Tour de Petjinan van Bandoeng

Pagi belum beranjak terlalu jauh, bulan pun masih tampak jelas. Sosok itu sempat berdiri mematung di sebelah timur Alun-alun, memandang Masjid Agung Bandung, membelakangi sebuah gedung yang katanya bakal dijadikan perpustakan, gedung yang bertuliskan kata ‘BANDUNG’ di tiang-tiang dinding. Selasa, 24 Januari 2017, pukul 6:45, beberapa warga sudah asyik duduk di bangku merah, berdiskusi dengan rekannya atau asyik menunggu kawannya yang belum datang sambil menyikukan tangannya di meja merah. Ada dua orang anak yang asyik berlari ke sana-sini mengejar bola plastik di tengah Alun-alun. Cuaca Bandung kali ini masih panas, pagi tidak lagi menyegarkan, sinar mentari sudah mulai agak menyengat. Dia kemudian menyandarkan sepedanya di salah satu bangku batu dan kemudian mengabadikannya dengan latar masjid.

Ingatan sosok itu masih segar tentang Alun-alun karena pada 24 Desember 2016 dia pernah mengadakan acara ‘Mapah ka Bandung’ bersama Kompasiana. Salah satunya belajar tentang sejarah tempat tersebut. Pikirannya pun segera berlari menuju 200+ tahun yang lalu saat Raden Adipati Wiranatakusumah II, Bupati Bandung ke-6, berlayar di atas Sungai Ci Tarum, lalu masuk ke Sungai Ci Kapundung. Di sebuah tempat, beliau turun dan menancapkan tongkatnya. Prajuritnya kemudian mendirikan tenda-tenda. Saat R.A. Wiranatakusumah II mencabut tongkatnya, keluarlah mata air yang jernih. Itulah cikal bakal Sumur Bandung yang berada di dalam Gedung PLN. Beliau memutuskan tempat tersebut sebagai ibukota Bandung. Tempat dimana tenda-tenda prajurit berdiri, dibangun sebuah bangunan yang menjadi cikal bakal Pendopo.

Format arsitektur Alun-alun Bandung mengikuti percampuran masa Kerajaan Majapahit dan kerajaan Islam setelahnya. Format tersebut hampir sama di seluruh Pulau Jawa dan sekitarnya. Biasanya terdapat lapangan atau alun-alun di tengahnya plus dua pohon beringin yang tumbuh. Di sebelah barat dibangun sebuah masjid besar, lalu dibangun pula pusat pemerintahan dan pasar rakyat. Tujuannya tidak lain agar masyarakat dapat berkumpul, bertemu dengan pemimpinnya, dapat berniaga, namun taklupa beribadah kepada Sang Maha. Kota Bandung kemudian mulai dijadikan sebagai kawasan pemukiman oleh pemerintahan kolonial Hindia-Belanda, melalui Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels dengan mengeluarkan surat keputusan tanggal 25 September 1810, namun baru memiliki pasar pada 1812. Namanya Pasar Ciguriang dan berlokasi di kawasan jalan Kepatihan. (Baca juga tentang Pasar Cihapit)

Peserta Tour de Petjinan

PASAR CIGURIANG DAN PASAR BARU

Pasar Ciguriang berkembang pesat, mengundang banyak orang dengan latar etnis berbeda untuk berniaga di sana. Tidak hanya orang Sunda, tetapi juga para pendatang seperti dari Jawa, Palembang, termasuk dari India dan Arab. Apalagi ditambah dengan semakin ramainya jalan Raya Pos (De Grotepostweg) yang kini bernama Jl. Asia Afrika sebagai jalan utama membuat orang-orang yang baru datang dari luar kota untuk mampir dan menghidupkan Pasar Ciguriang. Peristiwa Perang Diponegoro (1825-1830) secara tidak langsung juga berdampak dengan datangnya orang-orang Tionghoa dari Jawa melalui Cirebon. Versi lainnya adalah didatangkan Belanda untuk membangun jalan Raya Pos. Beberapa dipaksa menjadi tukang perkayuan karena mereka memang memiliki keahlian. Mereka kemudian bermukim tidak jauh dari Alun-alun dan terbentuklah Kampung Suniaraja atau disebut juga sebagai kawasan Pecinan (batasnya adalah Jl. Asia Afrika, Banceuy, Suniaraja, dan Otista) yang hanya diisi oleh 13 keluarga. Proses inilah yang juga membentuk Kampung Jawa di sekitar Stasiun Kiaracondong.

Pada bulan November 1845, Pasar Ciguriang ludes terbakar. Ada kabar bahwa kebakaran itu disengaja sebagai umpan untuk membunuh Asisten Residen Priangan dan Bupati Bandung. Pembunuhnya bernama Munada yang sakit hati pada bekas atasannya, Asisten Residen bernama Nagel. Akibatnya perlu dicarikan tempat baru untuk menampung para pedagang. Pada 1884 dipilihlah sebuah tempat di sebelah barat Kampung Suniaraja sebagai pusat perdagangan, hingga di kemudian hari dikenal sebagai kawasan Pasar Baru. Pasar ini pun langsung berkembang pesat hingga pada 1906 didirikanlah bangunan baru yang semipermanen, termasuk dua buah pos yang mengapit jalan masuknya. Bagian depan diisi oleh jajaran pertokoan sedangkan di bagian belakang diisi oleh los-los pedagang. Pada 1935, Pasar Baru mendapat predikat sebagai pasar terbersih dan paling teratur se-Hindia Belanda. Namun bangunan asli pada masa itu hilang setelah perombakan pada 1970-an.

heritage-06

Atas: Kawasan Pecinan Lama (ilustrasi Pasar Ciguriang). Bawah: Pasar Baru

Nah, ada banyak kisah menarik di balik Pasar Baru ini. Semua itu memang berpusat pada beberapa saudagar yang berhasil berniaga di sana. Salah satunya adalah saudagar batik Solo yang menjadi pelopor perdagangan batik di Pasar Baru, yaitu keluarga Tan Djin Gie. Kiprah keluarga tersebut terekam dengan baik dalam roman ‘Rasia Bandoeng’ karya Chanbanneau (1918). Roman ini begitu terkenal karena menceritakan kisah nyata hubungan cinta terlarang sesama marga Tionghoa. Tan Djin Gie pula yang mendirikan ‘landhuis‘ di Jl. Kebon Jati pada 1884, yang di kemudian hari diubah menjadi Hotel Surabaya. Hotel ini selalu ramai oleh pengunjung setelah pembukaan jalur kereta dari Batavia ke Bandung. Saat ini, bagian belakang hotel sudah tidak ada lagi dan tergantikan oleh Hotel Gino Feruci.

Pasar Baru Bandung

Saudagar-saudagar kaya lainnya dari Pasar Baru yang terkenal adalah Asep Berlian yang berasal dari Palembang. Tidak diketahui siapa nama aslinya karena nama ‘asep’ disematkan padanya sebagai penghormatan dari warga Sunda, sedangkan berlian disematkan karena beliau sering membawa keris yang hulunya terdapat berlian sebesar biji jagung. Peristiwa paling menghebohkan pada dirinya terjadi saat salah satu istrinya dibunuh oleh pembantunya sendiri, sehingga saat itu terkenal istilah ‘Guyur Bandung‘. Namanya kemudian diabadikan pada sebuah jalan di daerah Cicadas. Nama-nama saudagar lainnya yang kemudian diabadikan menjadi nama jalan adalah Dulatip, Tamim, Encek Azis, Mayor Sunarya, Pahrurodji, Durasyid, dan Yakub. Orang Tionghoa yang diabadikan menjadi nama jalan adalah Babah Tam Long (Jl. Tamblong) yang dulunya adalah seorang tukang kayu terkenal.

PENGUSAHA TIONGHOA DI PECINAN LAMA

Sosok itu mendapatkan semua informasi di atas setelah diajak berkeliling dalam acara ‘Tour de Petjinan van Bandoeng‘. Tour ini digagas oleh Komunitas Aleut dengan Best Western Premier La Grande Hotel yang melibatkan para Hakko Ako dan Amoy Bandung, Koko Cici Jakarta, Mojang Jajaka Bandung, dan para awak media. Dia sendiri mewakili Blogger Bandung bersama Efi dan Mbak Alaika. Program ini dibuat dalam rangka perayaan hari raya Imlek 2568. Nah, Kampung Suniaraja yang telah disebutkan kemudian makin padat oleh warganya yang terus bertambah. Untuk mengatasi hal tersebut, pemukiman orang-orang Tionghoa kemudian dipindahkan ke sebelah barat, yaitu di belakang Pasar Baru. Itulah mengapa Kampung Suniaraja sekarang disebut sebagai kawasan Pecinan Lama. Dan cerita tentang kawasan ini tidak bisa dilepaskan dengan para pengusaha asal Tionghoa yang legendaris.

Ya, bercerita tentang Bandung tidak akan menarik kalau tidak melibatkan unsur kuliner di dalamnya. Kota ini sudah terkenal sebagai pusat kulinernya. Siapa pun yang ke Bandung, selalu diselipkan kisah berburu kuliner. Kuliner yang pertama didatangi dan dekat dengan Alun-alun adalah Kopi Purnama di jalan Alkateri. Patokannya adalah Hotel Golden Flower di Jl. Asia Afrika. Warung ini telah berdiri sejak 1930 tetapi dengan nama Chang Chong Se, artinya ‘selamat mencoba’. Pendirinya adalah Tong A Thong yang hijrah dari kota Medan dan membawa tradisi Kopi Tiam. Istilah kopi tiam sendiri merupakan pengembangan dari kata ‘Yam Cha’ di Tiongkok yang berarti ‘sarapan sambil minum teh’. Oleh kaum peranakan Tionghoa di daerah Melayu (termasuk Medan), kebiasaan minum teh ini diganti dengan minum kopi. Pada tahun 1966, warung Chang Chong Se berganti nama menjadi Kopi Purnama. Saat ini, yang mengelola Warung Kopi Purnama adalah generasi ke-4 dari Tong A Thong.

Kopi Aroma Bandung

Kopi Aroma Bandung (Inset: Kopi Purnama)

Perjalanan tour kemudian diarahkan ke Jl. Banceuy, menuju pojokan Jl. Pecinan Lama. Di sana terdapat pabrik kopi yang legendaris dan sampai sekarang ramai oleh antrian yang ingin membeli Kopi Aroma. Mengapa terkenal? Ini dikarenakan proses pembuatannya yang alami dan sampai sekarang masih menggunakan mesin yang sama saat pertama kali dibuka. Inilah yang membuat Kopi Aroma sebagai penghasil kopi terbaik dan unik. Pendirinya adalah Tan Houw Sian pada 1930. Beliau dulunya bekerja di perusahaan kopi milik Belanda hingga kemudian memutuskan untuk berhenti dan mendirikan usaha di bidang kopi. Saat ini Kopi Aroma dikelola oleh generasi ke-2 Tan Houw Sian, yaitu Widyapratama. Oya, kalau di Kopi Purnama para pengunjung bisa duduk santai menikmati kopi tiam maka di Kopi Aroma hanya bisa membeli kopi saja.

heritage-07

Toko Jamu Babah Kuya dan Mojang Jajaka Bandung

Peserta tour kemudian diajak berjalan kaki menuju Pasar Baru, meniti jembatan penyebarangan yang sudah tua kondisinya, kemudian masuk ke Jl. Pasar Selatan. Di sana ada Jl. Tamim yang dikenal sebagai pusat penjualan kain denim/jeans. Daripada membeli jeans mahal yang sudah jadi, sebagai alternatif ada baiknya berburu kain jeans di sini. Setelah memilih jenis kainnya, lalu tinggal dijahit oleh para penjahit profesional di sana, hasilnya adalah jeans yang lebih murah 2-3 kali lipat dengan ukuran yang pas. Kalau mau dipasang brand terkenal juga bisa. Perjalanan ‘Tour de Petjinan’ kemudian berhenti di pojokan jalan. Di sana ada toko Babah Kuya, sebuah toko jamu tradisional yang menyediakan banyak rempah-rempah lokal maupun impor. Tempat ini menjadi rujukan para Sinshe, peramu pengobatan tradisional Nusantara, dan dokter modern. Babah Kuya didirikan oleh Tan Sioe How pada 1800-an yang terkenal dengan hobinya memelihara kura-kura. Kura-kura yang telah mati kemudian diawetkan dan digantung di dinding tokonya.

Hotel Surabaya

Sisa bangunan Hotel Surabaya (Kanan: Hakka Ako & Amoy + Koko Cici Jakarta)

Tour berakhir di Cakue Osin, Hotel Surabaya, dan Kelenteng Satya Budhi. Cakue Osin terletak di jalan Babatan No. 64A (belakang pasar), dekat dengan lapangan dan kantor RW 03 Kel. Kebon Jeruk Kec. Andir. Dulunya bernama Lie Tjay Tat karena didirikan oleh beliau yang fokus pada kuliner khas Tionghoa. Osin sendiri adalah putra dari Lie Tjay Tat. Di sana ada cakue, bapia, kompia, kue tambang, kue cinsoko, pangsit kuah, dan bubur kacang tanah. Namun harus hati-hati bagi kaum Muslim karena beberapa menggunakan unsur B2. Yang aman dan halal hanya kue tambang, cakue, dan bubur kacang tanah karena proses pembuatannya terpisah. Dengan harga Rp5ribu, makan cakue di sini dijamin kenyang. Kelenteng Satya Budhi terletak di Jl. Kelenteng dan dibangun dari hasil sumbangan warga Tionghoa yang diprakarsai oleh Letnan Tionghoa Tan Djoen Liong. Pada awalnya kelenteng ini bernama Kuil Giap Thian Khong (Istana Para Dewa) karena pemujaannya ditujukan pada Dewa Perang Koan Kong (206-25 SM).[]

Heritage-08.jpg

Kelenteng Satya Budhi dan Dewa Perang Koan Kong

Advertisements

4 thoughts on “Tour de Petjinan van Bandoeng

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s