Semua Demi Jakarta Marathon

Subuh. Waktu seakan-akan bergerak begitu lambat. Tetiba semua yang ada di sekitarnya lenyap. Menghilang tanpa bekas. Sorak-sorai menguap begitu saja. Hanya ada suara nafas dirinya. Dia berusaha mengaturnya agar tidak putus di tengah jalan. Oksigen yang dihirup harus sesuai hitungannya dengan karbondioksida yang dikeluarkannya. Bergerak teratur. Langkah kakinya dijaga agar tetap stabil. Tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat. Bergerak mengikuti irama yang telah dilatihnya beberapa kali. Udara diusahakan menyatu dengan dirinya. Menjadi energi yang menstimulasi kerja otot tubuhnya. Angin tersenyum. Dedaunan menstimulasi kebahagiaan. Bangunan tua mengedip. Ini hari istimewa baginya.

Meski pernah mengikuti acara lari dengan jarak yang lebih jauh (baru pertama kali dan terbilang nekat plus banyak jalannya), namun baginya ajang lari kali ini begitu berbeda. Gaungnya mendunia. Apalagi melewati jalan utama metropolitan yang sehari-harinya padat dengan kendaraan bermotor. Polusi di mana-mana. Berjubel di dalam bus bercap Transjakarta kalau harus pergi ke suatu tempat yang melewati Harmoni. Namun hari itu istimewa. Kota seolah-olah ingin memberinya semangat dengan memberi ruang lebih bagi dirinya untuk berlari dengan nyaman. Sosok itu bahagia. Jakarta Marathon telah memberinya secuil kebahagiaan pada pagi itu. Takpeduli dengan catatan waktunya nanti. Takpeduli dengan orang lain yang berlari lebih cepat sehingga kerap mendahului. Baginya sudah cukup. Ada keluarga tercinta yang mendukung. Ada kawan-kawan yang turut bersemangat di hari yang sama.

Awal start yang serabutan. Dia sendiri tidak yakin apakah benar telah mengikuti titik start yang sesuai dengan kategorinya. Subuh itu terlalu crowded. Terlalu cepat dari sejak shalat Subuh hingga harus melepas Sang Belahan Jiwa bersama Adik Anin yang tidak bisa masuk ke area lomba. Tetabuhan musik begitu keras bergema. Sosok itu hanya tahu, dia agak terlambat start karena dari beberapa pembicaraan dan melihat beberapa orang di sebelahnya hanya ada BIB kategori 5K. Kalaupun ada yang berkategori sama, itu hanya beberapa. Maka dia pun berpacu dengan cepat, meski yakin bahwa ada mesin pencatat otomatis dari start hingga finish. Dia berlari zigzag karena kerumunan di titik start itu tidak menyenangkan, apalagi beberapa pelari langsung berjalan padahal 1K saja belum sampai. Budaya untuk saling menghargai antarpelari belum sepenuhnya tercipta. Selepas 2K barulah dia bisa bernafas lega karena sudah keluar dari kerumunan. Paling tidak pace-nya sudah teratur dan terjaga.

Jalan-44.jpg

Dari awal memulai lari sebagai bagian dari hobinya, dia memang tidak memedulikan kecepatan. Faktor yang terpenting harus dijaga … adalah kenyamanan. Nafas yang teratur, dan bagaimana bisa ‘finish strong‘ tanpa harus berjalan sama sekali. Target yang tidak muluk-muluk. Meski kesal karena ada beberapa peserta yang ‘cheating‘ dengan memotong jalan, dia terus berlari dengan ‘enjoy‘. Menikmati air pemuas dahaga di beberapa water station sambil memperhatikan sampah bekas minuman. Bertegur sapa dengan Kak Maria/Ari dan sempat wefie, lalu berpisah karena pace yang berbeda. Tidak masalah. Apalagi saat detik-detik menjelang finish. Semua seolah gempita menyambutnya. Larinya bertambah kencang. Sorak-sorai membahana. Nafas memburu dengan jantung yang terus bergerak begitu cepat. Hingga akhirnya … dia mengangkat tangan sebagai bukti kepuasan yang paripurna. Finish mengikuti ajang Jakarta Marathon 2014 untuk kategori 10K. Ajang internasional pertamanya meski belum pernah mendapatkan medali 5K sekalipun dengan catatan waktu 01:34:13 dan pace 6,4. Hari itu, 26 Oktober 2014, padahal dia baru memulai ikutan ajang lari akhir September 2014. Baru sebulan!

MENEMPUH BANDUNG-JAKARTA DENGAN MOTOR

Mungkin dia termasuk orang-orang yang terbilang nekat. Beberapa mengatakan, “Gila!” Bukan masalah larinya dengan memilih kategori 10K, sementara dirinya belum pernah ikut ajang lari 5K. Akan tetapi bagaimana prosesnya hingga dia memutuskan untuk ikutan JakMar, lalu kembali memutuskan untuk naik motor Bandung-Jakarta PP bersama anak dan istrinya. Semua itu … terbilang nekat. 30 September 2014 adalah titik awalnya. Berbincang sesaat dengan seorang kawan betapa keinginannya bisa mengikuti ajang lari untuk kali pertama. Gayung bersambut. JakMar dijadikan pilihan. Hanya satu bulan kurang buat persiapan. 1 Oktober 2014 ada kabar bahwa namanya sudah didaftarkan. Ini ajang pertama. Jadi wajar kalau dia pun bertanya terus bagaimana proses setelahnya. “Pokoknya harus ambil racepack dulu pada tanggal yang sudah ditentukan.” Oke, dia baru tahu istilah racepack.

Hampir setiap hari dia berlari. Sekuatnya. Untuk detailnya bagaimana dia lari sila baca postingan Siliwangi 10K. Namun selama itu, dia belum pernah bisa lari sejauh 10K. Hingga akhirnya kegembiraan menghampirinya. 2 Oktober 2014, bertepatan dengan Hari Batik Sedunia dan adzan maghrib, dia berhasil berlari dengan jarak 10K untuk pertama kalinya. Catatan waktunya adalah 01:43:10. Lumayan. Ada rasa optimis bahwa dia mampu untuk mengikuti JakMar. Latihan tinggal digeber agak santai, yang penting otot kakinya tidak kaget saat hari H. Selanjutnya adalah memikirkan bagaimana caranya bisa ke Jakarta dan kembali lagi ke Bandung. Ini perjuangan yang tidak mudah. Apalagi saat Sang Belahan Jiwa memutuskan untuk turut serta. Itu artinya kedua puterinya atau salah satunya juga harus ikut. Glek!

Jalan-45.jpg

Bismillah. Persiapan dilakukan seadanya. Motor pun tidak sempat diservis karena dana kurang, dan jadinya hanya Adik Anin yang diajak, sehingga harus izin untuk tidak masuk sekolah. Setelah semua persiapan beres, Sabtu pagi pada 25 Oktober, mereka bertiga berangkat menaiki Honda Fit-S. Motor jadoel yang masih mumpuni. Menyapa matahari yang makin memanas dan menembus kemacetan di daerah Cibeureum hingga Padalarang. Menikmati setiap momen sepanjang Citatah dan Ciranjang, hingga akhirnya memutuskan berhenti di Cianjur. Sarapan bubur ayam demi menjaga agar perut tidak kosong. Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Cipanas yang menanjak dan semakin terjal hingga ke Puncak. Lalu kembali beristirahat sambil menunaikan Shalat Dzuhur jama’ Ashar di Masjid At-Ta’awun yang membuat hati jadi adem. Gerimis mengundang. Setelah makan kue gemblong yang banyak dijajakan, perjalanan dilanjutkan melewati Bogor ke arah Depok.

Jalan lurus yang bikin bete, seperti takusai-usai. Belum disambut hujan yang makin menderas. Satu-satunya jalan adalah melipir sejenak di halaman sebuah minimart sambil menikmati minuman penyegar dan cemilan seadanya. Jas hujan ada, tetapi lebih nyaman beristirahat sejenak. Kasihan Adik Anin kalau harus hujan-hujanan. Motor hitam dinyalakan kembali saat hujan mereda. Sempat tersasar di Depok, hingga akhirnya selamat sampai di Tanjung Barat. Mampir sejenak di rumah saudara pada sekira Ashar. Adik pun bersenang-senang dengan kucing peliharaan yang berbulu indah. Memaksimalkan waktu untuk ngobrol dengan semua anggota keluarga. Lewat setengah jam, saatnya jalan kembali ke tengah kota metropolitan bernama Jakarta. Untunglah tidak terlalu macet, hingga akhirnya sampai di Senayan menjelang maghrib. Tempat pengambilan racepack. Bertemu dengan beberapa kawan pelari dari Bandung, termasuk Pak Surachman yang menjadi komandan saat Independence Run 2014 beberapa bulan sebelumnya. Sebelumnya dia juga pernah menemani beberapa pelari Bandung ke Jakarta di ajang Long Run for Leukemia.

Jalan-46.jpg

Antri saat racepack itu pengalaman takterlupakan, sama dengan pengalaman di atas saat menjadi marshal pesepeda. Termasuk saat cek kesehatan yang ternyata badannya belum terbilang ideal. Racepack yang dimaksud ternyata banyak, selain kaos dan nomor dada, juga ada beberapa produk sponsor plus petunjuk area lomba. Setelah mengobrol asyik dengan Pak Surachman dan istri sambil lesehan, kembali mereka bertiga melanjutkan perjalanan motornya ke arah Kelapa Gading selepas maghrib. Itulah rumah orangtua terkasih sebagai tempat berlabuh. Adik Anin tentu senang bertemu dengan Mbah Ti dan Mbah Kung-nya. Ajang lari bisa dimanfaatkan untuk silaturahmi dengan keluarga tercinta. Meski sebentar, semua disambangi dengan hati terbuka. Malam itu menjadi malam bahagia bagi semuanya, dan akhirnya harus istirahat di awal malam untuk menyimpan banyak tenaga setelah lebih dari 12 jam di atas motor. Sekira pukul 03.00 dini hari sosok itu telah bersiap-siap, begitu pula dengan Sang Belahan Jiwa dan Adik Anin. Setelahnya, motor hitam kembali melaju di jalanan Jakarta yang sepi, menuju Monas. Sekira pukul 04.00 motor telah diparkir di area Gambir, dilanjut persiapan untuk shalat Subuh. Mayoritas jamaah di Masjid At-Tanwir adalah para pelari. Subhanallah.

Jalan-47.jpg

SERU-SERUAN NAIK MOTOR JAKARTA-BANDUNG

Sosok itu akhirnya ‘finish strong‘, tanpa harus beradegan jalan kaki. Kalaupun berhenti, hanya untuk wefie atau untuk mengambil air minum di WS. Dan saat finish, semua terasa begitu indah. Ibarat film kartun, tetiba bermunculan berbagai aneka kembang api bersamaan dengan mekarnya jutaan bunga di sepanjang jalan. Semesta berteriak senang. Dia pun berhak mendapatkan medali 10K pertamanya, lalu diberikan pisang dan air isotonis dari produk kenamaan. Waktunya terbilang lumayan untuk seorang ‘newbie‘. 1 jam 34 menit 13 detik. Setelah mengobrol sebentar dan wefie dengan Arie yang sama-sama blogger, dia pun taksabar untuk bertemu dengan keluarga kecilnya. Adik Anin begitu sumringah dengan abinya. Ia pun meminta medali tersebut untuk bisa dipakainya dengan bangga, apalagi ia memang sudah memakai kaos larinya. Sosok itu cukup dengan kaos CKS. Sang Belahan Jiwa pun bercerita betapa dirinya panik saat Adik Anin sempat menghilang saat sosok itu lari. Untunglah berhasil bertemu kembali pada waktunya. Semua bahagia.

Jalan-48.jpg

Sempat jalan-jalan sebentar di area lomba melihat beberapa jajanan, mereka bertiga kemudian memutuskan untuk pulang ke Kelapa Gading. Panas sang surya semakin menyengat. Lahan parkir yang tadi subuh masih sepi, ternyata telah berubah menjadi lautan motor. Antri yang begitu panjang dan lama. Kemudian ditambah dengan kemacetan khas Jakarta setelahnya. Sampai di Kelapa Gading, cerita pun mengalir agar tersampaikan dengan baik kepada Mbah Ti dan Mbah Kung. Istirahat sejenak menghilangkan penat, dan tidak bisa tidur, akhirnya mereka harus berpamitan pulang. Meninggalkan Jakarta untuk kembali ke Bandung, tepat setelah Ashar. Jalanan yang padat, berkejar-kejaran dengan cuaca yang tidak bersahabat. Benar saja, belum sampai Bogor hujan turun dengan derasnya, memaksa sosok itu untuk menepikan motornya, berteduh di sebuah warung kecil. Mie rebus menjadi penghangat tubuh mereka yang mulai membasah. Adzan maghrib berkumandang. Setelah hujan mereda, mereka berjalan lagi memasuki kota Bogor, hujan lagi, berhenti lagi, reda lagi, jalan lagi hingga dia merasa ban depan motornya bermasalah. Menyempatkan diri mampir ke bengkel yang masih buka, ternyata batang as roda depan harus diganti. Disetujui meski sisa dana tinggal Rp5ribu.

Setelah beres, motor hitam digeber lagi menembus Bogor yang tiba-tiba saja macet luar biasa di Jl. Pajajaran. Lumayan lama. Belum lalu lintas yang dipaksa untuk satu arah, dan memaksa semua pengendara motor untuk memutar jauh melewati terowongan gelap dan akhirnya bisa ke jalur Puncak. Malam gelap. Dingin. Dan tetiba hujan turun dengan derasnya. Mereka bertiga terpaksa berteduh di toko kecil yang tutup. Gelap. Lama sekali. Hujan mereda setelah hampir dua jam, perjalanan dilanjutkan dan sempat mampir di Pom Bensin Puncak untuk shalat Maghrib dijama’ Isya dengan kondisi pakaian rada basah. Sampai Puncak, sudah tengah malam dan kabut yang tebal. Dingin menusuk. Sosok itu memacu motornya dengan hati-hati. Beberapa bagian jalan terasa gelap dan sepi. Adik Anin dan Sang Belahan Jiwa mungkin sudah terlelap. Sebelum sampai Citatah, dia merasa letih. Matanya sudah tidak bisa ditahan lagi, akhirnya mampir ke SPBU Citatah dan langsung tidur di terasnya. Begitu pula dengan dua anggota keluarganya. Tidak sampai setengah jam dirinya merasa segar. Adik Anin bangun sempoyongan dan hampir jatuh. Terasa lucu, namun juga kasihan. Nggak lagi-lagi mengajak Adik dengan kondisi seperti itu.

Jalan-49.png

Jalanan sepi. Malam menebarkan aroma dingin yang menusuk. Sosok itu sempat teringat pada episode ke belakang saat bersepeda sendirian di tengah malam, pada wilayah yang sama. Ada yang memanggil dari sebuah rumah tua. Tidak ada orang. Tidak ada siapa-siapa. Bulu kuduknya sempat meremang, namun dia tetap melanjutkan kayuhannya dengan kecepatan stabil. Dia tersenyum. Motornya dipacu lagi lebih cepat, hingga akhirnya menemui sedikit keramaian saat memasuki Padalarang. Bandung pun masih sepi. Alhamdulillah cuaca begitu cerah, tidak seperti saat di Bogor. Tanpa terasa mereka bertiga sampai dengan selamat di rumahnya di daerah Ciganitri, terusan Buah Batu. Dia melihat jam dinding, pukul tiga dini hari lebih sedikit. Masih ada waktu barang sejenak sebelum memulai aktivitasnya di hari Senin pagi. Seperti seolah-olah tidak terjadi apa-apa pada dua hari ini. Sang Belahan Jiwa bekerja kembali di instansi kesehatan. Sosok itu tetap mengetik di rumah sambil menemani Adik Anin yang tertidur pulas di kasurnya. Biarlah ia istirahat dan izin kembali tidak masuk sekolah. Kasihan. Dia mengetik sambil memandang medali 10K yang berbentuk baju.[]

Advertisements

One thought on “Semua Demi Jakarta Marathon

  1. perjuangan pulang pergi jakarta luar biasa. apalagi lari 10k nya tak kalah menyenangkan.

    saya malah baru sekali tahun ini ikut race di jakarta.

    salam olah raga
    mari lari

    >> Iya, Mas. Dan target setelahnya adalah 21K ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s