Cerita Bintan: Festival Bandoeng Baheula

Hari Minggu kemarin (19/3/2015) aku senang sekali karena diajak abiku bersepeda ke Festival Bandoeng Baheula di Kota Baru Parahyangan. Untuk ke sana, aku dibonceng di belakang sepeda abi dan harus pergi pukul 06.00. Ternyata ada banyak juga yang mau ikut bersepeda. Katanya ini adalah acara Boseh2Graphy dimana para pesepeda akan belajar memotret sesuai tema. Ternyata hanya aku seorang yang masih kecil. Mereka berkumpul di Kantor PR untuk melakukan registrasi, senam, dan diberi pengarahan. Selama di perjalanan, badan ini rasanya pegal sekali di boncengan sepeda, apalagi sinar matahari semakin menyengat. Setelah dihitung ternyata perjalanan dari rumah ke Kantor PR dan dilanjut ke Kota Baru Parahyangan adalah 30 kilometer. Jauh juga, ya?

Sesampainya di Festival Bandoeng Baheula, aku merasa lega karena memang badanku pegal-pegal sekali. Sepeda abiku diparkir di belakang mobil truk yang besar sekali. Semua orang pada berebutan foto di sana. Di depan truk juga ada beberapa senjata jaman perang yang boleh dipegang dan difoto. Aku tidak mau berfoto di sana. Ada juga mobil Ambulance yang punya julukan ‘Si Gajah’ atau ‘Si Dukun’. Mobil yang dipakai pada tahun 1957-1962 ini adalah koleksi Museum Manda Wangsit Siliwangi. Abi lalu mengajakku berkeliling, rupanya festival ini berisi dengan barang-barang jaman dulu. Ada beberapa kendaraan tua yang dipamerkan seperti mobil perang, tank, mercy, mobil pemadam kebakaran, dan lain-lain. Aku pun sempat naik ke atas mobil Jeep Willys keluaran tahun 1945 dan difoto di sana.

Blogger-32

Ada banyak barang-barang kuno yang aku lihat. Ada uang jaman Belanda yang tengahnya bolong, uang koin yang masih bernilai sen, radio, jam dinding, jam weker, mesin jahit, setrikaan arang, telepon rumah, pemutar piringan hitam, mesin tik, kipas angin, dan masih banyak lagi barang-barang yang tidak aku kenal. Ada juga mainan seperti gimbot (game watch), sepeda anak, mobil-mobilan, termasuk mainan tradisional seperti bakiak dan egrang. Abi bercerita bahwa mainan-mainan itulah yang menemaninya sewaktu kecil. Bahkan jauh sebelum beliau lahir, semua barang-barang atau kendaraan itu telah ada.

Di festival ini juga ada Lorong Bandoeng Baheula. Tempat ini letaknya di tengah jalan. Dindingnya berupa foto-foto jaman dulu (baheula) sedangkan pintu masuknya ada gambar Gedung Sate. Aku pun masuk ke dalamnya, ternyata di sana ada banyak barang-barang museum. Ada dari Museum Sri Baduga dan Museum Pos Indonesia. Aku baru tahu ada Museum Pos Indonesia dan suka dengan koleksinya karena ada surat emas, gerobak pos, sepeda pos pertama, dan alat-alat yang pernah aku lihat di kantor pos.

Blogger-33.jpg

Aku juga menonton group band yang menyanyikan lagu-lagu keras jaman dahulu di atas panggung. Abiku hapal dan ikut bernyanyi. Oya, aku sempat bertemu dengan ayahnya Trisna, saudaraku yang bersepeda onthel. Dia berpakaian seperti tentara Belanda, lucu sekali. Abi dan teman-temannya juga sempat berebutan memotret model yang berpakaian jaman Belanda. Cantik-cantik modelnya. Dan akhirnya, semua yang hadir pada makan siang bersama di tengah-tengah. Nasi dan lauk-pauknya diletakkan panjaaang sekali dari ujung ke ujung. Orang yang mau makan tinggal duduk di samping kanan atau kirinya. Aku sendiri makan di sebelah abi, tapi hati-hati agar tidak mengambil sambel. Tahu dan kerupuk sampai dilempar karena tertinggal. Katanya itu ngabotram, cara makan jaman dahulu.

Pada saat asyik mendengarkan lagu setelah makan, tiba-tiba aku diberi kakak cantik dari PR sebuah amplop. Katanya buat jajan di foodcourt (tempat makan). Isinya adalah uang-uangan yang bernilai 30 rupiah. Satu rupiah uang jaman baheula itu sama dengan Rp1.000 uang benaran. Akhirnya aku membelanjakan uang itu di foodcourt. Ada banyak orang yang mengantri menukarkan uangnya dengan uang-uangan itu. Aku membeli dua gelas teh poci rasa anggur dan leci yang harga per gelasnya 10 rupiah. Aku juga membeli bandros yang harganya 10 rupiah, tapi isinya sedikit. Kalau menurutku, sih, mahal.

Blogger-34

Beres berbelanja, ternyata tempat parkir sepeda sudah banyak yang kosong. Aku dan abiku rupanya sudah ditinggal pulang. Untung ada teman abiku yang jago motret dari PR. Abiku bertanya apakah masih ada mobil buat loading atau angkut-angkut. Untunglah ternyata masih ada. Sepeda dinaikkan ke atas mobil terbuka, sedangkan aku dan abiku naik di mobil khusus penumpang. Ada empat sepeda yang dinaikkan, termasuk teman abiku itu. Selama di perjalanan aku tertidur, rasanya enak sekali. Pas bangun, ternyata kota Bandung sedang turun hujan deras. Aku sempat beristirahat sejenak di mushala sambil menunggu hujan reda. Aku merasa senang seharian itu. Terimakasih, Abi, sudah mengajak aku jalan-jalan.[]

Advertisements

One thought on “Cerita Bintan: Festival Bandoeng Baheula

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s