah ditetapkan.

Perlu diketahui bahwa mulai tahun 80an sampai 90an, pemerintah masih gencar-gencarnya membuat peraturan tentang lingkungan. Efeknya adalah bagaimana masyarakat dan industri harus taat terhadap peraturan tersebut. Setelah era tersebut maka peraturan sudah semakin lengkap. Setelah itu, bagaimana mendorong perusahaan agar lebih taat dan komitmen. Perusahaan yang taat jelas akan membuat sistem manajemen yang bagus bagaimana cara mengelola lingkungannya. Beberapa diantaranya adalah efisiensi energi, konservasi air, emisi karbon, dan lain-lain. Nah, Proper itulah yang kemudian dijadikan acuan berupa warna. Dari yang tertinggi alias industri yang baik terhadap lingkungannya, ada warna emas, hijau, biru, merah, dan hitam. Jadi, sebuah industri jelas harus meningkatkan kepeduliannya terhadap lingkungan sampai mendapatkan Proper Emas.

Blogger-14

Empat pembicara dari kalangan pemerintah, industri, dan LSM

Komunitas WEGI (We Green Industry) hadir sebagai komunitas yang fokus dalam penerapan kaidah dan realisasi ‘green industry’ oleh perusahaan di Indonesia sebagai bagian dari tanggung jawab sosial mereka terhadap masyarakat dan lingkungannya. Jadi, perusahaan tidak melulu mencari keuntungan semata. Industri berkolaborasi dengan Komunitas WEGI dengan tujuan pengawasan terhadap penggunaan sumber daya alam yang ramah lingkungan dan berkelanjutan untuk generasi mendatang. Sinergi ini jelas diharapkan dapat mendorong ‘community of interest’ tentang lingkungan. Komunitas juga bisa menjadi agen perubahan melalui media sosial dan komunikasi publik lainnya agar industri menjadi terbuka saat menjalankan prinsip ‘green industry’.

Semua hal di atas jelas sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Daniel C Esty & Andrew S. Winston (Green to Gold, 2009), bahwa perusahaan yang tidak memasukkan aspek lingkungan dalam strategi bisnisnya akan kehilangan kesempatan untuk meraih pangsa pasar yang semakin dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Ditambahkan pula, salah dalam mengelola isu lingkungan akan menciptakan mimpi buruk dalam humas, menghancurkan pasar dan karir eksekutif, serta menghancurkan nilai-nilai perusahaan yang tidak dapat diukur dengan uang.

Blogger-15

Mayoritas undangan adalah mahasiswa yang ‘melek’ lingkungan

Dan inilah yang dibuktikan oleh PT. Semen Padang sehingga mereka mendapatkan Proper Emas. Kok bisa? Salah satu contohnya adalah pada 2014, mereka berhasil menurunkan emisi CO2 sebesar 6,56%. Dan angka ini jelas melampaui target penurunan emisi gas CO2 dari pemerintah. Dr. Ir. Gatot Kusyadji, Direktur Hukum & SDM PT Semen Indonesia (Persero) Tbk., menjelaskan bahwa mereka hanya memiliki 5 (lima) program pengelolaan bidang lingkungan perusahaan yang meliputi: Program Pantau Lingkungan, Program Kelola Lingkungan, Program Konservasi Sumber Daya, Program Efisiensi Energi, dan Penurunan Efek Gas Rumah Kaca.

Akan tetapi ini hanya sebagian kecil dari banyaknya industri yang ada di Indonesia. Bagaimana dengan mereka? Apakah industri yang mereka jalankan sudah harmonis dengan lingkungan di sekitarnya? Inilah saatnya bagi siapapun untuk bisa menjadi agen perubahan agar bisa mengawasi industri yang ada. Salah satunya adalah bisa melalui Komunitas WEGI. Yuk ah![]

Advertisements

2 thoughts on “Sudah Harmoniskah Industri dengan Lingkungannya?

  1. sendainya industri dilakukan di planet mars atau bulan, yah tetap mesti sadar diri untuk tidak merusak lingkungan dan sekitarnya..

    >> Mungkinkah? Sadar diri itulah kuncinya ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s