Perempuan Inspiratif NOVA 2016 dan Laskar Ciamis

Perempuan Inspiratif NOVA 2016 adalah acara yang luar biasa dan bisa menghadirinya pada Sabtu malam (26/11) di Ballroom Hotel Grand Tjokro Cihampelas telah mengubah momen itu menjadi malam yang istimewa bagi Sang Belahan Jiwa dan sosok itu. Ya, dia hadir sebagai pendamping istrinya, di sebuah acara yang dihadiri oleh para perempuat hebat. Turut hadir pula si Cinta alias Teh Atalia, istri wali kota Bandung, dan Alyssa Soebandono yang saat akhir acara dikejar oleh para undangan. Khusus untuk tulisan kali ini, dia akan fokus pada salah satu sosok perempuan inspiratif yang satu-satunya mewakili Bandung, yaitu Sidrotun Naim. Siapa dia?

Beliau adalah doktor pertama dari Indonesia di bidang penyakit udang sekaligus lulusan teladan dari Harvard University. Dalam sambutannya setelah menerima penghargaan sebagai Perempuan Inspiratif NOVA 2016 di Kategori Perempuan dan Teknologi, ia berujar, “Mungkin hanya saya yang peduli pada kesehatan udang.” Dan langsung disambut senyum dan tawa para undangan. “Percayakanlah kesehatan dan kecerdasan anak-anak dengan cara mengonsumsi udang yang sehat,” lanjutnya. Hebatnya lagi, Sidrotun Naim juga pernah menerima penghargaan ilmuwan muda tingkat dunia dari UNESCO. Penelitiannya adalah memberikan kontribusi nyata bagi bangsa Indonesia.

indonesia-02

Teh Atalia dalam fanpage Cerita Atalia mengatakan, “Alhamdulillah … malam minggu lalu telah terpilih 14 Perempuan Inspiratif NOVA 2016 pada ajang penganugrahan para perempuan inspiratif di berbagai bidang. Wanita terpilih menjadi contoh pribadi perempuan yang tidak mudah putus asa, mampu bangkit dari kegagalan, dan bermanfaat bagi masyarakat luas yang mampu mendorong lingkungan untuk bersama-sama berkarya dengan cinta.” Ya, mereka tidak pernah meminta untuk diberi penghargaan. Mengutip ucapan Iis R. Soelaeman, Editor in Chief Tabloid NOVA, prioritas utama mereka adalah memberdayakan potensi dirinya, masyarakat, dan lingkungannya. Itulah mengapa NOVA mengapresiasi ke-14 perempuan hebat itu dan tahun ini adalah yang kesembilan kalinya.

LASKAR CIAMIS DAN SIDROTUN NAIM

Mereka adalah kita. Kita adalah mereka. Yang membedakan adalah kebermanfaatannya. Mari bersemangat menebar manfaat. ~ Atalia Praratya

Hal yang menarik dari sosok Sidrotun Naim adalah kepeduliannya pada Laskar Ciamis. Kalau ditanya mengapa, mungkin jawabannya sudah ada pada wilayah hati. Sama dengan sosok itu yang 100% mendukung #AksiDamai 411 kemarin dan sekarang #AksiSuperDamai 212. Masalah hati tidak perlu lagi adanya jawaban logis atau masuk akal, seperti halnya saat seseorang jatuh hati pada lawan jenisnya. Di sana tidak lagi berbicara soal kecantikan, soal kepintaran, dan lain sebagainya. Hati yang dilingkupi dengan keislaman jauh lebih tidak logis lagi, meski sebenarnya bisa. Seolah-olah semua hati umat Muslim bergerak tanpa sadar untuk saling menyatu dan saling mendukung. Siapa yang menggerakkan? Tanyakan pada hati sendiri. Jujur.

“Subuh ini saya menjadi satu-satunya jamaah perempuan di Masjid Perhutani, Bandung. Meskipun ada 30 menit yang memisahkan rumah kami ke Perhutani, saya dan Bapak Elhurr sepakat untuk subuhan pagi ini bersama Laskar Ciamis yang telah berjalan kaki hampir 120 kilometer sejak Senin pagi. Kepulan asap di malam hari, qunut, wirid, dan hizib yang syahdu di saat subuh, meyakinkan saya betapa persamaan antara saya dan mereka itu terlalu banyak, dibandingkan perbedaan, misal soal udud. Sebagai seseorang yang mengklaim diri sebagai nahdliyin, bahkan bagi saya, ini sih NU banget. Tapi ya, tidak sama dengan santri-santri NU yang sudah dipapar sentuhan dan benturan sana-sini.” Begitu kalimat statusnya di FB pada 1 Desember 2016 pukul 8:51.

indonesia-03

“Ba’da Ashar, saya diantar ke Pusat Dakwah Islam (Pusdai). Saya dengar Laskar Ciamis akan istirahat di Pusdai. Saya ingin ikut menyambut. Bapak Elhurr juga dari kantor langsung ke Pusdai. Setelah hampir sejam tidak ada kejelasan, kami melanjutkan petualangan. Mampir sebentar ke markas Indonesia Strategic Institute (InStrat) dan mendapatkan info dari Bos Henry bahwa Laskar Ciamis beristirahat di Perhutani. Setelah solat Maghrib, kami lanjutkan momotoran berdua ke Perhutani untuk mengejar Isya berjamaah. Setelah memarkir motor, kami berjalan menuju aula dan masjid tempat orang-orang kumpul. Tidak lama kemudian ada sekardus sarung dibagikan. Santri-santri berebut untuk rame-ramean dan lucu-lucuan.”

“Orang-orang bergelimpangan, istirahat. Ada yang lagi dipijat. Petugas PMI dari kota Bandung dan kecamatan sangat sigap. Makanan berat, cemilan, minuman, tolak angin, hansaplast, sendal jepit, melimpah. Saya ngobrol lumayan lama dengan Pak Wadud dari FPI Ciamis, kelahiran Tasik 1969. Dengan bangga dia tunjukkan kartu anggotanya. Di sebelahnya lagi anak muda yang bangga memanggul bendera Royyan (bendera hitam putih bertulis Laa ilaaha illa Allah). Dari narasi Pak Wadud, saya tahu bahwa mereka sudah berangkat sejak Senin pagi jam 8. Sepuluh ribu orang termasuk perempuan dan anak-anak jalan kaki sepanjang 30 kilometer sampai pemberhentian pertama di Pondok Pesantren Miftahul Huda, Manonjaya. Saat itulah tersiar kabar bahwa Kapolri dan GNPF-MUI telah mencapai kesepakatan. Seribu lima ratus melanjutkan jalan. Anak-anak pulang untuk sekolah. Begitu juga para santriwati. Di sepanjang jalan, Nagreg, Cicalengka, Rancaekek, rombongan menjadi lebih besar karena ada santri-santri bergabung.”

Sosok itu tersenyum saat membaca penjelasan Sidrotun Naim soal Laskar Ciamis yang mau-maunya berjalan kaki ke Jakarta. Katanya, “Cara berpikir mereka ini memang simpel, tidak ruwet dan kebanyakan teori. Longmarch itu perlu tekad baja yang kebanyakan dari saya dan Anda gak akan sanggup. Gak usah tengok kiri kanan. Tunjuk diri saja. Longmarch punya sejarah panjang. Termasuk tentara Siliwangi di masa kemerdekaan. Bukan sebuah kebetulan yang sanggup melakukannya kembali adalah para pewaris Bumi Siliwangi. Buang jauh-jauh soal fantasi makar, atau mengganti Pancasila. Kalau yang Anda maksud elit-elitnya, serangan Anda jangan diarahkan ke kami, yang longmarch, atau aksi untuk hore-hore. Tujuh puluh satu tahun bangsa ini, sudah beberapa kali diuji oleh kelompok yang ingin merobohkan Pancasila dan NKRI, gak berhasil. Lha kenapa sekarang jadi minder, gak PD? Kalaupun ada yang pingin, itu jadi angan-angan, klangenan, dan akan melemah dengan sendirinya.”[]

indonesia-04

“(Buat Ahok) menurut saya sanksi sosial saja bersihin Istiqlal atau masjid lain 100 hari. Siapa tahu malah dapat hidayah. Atau pilihannya dua: dibui atau jadi mualaf seperti Sayyidina Umar bin Khattab. Penentang yang kemudian menjadi pembela.”

Advertisements

5 thoughts on “Perempuan Inspiratif NOVA 2016 dan Laskar Ciamis

  1. Terharu dan tergetar hati membaca kisah laskar Ciamis. Saya merasa minder dengan mereka. Merekalah laskar pembela agama Allah swt yang sebenarnya.

    Salam, bang Aswi.

    >> Saya pun demikian.
    Salam hangat kembali….

  2. Wah, acara Nova satu ini masih konsisten ya dalam menebarkan manfaat dan menginspirasi lingkungan. Dan menarik sekali sosok Ibu Sidrotun Naim. Saya jadi penasaran dengan sosok beliau. Semoga suatu saat bisa bertemu langsung. Terima kasih atas informasinya, kak. 🙂

    >> Kalau ada acara Perempuan Inspiratif Nova, insya Allah selalu ada beliau ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s