Bandung Sebagai Kota Banjir

Bandung sebagai kota banjir. Miris. Siapa pun tidak akan mau kalau kotanya dicap sebagai kota yang berkonotasi negatif, termasuk predikat sebagai kota banjir. Beberapa bahkan menyebutnya dengan Bandung Lautan Air atau yang lebih negatif dari itu semua. Begitu pula dengan sosok itu. Meskipun hanya sebagai kota kedua (karena dia lahir dan besar di Jakarta), Bandung adalah kota yang begitu dicintainya. Di sinilah dia bisa menuntut ilmu di perguruan tinggi ternama. Di sinilah dia bisa mengasah dan mengembangkan keterampilannya. Di sinilah dia bisa menemukan sang belahan jiwa hingga resmi mendapatkan KTP Bandung dan status baru. Di sinilah dia bisa menyaksikan kelahiran dan membesarkan kedua putri tersayangnya. Di sinilah dia bisa dikenal dengan sebutan Bang Aswi hingga aktif di beberapa komunitas, lalu bersama-sama membangun Kota Bandung dengan kemampuan yang dia bisa.

Ya, siapa pun tidak suka kalau kotanya dijelek-jeleki. Namun kenyataan menunjukkannya. Warga Bandung dan masyarakat Indonesia sempat terkejut saat Bandung diterjang banjir yang amat parah (Senin, 24/10/2016). Mereka ngembang kadu (melongo) dan matanya ngembang cabe (melotot) saat mengetahui kalau sebagian ruas di Jln. Dr. Djundjunan (tepat di depan Bandung Trade Center) tergenang oleh air sehingga mengakibatkan lalu lintas lumpuh total. Pada saat yang sama, banjir parah juga terjadi di Jln. Pagarsih. Jalan tersebut menjelma sungai yang akhirnya menghanyutkan sebuah mobil hingga masuk ke dalam sungai Citepus. Warga Bandung hanya bisa ngembang cikur (bengong), sementara masyarakat Indonesia ngembang waluh (saling membicarakan dan bertanya) di media sosial.

jalan-54

Jln. Pagarsih (inset: Jln. Rancaekek, Kab. Bandung)

Pemkot Bandung jelas tidak tinggal diam setelahnya. Kang Emil langsung mengambil rencana dengan melakukan pembongkaran bangunan di sepanjang sungai. Katanya, “Didapati banyak rumah/hotel/kantor yang pembangunannya melanggar regulasi karena mempersempit jalan air sampai 50% sehingga air melompat ke jalanan, yang ujungnya jika curah hujan ekstrem menyebabkan banjir. Karena itu mulai minggu ini Pemkot Bandung akan membongkar bangunan/akses properti dari 2 hotel, 2 kantor, dan 15 rumah di sepanjang sungai Cianting yang menuju Jln. Dr. Djundjunan.” Salah satu aksinya adalah Pemkot Bandung akan segera membongkar jembatan yang merupakan akses masuk ke Hotel Topas. Dinding jembatan terlalu tebal sehingga menyebabkan aliran air di bawahnya terhambat.

Rabu pagi (9/11/2016), Pemkot Bandung turun tangan bersama warga setempat untuk membersihkan sungai Citepus. Aksi yang berjalan baik, namun pada siang hari hujan turun kembali dengan derasnya. Tak disangka, Jln. Pagarsih kembali menjadi sungai yang begitu deras arusnya. Menurut warga sekitar, banjir di jalan tersebut sudah berlangsung puluhan tahun, biasanya hanya datang saat awal dan penghabisan musim hujan. Sudah menjadi hal lumrah. Namun menjadi istimewa karena lagi-lagi ada 2 (dua) mobil yang hanyut hingga masuk ke sungai Citepus. Kepala Bidang Humas Polda Jawa Barat Yusri Yunus menuturkan bahwa sekira pukul 17.30 WIB, dilaporkan dua kendaraan hanyut di simpang Astanaanyar dan Pagarsih, yaitu Kijang warna merah dan Avanza warna hitam.

BANJIR BANDUNG TERJADI LAGI (DAN LAGI)

Hari ini (Minggu, 13/11/2016) sosok itu dan sang belahan jiwa tidak merasakan sesuatu yang jelek. Dia berencana di rumah saja guna mengerjakan beberapa pekerjaan rumah sedangkan pasangannya sudah berniat mau ke Cicalengka menggunakan kereta guna menjenguk seorang kawan yang baru melahirkan. Panas terasa terik selepas pagi hingga kemudian geluduk menggema di kejauhan menjelang siang. Dia segera mengangkat jemuran yang sudah lumayan kering, sampai akhirnya hujan mengguyur di daerah Ciganitri. Tidak terlalu besar. Sambil mengetik ada beberapa pesan yang masuk lewat WA. Diantaranya adalah berita tentang Bandung. Banjir terjadi lagi, dan kali ini sampai menggenangi Stasiun Bandung dan RS Mata Cicendo. Bahkan di beberapa jalan ada pohon tumbang yang merusak kendaraan di bawahnya.

Kanopi BEC (Bandung Electronic Center) dikabarkan terbang oleh angin sehingga curahan hujan masuk membasahi eskalator dan sempat membuat panik para pengunjung. Hujan angin juga merusak tenda penjual (fashion craft) yang biasa ada di depan BIP (Bandung Indah Plaza). Di daerah Lembong bahkan airnya masuk ke dalam salah satu toko yang belum pernah terjadi selama puluhan tahun berjualan. Hujan yang diiringi es (menurut beberapa saksi) juga menyebabkan pohon tumbang di Jln. Otista dekat belokan stasiun selatan, Jln. Manado, dan di Jln. Serayu. Ranting pohon yang agak besar juga terlihat patah di Jln. Cihampelas. Yang menjadi perhatian sosok itu adalah banjir yang sampai menggenangi rel kereta di Stasiun Bandung karena efeknya membuat transportasi kereta jadi berhenti.

Benar saja, sang belahan jiwa jadi tertahan di Stasiun Cicalengka. Menurut Ilud Siregar, Manager Humas PT KAI Daop 2 Bandung, KRD 390 jurusan Padalarang-Cicalengka tertahan di Stasiun Ciroyom. Begitu pula dengan KRD 400 jurusan Padalarang-Cicalengka yang tertahan di Stasiun Cimindi dan KRD 381 jurusan Cicalengka-Padalarang tertahan di Stasiun Kiaracondong. Sang belahan jiwa yang seharusnya berangkat pada pukul 14:55 pada akhirnya harus menunggu bersama ratusan penumpang di Stasiun Cicalengka. Sosok itu sendiri panik menanti berita. Ada opsi mau naik jasa mobil online tetapi ada kabar jalan di depan PT Kahatex Rancaekek banjir besar sehingga memutus jalur transportasi dua arah. Dia mengecek di waze memang tidak ada ada kendaraan sama sekali di daerah itu.

jalan-55

Stasiun Bandung dan RS Mata Cicendo

Pada pukul sekira 16:00 ada berita baik, KRD yang tertahan mulai jalan kembali. Bisa jadi genangan yang terjadi di Stasiun Bandung mulai surut. Calon penumpang sudah berdesak-desakan. Beruntung rombongan sang belahan jiwa membawa anak-anak sehingga lebih didahulukan untuk bisa masuk ke dalam stasiun. Menjelang maghrib ada kereta yang masuk, ternyata itu adalah KRD yang berangkat dari Padalarang pada pukul 12. Enam jam! Ia akhirnya sampai di Stasiun Kiaracondong saat azan Isya, dan selamat sampai rumah menjelang pukul 21:00. Ada perasaan bahagia saat bisa melihat sang belahan jiwa yang tidak apa-apa, sekejap lupa dengan video banjir yang terjadi di Jln. Pasirkaliki, Jln. Sukagalih, dan foto-foto banjir di Jln. Sukajadi, Jln. Ahmad Yani, Jln. Laswi, Jln. Gatsu, dan lain sebagainya. Banjir Bandung seolah merata.

Ada yang unik dengan bertambahnya debit air sungai Cikakak, yaitu dinding sejumlah rumah jebol yang tepat berada di sisi sungai, mengakibatkan barang-barang berharga hanyut terseret arus. Kompol Reny Marthaliana, Kasubaghumas Polrestabes Bandung, menyebutkan bahwa peristiwa itu terjadi di enam RT di RW 5 Kelurahan Arjuna, Kecamatan Cicendo. Ketinggian air yang menerjang ke rumah warga mencapai sekitar 1,6 meter. “Berdasarkan data yang kami catat, ada 10 rumah jebol. Barang berharga yang hanyut terbawa arus antara lain berupa 11 kulkas dan satu mesin cuci,” kata Reny. Kulkas-kulkas tersebut terseret arus kuat lalu tersedot ke aliran sungai. Ada satu jembatan yang rusak karena terkena benturan kulkas.

BANDUNG BANJIR, SALAH SIAPA?

Sejumlah masyarakat menyalahkan pembangunan gorong-gorong yang sedang berlangsung di beberapa ruas jalan utama. Kalau sedang tidak hujan menimbulkan kemacetan, kalau hujan ya menimbulkan banjir. Pemkot Bandung memang sedang memperbaiki 19 ruas gorong-gorong. Perbaikan dilakukan dengan cara memperlebar luas gorong-gorong menjadi 2×2 meter. Kalau ada gorong-gorong yang kecil, itu adalah ducting kabel yang berukuran 50×50 cm. Pemkot Bandung juga mengupayakan pembangunan tol air dimana yang pertama berfungsi ada di Kecamatan Gedebage. Tol air tersebut diklaim telah efektif mengurangi banjir. Kang Emil mengatakan bahwa tol air itu akan menyedot air yang tergenang masuk ke pipa khusus yang langsung berujung di sungai (yang paling tidak berpotensi meluap) terdekat tanpa ada gangguan berupa sampah atau endapan tanah.

Berkenaan dengan banjir di Jln. Pagarsih, memunculkan sebuah artikel di beberapa grup WA. Kesimpulan dari artikel yang katanya ditulis oleh Pak Hardjono (mantan pejabat BPN) itu adalah bahwa Jln. Pagarsih tidak mungkin terjadi banjir kalau masih ada Situ Aksan atau pada saat zaman penjajahan Belanda disebut Westerpark. Dapat dipastikan, yang terjadi kemudian ada beberapa orang/kawan yang menyetujuinya (termasuk sosok itu). Ben Wirawan, seorang kawan yang juga aktif di beberapa komunitas, langsung mendebatnya. Ia tidak setuju kalau hilangnya Situ Aksan adalah penyebab dari banjir di Jln. Pagarsih. Ia pun mengumpulkan data, salah satunya adalah dari keluarganya sendiri dimana sang istri adalah salah satu cicit dari H. Mas Aksan (asal nama situ tersebut).

Ia mengutip tulisan T. Bachtiar, seorang penggiat Kelompok Riset Cekungan Bandung, yang banyak mengutip data dari Peta Topografi 1882, buku ‘Gids Van Bandoeng en Midden-Priangan‘ karya A.A. Sitsma dan W.H. Hoogland tahun 1927, Peta ‘Bandoeng Town Plan’ tahun 1933, dan wawancara dengan saksi-saksi sejarah. Simpulan dari beliau itu adalah bahwa Situ Aksan bukan situ alami yang katanya merupakan sisa-sisa dari genangan Danau Bandung Purba, tetapi berasal dari bekas galian sawah di Dunguscariang yang dijadikan bata merah demi pembangunan perumahan dan gedung-gedung di Bandung pada masa 1920-an. Air yang menggenanginya berasal dari sungai Leuwilimus, hingga beberapa tahun kemudian menjadi daerah wisata Situ Aksan. Selengkapnya bisa dibaca pada Hilangnya Situ Aksan dan Banjir Pagarsih.

jalan-56

Pada akhirnya selalu ada momen untuk menunjuk siapa yang salah. Pemkot Bandung yang salah. Kang Emil yang salah. Hujan di Bandung Utara yang menyebabkan banjir. Semuanya menunjuk pada pihak yang dianggap bertanggung jawab. Kang Emil menuturkan, banjir merupakan persoalan multidimensi. Oleh karena itu, perlu penanganan yang multidimensional pula. Selain berupaya dengan hal-hal yang telah disebutkan di atas, ia juga membuat regulasi pelarangan styrofoam dan regulasi bangunan hijau. Ia sendiri sudah meminta maaf dan siap bertanggung jawab. ”Musibah ini kita sesali tapi terus kita akan berupaya. Pemkot Bandung sudah meminta maaf terkait banjir yang terjadi,” ucapnya.

Ya, sosok itu juga merasa tidak usah lagi menunjuk siapa yang salah. Sudah saatnya semua pihak, semua masyarakat, untuk introspeksi diri. Ayo sama-sama bermuhasabah. Semua saling berkaitan. Mungkin tidak ada yang menyadari bahwa kesalahan kecil dari satu orang yang membuang sampah di satu titik akan diikuti oleh orang lain yang membuang sampah di titik yang sama. Di kemudian hari, secara bertahap, makin banyak orang lain yang ikut-ikutan membuang sampah di titik tersebut. Pada akhirnya, setahun kemudian ada sampah menumpuk yang jumlahnya takterhingga di sana. Siapa yang salah? Jangan sampai tangan kitalah yang pertama kali membuang sampah di titik itu. Ingatlah! Jika satu jari menunjuk pada orang yang dianggap salah maka ada empat jari yang menunjuk pada diri orang itu sendiri. Daripada menyalahkan orang lain, lebih baik berupaya dan bekerja sama agar Bandung menjadi kota yang tidak banjir lagi. Amin.[]

Advertisements

13 thoughts on “Bandung Sebagai Kota Banjir

  1. Ngeri banget ini banjir sampe masuk rumah sakit, saya sendiri kemaren mengalami kesulitan menemukan kendaraan umum karena macet akibat banjir. Semoga masalah ini cepat diselesaikan ya.

    >> Iya, kalau fasilitas publik sampai kena pasti bawaannya ngeri karena menyangkut banyak orang. Pastinya susah cari angkot ya, Teh. Amiiin….

  2. liat kota bandung sekarang kok bisa ngeri begitu ya, padahal itungannya di dataran agak tinggi ya kak..
    semoga walikotanya bisa memperbaiki, pasti pusing nih pak ridwan kamil

    >> Ya namanya juga bencana. Manusia tidak bisa berbuat apa2 saat itu terjadi. Yang bisa dilakukan adalah segera membuat rencana dan terapkan agar tidak terjadi lagi bencaba serupa.

  3. pada akhirnya akan kembali lagi pada satu dasar yang selalu digaungkan

    “Pendidikan yang sukses adalah pendidikan yang mampu membuat peserta didik minimal terbiasa tidak membuang sampah sembarangan”

    Hmm terkait situs aksan, dari kemarin muncul di beranda/linimasa, kirain tidak ada hubungannya, jadi kepo

    thanks bang aswi

    >> Iya, salah satu pendidikan dasarnya adalah terus mengajarkan dan meneladani untuk berbuat baik dengan alam. Salah satunya adalah tidak membuang sampah seenaknya sendiri.

    Terima kasih kembali sudah mampir ^_^

  4. “Ingatlah! Jika satu jari menunjuk pada orang yang dianggap salah maka ada empat jari yang menunjuk pada diri orang itu sendiri.” <– Keren Bang! Saya jadi introspeksi diri lagi.. Sedih pisan Bandung dicap jadi Lautan Air T^T

    >> Ini juga terinspirasi dari salah satu wakil Indonesia di PBB sanah ^_^

  5. Bandung sebelumnya terkenal kota sampah, sekarang menjadi lautan air. Terlalu banyak penghuni dan pembangunan fasilitas infrastruktur yang kebut-kebutan. Mau dibuang kemana airnya sementara disekelilingnya juga pabrik-pabrik berjejer besar. Semoga rakyat Bandung tabah dan tetap berfikir jernih, saatnya pemerintah menggunakan amdal yang benar dalam menata kembali wajah Bandung seperti dahulu kala.

    >> Siap! Mohon doanya yaaa…

  6. dari foto2 ternyata banjirnya lebih parah dari medan. kalau di medan sendiri ngga ada sungai yang meuap, karena memang sungainya didesain dalam dan banyak sampah. yang bikin banjir drainase yang kurang baik. sekarang pemkot medan dalam proses perbaikan drainase, gali sana-gali sini, gorong2 diperlebar, jalanan diberbaiki,

    semoga musibah di bandung cepat berlalu, gorong2 selesai dan banjir bisa surut.

    >> Amiiin….

  7. ngeri bangte loihat banjir di bandung, setiap hujan deras banjir, nih suatu wraning buat masarakat dan pemerintah untuk bahu membahu atasi banjir

    >> Doain masyarakat Bandung ya, Teh….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s