Mengenal Geopark Ciletuh Palabuhanratu

Mengenal Geopark Ciletuh Palabuhanratu — Sebentar, biarkan sosok itu menarik napas panjang sejenak. Wooo-sahhh! Ya, soalnya dia akan bercerita tentang sesuatu yang terbilang serius. Apa itu? Sejarah. Sejarah tentang tempat yang menurutnya kaya akan alam dan petualangan. Ada banyak kisah tentang tempat ini dan semuanya bagi dia jelas begitu menarik. Dan membuatnya selalu ingin dan selalu datang ke sana. Namun sebelum jauh menceritakan tentang Ciletuh dan Palabuhanratu, ada baiknya semua itu dimulai dari istilah “geopark”.

Menurut Tante Wiki yang asli berbahasa Inggris; a Geopark is a unified area that advances the protection and use of geological heritage in a sustainable way, and promotes the economic well-being of the people who live there. There are Global Geoparks and National Geoparks. Mudahnya, geopark itu adalah sebuah kawasan yang memiliki unsur-unsur geologi. Unsur-unsur ini jelas harus dilindungi karena di sana ada nilai arkeologi, ekologi, dan budaya. Siapa yang melindungi, jelas masyarakat setempat. Namun semua itu juga harus ada dukungan dari pemerintah (baik lokal maupun pusat) dan masyarakat pendatang. Geopark sendiri adalah singkatan dari “Geological Park” atau Taman Bumi.

Awal tujuan Geopark adalah untuk melindungi warisan geologi yang berada di negara-negara Eropa oleh EGN (Europe Geopark Network) pada 2001. Lalu dikembangkan dan difasilitasi oleh UNESCO dengan membentuk GGN (Global Geopark Network) pada 2004. Tujuannya pun dikembangkan lagi, yaitu mengambil manfaat, menggali, menghargai, dan mengembangkan warisan geologi tersebut. Untuk menjadi anggota GGN UNESCO, ada persyaratan tertentu yang harus dipenuhi, minimal ada tiga kegiatan yang berlangsung: konservasi, pendidikan, dan geowisata. Sampai saat ini, ada 35 negara yang telah bergabung dalam GGN. Salah satunya adalah Indonesia yang baru memiliki 2 (dua) Taman Bumi yang diakui, yaitu Batur Global Geopark dan Gunung Sewu Geopark.

GEOAREA CILETUH

Kawasan ini memiliki luas 126.100 hektar atau 1.261 kilometer persegi. Dulu sih sosok itu hanya tahu Geopark Ciletuh saja, tetapi kemudian diperluas hingga sampai ke Palabuhanratu dan Ujung Genteng juga termasuk di dalamnya. Taman Bumi Ciletuh-Palabuhanratu mendapatkan sertifikat sebagai Geopark Nasional dari Komite Nasional Indonesia untuk UNESCO dan Kementerian ESDM pada 2015. Ciletuh-Palabuhanratu telah memenuhi syarat untuk disebut sebagai geopark karena memiliki keragaman fenomena geologi, memiliki keragaman biologi, dan memiliki keragaman budaya. Targetnya, kawasan ini diharapkan resmi menjadi Geopark Internasional atau Global Geopark pada akhir 2017.

Taman Bumi ini meliputi 74 desa yang masuk ke dalam delapan kecamatan, yaitu Kecamatan Ciracap, Surade, Ciemas, Waluran, Simpenan, Palabuhanratu, Cikakak, dan Cisolok. Semua itu terbagi dalam tiga geoarea, yaitu Geoarea Ciletuh, Geoarea Simpenan, dan Geoarea Cisolok. Oke, sosok itu tidak akan terlalu membahas Geoarea Simpenan dan Cisolok di sini, tetapi akan difokuskan pada Geoarea Ciletuh. Geoarea Ciletuh memiliki bentang alam berupa dataran tinggi yang berbentuk tapal kuda (amphiteater) yang terbuka ke arah Teluk Ciletuh (Martodjojo, 1984). Bentuk amfiteater ini memiliki diameter lebih dari 15 km, sehingga diyakini sebagai bentuk amfiteater alam terbesar di Indonesia. Uwooo!

Yuk, BACA juga >>> Memburu Sunrise di Puncak Darma

Nah, di bagian tengah amfiteater tersebut terdapat sebaran batuan tertua di Jawa Barat, hasil pengendapan dari aktivitas tumbukan antara kerak samudera dan kerak benua pada Zaman Kapur, lebih dari 65 juta tahun lalu. Penjelasan gampangnya begini, Bumi pada dasarnya terdiri atas beberapa lempengan yang terus bergerak, hanya saja manusia tidak menyadarinya. Deretan Pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi terletak pada Lempeng Eurasia atau kerak benua. Sedangkan pulau-pulau sisanya dan Australia terletak pada Lempeng Samudera Hindia atau kerak samudera. Kerak samudera ini mendorong kerak benua sehingga terangkatlah bagian tepi dari kerak benua sehingga muncul di permukaan laut (prosesnya sendiri dinamakan Subduksi).

Foto: Nugie Nugraha | Model: Vanisa dan Nchie

Jadi bayangkan saja, 100 juta tahun lalu Ciletuh yang berada di dasar laut melalui proses panjang terangkat dan muncul di permukaan laut. Itu terjadi pada Zaman Cretaceous. Lempengan yang terangkat bukan hanya area Ciletuh saja tetapi juga termasuk Pulau Jawa dan pulau-pulau besar lainnya. Namun kawasan yang masih (mendekati) murni dengan formasi puluhan juta tahun lalu berada tepat di Geoarea Ciletuh. Formasi ini terbentuk unik dan megah karena lansekap alam yang datar tersebut dikelilingi oleh dinding tebing sepanjang lebih dari 15 km dan tinggi 500 m. Lansekap itulah yang dikenal dengan Amfiteater Ciletuh.

Keunikan dari amfiteater tersebut adalah adanya 2 (dua) formasi geologi yang berbeda alam dan usia. Formasi Ciletuh yang berbentuk datar terjadi pada masa Eosen (56 juta tahun lalu), sedangkan Formasi Jampang yang berada di atas tebing terjadi pada masa Miosen Awal (23 juta tahun lalu). Jenis batuannya jelas berbeda tetapi sosok itu tidak akan menceritakannya karena ribet dengan istilah asing hehehe. Beberapa kawasan geowisata yang ada di Geoarea Ciletuh adalah beberapa curug, pemandangan bentang alam dari beberapa titik, pulau-pulau kecil, bebatuan unik dan langka, serta gua laut. Semua itu akan diceritakan pada cerita lainnya di blog ini.[]

Advertisements

One thought on “Mengenal Geopark Ciletuh Palabuhanratu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s