Camping Mewah di Trizara Resorts Lembang

Adalah gemintang … yang selalu menggoda
Adalah angin, adalah kabut, adalah embun
Takada lagi sekat bagi mereka yang mengejarnya
Karena mereka adalah para pemburu bintang

Camping Mewah di Trizara Resorts Lembang ~ Suka kemping? Ah, siapa yang tidak suka. Mayoritas kaum urban atau sebut saja orang perkotaan, pasti suka. Bagi sebagian orang desa, ternyata suka juga. Tapiii … sebelum jauh bercerita, izinkan sosok itu meralat semua istilah yang sudah salah kaprah digunakan sebagai bahasa sehari-hari tentang aktivitas ini. Ternyata tidak ada istilah ‘kemping’ di dalam bahasa Indonesia, khususnya di KBBI Edisi Ketiga. Istilah ini memang lahir dari serapan bahasa Inggris, yaitu ‘camping‘. Kasus ini begitu berbeda dengan ‘kolom’ yang berasal dari bahasa serapan ‘column‘. Hal yang sama juga terjadi pada kata kolonel, katapel, kontrol, kolesterol, katoda, karbohidrat, kalsium, dan lain sebagainya.

Camping artinya berkemah. Jadi kata terdekat untuk mengganti kata ‘camping’ adalah berkemah, bukan kemping. Kalau dari runut sejarah, kata ‘kemah’ juga sebenarnya berasal dari kata ‘camp’. Begitupula dengan kata ‘tenda’ yang berasal dari kata ‘tent’. Pada halaman 537 KBBI Edisi Ketiga, kemah adalah tempat tinggal darurat, biasanya berupa tenda yang ujungnya hampir menyentuh tanah, dibuat dari kain terpal dsb. Sedangkan berkemah adalah membuat (mendirikan) kemah (untuk bermalam dsb). Akan tetapi untuk percakapan sehari-hari atau bahasa gaul, bolehlah menggunakan istilah kemping. Hanya saja saat ingin menyejarahkannya di atas media bacaan, lebih baik langsung menuliskan kata ‘camping’. Itulah mengapa judul tulisan ini tetap menggunakan kalimat Camping Mewah di Trizara Resorts Lembang.

Jalan-30.jpg

GREEN CONCEPT ALA TRIZARA RESORTS

Resorts makin menjamur, khususnya di Bandung. Hotel tidak lagi menjadi daya tarik, meski tidak hilang. Namun orang perkotaan kini sudah cenderung mencari penginapan yang lebih dekat pada alam. Dekat bukan berarti berada pada alam yang diharapkan. Ada pegunungan, ada hawa dingin, ada pemandangan menakjubkan, ada kabut, ada embun, ada waktu menunggu sunrise atau sunset. Tidak, bukan hanya itu. Tetapi bagaimana seseorang bisa lebih dekat lagi dengan itu semua. Konsep rumah atau kamar penginapan pun dibuat sedemikian rupa sehingga menyerupai kemah atau tenda. Dan sebagaimana ciri khas kaum urban, mereka pun ingin dimanja. Konsep sederhana tidak begitu dilirik, hingga muncullah istilah yang dianggap keren dan mewakili, yaitu camping mewah. Semoga mereka juga tidak ikut-ikutan membawa bakmi mewah.

Camping bisa jadi menjadi istilah umum dan biasa-biasa saja. Para pendaki gunung dan pemburu bintang sudah melakukan aktivitas camping sejak lama. Kalau ingin liburan manja, tentu istilah glamour camping akan menjadi pilihan yang menggiurkan bagi orang-orang berduit. Glamping! Buang semua aktivitas perkotaan yang serba begitu mudah dan instant. Enyahkan jauh-jauh segala perangkat elektronik dan nikmati saja konsep alam yang dipadupadankan dengan aktivitas outdoor yang sudah terkonsep matang. Trizara Resorts menyediakan itu semua. Meski berkonsep penginapan ala camping, fasilitas yang disediakan setingkat dengan hotel bintang lima. Tapi jangan heran kalau di sana tidak ada televisi dan telepon. Buang semua polusi itu dan tajamkan pendengaran akan suara jangkrik yang menjadi tetanggamu. Akan tetapi meski tanpa itu semua, jaringan wifi lumayan kenceng dan colokan pun berlimpah. OB bisa dipanggil melalui WA, jangan khawatir.

Jalan-31.jpg

Bangunan atau tendanya pun terbilang ramah lingkungan. Bahan semen hanya digunakan untuk alasnya yang berupa panggung dan pembatas kamar mandi. Rangkanya terbuat dari besi dan seluruhnya benar-benar hanya tenda, dengan kualitas kain/terpal terbaik yang langsung didatangkan dari India. Konsep panggung tentu saja dipilih karena penyerapan oleh tanah akan benar-benar maksimal. Kualitas air tanah akan terjaga dengan baik. Green concept tidak hanya sekadar irit listrik atau irit air semata. Lebih jauh dari itu juga harus memperhatikan lahannya yang bisa menyerap air dengan baik. Sabun juga dibuat sendiri dengan sifat regradable. Begitupula dengan septic tank yang dikonsep agar menyatu dengan alam. Tidak diperlukan lagi truk tinja karena semua kotoran bisa dimanfaatkan dengan baik, misalnya diolah menjadi kompos. Dengan lahan seluas 3 hektar, beberapa taman dan kebun juga sudah dipersiapkan dengan baik.

Bagaimana dengan sumber daya manusia dan alamnya? Dari awal pembangunan, resorts ini sudah melibatkan 99% dari warga di sekitar. Pak Kunal, sang pemilik, tidak pernah menggunakan jasa arsitektur. Ia membuat sketsanya, lalu didiskusikan dengan warga yang siap membantunya. Orang luar yang didatangkan hanyalah sebatas para mandor. Setelah beres, warga yang membantu tersebut kemudian dikaryakan sebagai satpam, OB, waitress, tukang kebun, juru masak, dll. Berapa jumlah karyawannya? Kalau berdasarkan ketentuan pada umumnya, jumlah karyawan itu 7/10 dari jumlah kamar. Nah, ketentuan ini tidak berlaku di Trizara Resorts karena areanya yang luas. Jadi, wajar saja kalau di sana ada 58 karyawan untuk mengurusi 47 tenda. Bahan-bahan mentah untuk makanannya juga diperoleh dari warga sekitar yang menjadi supplier. Benar-benar dari warga, oleh warga, dan untuk warga.

Jalan-32

ISTILAH DI TRIZARA RESORTS DAN RATE-NYA

Pada saat sosok itu berdiri di luar, bisa ditebak bahwa resorts ini belum lama berdiri. Benar saja. Trizara Resorts baru soft launching pada hari Rabu, 4 Mei 2016. Meski begitu, pembangunannya sendiri memakan waktu 1 tahun 2 bulan. Pak Kunal, adalah seorang WNI kelahiran Jakarta yang memiliki darah India. Bisa jadi atas dasar itulah mengapa beberapa istilah yang ada di sana diambil dari bahasa Sansekerta. Trizara sendiri berarti taman/kebun dari surga. Ada harapan di sana bahwa tempat ini menjadi tempat alternatif untuk berlibur dan menikmati surga ala Lembang. Sekali lagi … ada pegunungan, ada hawa dingin, ada pemandangan menakjubkan, ada kabut, ada embun, ada waktu menunggu sunrise atau sunset.

Tenda-tenda di sana diberi nama dari bahasa Sansekerta juga. Ada Netra dengan kapasitas 2 orang, ada Nasika dengan kapasitas 4 orang, ada Svada dengan kapasitas 4 orang, dan ada Zana dengan kapasitas 2 orang. Netra itu mata. Nasika itu hidung. Svada itu rasa. Zana itu manusia. Kurang lebih seperti itu artinya. Ada bentuk penghargaan bagi manusia yang tinggal di sana. Oleh karena itu, Trizara memberikan 5 (lima) harga berbeda sebagai bentuk penghargaan pada calon konsumen, yaitu publish rate, travel rate, corporate rate, high season special rate, dan low season special rate. Sedangkan pilihan kamar sementara ini baru 3 (tiga) dimana Zana belum bisa dijual karena masih dalam tahap pengembangan. Zana ini katanya cocok buat yang lagi honeymoon #ehm.

Jalan-34.jpg

Sosok itu sendiri pada hari Minggu (26/6) hingga Senin (27/6) kemarin mencoba tenda Netra 08. Awalnya sih ditempatkan di Nasika 03 tetapi tidak jadi karena ingin mencoba tenda yang berkapasitas 2 orang. Tempat tidur besar tidak jauh berbeda dengan hotel berbintang lainnya. Yang membedakan adalah karena modelnya tenda maka pintu masuknya adalah membuka resleting sampai 2 (dua) lapis. Lapisan dalam lebih mirip kelambu. Kalau ditinggal, resleting ini bisa digembok, jadi aman. Di dalam tidak ada lemari, tetapi ada peti kayu yang bisa digunakan untuk menyimpan baju dan tas, termasuk benda-benda berharga lainnya. Eh, ada sumber colokan yang banyak lho di dalam peti meski ada juga di bawah meja dan di samping tempat tidur! Dijamin aman karena lagi-lagi disediakan gembok untuk mengunci peti tersebut.

Kamar mandinya juga asyiiik. Konsepnya dibiarkan terbuka pada bagian atas tetapi dijamin tidak akan kehujanan. Gantungan handuk terbuat dari tangga kayu. Bisa jadi tangga tersebut digunakan untuk mengintip ke luar kalau-kalau ada orang hehehe. Ada shower buat mandi dengan pilihan air dingin atau air panas. Wastafelnya berbentuk setengah bulat dengan kran hanya air dingin saja. Kalau mau BAB ada WC duduk, bukan WC jongkok. Oya, hampir lupa … di dalam kamar tidak ada AC, sebagai penggantinya digunakan kipas angin yang terpasang di langit-langit. Hanya saja selama di sana tidak digunakan karena udara juga tidak terlalu panas. Kalau malam, jangan ditanya dinginnya sehingga harus menggunakan jaket di dalam selimut. Ada rak kayu juga buat menyimpan buku atau baju-baju.

Jalan-33

HOW TO GET THERE?

Jika camping terbilang berat, maka ada konsep yang lebih ringan dari itu. Apa ya? Piknik. Sebuah kata yang sudah menjadi bagian dari bahasa Indonesia meski diserap dari kata ‘picnic’. Piknik atau tamasya adalah bepergian ke suatu tempat di luar kota untuk bersenang-senang dengan membawa bekal makanan dsb. Nah, demi memenuhi kebutuhan semua kalangan, Trizara Resort menyediakan konsep piknik manja. Mengapa manja? Karena semuanya disediakan oleh mereka seperti tikar/alas piknik dan keranjang piknik yang berisi makanan lengkap (sandwich, keripik, jus, dan buah-buahan). Benar-benar dibuat manja dan sepertinya cocok buat Cumi Lebay. Dan semua itu hanya mengeluarkan dana Rp100.000 per orang. Jauhhh lebih murah dibanding harus menginap, tetapi waktunya terbatas hanya 6 jam. It’s okay lah karena sudah bisa langsung buat foto-foto narsis di IG.

Sosok itu merasa untuk saat ini, cukuplah Trizara Resorts sebagai tempat pelarian sementara dari kepenatan kota. Lupakan televisi dan hingar bingar polusi suara. Nikmati gemintang di malam hari sambil menghangatkan badan di depan api unggun. Saling bercerita dengan kawan sepenginapan lalu bermain games seru guna mempererat dan melepas ketegangan dengan haha-hihi. Namun alangkah baiknya jika ke depannya ada beberapa fasilitas yang semakin memparipurnakan Trizara Resorts. Sebut saja permainan anak-anak di beberapa titik, yang dekat dengan alam. Misal ayunan atau jungkat-jungkit sebagai permainan standar. Nanti bisa ditambahkan dengan lompat ban, memanjat tali ala spiderman, egrang, rumah pohon, dan penyediaan beberapa permainan tradisional seperti congklak, bekel, wayang daun singkong, dan lain sebagainya. Arena memanah tentu bisa dijadikan daya tarik lainnya. Plus tidak ada salahnya disediakan kolam renang air hangat. Semua orang suka dengan hal itu.

img_5390

Trizara Resorts beralamat Jl. Pasirwangi Wetan, Kampung Karamat, Lembang. Ada tiga akses jalan untuk menuju ke sana. Pertama dari Subang/Lembang. Setelah melewati pasar, bersiap-siaplah berbelok ke kanan memasuki Jl. Kolonel Masturi setelah Tahu Susu Lembang yang berbentuk SPBU. Patokannya ada plang Imah Seniman. Lokasinya memang setelah Imah Seniman dan berada di kiri jalan. Kalau dari arah Ledeng mau ke Lembang, ya berarti berbelok ke kiri setelah Farm House. Kedua dari Jl. Sersan Bajuri setelah Ledeng. Kalau lewat jalan umum, berbeloklah ke kanan memasuki Jl. Kolonel Masturi setelah bertemu pertigaan di Kampung Cihideung (kampung penjual tanaman hias), susuri jalan sampai ketemu plang Trizara Resort di sebelah kanan jalan. Atau … bisa juga lewat jalan tembus di Komp. Graha Puspa setelah Kampung Gajah. Ketiga dari Cimahi/Parongpong, langsung berbelok kiri ke Jl. Kolonel Masturi setelah pertigaan. Mudah.[]

Advertisements

11 thoughts on “Camping Mewah di Trizara Resorts Lembang

  1. Kayanya tempatnya asyik. Sekali waktu mau ke sana. Terima kasih info lengkapnya. Noted.

    >> Insya Allah asyik dan banyak spot foto2 ^_^

  2. Tempatnya kece, kapan ya bisa ke sini. By the way sekarang maskotnya blog sosokitu jadi si Hello Kityy ya, Bang? 🙂

    >> Owh iya…
    Insya Allah kalau rezeki gak bakal kemana, Fi

  3. bagus ya bang view nya.. jadi pengen coba 😄 kalo camping pake kasur empuk kya gitu bakal betah kali ya ^^

    >> Cuman 1 kekurangannya.
    Dingin banget kalau malam. Menusssuk tulaaang!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s