Menjalang di Kawah Putih dan Situ Patenggang

Menjalang di Kawah Putih dan Situ Patenggang. Ish! Sejak kapan sosok itu menggunakan kata-kata yang tidak senonoh seperti ini? Tidak juga. Tinggal bagaimana melihatnya dari berbagai perspektif. Manusialah yang membuat beberapa kata menjadi berkesan negatif atau positif. Lihat saja di halaman 453 Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Kalau merujuk pada hewan, maka jalang berarti liar karena tidak dipelihara manusia. Tetapi ia bisa juga berarti nakal karena melanggar susila. Pada akhirnya menjalang di sini bermakna menjadi liar atau menjadi buas. Itu kalau dibahas dari sisi adjektiva. Dari sisi kata kerja, menjalang itu mengandung makna berkunjung atau pergi ke. Jelas, menjalang di sini menjadi kata yang positif.

Jumat, 26 Agustus 2016, di V Hotel and Residence pada pukul 05:00. Sosok itu dan beberapa kawan blogger telah berkumpul di lobi, bercakap-cakap dan mempersiapkan diri untuk melakukan FamTrip bersama Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat. Blogger yang dimaksud adalah Cumi Lebay, Harris, Timo, Hanif Insan Wisata, dan Gina-Daniel dari Sunrise Odyssey Singapura. Selain mereka juga hadir para pakar pendidikan yang menguasai ilmu geologi dan seni rupa, media pers, serta para perwakilan agen wisata. Tujuannya jelas, memaksimalkan potensi wisata yang ada di Jawa Barat. Semua saling berkolaborasi. Empat unsur di atas (pemerintah, akademis, pebisnis, media) harus bekerjasama dan merangkul unsur kelima, yaitu masyarakat setempat (komunitas) untuk mewujudkan daerah wisata yang berkelas nasional bahkan internasional. Wisata Jabar Kahiji.

Pukul 05:30 rombongan yang terdiri atas tiga mobil Hi Ace berangkat secara beriringan, diikuti oleh satu mobil Avanza. Menembus Bandung yang masih belum melek benar, mengejar matahari yang masih manja untuk menerikkan sinarnya. Duh, gaya tulisan sosok itu jadi ikut-ikutan Cumi Lebay. Setelah memakai kata ‘menjalang’ di judul eh masuk juga kata ‘manja’ di paragraf ketiga. Tuh anak memang membawa virus yang berbahaya bagi dunia kepariwisataan dan dunia literasi Indonesia. Oke lanjut … rombongan pun masuk ke gerbang tol Pasteur dan keluar di gerbang tol Kopo. Sosok itu dan beberapa peserta FamTrip melanjutkan tidurnya yang memang kurang. Menembus jalan yang belum ramai benar melewati Soreang dan akhirnya berhenti di RM Sindang Reret. Sarapan nasi kuning dan minuman teh hangat pun langsung membuka mata. Menyegarkan jiwa untuk memulai petualangan di keluarga baru.

Blogger-36

MENJALANG DI KAWAH PUTIH

Perjalanan ke Kawah Putih, Ciwidey, pada akhirnya terselesaikan pada pukul tujuh lebih sedikit. Aroma dan cuacanya agak berbeda dengan yang pernah sosok itu lihat/rasakan setahun lalu. Dinginnya masih sama, tetapi kabut masih tebal menyelimuti semua area. Bagi yang berkesempatan mampir ke Bandung, rasanya tidak afdol kalau belum ke Kawah Putih. Bandung boleh menyajikan beberapa atraksi wisata yang menggoda mata dan perut, tetapi semua itu buatan manusia. Jauh berbeda dengan Kawah Putih yang sudah polesan alami. Sampai istilah bahwa Tuhan menciptakan bumi Parahyangan itu sambil tersenyum menjadi slogan utama negeri ini. Udara segar dengan jumlah oksigen yang luar biasa banyaknya. Pepohonan rimbun dan terkadang … terdengar jeritan merdu dari beburung yang sudah sibuk mencari makanan. Cahaya matahari belum sanggup menembus kalibut yang tebal. Putihnya menciptakan serpihan air laksana gerimis. Efek spiritual yang hanya bisa dirasakan di puncak gunung. Damai dan kebahagiaan bisa ditemukan di tempat seperti ini.

Blogger-37

Pada akhirnya benar saja kalau manusia yang hadir langsung menjadi liar hatinya. Menjalang yang makin merasuk. Tergila-gila untuk mencari spot indah, lalu berfoto secara mandiri atau beramai-ramai. Ingin merekam semua keindahan dan selanjutnya ditunjukkan pada dunia yang lebih luas lagi. “Hellooo … lihatlah! Gue akhirnya bisa ada di Kawah Putih dengan pemandangan yang masih eksotis!” Nuansa spiritual pun makin masuk ke dalam hati. Sosok itu termenung. Berjalan di antara pepohonan khas puncak gunung, sesaat merenung apa artinya perjalanan hidup ini. Menembus kalibut yang berhawa mistis. Meresapi dinginnya cuaca dan percikan embun yang tanpa disadari menenangkan jiwa petualangannya. Apalah kita di antara keindahan alam raya yang taktertandingi ini? Manusia tiba-tiba saja menjadi kerdil, menjadi semut, menjadi kutu, menjadi hampa. Ya Rabb. Ya Rabb. Ya Rabb. Allahu Akbar. Subhanallah walhamdulillahi walaa Ilaaha illallah wallahu akbar.

Kebersamaan menjadi kekuatan. Alam menjadi saksi bahwa manusia itu tidak bisa sendiri. Ia adalah makhluk sosial yang harus saling bekerjasama. Saling berinteraksi. Saling mengisi agar jiwa-jiwa kosong itu tidak karatan atau bahkan menjadi rumah laba-laba. Menghangatkan satu sama lain. Menguatkan makna bahwa inilah Indonesia yang memiliki Biodiversity Superpower. Bahwa Jawa Barat hanyalah serpihan kecil dengan kekayaan keanekaragaman hayati yang taktertandingi oleh negara mana pun di dunia. Hanya biodiversity saja? Tidak. Masih ada geodiversity dan culturediversity yang harus ditangani secara serius. Ditangani oleh kelima unsur yang telah dijelaskan di paragraf kedua. Maka … menjalanglah di Kawah Putih dengan kemampuan terbaikmu sebagai manusia Jawa Barat.

Blogger-38

MENJALANG DI SITU PATENGGANG

Setelah bermandikan uap belerang di Kawah Putih, sosok itu seolah-olah menjadi manusia baru. Jiwanya makin tenang. Meski sudah tiga kali ke sana, selalu saja ada petualangan baru yang dirasa. Alam memang tidak pernah memberikan satu rasa. Alam selalu memberikan rasa yang lain meski didatangi berkali-kali. Tidak ada rasa bosan untuk mengulang kembali. Matahari sudah tidak malu lagi. Ia bersinar dengan kekuatan yang belum penuh. Makin menghangatkan jiwa. Makin menguatkan pandangan betapa luasnya alam raya ini. Tiga Hi Ace berjalan kembali beriringan di jalan yang mulus dan berkelok. Pohon-pohon teh berbaris rapi di sisi kanan dan kiri. Melambaikan ranting sekadar untuk menyapa hangat. “Wilujeng sumping di tempat kami. Di kerajaan kami yang semoga saja bisa menciptakan ruang kebahagiaan di setiap hati Anda.”

Blogger-39

Sebuah batu besar tersenyum. Menghipnotis semua peserta FamTrip untuk berhenti. Bercanda sejenak di sana. Bercumbu dengannya di tengah-tengah Perkebunan Teh Rancabali yang luas, dan merupakan bagian dari PTP Nusantara VIII. Mencecap oksigen sepuasnya lalu membuang karbondioksida secara perlahan-lahan. Nikmati saja. Memanjakan mata dengan hamparan karpet hijau, lalu menenangkan pikiran yang negatif dengan sebanyak-banyaknya menangkap energi positif yang memang membanjiri lokasi ini. Hawa spiritual memang kuat. Jangan disia-siakan. Pererat dengan orang sekitar. Beri senyuman pada semuanya. Tidak hanya manusia, tetapi juga pada pepohonan, pada batu, pada burung, pada serangga, pada awan, pada langit, pada semesta. Biarkan tawa kebahagiaan membahana. Takperlu risau karena itu bukanlah polusi.

Masih kurang? Jalanlah sedikit ke bawah dan temukan danau yang tenang di sana. Situ Patenggang adalah tujuan berikutnya. Danau di atas gunung. Hati yang sudah tenang dibiarkan untuk menjalang sesuka hati. Menjalang untuk menemukan kebebasan dan kedamaian jiwa. Lalu sebarkan virus damai itu ke seantero dunia melalui media sosial. Gambar-gambar indah yang pada akhirnya membuat makin banyak orang yang ingin segera ke sana. Menyerap virus yang sama, lalu dibagikan lagi ke lebih banyak orang. Di Jawa Barat. Di Pulau Jawa. Di Indonesia. Di Asia. Di Dunia. Siapa pun berhak untuk merasakan aura yang sama. Sosok itu semakin tenang hatinya. Semakin bersemangat untuk membagi perasaan yang sama. Bersyukur bahwa dirinya lahir di bumi Indonesia yang istimewa. Yang kaya akan segalanya. Bersama kawan-kawan yang punya visi dan misi yang sama. Bahwa semakin mengenal alam Indonesia, semakin kerdil jiwa ini untuk menjadi angkuh dan sombong. Apalah kita?

Blogger-40

Maka … nikmatilah semua foto yang ada. Meski Kawah Putih dan Situ Patenggang bukan merupakan bagian dari Geopark Ciletuh yang saat ini sedang digalakkan untuk menjadi UNESCO Global Geopark, tetapi itulah kekayaan Jawa Barat yang sesungguhnya. Dan itu pun masih berupa serpihan, karena masih ada bongkahan yang lebih besar lagi untuk dikembangkan. Dan blogger harus turut serta di sana. Bismillah.[]

Advertisements

5 thoughts on “Menjalang di Kawah Putih dan Situ Patenggang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s